تسجيل الدخولBenar milik Aileen nggak seeehhh?
"Itu sudah cukup bagus Amalia. So proud of you,” kata Ezra yang sedang diskusi dengan Amalia melalui sambungan telepon.“Terima kasih ya, Dok… udah mau berbagi ilmunya.”“Sama-sama. Bagaimana keadaan di sana?”"Masih kewalahan," jawab Amalia sambil menghela napas. "Obat-obatan mulai menipis. Eh, ini di camp-ku ya. Loh, kok aku?” koreksi Amalia.“It’s okay. Senyamannya kamu aja.”Amalia meringis di seberang sana.“Ya, jadi gitu, Dok. Tim logistik minta pengiriman tambahan besok pagi. Aku ikut ke kota lagi.”“Lagi?” tanya Ezra.Dari percakapan itulah Ezra mengetahui bahwa Amalia sempat bertemu dengan Abra di kota. Ceritanya tidak terlalu rinci. Ia hanya menangkap bahwa Abra baru berangkat menuju Bandung hari ini karena masih harus mengurus beberapa hal di kota.Ezra ikut menceritakan kejadian yang menimpa Serayu siang tadi. Amalia langsung terkejut dan cemas saat mendengar kondisi Serayu.Amalia cemas Abra tidak bisa tiba tepat waktu, mengingat jarak tempuh yang membentang.Kekhawatiran
Lelaki itu memang Ezra. Ia masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya tergulung seadanya. Wajahnya terlihat lelah, tetapi sorot matanya dipenuhi kecemasan yang sulit disembunyikan. “Dokter Ezra,” sapa Aksa membuat Ezra tersentak saat menoleh. Ia sedikit salah tingkah melihat keberadaan Aksa. “Mas Aksa,” balasnya menyapa. "Ada sesuatu yang membawa Dokter ke sini?" tanya Aksa tanpa basa-basi. Ezra tampak sedikit terkejut mendapat pertanyaan itu. "Saya... saya mau menjenguk sepupu saya yang dirawat di sini." "Oh ya?" Aksa mengangguk pelan. "Di lantai berapa?" Untuk sesaat Ezra terdiam. "Saya harus menghubungi keluarganya dulu." Jawaban itu membuat Aksa menatapnya beberapa detik lebih lama. Seolah mencoba membaca sesuatu di balik raut wajah lelaki di hadapannya. Namun akhirnya ia hanya mengangguk. "Mau menunggu di kafetaria saja?" "Boleh." Keduanya berjalan menuju meja yang Ezra duduki tadi. Setelah beberapa saat hening usai memesan minuman, Ezra membuka percaka
Serayu menarik tangannya dari genggaman Ezra. Genggaman dokter itu terasa lebih erat dari sebelumnya. Saat menatap wajahnya, Serayu baru menyadari bahwa Ezra tampak sama paniknya dengan Riani. "Tidak perlu, Dok. Kami bersama sopir." "Memangnya sopirmu masih menunggu?" Kali ini Riani yang bertanya. Nada suaranya penuh kekhawatiran. Serayu mengangguk pelan. Ia sudah jauh lebih tenang karena tidak ada lagi cairan yang mengalir. "Mamang nggak mungkin meninggalkan saya, Ma." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Kalau pun nggak di parkiran depan, paling beliau lagi ngopi di sekitar sini. Saya telepon saja. Lagian semua perlengkapan bayi dan kebutuhan saya sudah ada di mobil." Semua perlengkapan lahiran sudah standby di mobil sejak beberapa hari lalu. Suara Serayu terdengar begitu tenang hingga sedikit meredakan kepanikan di ruangan itu. "Dok, lantainya..." Ia menunjuk genangan cairan yang masih terlihat di lantai. Ezra menggeleng. "Nggak apa-apa. Saya bisa panggil OB." L
"Aduh, aduh... ada suami bucin yang sudah nggak sabar mau ketemu istrinya." Amalia menggeleng sejak tadi ia memperhatikan Abra yang sedang berbicara dengan Aksa melalui telepon. Begitu dokter mengizinkannya melakukan perjalanan pulang karena kondisi yang terus membaik dan mumpuni, lelaki itu langsung meminta asistennya memesan tiket penerbangan pertama yang tersedia. Abra melirik sinis ke arah sepupunya. “Berisik.” "Kapan ya aku ketemu suami yang bucin juga?" gumam Amalia sambil menopang dagu. "Saya nggak ada duanya." Jawaban itu meluncur begitu saja. Nadanya terdengar datar, penuh percaya diri, semi sombong. Sangat Abra sekali. Amalia spontan memutar bola matanya. "Idih. Lagi sakit aja masih sempat arogan." Namun senyum di bibirnya tak juga hilang. Tidak heran dengan kakak sepupunya itu. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Oke, aku pamit ya, Mas. Aku mau diskusi sebentar sama dokter, habis itu langsung balik ke camp sama timku." Abra mengangguk singkat. Saat Am
