Chapter: 355. Bincang Sebelum TidurJangan tanya seperti apa kekhawatiran Riani ketika mengetahui cucunya yang baru berusia enam bulan akan ditinggal kedua orang tuanya karena pekerjaan. Kegagalan yang pernah dialaminya di masa lalu membuatnya tak ingin hal serupa terjadi pada cucunya. “Satria sama Mama saja, ya?” pintanya. Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Riani mengajukan permintaan itu, tetapi tidak pernah dikabulkan Abra. Abra tidak pernah melarang sang nenek menemui cucunya. Riani bebas datang kapan saja. Mereka pun beberapa kali berkunjung ke rumah Oma dan Opanya untuk bermain. Namun, Abra belum pernah terpikir untuk benar-benar menitipkan Satria kepada Riani. Menurutnya, semua yang sudah dipersiapkannya di rumah jauh lebih dari cukup. Orang-orang yang bekerja di rumah pun sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Ia sangat mempercayai mereka untuk menjaga Satria. “Soal menu MPASI, Serayu aja yang siapin. Nanny juga ikut aja bersama Satria dan Mama.” Kepala Abra langsung dipenuhi berbagai pertimbangan.
Last Updated: 2026-08-20
Chapter: 354. Tak Bisa MenemaniHari berganti hari, minggu berganti minggu, bahkan bulan pun berlalu silih berganti. Tanpa disadari, waktu ternyata berlalu sesingkat itu. Ini bukan kali pertama Serayu meninggalkan suami dan anaknya untuk menjalani dinas malam. Jangan tanya seberapa gundahnya ia tetap harus melewati semuanya. Serayu selalu menyempatkan diri melakukan video call meski hanya sekejap sudah cukup untuk sedikit mengobati rasa rindunya. Pagi kembali menyapa setelah malam yang tidak terlalu padat, tetapi juga tidak bisa disebut lengang. Serayu masih harus melanjutkan tugasnya hingga sore nanti. Sebelum memulai tugas berikutnya, ia segera meraih ponselnya lalu duduk di salah satu bangku taman rumah sakit. Dering panggilan dari seberang membuat jantungnya berdebar. Tak lama kemudian, wajah Abra memenuhi layar, lengkap dengan senyum hangat yang langsung membuat Serayu ikut tersenyum. Lalu, raut wajahnya berubah. “Sayang,” sapa Abra lebih dulu. “Saya tahu sekali wajah kamu akan seperti itu.” “Sedih nggak bis
Last Updated: 2026-08-19
Chapter: 353. Romantis?Serayu memeluk suaminya erat, membenamkan wajah di dada bidang itu. Sementara Abra mengecup lama puncak kepalanya dengan penuh sayang. Tubuh polos mereka masih terbungkus selimut, menyisakan jejak lelah setelah saling berbagi kasih.Keheningan yang nyaman menyelimuti kamar hingga akhirnya Serayu bersuara pelan."Mas, ngantuk nggak?"Abra yang sedari tadi memejamkan mata menjawab, "Belum. Kenapa?"Serayu berbisik dengan nada manja. "Lapar, Mas."Seketika Abra membuka kedua matanya dan menunduk menatap istrinya."Kamu lapar?"Serayu mengangguk kecil."Mau dimasakin apa?"Abra sudah bisa menebak isi dapur mereka. Hampir semua makanan malam tadi sudah habis tanpa sisa."Mie rebus."Jawaban itu membuat wajah Abra seketika datar. Melihat reaksinya, Serayu hanya meringis sambil tersenyum bersalah."Spaghetti?" tawar Abra.Serayu menggeleng."Ramen?"Jawaban Serayu masih berupa gelengan."Mie rebus biasa aja. Pakai telur setengah matang," pinta Serayu sambil memamerkan deretan giginya yang rap
Last Updated: 2026-08-05
