Share

36. Setitik Cinta

Author: Dinis Selmara
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-08 17:12:33
“Kenapa sih, Ma? Pagi-pagi udah ngereog aja,” gerutu Vera sambil membuka mata setengah.

Mumpung Jay Wijaya—suami Riani—sedang dinas di luar kota, ibu dan anak itu memang tidur bersama setelah berbelanja hingga larut malam.

“Kamu lihat ini.” Riani menyodorkan ponselnya. “Aileen kirim Mama foto, katanya habis kecelakaan.”

Dengan mata masih berat, Vera meraih ponsel itu, menatap layar sekilas, lalu mengembalikannya.

“Nggak besar jahitannya,” gumamnya, sebelum kembali memejamkan mata.

Rian
Dinis Selmara

Benar milik Aileen nggak seeehhh?

| 99+
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (22)
goodnovel comment avatar
Gie Mlg
Papanya Abra dulu waktu menikahi mamanya Abra atas dasar apa ya? ...
goodnovel comment avatar
Susi Susilawati
riani selalu ikut campur aja
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
hadechh c Abra ini gak bisa lebih tegas apa kenapa harus luluh Mulu sihh .
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   310. The Day

    "Aduh, aduh... ada suami bucin yang sudah nggak sabar mau ketemu istrinya." Amalia menggeleng sejak tadi ia memperhatikan Abra yang sedang berbicara dengan Aksa melalui telepon. Begitu dokter mengizinkannya melakukan perjalanan pulang karena kondisi yang terus membaik dan mumpuni, lelaki itu langsung meminta asistennya memesan tiket penerbangan pertama yang tersedia. Abra melirik sinis ke arah sepupunya. “Berisik.” "Kapan ya aku ketemu suami yang bucin juga?" gumam Amalia sambil menopang dagu. "Saya nggak ada duanya." Jawaban itu meluncur begitu saja. Nadanya terdengar datar, penuh percaya diri, semi sombong. Sangat Abra sekali. Amalia spontan memutar bola matanya. "Idih. Lagi sakit aja masih sempat arogan." Namun senyum di bibirnya tak juga hilang. Tidak heran dengan kakak sepupunya itu. Ia melirik jam tangan di pergelangan tangannya. "Oke, aku pamit ya, Mas. Aku mau diskusi sebentar sama dokter, habis itu langsung balik ke camp sama timku." Abra mengangguk singkat. Saat Am

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   309. Ditemani

    Seharian Abra hanya berada di dalam kamar perawatan. Sepi. Sangat bertolak belakang dengan kebiasaannya yang tak pernah bisa diam. Namun kali ini ia harus patuh. Jika ingin pulang dalam minggu ini, ia tidak punya pilihan selain mengikuti semua instruksi dokter. Matanya terpejam sesaat. Lalu terbuka lagi. Ia tak pernah benar-benar bisa tidur dengan lena. Pikirannya hanya dipenuhi satu hal. Pulih lebih cepat. Sore nanti masih ada visit lanjutan. Ia harus menunjukkan perkembangan yang baik agar dokter mengizinkannya segera pulang. Baru saja ia hendak memejamkan mata lagi, pintu kamar terbuka setelah satu ketukan singkat yang terdengar tergesa. Rahangnya mengeras. Siapa lagi kali ini? Tak lama kemudian tirai pembatas tersibak. Abra melirik jengah saat melihat seorang wanita yang tampak khawatir. Amalia berjalan mendekati ranjangnya. "Mas, kok bisa begini?" Tangan Amalia terulur hati-hati menyentuh perban yang membalut tangan sepupunya. "Aku dapat kabar dari Dokter Ryan ka

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   308. Larangan

    Tangan Abra terulur hendak meraih tangan yang berada tak jauh darinya. Namun tangannya tak terangkat. Terasa berat. Nyeri kembali menjalar hingga ia mengurungkan niat. Kenapa Serayu ada di sini? Pikiran itu muncul begitu saja saat ia baru membuka mata. Namun semakin lama ia menatap sosok di hadapannya, semakin jelas bahwa wanita itu bukan istrinya. Postur tubuhnya berbeda. Wanginya juga berbeda. Kesadarannya perlahan pulih sepenuhnya. Lantas siapa? "Siapa kamu?" suara Abra terdengar serak. Wanita yang sedang membelakangi Abra itu langsung menoleh. "Dokter Abra sudah bangun?" Abra mengernyit saat mengenali wajahnya. Sarah. Wanita itu mengenakan crop top lengan panjang yang memperlihatkan sedikit bagian pinggangnya setiap kali bergerak. "Semalam saya tanya ke perawat. Katanya dokter di sini sendirian, jadi saya inisiatif datang," ujarnya sambil tersenyum canggung. Dahi Abra berkerut. "Untuk apa—" Ting! Keduanya sama-sama terkejut saat sendok di tangan Sarah terjatuh ke lan