Seharian Abra hanya berada di dalam kamar perawatan. Sepi. Sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya yang tak pernah bisa diam. Namun kali ini ia harus patuh. Jika ingin pulang dalam minggu ini, ia tidak punya pilihan selain mengikuti semua instruksi dokter. Matanya terpejam sesaat. Lalu terbuka lagi. Ia tak pernah benar-benar bisa tidur dengan lena. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal. Pulih lebih cepat. Sore nanti masih ada visit lanjutan. Ia harus menunjukkan perkembangan yang baik agar dokter mengizinkannya segera pulang. Baru saja ia hendak memejamkan mata lagi, pintu kamar terbuka setelah satu ketukan singkat yang terdengar tergesa. Rahangnya mengeras. Siapa lagi kali ini? Tak lama kemudian tirai pembatas tersibak. Abra melirik jengah saat melihat seorang wanita yang tampak khawatir. Amalia berjalan mendekati ranjangnya. "Mas, kok bisa begini?" Tangan Amalia terulur hati-hati menyentuh perban yang membalut tangan sepupunya. "Aku dapat kabar dari Dokter Ryan ka
Tangan Abra terulur hendak meraih tangan yang berada tak jauh darinya. Namun tangannya tak terangkat. Terasa berat. Nyeri kembali menjalar hingga ia mengurungkan niat. Kenapa Serayu ada di sini? Pikiran itu muncul begitu saja saat ia baru membuka mata. Namun semakin lama ia menatap sosok di hadapannya, semakin jelas bahwa wanita itu bukan istrinya. Postur tubuhnya berbeda. Wanginya juga berbeda. Kesadarannya perlahan pulih sepenuhnya. Lantas siapa? "Siapa kamu?" suara Abra terdengar serak. Wanita yang sedang membelakangi Abra itu langsung menoleh. "Dokter Abra sudah bangun?" Abra mengernyit saat mengenali wajahnya. Sarah. Wanita itu mengenakan crop top lengan panjang yang memperlihatkan sedikit bagian pinggangnya setiap kali bergerak. "Semalam saya tanya ke perawat. Katanya dokter di sini sendirian, jadi saya inisiatif datang," ujarnya sambil tersenyum canggung. Dahi Abra berkerut. "Untuk apa—" Ting! Keduanya sama-sama terkejut saat sendok di tangan Sarah terjatuh ke lan
Serayu meremang saat Abra berbisik nakal di telinganya, “Kenapa harus?” Kini bibir nakal itu ikut menggerayangi lehernya. “Saya salah apa sampai wajah kamu ditekuk begitu?”“Salah. Pokoknya Mas selalu salah,” sahut Serayu kesal.Abra mengerutkan kening. Ia memutar tubuh wanitanya membuat Serayu mene
“Mas kok gitu sih, Dokter Ryan dikacangin,” kata Serayu pelan. Abra tidak menjawab, hanya terus menuntun langkah wanitanya dengan tenang. “Mas,” panggil Serayu lagi. “Saya pilih penginapan di sebelah kamu,” ucap Abra, mengalihkan pembicaraan. “Tapi saya mau tidur di tempat kamu.” “Mana boleh beg
“Maaf—”Namun belum sempat Ryan lanjut bicara, suara tenang tapi tegas Abra memotong, “Saya minta kamu menjaga jarak dari istri saya, Serayu.”Nada suaranya datar, tapi dingin. Abra menatapnya hanya sebentar, lalu melempar kembali botol minuman itu. Refleks, Ryan menangkapnya dengan satu tangan. Ger
Abra gelisah. Ia bolak-balik memeriksa ponselnya, menunggu kabar yang tak juga datang. “Seminggu? Yang benar saja,” gerutunya, nada kesal menyelinap di sela napasnya. Hari itu Abra tidak tenang. Hari ini tidak ada jadwal operasi harusnya bisa fokus pada pekerjaannya sebagai pemilik rumah sakit, ta







