로그인Kinan mengira pernikahan adalah tentang membangun rumah baru. Namun, setelah lima tahun bersama Aris, ia sadar dirinya hanyalah "penduduk kontrak" yang sewaktu-waktu bisa diabaikan. Aris adalah suami yang nyaris sempurna di mata orang lain—mapan, sopan, dan sangat berbakti pada ibunya. Namun di balik pintu kamar, bakti itu menjadi racun yang perlahan membunuh jiwa Kinan. Setiap tetes keringat Kinan untuk mengurus rumah dianggap kewajiban yang tak perlu diapresiasi, sementara setiap rengekan ibunya adalah titah raja yang tak boleh dibantah. Puncaknya adalah ketika Kinan menyadari bahwa di balik kemesraan fisik yang mereka lakukan tiap malam, Aris menyimpan rahasia besar: sebuah masa depan yang dirancang tanpa melibatkan namanya sedikit pun. Kinan bukan pendamping hidup, ia hanya fasilitas untuk mempermudah hidup Aris dan ibunya. Dihadapkan pada pilihan antara bertahan dalam kehampaan atau hancur untuk merdeka, Kinan mulai meracik "pembalasannya" sendiri—bukan dengan amarah yang meledak, tapi dengan kepergian yang paling sunyi.
더 보기Jam dinding di ruang tamu yang catnya mulai menguning itu berdetak dengan suara yang seolah mengejek kesunyian Kinan. Tik. Tok. Tik. Tok. Setiap detiknya terasa seperti jarum yang menusuk perlahan ke ulu hati. Kinan menatap nanar ke arah meja makan. Di sana, di bawah tudung saji plastik berwarna merah pudar, tersaji rendang daging yang bumbunya sudah mengental dan menghitam. Ia memasaknya sejak siang, dengan telaten mengaduk santan berjam-jam sampai lengannya pegal, hanya karena ingat Aris pernah bilang rindu masakan rumah setelah seminggu dinas di luar kota.
Kinan melirik ponselnya. Layar itu gelap. Tidak ada notifikasi, tidak ada panggilan masuk. Padahal, tiga jam lalu Aris mengabarkan sudah mendarat di bandara. Jarak bandara ke rumah mereka seharusnya hanya memakan waktu satu jam jika lalu lintas bersahabat. Namun, ini sudah masuk jam kesembilan malam. Ia mencoba bangkit, merapikan daster sutranya yang mulai terasa lembap oleh keringat dingin. Ia sengaja berdandan sedikit malam ini. Memoles bedak tipis dan memakai lipstik merah muda yang biasanya disukai Aris. Ia ingin menyambut suaminya bukan hanya sebagai pelayan rumah tangga, tapi sebagai seorang istri yang rindu didekap. Tepat saat ia hendak melangkah ke dapur untuk memanaskan air, suara deru mobil yang sangat ia kenali berhenti di depan pagar. Jantung Kinan berdegup kencang. Ia buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mencoba membuang raut lelah dari wajahnya, dan menggantinya dengan senyum paling manis yang ia punya. Pintu terbuka. Aris masuk dengan kemeja biru yang sudah kusut di bagian siku. Wajahnya tampak lelah, namun matanya berbinar. Tapi binarnya bukan untuk Kinan. "Mas, sudah pulang?" Kinan mendekat, hendak meraih tas kerja Aris. Namun, Aris sedikit menghindar. "Eh, Nan. Iya, baru sampai. Capek banget." Sebelum Kinan sempat bertanya kenapa dia terlambat, sosok lain muncul dari balik punggung Aris. Seorang wanita tua dengan sanggul kecil yang mulai berantakan dan tas belanjaan bermerek yang menggantung di lengannya. Bu Ratmi, ibu mertua Kinan. "Aduh, Aris, kakinya Ibu pegal banget. Restoran tadi ramai sekali ya, harus antre lama cuma buat seporsi soto betawi," keluh Bu Ratmi sambil langsung meloyor masuk dan duduk di kursi ruang tamu, seolah Kinan hanya patung selamat datang yang tidak punya nyawa. Kinan mematung. Tangannya yang masih menggantung di udara perlahan turun, meremas pinggiran dasternya. "Restoran? Mas... aku kan sudah masak rendang favorit kamu. Aku tungguin dari sore." Aris menoleh, menatap meja makan sekilas, lalu kembali menatap ibunya yang sedang memijat kaki. "Maaf ya, Nan. Tadi pas di jalan, Ibu telepon. Katanya kangen banget sama aku, terus ngeluh kakinya sakit kalau masak sendiri. Jadi aku jemput dulu sekalian makan di luar. Kasihan Ibu, dia bilang sudah lama nggak makan enak sejak aku dinas." "Tapi kamu bisa kabari aku dulu, Ris. Aku nungguin kamu sampai makanannya dingin," suara Kinan mulai bergetar. Ada rasa panas yang merambat ke matanya. "Halah, Nan. Cuma makanan dingin kan tinggal dipanasin," Bu Ratmi memotong dengan