Home / Romansa / Budak Cinta Si Tante / 3 - Tatapan Sepintas

Share

3 - Tatapan Sepintas

last update Petsa ng paglalathala: 2021-09-01 07:11:30

Di penghujung koridor yang mendekati gedung dekanat, langkah kaki Nabastala mendadak melambat. Tatapannya tertuju lurus pada sosok wanita berbalut setelan formal kelam yang baru saja keluar dari salah satu pintu ruang dosen.

Anindya.

Sosok yang beberapa minggu belakangan ini selalu memenuhi pikiran Nabastala—serta sosok yang baru saja meninggalkannya bersama lembaran uang di kamar hotel pagi tadi—kini melintas di jalur yang sama. Seperti biasa di lingkungan kampus, wanita itu selalu menundukkan kepala. Sorot matanya menghindari tatapan setiap mahasiswa maupun rekan sejawat yang berpapasan dengannya.

Padahal jika diperhatikan dari dekat, wajah Anin tergolong sangat cantik. Mata lebarnya dipadu dengan hidung mancung yang proporsional serta bibir tipis yang selalu tampak memikat bagi Nabastala. Tingginya tak jauh berbeda dengan Kea, hanya sebatas bahunya.

Rasanya tak akan ada yang menyangka jika usia wanita itu sebenarnya sudah mendekati akhir tiga puluhan. Cara berpakaiannya yang selalu tertutup rapat dan terkesan dingin seolah membentenginya dari dunia luar. Pilihan riasan wajahnya yang sangat sederhana justru makin menonjolkan kesehatan kulit mulusnya yang hampir tanpa kerut.

Siapa yang tahu bahwa seorang dosen anggun dan dihormati seperti Anindya Betari justru menyembunyikan kerapuhan mendalam di balik wajah dinginnya? Siapa yang menyangka wanita itu membutuhkan kehangatan dari seorang pemuda bayaran seperti dirinya? Tidak ada sedikit pun kesan bermasalah yang terpancar dari raut wajah anggun itu saat ia membawa map dokumen di pelukannya.

"Bas! Kenapa diam saja?" protes Kea yang menyadari pergerakan Nabastala terhenti.

Nabastala menahan napas sejenak. Ia menghentikan langkah sepenuhnya, membiarkan dosen wanita itu melintas lebih dulu di depan mereka tanpa menimbulkan kecurigaan. Setelah jarak di antara mereka aman, Nabastala menggeleng pelan ke arah Kea, mengulur alasan.

"Enggak apa-apa. Pak Dandy tadi nyuruh apa saja, Ke?"

Kea langsung meneruskan penjelasannya mengenai konsep penelitian skripsi mereka, melontarkan berbagai istilah rumus statistik yang terdengar meragukan. Namun, fokus Nabastala sudah pecah sepenuhnya. Pandangannya terus mengekor pada punggung wanita yang berjarak beberapa meter di depan mereka.

Tepat sebelum membelok di sudut koridor menuju pelataran parkir dosen, Anin mendadak menghentikan langkah. Seolah menyadari keberadaan pasang mata yang memandangnya, wanita itu sempat menoleh sebentar.

Mata mereka bertatapan di udara.

Bertemu tatap dengan Anin dalam situasi formal kampus rasanya membawa angin segar sekaligus sensasi menegangkan yang membakar dadanya. Tanpa sadar, gerakan bibir Nabastala membentuk kalimat bisikan tanpa suara yang sangat jelas.“I love you.”

Sebuah ukiran senyum tipis yang penuh godaan mengikutinya. Hanya sekilas dan dia yakin biasanya selalu berhasil.

Reaksi Anin sungguh di luar dugaan. Wanita itu tampak terkejut. Matanya melebar seketika sebelum ia cepat-cepat berbalik arah dan mempercepat langkah kakinya, seolah-olah baru saja melihat hantu.

Melihat kepanikan kecil dari dosen anggun itu membuat dada Nabastala mendadak ingin meledak oleh tawa yang tertahan. Anin berusaha terlihat tidak terpengaruh, tetapi melakukan sebaliknya.

"Bas? Kamu tadi bilang apa, Bas?"

Pertanyaan spontan Kea memecah lamunan Nabastala, membuatnya tersadar kembali ke dunia nyata. Langkah kakinya bahkan hampir saja tersandung dan menyerempet pinggiran selokan semen di sisi jalan setapak.

