LOGIN“Nabastala!”
Teriakan nyaring yang menggelegar di sepanjang koridor sukses menghentikan pergerakan jemari Nabastala yang sedang menari di atas kertas. Pria muda itu mengerjap, menarik napas panjang demi menetralkan rasa terkejut yang sempat membuat jantungnya berdegup kencang. Ruang kelas berukurang delapan kali delapan meter itu sepi. Hanya ada Nabastala yang sengaja mengasingkan diri di sana demi merapikan proposal skripsinya. Di atas meja kayu yang disusun berjajar, berhamburan lembaran draft tulisan yang penuh dengan coretan tinta merah. Di sampingnya, sebuah ponsel pintar tergeletak dengan layar menampilkan aplikasi perekam suara yang sedang berputar. Nabastala sedang menyalin ulang penjelasan Dosen Pembimbingnya dari rekaman audio kemarin sore. Suara Pak Dandy yang tajam dan tak bertoleransi berulang kali menyoroti kekurangan laporan penelitiannya—mulai dari rumus statistik yang digunakan hingga relevansinya dengan karakteristik siswa di sekolah tempatnya mengambil data. Ternyata, menjadi mahasiswa tingkat akhir di Fakultas Keguruan sangat merepotkan. Walaupun seluruh mata kuliah tatap muka sudah tuntas, urusan penelitian memaksanya bolak-balik ke sekolah sasaran hanya untuk mengecek angket yang tersebar, lalu meremuk otak demi memastikan jadwal eksperimen teknik pembelajaran. Langkah kaki yang tergesa mendekat ke arah pintu. Sosok gadis berpenampilan boyish—mengenakan kaus oblong berlapis kemeja flanel longgar, celana jins pudar, serta sepatu kets yang agak kotor—muncul di ambang pintu. Kea. Gadis itu melepaskan pelantang suara yang menempel di telinga kanannya sendiri sambil mendengkus. "Kamu enggak bisa bicara lebih pelan? Kelas di sebelah lagi ada yang kuliah," tegur Nabastala seraya menutup telinga kanannya dengan telapak tangan. Suara Kea tadi benar-benar memalukan. Bagaimana kalau sampai terdengar oleh mahasiswa dan dosen di kelas sebelah? Sambil menggelengkan kepala, Nabastala mengumpulkan kertas-kertas draft yang berhamburan di meja. Ia sengaja memakai kelas kosong ini agar bisa merevisi bakal skripsinya tanpa intervensi siapa pun. Biar fokus, pikirnya. Namun kehadiran gadis ini jelas merusak rencananya. "Kamu dipanggilin dari tadi enggak nyaut-nyaut. Dicariin dospem, noh!" Kea menunjuk ke arah luar bangunan melalui jendela kaca transparan. Suaranya kini jauh lebih pelan dibanding teriakan awalnya. Nabastala menghela napas berat. Keharusan merapikan kembali bahan-bahan revisi ke dalam tas map plastik membuatnya makin lelah. "Baru ketemu Pak Dandy tadi siang, Ke. Masa dipanggil lagi?" protes Nabastala heran. Kea mengangkat kedua bahunya tak tahu-menahu. Biasanya, informasi dari gadis itu selalu paling up to date jika menyangkut urusan skripsi dan birokrasi kampus. Lagi pula, mereka berdua berada di bawah bimbingan dosen yang sama. "Bareng lulus kita, ya," pesan Kea yang selalu ia ulang setiap kali mereka tidak sengaja berpapasan di gedung dekanat. Belakangan, intensitas pertemuan mereka memang makin tinggi karena sering mengerjakan revisi bersama. Mata Nabastala tertuju sejenak pada wajah Kea. Gadis itu memiliki senyuman yang manis dengan sepasang gigi kelinci di depan. Jika diperhatikan baik-baik, parasnya sekilas mirip aktris Nasya Marcella. Cantik, dengan tinggi badan yang hanya sebatas dagu Nabastala. Kadang Nabastala sendiri bingung mengapa hubungan asmara mereka dulu harus berakhir. Namun nyatanya, selama bertahun-tahun ini mereka berdua memang jauh lebih nyaman terhubung sebatas pertemanan. Tidak ada canggung, tidak ada drama kecemburuan yang berlebihan, dan tidak perlu bersusah payah menjaga jarak akibat debaran dada yang rumit. Kea menyejajari langkah Nabastala saat mereka mulai melintasi koridor kampus. Suasana penghujung sore itu cukup ramai. Sepanjang jalan setapak semen yang membelah area hijau fakultas dipenuhi mahasiswa yang bersiap memasuki kelas malam. "Kamu yakin aku harus ketemu Pak Dandy sekarang?" tanya Nabastala memastikan. Kini giliran Kea yang ragu untuk mengangguk. "Tadi sih pas aku lewat depan ruangannya, beliau minta temuin. Enggak tahu kenapa. Ada berkas