Chapter: 352. Saling Menginginkan“Malam masih sangat panjang ‘kan, Sayang?”Keduanya melempar tertawa kecil. Abra mengangkat Serayu dalam menggendongnya ala bride, lalu menautkan kening dan hidung mereka dengan penuh sayang.Namun, saat hendak melangkah, Abra mendadak menghentikan langkahnya. Di ambang pintu, Aksa berdiri sambil menundukkan kepala.Serayu ikut menoleh, mengikuti arah pandang suaminya. Ia lupa masih ada satu orang lagi yang belum pulang."Kamu bisa langsung pulang," ujar Abra.Serayu sempat berusaha turun dari gendongan, tetapi Abra justru mengeratkan pelukannya. Mau tak mau, Serayu hanya bisa menyembunyikan wajahnya yang memerah di dada bidang sang suami."Semua sudah saya bersihkan dan rapikan, Pak. Bibi juga sudah menyelesaikan pekerjaannya dan bersiap beristirahat. Kalau sudah tidak ada lagi yang diperlukan, saya izin pamit," lapor Aksa."Ya, silakan. Terima kasih."Aksa mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya kepada Serayu. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya."Bu, saya pamit."Nada suara
Last Updated: 2026-08-04
Chapter: 351. Makan Malam Bersama"Di Bandung cuma sebentar. Besok mau keliling dulu, lusa lanjut ke Surabaya," ujar Nanda, teman lama Abra.Abra mengangguk paham."Aku sama Abra sudah punya buntut. Mana istrimu, Ryan?""Masih on the way," jawab Ryan santai.Nanda terkekeh geli, lalu mengalihkan pandangannya kepada Abra."Iya… tapi jujur saja, dulu aku kira yang bakal kamu nikahi itu Aileen.”Abra membalik potongan daging di atas panggangan tanpa mengangkat kepala."Dan ternyata kamu salah," balasnya datar.Nanda terkekeh kecil."Serius, kenapa bisa? Kalian dulu best couple, lho."Sejenak suasana hening. Ryan memilih diam, sementara Abra tetap fokus pada daging yang mulai matang."Takdir," jawabnya singkat."Sepertinya istrimu lebih muda dari kita, ya?""Hmm,” balas Abra.Jawaban itu terdengar singkat. Bukan karena Abra enggan. Memang begitulah dirinya sejak dulu, seperlunya saja jika bicara. Tepatnya saat tak ada lagi yang bisa ia percaya selain dirinya sendiri.Di sisi lain, Serayu yang sedang mendengar percakapan i
Last Updated: 2026-08-03
Chapter: 350. Teman Lama“Mas, malam nanti jadi, kan?” tanya Serayu melalui sambungan telepon. “Jadi, Sayang. Kamu nggak perlu repot-repot. Biar Bibi yang menyiapkan semuanya, dibantu Aksa.” “Tuan rumahnya siapa, sih? Saya atau Mas Aksa?” “Mas jemput kamu nanti. Kabari lagi kalau sudah selesai jam berapanya, ya,” balas Abra, sengaja mengabaikan pertanyaan istrinya. “Mengalihkan pembicaraan…,” gerutu Serayu pelan, membuat Abra tersenyum di seberang sana. “Tentu saja kamu,” jawab Abra meski terlambat. “Maksud Mas, keberadaan Aksa itu supaya kamu nggak kelelahan. Itu saja. Lagian tamunya juga bukan tamu yang harus disambut secara berlebihan. Tidak sespecial itu.” Malam ini Ryan akan berkunjung setelah menyelesaikan tugasnya sebagai dokter relawan. Tujuannya tapi bukan untuk bertemu Abra, melainkan melihat Satria. Selain Ryan, ada seorang teman kuliah mereka yang kebetulan sedang berlibur ke Bandung dan ingin mampir untuk reuni kecil sekaligus bertemu buah hati mereka. “Ada anaknya teman Mas juga, kan? Bole
