홈 / Romansa / Budak Cinta Si Tante / 4 - Keributan di Area Parkir Kampus

공유

4 - Keributan di Area Parkir Kampus

last update 게시일: 2021-09-01 07:22:33

Kejadian di koridor sore itu membawa ingatan Nabastala melayang mundur ke beberapa bulan lalu—tepatnya di penghujung semester ganjil, saat pertama kali ia menyadari keberadaan seorang Anindya Betari di lingkungan kampus yang luas ini.

Hari itu, suasana pelataran parkir Fakultas Bahasa terik dan riuh. Nabastala yang baru saja menyelesaikan sesi ujian pertamanya berdiri menyandar pada bodi mobil milik Kea. Sesuai kesepakatan, mereka berjanji bertemu di parkiran usai ujian.

Untuk mengusir kebosanan, Nabastala merogoh saku jinsnya, mengeluarkan sebatang rokok, dan menyalakannya. Sambil menyesap asap tembakau, matanya sempat tertegun menatap gambar peringatan kanker tenggorokan di bungkus rokoknya—seseperti biasa, ironi tentang bahaya kesehatan tak pernah benar-benar menghentikan para perokok, termasuk dirinya.

Namun, perhatian Nabastala seketika teralih ketika mendengar lengkingan suara wanita dari sudut terujung area parkir.

"Aku enggak mau! Kamu membawa racun, bukan madu, Mas!"

Nabastala menajamkan pendengarannya. Di dekat sebuah mobil sedan, seorang wanita dewasa tampak sedang berdebat sengit dengan pria paruh baya berusia pertengahan empat puluh atau lima puluh tahun, terlihat dari kerut di wajah dan helai rambutnya yang mulai memutih.

Itulah momen pertama Nabastala memperhatikan Anin secara menyeluruh. Kemeja formal yang dikenakan wanita itu tampak rapi, dengan rambut panjang digerai ke bahu kanan. Namun, ketenangannya hancur berantakan. Jemari Anin berkali-kali menyugar rambutnya yang kusut diiringi deras aliran air mata.

Pria tua itu—yang tak lain adalah suaminya, Zaki—tanpa malu melontarkan kalimat-kalimat yang menguliti harga diri istrinya sendiri di ruang publik. Pria itu menuntut izin untuk menikah lagi, lalu berdalih dan menyalahkan Anin atas berbagai kekurangan, mulai dari sikap hingga urusan kamar yang dingin. Bahkan di satu titik, pria itu sempat berlutut dengan nada memohon yang dibuat-buat, memaksakan kehendak dengan cara yang menyedihkan.

"Pria brengsek," batin Nabastala saat itu. Di zaman sekarang, wanita mana yang rela dipoligami demi alasan egois semacam itu? Mengumbar kelemahan pasangan di depan mahasiswa yang berlalu-lalang sungguh tindakan tanpa urat malu.

Beberapa mahasiswa lain yang melintas sempat menoleh dan berbisik-bisik, tetapi kebanyakan memilih acuh. Tampaknya pertengkaran pasangan suami istri itu bukan kali pertama terjadi di sana.

Setelah penolakan tegas dari Anin, pria tua itu akhirnya bangkit dengan wajah bersungut-sungut, masuk ke dalam mobilnya, lalu melaju pergi meninggalkan pelataran parkir.

Anin tetap berdiri mematung di tempatnya. Wanita itu menunduk dalam-dalam, bahunya berguncang halus menahan isak tangis. Ia terkesan menyerah untuk terus berlagak kuat.

Saat itulah, Anin perlahan mengangkat wajahnya. Matanya yang sembab dan basah berkeliling mencari pegangan, hingga tanpa sengaja tatapan mata mereka berdua saling terkunci di udara.

Ada sorotan duka yang begitu dalam dari bola mata kelam Anin—sebuah tatapan sendu yang seolah menyuarakan jeritan minta tolong di tengah kesepian. Momen singkat itu menghantam dada Nabastala. Di mata Nabastala, raut ketidakberdayaan wanita itu justru terlihat sangat indah dan memikat.

Apakah ia tergerak oleh rasa kasihan? Apakah ia tertarik? Atau sekadar dorongan naluri berburu seorang pria muda yang melihat celah dari kerapuhan wanita dewasa? Nabastala sendiri tidak tahu jawabannya saat itu. Yang pasti, sebuah ukiran senyum tipis terbit di bibirnya sebagai bentuk respons tak sadar.

"Bas! Lama ya?"

Pukulan keras di bahu kanan membuyarkan fokus Nabastala secara mendadak. Ia bersitegang, menoleh dan menemukan Kea sudah berdiri di sampingnya dengan wajah ceria tanpa dosa.

"Kasar banget sih, Ke," keluh Nabastala sambil mengelus bahunya yang terasa panas.

"Lagian kamu melamun terus dari tadi! Ayo masuk!" seru Kea seraya membuka pintu mobilnya dan memutari bodi kendaraan.