"Eh? Enggak ada," Nabastala menggeleng cepat, mencoba bersikap senormal mungkin.

Mungkin ia harus lebih banyak mendengarkan penjelasan Kea dan memfokuskan pikiran pada urusan akademik. Perasaan rumit yang menggelayutinya harus disingkirkan untuk sementara waktu—setidaknya sampai Anin memberinya kepastian atau menghubunginya kembali.

Namun di dalam hati kecilnya, Nabastala sangat yakin bahwa pertemuan terakhir mereka yang berakhir buruk di kamar hotel tidak akan melemahkan ikatan mereka. Anin pasti akan menghubunginya lagi nanti. Sangat pasti.

Nabastala mendengkus pelan dalam hati, menyadari kenyataan pahit yang ironis. Anin hanya akan mencarinya saat wanita itu merasa butuh dan kesepian.

Ya, hanya Nabastala yang tahu rahasia kehidupan kelam serta frustrasi di atas peraduan wanita itu, bukan lelaki lain. Dan pengetahuan itu memberi Nabastala kebanggaan tersendiri, sekaligus rasa terikat yang makin sulit untuk dilepaskan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Budak Cinta Si Tante   36 - Lamaran Resmi

    Tangan Nabas gemetaran saat menaruh nampan kayu di atas meja kaca. Denting halus cangkir-cangkir teh di atasnya terdengar menyengat di telinganya sendiri. Di dalam ruang tamu bercat biru muda itu, derai tawa dua keluarga bertabrakan dengan aroma gurami asam manis yang membumbung pekat dari meja makan. Bagi orang lain, sore itu adalah puncak kebahagiaan. Bagi Nabas, setiap detik terasa bagai perhitungan mundur bom waktu."Loh, kok sudah tegang aja mukamu, Bas?" bisik Kea tepat di samping telinganya. Cengiran tipis gadis itu tak mampu mengikis ketegangan yang merambat di bahu Nabas."Gerah aja," dalih Nabas pendek, membenahi kerah kemeja batiknya yang terasa mencekik.Sebelum Nabas sempat menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, ayah Kea membenahi posisi duduk. Pria tua berbadan tegap itu membenahi kacamata bacanya, menatap Nabas lurus-lurus. Suasana hangat di ruangan itu mendadak surut."Nabas... Paman dan Bibi menyerahkan Kea sepenuhnya kepadamu," tegas Ayah Kea. Suaranya berat,

  • Budak Cinta Si Tante   35 - Batas Kontrak

    "Tante yakin?" Nabas melontarkan pertanyaan itu dengan intonasi rendah, menatap kartu kredit kelabu di atas meja pantry yang digeser Anin beberapa senti mendekatinya. "Proses perceraian sudah selesai, Yo. Mas Zaki tidak punya hak apa pun lagi mendekati rumah ini," balas Anin tegas, menyilangkan kedua tangan di dada. "Tugasmu menemaniku sudah tuntas. Aku tidak akan mempanjang kontrak lagi." "Tapi kartu ini...," Nabas memotong, menghentikan telunjuknya tepat di atas benda persegi itu, "Tante enggak perlu bayar apa-apa lagi. Aku tuh datang bukan buat nagih." "Itu hakmu, Aryo. Aku tidak suka punya utang pada siapa pun, apalagi soal jasa," potong Anin cepat, memamerkan senyum tipis yang sengaja memagar jarak. Nabas menarik napas dalam, memutari meja tanpa memedulikan batas yang dibangun Anin. Pemuda itu berlutut di samping kursi tinggi Anin, lalu tanpa permisi menyandarkan kepalanya secara manja di pangkuan wanita itu, melingkarkan kedua tangan di pinggang Anin. "Yo...," desis Anin,