suara melengkingnya yang khas. "Aris ini anak Ibu. Wajar kalau dia mengutamakan Ibunya yang sudah tua ini. Kamu jangan jadi istri yang perhitungan. Lagian, tadi Aris belikan kamu martabak manis itu di mobil, masih ada sisanya sedikit. Makan saja itu kalau lapar." Aris meletakkan bungkusan plastik putih berminyak di atas meja makan, tepat di samping piring rendang yang Kinan buat dengan penuh cinta. "Iya, Nan. Dimakan ya. Aku kenyang banget, tadi Ibu pesankan porsi besar buat aku. Sekarang aku mau antar Ibu ke kamar tamu dulu, dia mau menginap di sini beberapa hari." Tanpa menunggu jawaban Kinan, Aris merangkul bahu ibunya dan membimbingnya menuju kamar. Kinan berdiri sendirian di ruang makan yang kini terasa lebih dingin dari kulkas. Ia melihat bungkusan martabak itu. Benar saja, di dalamnya hanya tersisa dua potong martabak yang sudah layu, sisa dari pesta kecil suaminya dan sang ibu. Kinan duduk di kursi kayu. Ia mengambil sepotong rendang yang ia masak dengan susah payah, memasukkannya ke mulut tanpa nasi. Rasanya asin. Bukan karena bumbunya, tapi karena air matanya yang jatuh tepat di atas piring. Malam semakin larut. Setelah memastikan ibunya terlelap dan mendapatkan kompres air hangat untuk kakinya, Aris masuk ke kamar mereka. Ia melihat Kinan sudah berbaring memunggungi pintu, menyelimuti tubuhnya hingga leher. Aris melepas jam tangannya, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Ia bisa mencium aroma parfum Kinan, aroma yang seharusnya memicu gairah, tapi malam ini aroma itu tertutup oleh bau minyak kayu putih yang menempel di baju Aris—bau yang tertular dari ibunya. "Nan... kamu marah?" bisik Aris sambil memeluk pinggang Kinan dari belakang. Kinan diam. Ia mengatur napasnya agar tidak terdengar sesenggukan. Tangan Aris mulai bergerak liar, masuk ke dalam daster sutra Kinan. "Maaf ya buat tadi. Aku cuma nggak enak sama Ibu. Kamu tahu kan, sejak Bapak meninggal, cuma aku yang dia punya. Jangan cemburu sama orang tua sendiri, itu nggak baik." Aris mulai menciumi tengkuk Kinan. Ciumannya terasa teknis, seperti rutinitas yang harus diselesaikan agar tugasnya sebagai suami hari ini tuntas. Kinan tidak menolak, ia membiarkan Aris melakukan apa pun yang ia mau. Namun, hatinya tetap berada di meja makan tadi, menatap martabak sisa yang dingin. Saat Aris bergerak di atasnya, di tengah keheningan kamar yang hanya diisi suara napas yang memburu, Kinan merasa dirinya seperti sebuah wadah kosong yang sedang digunakan. Aris tidak menatap matanya. Aris hanya menatap kegelapan, seolah-olah ia sedang memejamkan mata untuk membayangkan tempat lain. "Besok pagi, tolong buatin Ibu bubur sumsum ya, Nan," gumam Aris di sela ciumannya. "Ibu bilang kangen masakan kamu yang itu. Terus, jangan lupa bajunya Ibu dicuci pakai tangan saja, katanya kalau pakai mesin cuci nanti serat kainnya rusak." Kinan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Perih. Tapi tidak sepedih kenyataan bahwa suaminya sedang berada di dalam tubuhnya, namun pikirannya sepenuhnya milik wanita lain di kamar sebelah. Aris memperlakukannya seolah-olah Kinan adalah perpanjangan tangan dari baktinya kepada ibunya. Seolah-olah pernikahan ini hanyalah cara Aris untuk mendapatkan asisten rumah tangga gratis yang bisa ia tiduri kapan saja. Ketika semuanya selesai, Aris segera berbalik badan dan jatuh tertidur dalam hitungan menit, mendengkur halus karena kelelahan. Kinan bangkit perlahan, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Ia menyalakan pancuran air, membiarkan air dingin membasuh tubuhnya, mencoba menghapus jejak sentuhan Aris yang terasa seperti racun. Ia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang berembun. Matanya merah, lipstiknya sudah berantakan. Kinan bertanya-tanya dalam hati, sampai kapan ia harus menjadi bayangan di rumahnya sendiri? Sampai kapan ia harus menelan racun ini demi memberikan madu bagi orang lain? Di bawah guyuran air, Kinan akhirnya menangis sejadi-jadinya. Suaranya teredam oleh bunyi air yang jatuh ke lantai, menyamarkan rasa sakit yang tidak akan pernah dipahami oleh laki-laki yang sedang tidur nyenyak di balik pintu itu. Besok adalah