LOGINNovel ini mengangkat kisah tragis Sharlyn, seorang perempuan sederhana yang terjebak dalam pernikahan penuh ketidak adilan dengan keluarga konglomerat Wijaya Group. Hidup Sharlyn berubah menjadi neraka setelah ia tinggal disana, diperlakukan lebih rendah dari pelayan dan menjadi korban kekerasan serta penghinaan tanpa pembelaan. Sampai hari itu tiba, dimana Sharlyn menunjukkan sisi dingin dan tangguhnya dalam membela diri, ketika putri kesayangannya sampai harus merenggut nyawa didepan mata kepalanya sendiri, ketika Mahes membunuh putri pemberaninya. Diantara rasa sakit fisik dan kehancuran bathin, luka Sharlyn semakin dalam ketika ia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak untuk menjadi ibu susu dari putri keluarga sultan yang dia tolong. Untuk bertahan hidup. Akankah ia merasakan kebahagiaan sekali saja dalam hidupnya yang senantiasa sunyi....
View MoreSuasana di sebuah bangunan bernuansa merah marun dengan cahaya temerang, di tengah kediaman Mahestwari. Seorang gadis kecil yang memakai bandana merah dan selalu tampil ceria dan gembira, kini kembali murung. Sorot matanya menjadi sendu.
Saat dia melihat sosok Ayah yang selalu dia banggakan, sedang bermesraan dengan sosok yang tak asing bagi si kecil. Karena dia tahu siapa sosok itu, sosok yang tak lain teman dekat Ibunya. "Sayang, kenapa gak masuk?" Suara lembut dengan penuh kehangatan itu mengalihkan atensinya ke arah sang ibu yang ada di belakangnya. "Mommy," sahutnya pelan. "Di sana...." ujarnya sambil menunjuk ke arah depan. Wanita yang dipanggil Mommynya itu tersenyum pahit, ada getaran halus terpancar dari sudut matanya. Kembali dia menyaksikan perselingkuhan suaminya dengan matanya sendiri. Beberapa kali dia mengawasinya dari jarak jauh, tak berani menegur atau bertindak. "Lu–luna...." suaranya seakan sulit untuk dikeluarkan. "Masuk yah, biar ini menjadi urusan Mommy." "Sampai kapan?" tanya gadis kecil yang tak lain Luna itu. Sharlyn mengernyit, menatap tanya pada putri kecilnya. Sosok kecil itu selalu menjadi pendukungnya. Penguatnya. Bahkan yang paling berani jika menyangkut dirinya. "A– apa?" Suara Sharlyn gagap, dengan air mata yang sudah membendung di sana. Memasukkan kedua bibirnya ke dalam mulut. Menahan sesuatu yang akan keluar. "Aku akan ke sana." Tanpa ditahan, Luna langsung lari, dengan kaki kecilnya dia terus berlari kecil menghampiri Daddynya. "DADDY!" Suaranya menggema. Memekakkan telinga. Pria yang berparas tampan dengan pakaian casualnya tersentak, lalu langsung melepaskan pelukan hangat dipangkuan si cantik yang memakai gaun ungu gelap itu. Daddynya bangun dari sofa malas yang ada di sana. Membenarkan kancing kemejanya yang sudah terbuka lebar. Membungkuk. Menyamakan tingginya dengan sang anak. Sedangkan wanita yang selalu Luna panggil Onty Marry itu juga ikut membenarkan posisi duduknya, dengan pakaian yang sedikit kusut dan berantakkan. "Hai, Luna...." senyum lebar ia tampilkan, seakan tidak ada beban. "Daddy jahat!" kata itu keluar dari mulut Luna. Si kecil menghampiri wanita cantik dengan rambut coklatnya itu, lalu menarik rambut tergerainya dengan kekuatan penuh, hingga Marry meringis kesakitan. "Aaaws...." "Hei, sayang... lepasin, kasihan Ontynya." Daddy yang diketahui namanya Mahestwari itu membantu Marry melepaskan tangan kecil namun gesit putrinya dari rambut Marry. Seakan menulikan pendengarannya, Luna menambah kekuatan dengan tangan satu lagi yang ikut bergerak. Menarik rambut itu hingga beberapa dari sana sudah mulai rontok. Wajahnya memerah, nafasnya tersengal. Tapi tidak dengan tekadnya. "Onty, jahat...." "Onty