yang ketinggalan mungkin." Langkah Nabastala terhenti tepat di depan pintu kaca ruang kesehatan mahasiswa. Tanpa rasa malu, ia berdiri di depan dinding kaca yang memantulkan bayangannya, memperlihatkan tatanan rambut dan kerapian pakaiannya. "Masih cakep, kan, Ke?" tanya Nabastala seraya melebarkan senyum percaya diri di depan kaca. Ia memastikan penampilannya tidak memalukan untuk berhadapan dengan dosen. Secara fisik, Nabastala memang memiliki daya tarik tersendiri. Matanya agak sipit—Kea sering mengejeknya tampak seperti orang yang selalu mengantuk. Kulitnya bersih dan putih. Terkadang Kea penasaran dan menanyakan resep perawatan kulitnya, yang selalu dijawab Nabastala dengan singkat. Keturunan. Gaya hidup anak muda zaman sekarang sering terjebak dalam paradigma bahwa kulit putih itu selalu identik dengan ketampanan atau kecantikan. Nabastala sendiri terkadang geli jika dipuji terlalu berlebihan soal penampilan fisiknya. Kea yang ikut berhenti di sampingnya langsung berkelakar, "Kapan sih kamu enggak narsis, Bas?" Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, menertawakan kebiasaan konyol sahabatnya setiap kali menemui permukaan berdinding kaca. "Ye... namanya juga seharian belum pulang ke rumah. Takut berantakan kali, Ke." Kea tergelak melihat tingkah Nabastala yang mengecek aroma tubuhnya sendiri lalu merapikan lipatan kemejanya tanpa canggung. "Masih wangi, Bas. Masih ganteng." Sebenarnya Nabastala lebih nyaman mengenakan kaus santai saat beraktivitas. Namun aturan ketat kampus—terutama di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan—mengharuskan setiap mahasiswa berpakaian minimal semi-formal saat berurusan dengan akademis. Mereka kembali melanjutkan langkah menyusuri koridor panjang yang mengarah ke gedung dekanat. Suara riak angin sore dan samar-samar obrolan mahasiswa lain mengiringi langkah kaki mereka, membalut atmosfer kampus dalam kesibukan yang biasa. Namun bagi Nabastala, pikirannya mulai bercabang antara revisi skripsi yang menumpuk dan bayang-bayang peristiwa di kamar hotel pagi tadi yang belum sepenuhnya pudar dari benaknya.Tangan Nabas gemetaran saat menaruh nampan kayu di atas meja kaca. Denting halus cangkir-cangkir teh di atasnya terdengar menyengat di telinganya sendiri. Di dalam ruang tamu bercat biru muda itu, derai tawa dua keluarga bertabrakan dengan aroma gurami asam manis yang membumbung pekat dari meja makan. Bagi orang lain, sore itu adalah puncak kebahagiaan. Bagi Nabas, setiap detik terasa bagai perhitungan mundur bom waktu."Loh, kok sudah tegang aja mukamu, Bas?" bisik Kea tepat di samping telinganya. Cengiran tipis gadis itu tak mampu mengikis ketegangan yang merambat di bahu Nabas."Gerah aja," dalih Nabas pendek, membenahi kerah kemeja batiknya yang terasa mencekik.Sebelum Nabas sempat menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, ayah Kea membenahi posisi duduk. Pria tua berbadan tegap itu membenahi kacamata bacanya, menatap Nabas lurus-lurus. Suasana hangat di ruangan itu mendadak surut."Nabas... Paman dan Bibi menyerahkan Kea sepenuhnya kepadamu," tegas Ayah Kea. Suaranya berat,
"Tante yakin?" Nabas melontarkan pertanyaan itu dengan intonasi rendah, menatap kartu kredit kelabu di atas meja pantry yang digeser Anin beberapa senti mendekatinya. "Proses perceraian sudah selesai, Yo. Mas Zaki tidak punya hak apa pun lagi mendekati rumah ini," balas Anin tegas, menyilangkan kedua tangan di dada. "Tugasmu menemaniku sudah tuntas. Aku tidak akan mempanjang kontrak lagi." "Tapi kartu ini...," Nabas memotong, menghentikan telunjuknya tepat di atas benda persegi itu, "Tante enggak perlu bayar apa-apa lagi. Aku tuh datang bukan buat nagih." "Itu hakmu, Aryo. Aku tidak suka punya utang pada siapa pun, apalagi soal jasa," potong Anin cepat, memamerkan senyum tipis yang sengaja memagar jarak. Nabas menarik napas dalam, memutari meja tanpa memedulikan batas yang dibangun Anin. Pemuda itu berlutut di samping kursi tinggi Anin, lalu tanpa permisi menyandarkan kepalanya secara manja di pangkuan wanita itu, melingkarkan kedua tangan di pinggang Anin. "Yo...," desis Anin,
