MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI

MADU UNTUK IBU, RACUN UNTUK ISTRI

last update최신 업데이트 : 2026-03-07
에:  Pena itu방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
11챕터
12조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Kinan mengira pernikahan adalah tentang membangun rumah baru. Namun, setelah lima tahun bersama Aris, ia sadar dirinya hanyalah "penduduk kontrak" yang sewaktu-waktu bisa diabaikan. Aris adalah suami yang nyaris sempurna di mata orang lain—mapan, sopan, dan sangat berbakti pada ibunya. Namun di balik pintu kamar, bakti itu menjadi racun yang perlahan membunuh jiwa Kinan. ​Setiap tetes keringat Kinan untuk mengurus rumah dianggap kewajiban yang tak perlu diapresiasi, sementara setiap rengekan ibunya adalah titah raja yang tak boleh dibantah. Puncaknya adalah ketika Kinan menyadari bahwa di balik kemesraan fisik yang mereka lakukan tiap malam, Aris menyimpan rahasia besar: sebuah masa depan yang dirancang tanpa melibatkan namanya sedikit pun. Kinan bukan pendamping hidup, ia hanya fasilitas untuk mempermudah hidup Aris dan ibunya. ​Dihadapkan pada pilihan antara bertahan dalam kehampaan atau hancur untuk merdeka, Kinan mulai meracik "pembalasannya" sendiri—bukan dengan amarah yang meledak, tapi dengan kepergian yang paling sunyi.

더 보기

1화

Sisa yang Tak Pernah Cukup

Jam dinding di ruang tamu yang catnya mulai menguning itu berdetak dengan suara yang seolah mengejek kesunyian Kinan. Tik. Tok. Tik. Tok. Setiap detiknya terasa seperti jarum yang menusuk perlahan ke ulu hati. Kinan menatap nanar ke arah meja makan. Di sana, di bawah tudung saji plastik berwarna merah pudar, tersaji rendang daging yang bumbunya sudah mengental dan menghitam. Ia memasaknya sejak siang, dengan telaten mengaduk santan berjam-jam sampai lengannya pegal, hanya karena ingat Aris pernah bilang rindu masakan rumah setelah seminggu dinas di luar kota.

​Kinan melirik ponselnya. Layar itu gelap. Tidak ada notifikasi, tidak ada panggilan masuk. Padahal, tiga jam lalu Aris mengabarkan sudah mendarat di bandara. Jarak bandara ke rumah mereka seharusnya hanya memakan waktu satu jam jika lalu lintas bersahabat. Namun, ini sudah masuk jam kesembilan malam.

​Ia mencoba bangkit, merapikan daster sutranya yang mulai terasa lembap oleh keringat dingin. Ia sengaja berdandan sedikit malam ini. Memoles bedak tipis dan memakai lipstik merah muda yang biasanya disukai Aris. Ia ingin menyambut suaminya bukan hanya sebagai pelayan rumah tangga, tapi sebagai seorang istri yang rindu didekap.

​Tepat saat ia hendak melangkah ke dapur untuk memanaskan air, suara deru mobil yang sangat ia kenali berhenti di depan pagar. Jantung Kinan berdegup kencang. Ia buru-buru merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, mencoba membuang raut lelah dari wajahnya, dan menggantinya dengan senyum paling manis yang ia punya.

​Pintu terbuka. Aris masuk dengan kemeja biru yang sudah kusut di bagian siku. Wajahnya tampak lelah, namun matanya berbinar. Tapi binarnya bukan untuk Kinan.

​"Mas, sudah pulang?" Kinan mendekat, hendak meraih tas kerja Aris.

​Namun, Aris sedikit menghindar. "Eh, Nan. Iya, baru sampai. Capek banget."

​Sebelum Kinan sempat bertanya kenapa dia terlambat, sosok lain muncul dari balik punggung Aris. Seorang wanita tua dengan sanggul kecil yang mulai berantakan dan tas belanjaan bermerek yang menggantung di lengannya. Bu Ratmi, ibu mertua Kinan.

​"Aduh, Aris, kakinya Ibu pegal banget. Restoran tadi ramai sekali ya, harus antre lama cuma buat seporsi soto betawi," keluh Bu Ratmi sambil langsung meloyor masuk dan duduk di kursi ruang tamu, seolah Kinan hanya patung selamat datang yang tidak punya nyawa.

​Kinan mematung. Tangannya yang masih menggantung di udara perlahan turun, meremas pinggiran dasternya. "Restoran? Mas... aku kan sudah masak rendang favorit kamu. Aku tungguin dari sore."

​Aris menoleh, menatap meja makan sekilas, lalu kembali menatap ibunya yang sedang memijat kaki. "Maaf ya, Nan. Tadi pas di jalan, Ibu telepon. Katanya kangen banget sama aku, terus ngeluh kakinya sakit kalau masak sendiri. Jadi aku jemput dulu sekalian makan di luar. Kasihan Ibu, dia bilang sudah lama nggak makan enak sejak aku dinas."

​"Tapi kamu bisa kabari aku dulu, Ris. Aku nungguin kamu sampai makanannya dingin," suara Kinan mulai bergetar. Ada rasa panas yang merambat ke matanya.

