เข้าสู่ระบบBenar milik Aileen nggak seeehhh?
Begitu masuk ke dalam mobil, Serayu langsung menghubungi suaminya. Namun panggilannya tidak diangkat.Serayu menggigit bibir bawahnya sambil menatap layar ponselnya yang kembali gelap.Tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari Abra.Bukan balasan panjang, melainkan sebuah foto. Foto suasana ruang diklat yang masih ramai. Beberapa dokter tampak duduk berdiskusi bersama.Foto itu datang bersama pesan singkat.[Masih ada briefing. Saya marah.]Serayu menyernyitkan keningnya.Lucu sekali.Cara Abra marah justru membuatnya gemas sendiri.Cepat-cepat Serayu mulai mengetik penjelasan panjang. Ia mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak membeli apa pun meski berada di toko bayi dan sangat ingin membelinya. Ia tetap ingin pergi bersama Abra. Memilih semuanya bersama suaminya.Sebenarnya Serayu sengaja pulang lebih dulu karena tidak ingin terlalu lama bersama Ezra.Bahkan soal video call tadi, ia hanya beralasan agar bisa cepat pulang. Sejujurnya ia memang tidak ingin terlibat lebih dalam hin
“Aahh… iya, dr. Ezra ikut juga. Ternyata dia teman kakak sepupuku. Mereka teman waktu jaman kuliah jadi mau ikut jengukin,” jelas Amalia. “Dokter Ezra,” panggil Amalia melambaikan tangan dan dibalas oleh lelaki itu. “Kenapa kamu ajak aku kalau udah ditemanin dokter Ezra?” tanya Serayu memicingkan matanya. “Eh… aku baru tahu dia temennya kakakku waktu mau ke parkiran tadi. Katanya dia mau ke mall beli kado baby.” Serayu melanjutkan langkahnya malas. “Kenapa sih?” tanya Amalia. Serayu menggeleng. “Mau langsung cari kadonya atau makan dulu?” tanya Ezra. “Cari kado dulu aja. Biar nanti setelahnya santai. Lagian masih sore juga ini,” kata Amalia melirik Serayu yang mengangguk setuju. Ketiganya jalan bersamaan menuju toko penjual pelengkapan bayi. “Dokter Serayu,” panggil Ezra membuat Serayu menoleh. “Saya belum minta maaf dengan baik,” katanya pelan. “Dok, sebaiknya kita tidak lagi membicarakan hal itu.” “Iya, untuk itu saya minta maaf. Tolong jalan menghindari saya setelah
Tiga hari ke depan jadwal Abra benar-benar padat. Ada diklat kedokteran berskala nasional yang melibatkan banyak rumah sakit besar dan Abra menjadi salah satu pembicara utamanya. Waktunya penuh, bahkan di akhir pekannya. Serayu menatap layar ponsel Abra beberapa saat hingga akhirnya mengembalikannya. “Saya belanja sendiri aja,” rajuknya. Nada suaranya terdengar kecewa meski berusaha agar terdengar biasa saja. Setelah itu Serayu langsung berbaring dan masuk ke dalam selimut membelakangi Abra tanpa bicara lagi. Abra mengembuskan napas pelan. Ia tahu istrinya sedih. Dan itu membuatnya semakin bersalah, padahal permintaan istrinya sederhana saja. Abra ikut naik ke atas ranjang lalu mendekat dari belakang. Tangannya perlahan melingkari tubuh Serayu dengan hati-hati. “Maafkan saya,” bisiknya pelan di dekat telinga istrinya. Serayu diam beberapa saat lalu akhirnya bersuara, “Sedih…” Serayu mengakui. “Padahal pengen pilih sama Mas juga.” Kalimat itu membuat dada Abra mengencang. Pri
Ezra menatap kemesraan kecil itu dalam diam. Cara Abra merangkul Serayu. Cara wanita itu bermanja pada suaminya. Bahkan langkah mereka yang berjalan berdampingan saja terasa terlalu menyakitkan untuk dipandang lama-lama. Perasaannya salah. Dan Ezra tidak tahu harus mulai dari mana untuk mengakhirinya. Lucu sekali, pikirnya pahit. Sekalinya jatuh cinta… ia justru jatuh pada seseorang yang tidak mungkin ia miliki. “Dokter Ezra," panggil seseorang. Ezra tetap menatap punggung Serayu yang semakin menjauh di lorong tanpa berkedip. Sampai sebuah lambaian tangan di depan wajahnya menyadarkannya. “Hellooo… dr. Ezra.” Suara riang bercampur heran itu membuat Ezra tersentak kecil lalu menoleh pada Amalia yang berdiri di sampingnya sambil mengangkat alis. “Ah… iya, Dok?” kejut Ezra. “Melamunin apa?” tanya Amalia sambil melirik ke lorong yang kini sudah kosong. Ezra tersenyum tipis lalu menggeleng pelan. Ia melihat lucunya raut heran di wajah Amalia. “Nggak ada.” Tatapan Amalia masih