Last Updated: 2026-08-02
Chapter: Extra Part #6“Kamu masih di rumah Abi, Sayang?” tanya Aditama lewat sambungan telepon.Beberapa hari terakhir ia berada di Singapura untuk menghadiri rapat umum pemegang saham. Meski sudah pensiun dan menyerahkan perusahaan pada ketiga putranya, Aditama tetap setia menemani urusan besar yang membutuhkan kehadirannya. Namun, di balik semua itu, ia lebih menikmati masa tuanya berdua bersama sang istri.“Masih, aku mau extend, deh. Dua hari lagi,” jawab Kinara santai.“Mas pulang besok, lho. Kamu malah nambah hari nginap di sana? Mas sendirian dong di rumah?” nada suaranya terdengar seperti rajuk manja.Kinara tersenyum mendengar itu. “Tapi kan aku tetap pulang, Mas. Aku masih kangen sama cucuku.”“Suamimu ini lho juga kangen banget sama kamu.” Kinara terkekeh geli mendengar pengakuan jujur itu.“Boleh ya, Mas? Dua hari aja…,” pintanya lembut. Mana mungkin Aditama bisa menolak. Apa yang tidak bisa ia usahakan untuk istrinya? Mau tidak mau, ia hanya bisa mengalah, meski dalam hati sebenarnya tak rela.
Last Updated: 2025-09-07
Chapter: Extra Part #5“Kamu itu anak yang paling susah keluarnya. Selama hamil kamu, Mama sampai harus bed rest,” keluh Kinara saat menelepon si bungsu yang kini sibuk berkelana di negeri orang.“Bed rest di Bintan, maksud Mama?” sahut Dion santai dari seberang.Kinara melirik sekilas ke arah Aditama yang duduk santai membaca koran. Sang suami hanya tersenyum tipis, ikut mendengarkan percakapan itu.“Pokoknya kamu itu anak yang paling bikin Mama susah,” lanjut Kinara, meski kenyataannya justru berbanding terbalik. Kehamilan Dion adalah yang paling ringan, ia bisa bepergian lintas udara hingga menyeberang lautan tanpa keluhan berarti.“Tapi paling disayang ‘kan?” goda Dion.“Pulanglah, Nak,” lanjut Kinara akhirnya melemah. “Mama kangen banget sama Dion. Tolonglah bantu Mas Nadeo sama Mas Abi. Papa kamu sudah tidak sanggup lagi menanggung semuanya di perusahaan,” ujarnya dengan nada manja sekaligus serius.“Ujung-ujungnya disuruh kerja rodi. Jadi sebenarnya Mama kangen anaknya atau butuh tenaga kerja?” balas
Last Updated: 2025-09-06
Chapter: Extra Part #4Pagi pertama di villa terdengar suara burung laut dan sinar matahari menembus tirai besar membangunkan Kinara lebih dulu. Ia duduk di teras sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Sesekali menoleh melihat suami dan anaknya masih terlelap. Di hadapannya, laut biru membentang luas, ombak kecil berkejaran pelan membuatnya bersemangat hingga beranjak berdiri di sisi pagar balkon. Tak lama kemudian, Nadeo berlari keluar dengan piyamanya, langsung menghambur ke pelukan ibunya.“Bunda, sudah bangun? Lagi lihat laut ya? Mas senang sekali di sini,” gumamnya. “Tidurnya nyenyak.”“Oh, ya? Enak tidurnya?” Nadeo mengangguk setuju. Ia mendekat ke arah perut Kinara berbisik, “Adik suka juga nggak di sini? Sayang sekali tidak bisa main air dan pasir. Mas semalam main pasir pantai dengan Abi,” katanya menceritakan keseruan versinya. Kinara terkekeh, mencium rambut putranya.Ia tersentak saat merasakan pelukan dari belakang. Aditama muncul membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. “Selama
Last Updated: 2025-09-05