jahaaaaat!!" Teriakan dengan penuh kekuatan. Mahestwari kelimpungan. Setelah berhasil melepas tangan kanan Luna dari rambut Marry, dia juga berusaha melepaskan tangan satunya lagi. Namun, Luna tidak membiarkan tangannya menganggur dalam waktu lama. Dengan tangannya yang gemetar itu tanpa pikir panjang, ia mengeluarkan pensil dari sakunya. Lalu Ia cengkram sisi kanan lehernya Marry menggunakan ujung pensil yang tajam. Menekannya dengan tajam. Matanya memerah, sesuatu dalam dirinya yang tidak pernah ia perlihatkan. Sosok yang datang ketika ia marah selama masa pertumbuhannya, kini sosok itu mengeluarkan emosi yang selama ini dipendamnya. Tangan Mahestwari sibuk melepaskan tangan Luna yang masih merusak rambut Marry, sedangkan wanita cantik itu terus berusaha menghempaskan tangan yang dengan beraninya melukai lehernya, hingga mengeluarkan bau amis. "S–sakit, Sayang... Onty kesakitan!" ringis Marry dengan linangan air mata yang bercucuran. Entah dapat tenaga dari mana gadis kecil itu, hingga bisa melukai dirinya dengan begitu kejam. "Onty jahat...." nafasnya tersengal. "Daddy juga jahat!!" Mahestwari yang tersulut emosi, karena Luna sangat sulit dikendalikan. Dia langsung mengangkat tubuh kecil itu, walau tangan kecilnya masih susah dilepas dari rambut Marry yang sudah berantakkan dan rontok. "Daddy jahat... Daddy jahat...." Hanya kata-kata itu yang selalu terlontar dari mulut si kecil. Hingga Mahestwari melempar tubuh si kecil ke atas sofa lainnya. Suasana di ruang tengah itu mulai mencengkam, ketika suara tinggi dari Mahestwari terdengar sampai menggelegar. "Kamu keterlaluan Luna Rosse Sifarelegn!!" bentaknya dengan geram. Tangannya yang hendak menampar si kecil tertahan diudara. Tiba-tiba, dari arah samping sosok yang tak kalah cantik dari Marry datang, masih dengan menahan tangan Mahestwari. "Sebelum melukai Ross, langkahi dulu mayat saya, Mas!" Suara yang penuh penekanan dan dingin keluar dari seorang istri yang selama ini selalu bersikap lembut dan lunak dihadapannya. Mahestwari diam, syok dibuatnya. Matanya pun memerah dengan tatapan tajam. Melihat perubahan drastis istrinya. "Sharlyn... lepaskan tanganku." Alih-alih melepaskan, Sharlyn malah menekannya dengan kuku tajamnya. Dia membalas tatapan tajam suaminya dengan tanpa ekspresi. "Tidak! Sebelum niatmu berubah—" "Tidak untuk menyakiti anak-anakku. Darah dagingku, jiwaku!" lanjutnya dengan penekanan tegas. Mahestwari langsung menghempaskan tangannya dengan kasar. Mendengus kesal. Dia terdiam, melirik ke arah Marry yang masih shock. Dia juga menghampirinya. "Kau tidak apa-apa?" Perkataan yang tersirat kekhawatiran itu Mahestwari berikan pada Marry. Marry menggeleng kecil. "Mmm, hanya sedikit syok saja." "Pulanglah, aku akan mengurus ini dulu." Suaranya lembut namun dingin. Marry hanya mengangguk kecil, lalu beranjak dari duduknya dengan tubuh lemas. Mahestwari menelisik kesudut ruangan. Dia juga menyadari jika Sagara, putra sulungnya sedang memperhatikan situasi saat ini. "Gaga... antar Onty Marry pulang!" Setelah mereka pergi, suasana mendadak sunyi, sebelum suara Sharlyn keluar. "Saya mendengar, dia hamil anakmu, apa itu benar?!" tanya Sharlyn dingin.Dahi Sharlyn mengerut. "Koma?" tanyanya pada suster yang berceletuk tadi."Ya, pasca kecelakaan yang menimpa anda pada hari itu, anda sempat kritis dan berakhir koma, tapi... aneh sekali setelah bangun dari koma tidak memiliki gejala lain," gumamnya. "Apa anda yakin tidak ada yang sakit?" tanya Dokter ber nametage 'Hensax' itu."Hanya sedikit pusing dan kaki yang terasa kaku sekali," ungkap Sharlyn jujur.Dokter Hensax