Anin menghembuskan napas panjang, mengaitkan kedua jemari tangannya yang dingin memucat di atas pangkuan rok kain hitamnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya cuma ingin hari ini semuanya benar-benar selesai. Saya lelah kalau harus terus bolak-balik ke gedung pengadilan ini dan melihat wajah pria itu." Di sisinya, Pak Hendra—pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas hitam rapi—menaikkan letak kacamatanya seraya merapikan berkas visum dan foto peninggalan pengrusakan pintu Rumah Batu. "Bu Anin, tolong tenang ya. Semua bukti tambahan mengenai tindakan kekerasan fisik terakhir sudah kita masukkan ke meja majelis hakim. Pihak Zaki dan tim pengacaranya sudah tidak punya celah hukum lagi untuk berkelit." "Saya paham, Bu," lanjut Pak Hendra dengan intonasi mantap saat melihat Anin mengangguk pelan dari sudut bangku kayu lorong sidang. "Berdasarkan agenda hari ini, pembacaan putusan akhir tidak akan lama. Argumen perzinahan yang sempat digertakkan Zaki malam pengge
"Bas, buruan! Jam dua bentar lagi, kita antrean pertama buat bimbingan hari ini!" seru Kea seraya menarik ujung lengan jaket Nabas. Jemari Kea yang lentik menggenggam erat map plastik berisi berkas persyaratannya. Nabas memaksakan senyum. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ke. Enggak usah ditarik-tarik, aku jalan di sampingmu kok." Padahal, di balik senyum yang terlihat Kea, pikirannya penuh. Bahu kiri yang memar akibat sabetan kayu Zaki tadi malam masih terasa ngilu setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa nyeri di fisik tak ada apa-apanya dibanding gelombang rasa bersalah yang terus menggerogoti batin. Mereka memasuki ruang konseling paroki yang sejuk. Seorang Pastor paruh baya bersenyum hangat sudah menunggu di balik meja kayu jati. "Silakan duduk, Mas Nabas, Mbak Kea," sapa Pastor ramah seraya memeriksa tumpukan berkas yang diserahkan Kea. Kea duduk tegap. Sorot matanya berbinar tampak bahagia, sementara Nabas duduk perlahan, berusaha menjaga posisinya agar bahunya yang me
Nabas berdiri di samping meja pantri dengan cangkir kopi panas yang belum tersentuh. Bahu kirinya masih berdenyut nyeri akibat hantaman kayu rakitan Zaki, tetapi pikirannya justru tertancap pada bungkus kosong di tempat sampah bawah bak cucian piring.Iya, bungkus postpill yang kemarin dibeli memang sudah tidak ada di atas meja. Nabas menarik napas lega, meyakini Anin sudah meminumnya sesuai saran. "Yo?" Suara Anin terdengar pelan dari arah pintu kamar. Wanita itu melangkah perlahan sambil merapatkan kardigan rajut krem yang membungkus tubuhnya. Wajahnya polos tanpa polesan riasan, memancarkan kelelahan fisik dan batin. Rambut sebahunya diikat asal-asalan ke belakang. Nabas bergegas menghampiri, menuntun Anin untuk duduk di kursi tinggi dekat meja bar pantry. "Gimana keadaan Tante? Masih ada yang sakit?" Anin mengulas senyum tipis—senyum yang tampak melelahkan. Ia menggeleng pelan seraya meraih cangkir teh hangat yang disodorkan Nabas. "Aku enggak apa-apa, Yo. Cuma agak lemas
Suara benturan keras yang menghantam daun pintu utama rumah batu membelah keheningan malam dengan amat mendadak. Derak kayu yang terbelah diiringi suara pecahan kaca jendela membuat Anin yang sedang terbaring di dalam dekap Nabas tersentak hebat. Dosen wanita itu menjerit panik seraya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang masih berpeluh pasca-pergumulan panas mereka."Yo! Itu suara apa?!" bisik Anin parau, matanya membelalak lebar dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar lampu tidur temaram.Sebelum Nabas sempat melompat bangkit dari ranjang, pintu kamar utama sudah terhempas terbuka secara kasar. Pintu kamar jebol seketika.Zaki berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah padam memancarkan amarah, wajahnya penuh kilatan murka bercampur dendam yang sudah menumpuk di puncak kepala. Pria tua itu menggenggam sebatang kayu rakitan yang diambilnya dari pagar luar. Dua pengacara di belakangnya berdiri mematung di lorong—salah satunya dengan sigap merogoh ponsel p