​"Halah, Nan. Cuma makanan dingin kan tinggal dipanasin," Bu Ratmi memotong dengan suara melengkingnya yang khas. "Aris ini anak Ibu. Wajar kalau dia mengutamakan Ibunya yang sudah tua ini. Kamu jangan jadi istri yang perhitungan. Lagian, tadi Aris belikan kamu martabak manis itu di mobil, masih ada sisanya sedikit. Makan saja itu kalau lapar."

​Aris meletakkan bungkusan plastik putih berminyak di atas meja makan, tepat di samping piring rendang yang Kinan buat dengan penuh cinta. "Iya, Nan. Dimakan ya. Aku kenyang banget, tadi Ibu pesankan porsi besar buat aku. Sekarang aku mau antar Ibu ke kamar tamu dulu, dia mau menginap di sini beberapa hari."

​Tanpa menunggu jawaban Kinan, Aris merangkul bahu ibunya dan membimbingnya menuju kamar. Kinan berdiri sendirian di ruang makan yang kini terasa lebih dingin dari kulkas. Ia melihat bungkusan martabak itu. Benar saja, di dalamnya hanya tersisa dua potong martabak yang sudah layu, sisa dari pesta kecil suaminya dan sang ibu.

​Kinan duduk di kursi kayu. Ia mengambil sepotong rendang yang ia masak dengan susah payah, memasukkannya ke mulut tanpa nasi. Rasanya asin. Bukan karena bumbunya, tapi karena air matanya yang jatuh tepat di atas piring.

​Malam semakin larut. Setelah memastikan ibunya terlelap dan mendapatkan kompres air hangat untuk kakinya, Aris masuk ke kamar mereka. Ia melihat Kinan sudah berbaring memunggungi pintu, menyelimuti tubuhnya hingga leher.

​Aris melepas jam tangannya, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Ia bisa mencium aroma parfum Kinan, aroma yang seharusnya memicu gairah, tapi malam ini aroma itu tertutup oleh bau minyak kayu putih yang menempel di baju Aris—bau yang tertular dari ibunya.

​"Nan... kamu marah?" bisik Aris sambil memeluk pinggang Kinan dari belakang.

​Kinan diam. Ia mengatur napasnya agar tidak terdengar sesenggukan.

​Tangan Aris mulai bergerak liar, masuk ke dalam daster sutra Kinan. "Maaf ya buat tadi. Aku cuma nggak enak sama Ibu. Kamu tahu kan, sejak Bapak meninggal, cuma aku yang dia punya. Jangan cemburu sama orang tua sendiri, itu nggak baik."

​Aris mulai menciumi tengkuk Kinan. Ciumannya terasa teknis, seperti rutinitas yang harus diselesaikan agar tugasnya sebagai suami hari ini tuntas. Kinan tidak menolak, ia membiarkan Aris melakukan apa pun yang ia mau. Namun, hatinya tetap berada di meja makan tadi, menatap martabak sisa yang dingin.

​Saat Aris bergerak di atasnya, di tengah keheningan kamar yang hanya diisi suara napas yang memburu, Kinan merasa dirinya seperti sebuah wadah kosong yang sedang digunakan. Aris tidak menatap matanya. Aris hanya menatap kegelapan, seolah-olah ia sedang memejamkan mata untuk membayangkan tempat lain.

​"Besok pagi, tolong buatin Ibu bubur sumsum ya, Nan," gumam Aris di sela ciumannya. "Ibu bilang kangen masakan kamu yang itu. Terus, jangan lupa bajunya Ibu dicuci pakai tangan saja, katanya kalau pakai mesin cuci nanti serat kainnya rusak."

​Kinan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Perih. Tapi tidak sepedih kenyataan bahwa suaminya sedang berada di dalam tubuhnya, namun pikirannya sepenuhnya milik wanita lain di kamar sebelah. Aris memperlakukannya seolah-olah Kinan adalah perpanjangan tangan dari baktinya kepada ibunya. Seolah-olah pernikahan ini hanyalah cara Aris untuk mendapatkan asisten rumah tangga gratis yang bisa ia tiduri kapan saja.

​Ketika semuanya selesai, Aris segera berbalik badan dan jatuh tertidur dalam hitungan menit, mendengkur halus karena kelelahan. Kinan bangkit perlahan, berjalan menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Ia menyalakan pancuran air, membiarkan air dingin membasuh tubuhnya, mencoba menghapus jejak sentuhan Aris yang terasa seperti racun.

​Ia melihat pantulan dirinya di cermin kamar mandi yang berembun. Matanya merah, lipstiknya sudah berantakan. Kinan bertanya-tanya dalam hati, sampai kapan ia harus menjadi bayangan di rumahnya sendiri? Sampai kapan ia harus menelan racun ini demi memberikan madu bagi orang lain?

​Di bawah guyuran air, Kinan akhirnya menangis sejadi-jadinya. Suaranya teredam oleh bunyi air yang jatuh ke lantai, menyamarkan rasa sakit yang tidak akan pernah dipahami oleh laki-laki yang sedang tidur nyenyak di balik pintu itu.

​Besok adalah hari baru, dan Kinan tahu, besok pun ia masih akan menjadi orang asing yang paling rajin di rumah ini.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
11 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status