Chapter: Extra Part #3Kehamilan kali ini benar-benar terasa berbeda bagi Kinara. Tidak ada drama seperti dua kehamilan sebelumnya. Justru ia merasa jauh lebih rileks, tenang, dan dimanja oleh Aditama. Setiap hari berjalan dengan penuh cinta, seakan waktu tak ingin berlari terlalu cepat. Karena itulah, sore itu saat mereka duduk di ruang tengah, Kinara tiba-tiba mengutarakan keinginannya. “Mas, aku ingin babymoon,” ujarnya sembari mengusap lembut perutnya yang mulai membuncit. Aditama menoleh dengan senyum geli. “Babymoon atau honeymoon?” tanyanya menggoda. “Mas …,” rajuknya manja. “Mau ke mana, Sayang?” Kinara tersenyum penuh arti. “Ke Bintan, yuk!” Sejenak Aditama terdiam, menatap istrinya yang tampak begitu serius. “Berdua saja?” tanya Aditama menggoda. Kinara langsung menggeleng tegas. “Nggak, dong. Aku nggak tega meninggalkan Nadeo dan Abi. Mereka bagian dari kita, masa ditinggal. Babymoon hanya istilah, aslinya pengen liburan di pantai.” Aditama menghela napas, tidak bisa menolak.
Last Updated: 2025-09-03
Chapter: Extra Part #2“Kamu menerima kehamilan ini, Mas?” tanya Kinara pelan, sorot matanya ragu.“Kenapa nanya begitu?” Aditama mengernyit. “Jelas Mas terima, itu anak Mas.”“Tapi… Abi masih kecil banget, baru satu tahun lebih. Kayak… kebobolan gitu.”Aditama terkekeh kecil, menggeleng. “Nggak ada istilah kebobolan, Ra. Kita melakukannya dengan sadar dan sama-sama mau. Kamu ini lucu, punya suami malah takut hamil.”Kinara menunduk, pipinya bersemu. Namun Aditama segera meraih jemarinya, menggenggam hangat.“Mas tahu, mengandung, melahirkan, sampai menyusui itu bukan hal mudah. Karena itu, Mas janji bakal bikin kamu senyaman mungkin. Kamu nggak sendirian, Sayang. Suruh saja Nadeo kalau kamu butuh apa-apa,” kekehnya saat melihat mata sang istri membulat dan mulutnya sedikit terbuka ingin melayangkan protes. “Atau Abi,” lanjutnya sedikit memutar tubuh mungil di pangkuannya. “Jagain Mama, ya! Jangan maunya nyusu aja kerjanya. Papa udah banyak ngalah sama Abi—”“Heh … heh …! Ngomong apa sih,” protes Kinara menu
Last Updated: 2025-09-02
Chapter: Extra Part #1Empat tahun berlalu sejak perjalanan panjang Kinara dan Aditama sebagai orang tua. Waktu telah menjadikan mereka lebih dewasa, lebih utuh, dan semakin menyadari betapa berharga kebersamaan yang kini mereka miliki.Kinara memutuskan untuk tidak lagi fokus mendesain. Waktunya kini telah sepenuhnya ia abdikan untuk kedua putranya—Nadeo, si sulung yang beranjak semakin pintar dan penuh rasa ingin tahu, serta si kecil Abinza Deo Aditama yang hari ini genap berusia satu tahun. Baginya, menjadi seorang ibu sepenuhnya bukan berarti meninggalkan impian, melainkan menggantinya dengan kebahagiaan yang lebih nyata.Pokoknya Kinara adalah wanita paling cantik seisi rumah, memiliki tiga bodyguard—suami tampan dan dua anak lelakinya yang tak kalah tampan. Pesona alaminya tak pernah luntur meski sudah menjadi ibu dua anak.Fany, sang adik, kini telah menempuh sekolah khusus desain di luar negeri dan tinggal di asrama atas permintaannya sendiri. Meski begitu, rumah mereka tak pernah terasa sepi. Justru
Last Updated: 2025-09-01