  • Budak Cinta Si Tante   34 - Ketukan Palu Hakim

    Anin menghembuskan napas panjang, mengaitkan kedua jemari tangannya yang dingin memucat di atas pangkuan rok kain hitamnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya cuma ingin hari ini semuanya benar-benar selesai. Saya lelah kalau harus terus bolak-balik ke gedung pengadilan ini dan melihat wajah pria itu." Di sisinya, Pak Hendra—pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas hitam rapi—menaikkan letak kacamatanya seraya merapikan berkas visum dan foto peninggalan pengrusakan pintu Rumah Batu. "Bu Anin, tolong tenang ya. Semua bukti tambahan mengenai tindakan kekerasan fisik terakhir sudah kita masukkan ke meja majelis hakim. Pihak Zaki dan tim pengacaranya sudah tidak punya celah hukum lagi untuk berkelit." "Saya paham, Bu," lanjut Pak Hendra dengan intonasi mantap saat melihat Anin mengangguk pelan dari sudut bangku kayu lorong sidang. "Berdasarkan agenda hari ini, pembacaan putusan akhir tidak akan lama. Argumen perzinahan yang sempat digertakkan Zaki malam pengge

  • Budak Cinta Si Tante   33 - Bayang-Bayang Kebohongan

    "Bas, buruan! Jam dua bentar lagi, kita antrean pertama buat bimbingan hari ini!" seru Kea seraya menarik ujung lengan jaket Nabas. Jemari Kea yang lentik menggenggam erat map plastik berisi berkas persyaratannya. Nabas memaksakan senyum. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ke. Enggak usah ditarik-tarik, aku jalan di sampingmu kok." Padahal, di balik senyum yang terlihat Kea, pikirannya penuh. Bahu kiri yang memar akibat sabetan kayu Zaki tadi malam masih terasa ngilu setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa nyeri di fisik tak ada apa-apanya dibanding gelombang rasa bersalah yang terus menggerogoti batin. Mereka memasuki ruang konseling paroki yang sejuk. Seorang Pastor paruh baya bersenyum hangat sudah menunggu di balik meja kayu jati. "Silakan duduk, Mas Nabas, Mbak Kea," sapa Pastor ramah seraya memeriksa tumpukan berkas yang diserahkan Kea. Kea duduk tegap. Sorot matanya berbinar tampak bahagia, sementara Nabas duduk perlahan, berusaha menjaga posisinya agar bahunya yang me

  • Budak Cinta Si Tante   32 - Keyakinan Palsu

    Nabas berdiri di samping meja pantri dengan cangkir kopi panas yang belum tersentuh. Bahu kirinya masih berdenyut nyeri akibat hantaman kayu rakitan Zaki, tetapi pikirannya justru tertancap pada bungkus kosong di tempat sampah bawah bak cucian piring.Iya, bungkus postpill yang kemarin dibeli memang sudah tidak ada di atas meja. Nabas menarik napas lega, meyakini Anin sudah meminumnya sesuai saran. "Yo?" Suara Anin terdengar pelan dari arah pintu kamar. Wanita itu melangkah perlahan sambil merapatkan kardigan rajut krem yang membungkus tubuhnya. Wajahnya polos tanpa polesan riasan, memancarkan kelelahan fisik dan batin. Rambut sebahunya diikat asal-asalan ke belakang. Nabas bergegas menghampiri, menuntun Anin untuk duduk di kursi tinggi dekat meja bar pantry. "Gimana keadaan Tante? Masih ada yang sakit?" Anin mengulas senyum tipis—senyum yang tampak melelahkan. Ia menggeleng pelan seraya meraih cangkir teh hangat yang disodorkan Nabas. "Aku enggak apa-apa, Yo. Cuma agak lemas

  • Budak Cinta Si Tante   31 - Kalau Hamil?

    Suara benturan keras yang menghantam daun pintu utama rumah batu membelah keheningan malam dengan amat mendadak. Derak kayu yang terbelah diiringi suara pecahan kaca jendela membuat Anin yang sedang terbaring di dalam dekap Nabas tersentak hebat. Dosen wanita itu menjerit panik seraya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang masih berpeluh pasca-pergumulan panas mereka."Yo! Itu suara apa?!" bisik Anin parau, matanya membelalak lebar dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar lampu tidur temaram.Sebelum Nabas sempat melompat bangkit dari ranjang, pintu kamar utama sudah terhempas terbuka secara kasar. Pintu kamar jebol seketika.Zaki berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah padam memancarkan amarah, wajahnya penuh kilatan murka bercampur dendam yang sudah menumpuk di puncak kepala. Pria tua itu menggenggam sebatang kayu rakitan yang diambilnya dari pagar luar. Dua pengacara di belakangnya berdiri mematung di lorong—salah satunya dengan sigap merogoh ponsel p

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status