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   307. Peringatan

    "Dok, saya Sarah dari Medistra Technologies." Wanita itu tersenyum penuh semangat. "Ingat nggak? Saya yang mendampingi direktur waktu pertemuan kita beberapa waktu lalu." Ah… Abra mengingatnya. Ia hanya mengangguk singkat dengan ekspresi datarnya. "Dokter... maaf, dokter dirawat di sini?" Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari Abra, seketika dokter yang mendampingi Abra menyela. "Mungkin bisa bicara di dalam saja? Dokter Abra perlu segera kembali ke ruangannya." "Maaf, kalau tidak ada hal penting yang perlu dibicarakan, saya ingin beristirahat,” tolak Abra atas saran dokternya. Namun jelas ditujukan kepada wanita di hadapannya yang mengenakan pakaian mini meski dibalut jas. Sarah tampak salah tingkah. "Oh iya, maaf, Dok. Saya cuma ingin menyapa. Jujur saya cukup kaget melihat dokter di sini dalam keadaan..." Kalimatnya menggantung. Tatapannya jatuh pada perban yang membalut tangan Abra. "Kalau begitu saya permisi istirahat. Terima kasih sudah menyapa..." "Sarah,

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   306. Ingin Cepat Pulang

    "Saya harus bisa pulang di tanggal itu, Aksa. Saya nggak bisa menunggu hari lain." Abra berbicara tegas duduk bersandar di ranjang rumah sakit. Keadaannya kian membaik, sudah bisa ngomel-ngomel memaksa sang asisten agar memesankan tiket untuk dirinya dalam minggu ini. "Tapi saya belum dapat izin dari dokter yang menangani Bapak," sahut Aksa dari seberang telepon. "Saya juga dokter. Saya paling tahu kondisi tubuh saya sendiri. Kamu tinggal pesan tiketnya." Aksa memejamkan mata sambil meremas pangkal hidungnya. Kemarin ia masih merasa iba melihat keadaan atasannya. Sekarang pria itu sudah kembali ke setelan pabrik. Keras kepala, sulit dibantah. "Saya akan bicara dulu dengan dokter yang menangani Bapak—" "Kamu nggak mau bonus dua kali lipat?" tanya Abra. Aksa menggeleng pelan meski tahu gerakannya tak akan terlihat. Ini bukan soal bonus yang menggiurkan karena biasanya bonus dari Abra memang tidak main-main angkanya. Dokter yang menangani sang atasan bahkan belum merek

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   305. Rasa Kehilangan

    Abra membuka matanya perlahan. Langit-langit putih menyambut pandangannya. Terdengar suara langkah kaki dan roda brankar yang bergesekan dengan lantai. Diikuti perintah-perintah singkat yang saling bersahutan. Ia menyadari tubuhnya sedang didorong dengan cepat melewati lorong rumah sakit. Beberapa orang mengelilinginya. Lalu ia dipindahkan ke sebuah bed. IGD. Abra mengenali tempat itu begitu masuk ke ruangan yang aromanya sangat ia kenal. Namun sesaat kemudian dahinya berkerut. Rumah sakit mana ini? Apa yang terjadi? Kenapa ia berada di sini? Dan kenapa ia kesulitan menggerakkan jemarinya? "Dokter Abra? Dokter bisa mendengar saya?" Seorang dokter muncul dalam pandangannya, yang dirinya yakini bahwa lelaki itu adalah dokter jaga IGD. Ia ingin menjawab. Namun bibirnya terasa kelu. Tak ada suara yang keluar. "Dokter Abra, kalau bisa mendengar saya, coba kedipkan mata Anda." Abra menurut. Dokter itu mengembuskan napas lega. "Baik. Bagus." Suara alat di sisinya terdengar ny

  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   60. Senyum Abra

    “Kembalikan,” desak Abra.Serayu menggeleng menutup mulut Abra sambil menahan senyum. Lelaki itu pun ikut tersenyum tipis, tatapannya hangat, membuat dada Serayu membuncah bahagia.Abra menariknya ke dalam pelukan, mengecup puncak kepalanya.‘Seperti inikah definisi cinta?’ batin Serayu. Ketika apa

    last updateHuling Na-update : 2026-03-21
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   46. Tamu Tak Diundang

    “Kenapa kamu bawa Dokter Abra?” bisik Mia pelan. Serayu cepat-cepat menggeleng, memberi isyarat bahwa ia tidak mengajaknya. Ia bahkan tidak tahu kalau lelaki itu mengikutinya ke kafe. Percakapan yang biasanya santai kini berubah jadi kaku dan formal. Abra dengan percaya diri, mulai membahas tentan

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   41. First Kiss

    Serayu membeku saat tatapan Abra sedekat dan sedalam itu. “Mas…,” bisiknya lirih, mendorong dada Abra pelan. Namun lelaki itu tetap di tempatnya, menatap pahatan indah di hadapannya. Tangan Abra terulur, mengusap pipi Serayu yang bersemu merah. Jarak di antara mereka perlahan memudar, hingga napas

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
  • (Bukan) Istri Kontrak Dokter Arogan   42. Kucing-kucingan

    Bulu kuduk Serayu meremang mendengar ucapan Abra bahwa ia menunggunya di rumah. Belum lagi tatapan lelaki itu—tajam, namun entah mengapa seolah menghipnotis. “Tidak perlu menunggu, Mas. Sa–saya sudah siapkan semua keperluan Mas sampai besok. Pakaian, sarapan, tinggal dihangatkan saja—” “Saya menun

    last updateHuling Na-update : 2026-03-20
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status