Nabastala sempat melemparkan pandangan terakhir ke sudut parkiran. Anin masih di sana, tampak tersentak dan menyadari senyuman Nabastala sebelum cepat-cepat memalingkan wajah.

"Ibu yang tadi cantik, ya," seloroh Nabastala sengaja memprovokasi begitu ia sudah duduk di samping bangku pengemudi. Ia sengaja menguji reaktif sahabat tomboy-nya itu.

Kea yang sedang memasang sabuk pengaman langsung menoleh dengan raut wajah mengerut kesal. "Naksir, kamu?"

"Iya, aku naksir," jawab Nabastala santai sambil menaikkan kedua kakinya ke atas dasbor.

Tiiit! Tiiittt!

Kea menekan klakson di tengah roda kemudi berkali-kali dengan emosi memuncak, membuat beberapa pejalan kaki di luar terkejut. "Bas! Tadi itu suaminya! Masa kamu mikir mau naksir istri orang, sih?" tegur Kea sengaja menyorotkan tatapan tajam sebelum kembali fokus memindahkan tuas transmisi.

"Aku bercanda kali, Ke. Pengin tahu aja reaksi kamu gimana." Nabastala terkekeh ringan, memiringkan tubuhnya menatap profil samping Kea yang cemberut. "Cemburu, ya?"

"Kagak!" sahut Kea ketus, menginjak pedal gas secara brutal hingga mobil melaju meninggalkan pelataran kampus.

Meskipun Kea membantah, Nabastala tahu betul ada sepercik perasaan yang masih tertinggal di antara mereka berdua. Namun, siapa yang dapat menduga bahwa seloroh bercandanya hari itu kelak menjelma menjadi kenyataan yang sesungguhnya?

Kerapuhan Anindya Betari sore itu adalah benih awal dari labirin terlarang yang akhirnya mengikat jiwa Nabastala hingga detik ini.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Nietha
hmmm suka ceritanya, tapi gimana yae, kayk pembaca di buat jdi aryo gitu, kalo cowo sih mu ngkin bisa meresapi, tpi q cewek mna bisa imajinasi ke aryo, padahal suka banget novelnya...
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Budak Cinta Si Tante   36 - Lamaran Resmi

    Tangan Nabas gemetaran saat menaruh nampan kayu di atas meja kaca. Denting halus cangkir-cangkir teh di atasnya terdengar menyengat di telinganya sendiri. Di dalam ruang tamu bercat biru muda itu, derai tawa dua keluarga bertabrakan dengan aroma gurami asam manis yang membumbung pekat dari meja makan. Bagi orang lain, sore itu adalah puncak kebahagiaan. Bagi Nabas, setiap detik terasa bagai perhitungan mundur bom waktu."Loh, kok sudah tegang aja mukamu, Bas?" bisik Kea tepat di samping telinganya. Cengiran tipis gadis itu tak mampu mengikis ketegangan yang merambat di bahu Nabas."Gerah aja," dalih Nabas pendek, membenahi kerah kemeja batiknya yang terasa mencekik.Sebelum Nabas sempat menenangkan detak jantungnya yang berkejaran, ayah Kea membenahi posisi duduk. Pria tua berbadan tegap itu membenahi kacamata bacanya, menatap Nabas lurus-lurus. Suasana hangat di ruangan itu mendadak surut."Nabas... Paman dan Bibi menyerahkan Kea sepenuhnya kepadamu," tegas Ayah Kea. Suaranya berat,

  • Budak Cinta Si Tante   35 - Batas Kontrak

    "Tante yakin?" Nabas melontarkan pertanyaan itu dengan intonasi rendah, menatap kartu kredit kelabu di atas meja pantry yang digeser Anin beberapa senti mendekatinya. "Proses perceraian sudah selesai, Yo. Mas Zaki tidak punya hak apa pun lagi mendekati rumah ini," balas Anin tegas, menyilangkan kedua tangan di dada. "Tugasmu menemaniku sudah tuntas. Aku tidak akan mempanjang kontrak lagi." "Tapi kartu ini...," Nabas memotong, menghentikan telunjuknya tepat di atas benda persegi itu, "Tante enggak perlu bayar apa-apa lagi. Aku tuh datang bukan buat nagih." "Itu hakmu, Aryo. Aku tidak suka punya utang pada siapa pun, apalagi soal jasa," potong Anin cepat, memamerkan senyum tipis yang sengaja memagar jarak. Nabas menarik napas dalam, memutari meja tanpa memedulikan batas yang dibangun Anin. Pemuda itu berlutut di samping kursi tinggi Anin, lalu tanpa permisi menyandarkan kepalanya secara manja di pangkuan wanita itu, melingkarkan kedua tangan di pinggang Anin. "Yo...," desis Anin,