mengangguk kecil. "Baik, kami akan meresepkan obat, nanti diminum setelah makan siang ya...."Sharlyn yang mendengar akan dikasih makan langsung menggeleng secara spontans. "No– maksud saya, saya tidak mau makan, langsung dikasih obatnya saja.""Why? Kenapa tidak mau makan?" tanya Nenek Wang yang duduk di sofa sana."Itu ... saya tidak menyukai makanan rumah sakit."Mendengar pengakuan itu, semua orang yang di sana hanya tersenyum geli, jangankan Sharlyn, sepertinya hampir semua pasien tidak menyukai makanan hambar itu."Biar Nenek akan menyuruh Kaivan untuk membelikan
Tapi, Sharlyn yang tahu maksudnya hanya memegang kaki kanan Sagara dan menggeleng pelan. "Kamu mau meninggalkan Mommy? Kamu sudah tidak sayang sama Mommy?" "Maafkan Mommy, jika Mommy punya salah. Tapi tolong... jangan tinggalkan Mommy." Suaranya serak, lemah, dan bercampur dengan air mata yang perlahan menetes kembali. Sagara menatap lurus ke depan, tangannya di bawah sana terkepal kuat. "Lepaskan kaki Abang, Mom. Ini demi kebaikan Mommy sendiri." "Tidak... ini tidak baik. Mommy akan hancur jika kamu—" "Aku tidak peduli. Jika hidup dengan Mommy akan membawa sengsara, lebih baik aku ikut mereka!" Suaranya dingin, datar, tanpa empati sekalipun. "Sudah cepat, kita tidak punya banyak waktu! Tendang saja wanita itu," ketus Dani pada keponakannya. "Kemasi barangmu malam ini juga, karena besok pagi... rumah ini akan dimusnahkan," ucap Dani sebelum melangkah keluar dari rumah itu, diikuti oleh yang lainnya. Mereka pergi tanpa menoleh lagi. Bahkan putranya sekalipun pergi dengan
"Siapa yang membantumu?" tanya Sharlyn pada Sagara."Seorang Paman berjas hitam...."Sharlyn mengerutkan alisnya. Dia tidak memiliki kerabat bahkan dengan keluarga suaminya juga tak seakrab itu, lalu siapa paman yang dijumpai putranya itu."Apa kamu tahu atau bentukkan pisiknya...."Gaga menggeleng. "Tidak, Mom ... wajahnya tertutup, hanya saja...." putra sulungnya itu mengeluarkan sebuah id card dari saku celananya. "Beliau memberikan ini."Sharlyn menerimanya. Tapi tak langsung membacanya, karena tiba-tiba sekali matanya yang tak sengaja melirik ke arah kaca jendela yang ada di kamarnya. Ia melihat ada satu mobil yang sangat familiar terparkir di depan rumahnya."Itu... ada paman Dani, Ga." Sharlyn berusaha bangun dengan dinding yang menjadi penyanggahnya. "Ayok kita keluar."▪︎▪︎▪︎"Gimana rasanya?" tanya wanita yang memakai gaun merah terang itu pada Sharlyn.Malam yang semakin larut, dengan Sharlyn yang belum mengganti pakaiannya setelah pulang dari pemakaman putrinya. Kini, ia
Sharlyn pulang ke rumahnya lagi, membuka pintu utama dengan tangan yang sudah lemas. Pakaiannya basah terguyur hujan saat di pemakaman tadi.Ia masuk, langkahnya gontai. Suasana di dalam sana tampak hening sekali, bahkan pencahayaannya sangat minim – hanya di lantai atas yang masih terlihat terang. Mungkin... suaminya juga masih berkabung.Apa mereka sudah beristirahat lagi? Apa kematian Luna hanya sebatas angin lalu bagi mereka?Sharlyn terus berjalan, menatap kosong ke arah lantai dua, di mana kamarnya dan sang suami berada. Ada perasaan enggan untuk naik kesana, tapi entah mengapa kakinya terus berjalan, menaiki tangga satu per satu dengan tangan yang bertumpu pada sisi tangga.Samar-samar Sharlyn mendengar seseorang mendesah."Ughh... Sayang...." lenguh Mahestwari."Sshhh... lebih dalam lagi, Mas."Suara decakan basah dari ciuman mereka memecah kesunyian kamar. Suara napas berat dan desahan memenuhi kamar. Mahes menggendong sang kekasih dengan penuh kenikmatan, melupakan kesedihan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.