Chapter: Bab 6. Ketahuan?Begitu Bianca duduk di kursi penumpang depan dan menutup pintu, Liam langsung menyalakan mesin. Namun, baru beberapa detik mobil melaju, suaranya terdengar datar. "Barista tadi kekasihmu?" Bianca sontak menoleh. "Hah?" Liam tetap menatap jalan di depannya, seolah pertanyaan itu sama sekali tidak penting. Bianca terdiam sejenak, sampai akhirnya ia seperti paham dengan siapa yang Liam bicarakan. Akhirnya, ia kembali bersuara, “Gery bukan kekasih saya, dia pemilik coffee shop itu.” Liam tidak menjawab, ia hanya melirik sekilas. Dan bukannya merespon jawaban Bianca tadi, Liam justru menunjuk layar mobil yang menampilkan GPS dan berkata, “Masukkan alamat tempat tinggalmu.” “Tapi, Tuan—” “Bisakah tidak terus membantah, Bianca?” potong Liam cepat sambil menatap Bianca sejenak. Bianca menelan ludahnya sebelum akhirnya mengangguk pelan. Akhirnya, dengan ragu ia memasukkan alamat kosnya ke sistem navigasi. Tak ada lagi suara yang keluar, kecuali deru mobil yang melaju dengan tenang. Bah
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Bab 5. Pelanggan TetapKeesokan paginya, Bianca kembali tiba di kediaman Tuan Besar Hayes. Sesuai instruksi atasannya, hari ini ia kembali mendampingi seluruh agenda Tuan Besar Hayes sejak pagi. Baru saja selesai memastikan jadwal di tablet yang dibawanya, sebuah suara menyapanya. "Hari ini kamu selesai jam berapa?" Bianca mendongak. Adrian berjalan menghampirinya dengan senyum hangat seperti biasa. Ia kembali menunduk, mengecek jadwal sekali lagi. "Kalau tidak ada perubahan, sekitar jam tiga atau empat sore agenda Tuan Besar Hayes sudah selesai. Setelah itu—" "Kamu tidak kembali ke kantor lagi," potong Adrian sambil tersenyum. Bianca mengangkat wajahnya. "Tuan tahu?" "Daddy yang kasih tahu," jawab Adiran singkat. "Ah begitu …” Bianca mengangguk sambil tersenyum kecil. Adrian menyelipkan kedua tangannya ke saku celana. "Kebetulan aku juga selesai lebih awal." Senyum pria itu semakin lebar. "Berarti hari ini aku boleh menagih janjimu." Bianca langsung teringat ucapannya kemarin. Ia memang berjanji
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Bab 4. Tugas TambahanBianca menghembuskan napas panjang sambil menatap punggung Liam yang perlahan menjauh. Baru setelah lelaki itu menghilang dari pandangannya, ia kembali menjatuhkan tubuh ke kursi. Setiap kali berhadapan dengan Liam, Bianca selalu merasa waswas. Ketegasan dan wibawanya memang mengingatkannya pada Tuan Besar Hayes, tetapi sorot matanya yang dingin dan wajahnya yang nyaris tak pernah menunjukkan ekspresi membuatnya sulit ditebak. Sangat berbeda dengan Adrian yang hangat dan mudah mencairkan suasana. Bianca segera menggeleng pelan. Tidak sepantasnya ia membandingkan kedua putra atasannya. Beberapa saat kemudian, Bianca merapikan meja kerjanya dan bersiap pulang. Namun, pekerjaannya hari itu belum benar-benar selesai. Selain menjadi asisten Tuan Besar Hayes, malam ini ia juga harus bergegas ke coffee shop tempatnya bekerja paruh waktu. Tok. Sebuah ketukan pelan di atas meja membuat Bianca mendongak. "Ke ruangan saya." Liam menarik kembali tangannya dari meja Bianca, lalu berbalik beg