  • Budak Cinta Si Tante   34 - Ketukan Palu Hakim

    Anin menghembuskan napas panjang, mengaitkan kedua jemari tangannya yang dingin memucat di atas pangkuan rok kain hitamnya. "Terima kasih banyak, Pak Hendra. Saya cuma ingin hari ini semuanya benar-benar selesai. Saya lelah kalau harus terus bolak-balik ke gedung pengadilan ini dan melihat wajah pria itu." Di sisinya, Pak Hendra—pria paruh baya berkacamata tebal yang mengenakan setelan jas hitam rapi—menaikkan letak kacamatanya seraya merapikan berkas visum dan foto peninggalan pengrusakan pintu Rumah Batu. "Bu Anin, tolong tenang ya. Semua bukti tambahan mengenai tindakan kekerasan fisik terakhir sudah kita masukkan ke meja majelis hakim. Pihak Zaki dan tim pengacaranya sudah tidak punya celah hukum lagi untuk berkelit." "Saya paham, Bu," lanjut Pak Hendra dengan intonasi mantap saat melihat Anin mengangguk pelan dari sudut bangku kayu lorong sidang. "Berdasarkan agenda hari ini, pembacaan putusan akhir tidak akan lama. Argumen perzinahan yang sempat digertakkan Zaki malam pengge

  • Budak Cinta Si Tante   33 - Bayang-Bayang Kebohongan

    "Bas, buruan! Jam dua bentar lagi, kita antrean pertama buat bimbingan hari ini!" seru Kea seraya menarik ujung lengan jaket Nabas. Jemari Kea yang lentik menggenggam erat map plastik berisi berkas persyaratannya. Nabas memaksakan senyum. Ia mengangguk pelan. "Iya, Ke. Enggak usah ditarik-tarik, aku jalan di sampingmu kok." Padahal, di balik senyum yang terlihat Kea, pikirannya penuh. Bahu kiri yang memar akibat sabetan kayu Zaki tadi malam masih terasa ngilu setiap kali ia mengayunkan lengan. Namun, rasa nyeri di fisik tak ada apa-apanya dibanding gelombang rasa bersalah yang terus menggerogoti batin. Mereka memasuki ruang konseling paroki yang sejuk. Seorang Pastor paruh baya bersenyum hangat sudah menunggu di balik meja kayu jati. "Silakan duduk, Mas Nabas, Mbak Kea," sapa Pastor ramah seraya memeriksa tumpukan berkas yang diserahkan Kea. Kea duduk tegap. Sorot matanya berbinar tampak bahagia, sementara Nabas duduk perlahan, berusaha menjaga posisinya agar bahunya yang me

  • Budak Cinta Si Tante   32 - Keyakinan Palsu

    Nabas berdiri di samping meja pantri dengan cangkir kopi panas yang belum tersentuh. Bahu kirinya masih berdenyut nyeri akibat hantaman kayu rakitan Zaki, tetapi pikirannya justru tertancap pada bungkus kosong di tempat sampah bawah bak cucian piring.Iya, bungkus postpill yang kemarin dibeli memang sudah tidak ada di atas meja. Nabas menarik napas lega, meyakini Anin sudah meminumnya sesuai saran. "Yo?" Suara Anin terdengar pelan dari arah pintu kamar. Wanita itu melangkah perlahan sambil merapatkan kardigan rajut krem yang membungkus tubuhnya. Wajahnya polos tanpa polesan riasan, memancarkan kelelahan fisik dan batin. Rambut sebahunya diikat asal-asalan ke belakang. Nabas bergegas menghampiri, menuntun Anin untuk duduk di kursi tinggi dekat meja bar pantry. "Gimana keadaan Tante? Masih ada yang sakit?" Anin mengulas senyum tipis—senyum yang tampak melelahkan. Ia menggeleng pelan seraya meraih cangkir teh hangat yang disodorkan Nabas. "Aku enggak apa-apa, Yo. Cuma agak lemas

  • Budak Cinta Si Tante   31 - Kalau Hamil?

    Suara benturan keras yang menghantam daun pintu utama rumah batu membelah keheningan malam dengan amat mendadak. Derak kayu yang terbelah diiringi suara pecahan kaca jendela membuat Anin yang sedang terbaring di dalam dekap Nabas tersentak hebat. Dosen wanita itu menjerit panik seraya menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polosnya yang masih berpeluh pasca-pergumulan panas mereka."Yo! Itu suara apa?!" bisik Anin parau, matanya membelalak lebar dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi pendar lampu tidur temaram.Sebelum Nabas sempat melompat bangkit dari ranjang, pintu kamar utama sudah terhempas terbuka secara kasar. Pintu kamar jebol seketika.Zaki berdiri di ambang pintu. Matanya yang merah padam memancarkan amarah, wajahnya penuh kilatan murka bercampur dendam yang sudah menumpuk di puncak kepala. Pria tua itu menggenggam sebatang kayu rakitan yang diambilnya dari pagar luar. Dua pengacara di belakangnya berdiri mematung di lorong—salah satunya dengan sigap merogoh ponsel p

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status