“Dokter Ezra,” sapa Abra. Ezra cepat mengulurkan tangan, menjabat tangan Abra yang juga terulur menyambutnya. Sentuhannya sopan, tetapi entah kenapa terasa penuh tekanan. Abra bahkan bertindak seolah dialah tuan rumah di ruangan itu. “Silakan duduk.” Ezra menurut. "Bagaimana kabar Anda?” tanya Abra. Harusnya terdengar santai, tapi entah mengapa Ezra merasa terintimidasi oleh tatapannya. “Baik, Dok,” jawabnya hati-hati. “Bagaimana dengan dr. Abra?” “Luar biasa bahagia.” Tidak ada senyum saat Abra mengatakannya. Hanya tatapan dingin yang membuat dada Ezra semakin sesak. “Bu Riani, Mama saya, ingin membuat janji temu dengan dr. Ezra. Bisa?” Mendengar topik itu, ketegangan di dada Ezra perlahan melonggar. “Oh… tentu, Dok,” jawabnya cepat. “Dengan senang hati.” “Asisten Bu Riani akan menghubungi Anda.” Abra menyandarkan tubuhnya santai di kursi. “Nanti akan ada pertemuan dengan dr. Sebastian. Dokter yang sebelumnya menangani Bu Riani.” Ezra mengangguk fokus mendengarka
Serayu memukul pelan dada Abra mendengar ucapan suaminya. “Siapa juga yang tebar pesona,” protesnya. “Aahh… ternyata memang istri saya yang mempesona.” Abra mengeratkan pelukannya. Pria itu tak henti-hentinya mengecup puncak kepala kesayangannya. “Aduuhh… nggak tahan sama gombalannya,” kata Serayu, mendongak untuk mencubit gemas dagu suaminya. “Nanti show me hasil kontrol kemarin,” pinta Abra tiba-tiba seraya mengusap perut kesayangannya. Serayu langsung berusaha duduk perlahan. Ia meraih tas di atas nakas di samping ranjang lalu mengeluarkan ponselnya. “Ini,” katanya memperlihatkan potret hasil USG. “Mau kirim ke Mas, tapi lupa,” ringisnya. Abra menerimanya. Tatapan pria itu langsung melembut begitu melihat hasil USG bayi mereka. Senyum kecil tak lepas dari wajahnya. “Catatan dokternya nanti aja pas di rumah. Semuanya sehat. Baby-nya pasti tampan seperti papanya,” goda Serayu sambil bersandar lagi di dada Abra. Abra melebarkan senyumnya mendengar itu. Matanya mas
Aileen menoleh ke sana kemari mencari Abra, hingga pandangannya jatuh pada sosok lelaki itu di halaman depan rumah. Langkahnya melambat saat melihat Serayu juga berada di sana. Keningnya berkerut—dari jauh, terlihat jelas keduanya sedang berbicara serius.Ia memilih menjaga jarak agar bisa mendengar
Serayu membeku saat tatapan Abra sedekat dan sedalam itu. “Mas…,” bisiknya lirih, mendorong dada Abra pelan. Namun lelaki itu tetap di tempatnya, menatap pahatan indah di hadapannya. Tangan Abra terulur, mengusap pipi Serayu yang bersemu merah. Jarak di antara mereka perlahan memudar, hingga napas
Bulu kuduk Serayu meremang mendengar ucapan Abra bahwa ia menunggunya di rumah. Belum lagi tatapan lelaki itu—tajam, namun entah mengapa seolah menghipnotis. “Tidak perlu menunggu, Mas. Sa–saya sudah siapkan semua keperluan Mas sampai besok. Pakaian, sarapan, tinggal dihangatkan saja—” “Saya menun
Pagi itu Abra langsung berangkat ke rumah sakit, tetapi ia tidak menemukan Serayu. Hingga jam poli berakhir, wanita itu tak juga terlihat. Ponselnya pun tak bisa dihubungi. Beberapa rekan Serayu juga sempat mencarinya, sampai akhirnya menjelang siang, Serayu baru menghubungi salah seorang rekan kerj