hari baru, dan Kinan tahu, besok pun ia masih akan menjadi orang asing yang paling rajin di rumah ini.Suasana di Desa Sukamaju yang biasanya damai, sore itu mendadak tegang. Kabar burung di kampung itu lebih cepat merambat daripada api di atas ilalang kering. Di balai pertemuan warga yang kecil, Pak Kades dan beberapa tetua duduk melingkar dengan wajah-wajah serius yang menghakimi. Di tengah-tengah mereka, duduk seorang laki-laki yang wajahnya sengaja dibuat nelangsa: Aris.Aris datang bukan dengan tangan kosong. Di sampingnya ada Mbak Ratna yang terus-menerus mengusap air mata buaya dengan ujung jilbabnya, dan di depan mereka tergeletak sebuah map cokelat berisi foto-foto yang sudah disiapkan dengan licik.Bapak Kinan, Pak subroto, duduk di sudut ruangan dengan punggung yang bungkuk, seolah beban langit baru saja jatuh menimpa pundaknya. Wajahnya yang legam karena puluhan tahun bertani kini tampak pucat pasi. Ia tidak berani menatap mata tetangga-tetangganya. Malu. Sebuah kata yang lebih mematikan daripada peluru bagi orang tua di kampung."Pak Subroto," suara Pak Kades memecah ke
Apartemen yang ditawarkan Bima ternyata hanyalah sebuah unit studio kecil di pinggiran kota. Dindingnya bercat putih gading yang sudah sedikit mengelupas di sudut plafon. Tidak ada perabotan mewah. Hanya ada sebuah kasur tipis tanpa dipan, satu lemari kecil yang pintunya berderit saat dibuka, dan sebuah jendela besar yang menghadap langsung ke arah rel kereta api.Bima sudah pulang satu jam lalu setelah memastikan Kinan punya air minum dan mengunci pintu dengan benar. Kini, Kinan duduk bersila di atas kasur yang masih berbau plastik toko itu. Sunyi. Sangat sunyi sampai suara detak jam tangannya terdengar seperti dentuman palu.Ia menatap tas pakaiannya yang tergeletak pasrah di sudut ruangan. Hanya itu yang ia punya. Beberapa potong kemeja kerja, celana kain, pakaian dalam, dan satu mukena yang warnanya sudah mulai kusam. Ia tidak membawa perhiasan, tidak membawa perabotan, bahkan ia meninggalkan foto pernikahannya yang terbingkai indah di atas nakas rumah Aris. Ia tidak butuh wajah
Dunia di luar rumah Aris ternyata terasa begitu asing bagi Kinan. Duduk di jok mobil Bima yang harum kayu cendana, Kinan merasa seperti narapidana yang baru saja menghirup udara bebas namun paru-parunya masih terasa penuh debu penjara. Ia menatap lututnya yang lecet, darahnya sudah mengering, meninggalkan bekas merah kecokelatan yang perih saat terkena AC mobil."Minum dulu, Kin. Kamu gemetaran," Bima menyodorkan sebotol air mineral yang dinginnya pas. Suaranya rendah, tidak menuntut penjelasan segera. Itu yang Kinan butuhkan—ruang untuk bernapas tanpa dihakimi.Kinan meneguk air itu perlahan. Tenggorokannya yang tadi serasa tersumbat batu kerikil perlahan mulai melonggar. "Terima kasih, Bim. Maaf... aku berantakan sekali.""Jangan minta maaf buat sesuatu yang bukan salahmu," jawab Bima sambil memutar kemudi, membawa mobil menjauh dari lingkungan rumah Aris. "Aku antar kamu ke tempat yang aman. Ada apartemen kecil milik kantorku yang sedang kosong. Kamu bisa tinggal di sana sementa
Pagi itu, rumah terasa seperti medan perang yang baru saja ditinggalkan pasukannya. Sisa-sisa "sidang keluarga" semalam masih tertinggal dalam bentuk gelas-gelas kopi yang berkerak di meja tamu dan bau puntung rokok Pakde Mulyo yang menempel di gorden. Kinan bangun dengan perasaan hampa. Ia tidak sudi menyentuh sampah-sampah itu. Biarlah Aris atau Ibunya yang membereskannya, atau biarlah rumah itu membusuk sekalian.Kinan duduk di meja kecil di pojok kamarnya. Ia membuka laptop, menekan tombol power, dan menunggu logo sistem muncul. Hari ini adalah tenggat waktu pengiriman laporan keuangan perusahaan garmen milik klien Maya. Nilai kontraknya cukup untuk membayar uang muka kontrakan kecil di pinggir kota. Kinan butuh uang itu. Sangat butuh.Namun, saat ia mencoba menyambungkan koneksi ke Wi-Fi rumah, simbol sinyal di pojok layar tetap silang merah.No Internet Connection.Kinan mengerutkan dahi. Ia memeriksa router yang terletak di ruang tengah, tepat di bawah meja televisi. Kabeln
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.