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Bab 3. Panggilan KhususPekerjaan Bianca hari ini cukup padat. Mulai dari menghadiri rapat hingga menyiapkan berbagai kebutuhan Tuan Besar Hayes. Tanpa terasa, langit di luar jendela mulai meredup. Bianca masih sibuk menatap layar laptopnya, memeriksa kembali beberapa dokumen, sampai sebuah suara membuyarkan konsentrasinya. "Tuan Hayes?" Bianca mendongak. Sedetik kemudian, ia mendapati Adrian berdiri di hadapannya dengan senyum hangat yang sudah begitu khas. "Oh..." Adrian terkekeh pelan sambil menggeleng. "Aku tidak suka dipanggil sekaku itu. Just Adrian." Bianca langsung menggeleng kecil. "Tidak bisa, Tuan." Bianca tersenyum canggung. "Rasanya kurang sopan." "Kenapa?" Adrian menyandarkan satu tangan di meja Bianca, masih menatapnya penuh rasa ingin tahu. "Bagaimanapun juga, Tuan adalah putra atasan saya," jawab Bianca berusaha tetap menjaga profesionalitasnya. Adrian menghembuskan napas panjang dengan ekspresi kecewa yang jelas dibuat-buat. "Bagaimana kalau..." Bianca berpikir sejenak sebelum menga
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Bab 2. Perihal KopiBianca membeku sesaat. Suara Liam begitu pelan hingga hanya ia yang dapat mendengarnya. Ia sama sekali tidak menyangka lelaki itu mengungkit kejadian di kafe tadi. "Bianca, ada apa? Kenapa wajahmu jadi pucat?" Suara Adrian membuyarkan lamunan Bianca tepat ketika Liam kembali menjaga jarak. "Sepertinya kamu butuh kopi dingin, Bianca," goda Liam, tersirat. Adrian bergantian menatap Liam dan Bianca. "Do you need some caffeine?" tanya Adrian. "Haruskah kita istirahat sebentar? Kamu pasti lelah menunggu kami." "Tidak, Tuan. Saya baik-baik saja," pangkas Bianca. Ia buru-buru menggeleng dengan memaksakan senyuman di wajahnya. "Kalau begitu, mari. Mobilnya sudah menunggu." Bianca segera mengajak kedua putra Tuan Besar Hayes menuju mobil. Setelah memastikan mereka masuk dan perjalanan menuju kediaman atasannya berlangsung lancar, barulah Bianca kembali ke kantor. Namun, alih-alih merasa lega karena tugasnya telah selesai, langkah Bianca justru terasa lunglai. Tubuhnya lemas, semen
Last Updated: 2026-07-25
Chapter: Bab 1. Pertemuan Tak Terduga“Anak sialan! Kapan kamu kirim uangnya? Utang ayahmu itu terus membengkak, rumah ini bisa disita kalau tidak segera dibayar!” Pagi itu, Bianca Josephine sedang mengantri di kafe bandara. Tadi, ia ditugaskan untuk menjemput dua putra Tuan Besar Hayes, seorang politikus yang akan segera mengakhiri masa jabatannya. Sejak merantau ke Montclair pada usia dua puluh tahun, Bianca yang kini berusia dua puluh tiga tahun bekerja sebagai asisten pribadi politikus senior tersebut. “Secepatnya Bianca kirim uangnya, Bu.” “Secepatnya itu kapan? Ethan juga dijadwalkan operasi minggu ini. Kerjamu cuma enak makan dan tidur di sana. Kamu nggak mikirin keluarga, ya!” Bianca memejamkan mata sejenak. Ia menoleh ke belakang, lalu mempersilakan pelanggan di belakangnya untuk maju lebih dulu. Bianca menghembuskan napas panjang saat panggilan terputus begitu saja. Ia menjadi tulang punggung keluarganya setelah kematian ayahnya. Usai mendapatkan pesanannya, Bianca melangkah menuju sebuah meja. Matanya t
Last Updated: 2026-07-25