Chapter: 360. Dikenal“Saya, Dok?” Darma mengangguk kecil, memastikan bahwa perempuan di hadapannya memang orang yang ia maksud. “Saya ingat sekarang. Istri Dokter Abra,” ujar Darma akhirnya. Serayu tersenyum. “Oh, iya. Benar, saya, Dok.” “Maaf baru menyapa. Tadi sempat ragu.” Darma mengulurkan tangannya lebih dulu. “Senang bertemu dengan Anda.” Serayu sempat sungkan, tetapi akhirnya menyambut uluran tangan itu. Bagaimanapun, di lingkungan profesi mereka, Darma lebih senior darinya. “Nggak apa-apa, Dok.” Pertemuan yang awalnya hanya sekilas itu ternyata berlanjut menjadi percakapan yang cukup panjang. Darma lebih banyak bercerita. Ia bahkan sempat menceritakan pengalamannya ketika menjadi relawan saat internship dan mendapat kesempatan dimentori langsung oleh Abra. Sementara Serayu lebih banyak mendengarkan. Sesekali ia menimpali dengan pertanyaan singkat, lebih sering lagi hanya tersenyum mendengar cerita Darma tentang suaminya. “Saya banyak dapat ilmu dari dr. Abra,” ujar Darma sambil terkekeh.
Terakhir Diperbarui: 2026-09-18
Chapter: 359. Jarak JauhHubungan Jarak jauh be like … Hari kedua Serayu mengikuti seminar. Sementara itu, Abra sudah tiba di Malaysia untuk menjalani rangkaian pemeriksaan dan pengobatan lanjutan. Baru beberapa saat lalu Serayu akhirnya bisa menghubungi suaminya. “Mas, maaf, ya… Saya hectic banget,” rajuk Serayu begitu panggilan mereka tersambung. Abra yang sedang duduk di tepi ranjang hotel hanya mengembuskan napas. “Nggak sesuai ekspektasi.” Serayu mengerjapkan mata. “Mas…” “Komunikasi kita jelek banget.” “Iya, maaf, Mas.” Serayu langsung membujuk dengan suara lembut. “Besok saya usahain lebih sering kabarin Mas yaaa….” “Ya sudah.” Abra mengalah. “Mas juga nggak bisa lama-lama. Harus cukup tidur sebelum besok pemeriksaan.” “Sedihnya…” Serayu mengerucutkan bibir. “But it's okay, Mas. Besok bangun langsung kabari, ya?” “Saya selalu kabari kamu.” Serayu terdiam sebentar, lalu buru-buru mengoreksi ucapannya. “Eh, iya. Maksudnya saya yang akan kabari Mas kalau saya sudah bangun.” Abra
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: 358. Sebelum Berpisah“Mbak,” cegat Abra membuat Riani menoleh. “Biar istri saya yang bawa Satria ke kamar.” Hati Serayu yang sendu seketika menghangat. Ia kembali meraih buah hatinya ke dalam pelukan, lalu mengangguk pamit pada sang mertua. “Kalian ini lebay sekali. Kasihan cucu Mama. Udah kelihatan capek banget,” ujar Riani, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan menantunya. “Serayu masih mau berlama-lama dengan Satria, Ma,” kata Abra mencoba memberi pengertian. Memanfaatkan kesempatan yang ada, Serayu menciumi seluruh wajah anaknya. Sayangnya, Satria sekali tidak terbangun. Sepertinya, bocah kecil itu benar-benar kelelahan. Serayu tidak pernah menyesali pekerjaannya. Ia mencintai profesinya dan paham tanggung jawabnya. Namun, tidak bisa di pungkiri, setiap harus meninggalkan Satria, ada rasa berat yang memenuhi dadanya. Cukup lama Serayu hanya duduk menikmati wajah lelap Satria. Ia mengusap rambut halus anaknya perlahan penuh sayang. Cukup lama serayu hanya menikmati wa
Terakhir Diperbarui: 2026-09-09
Chapter: 357. Sebelum Berpisah“Selalu aktifkan live location kamu. Wajib video call setiap hari, terutama sebelum tidur,” oceh Abra sambil memeluk istrinya dari belakang. Saat ini Serayu sedang duduk di pangkuan suaminya. Tangannya sibuk memasukkan pakaian Abra satu per satu ke dalam koper. “Iya... saya ingat,” jawabnya. “Tidak boleh ada rekan dokter laki-laki yang masuk ke kamar kamu,” tambah Abra. Serayu langsung menoleh. “Mau dituduh main serong atau gimana ini?” “Hanya mengingatkan.” Abra mengecup pipi istrinya. “Intinya, tidak boleh berdua-duaan dengan rekan dokter laki-laki.” “Ya kali kalau mau membahas materi?” “Harus ada yang menemani. Nggak baik berduaan dengan lawan jenis. Sayang, yang ketiganya bisa saja setan.” Abra kembali mengingatkan. “Makan yang teratur. Saya tahu kamu kalau sudah belajar bisa lupa segalanya.” Serayu melirik Abra tajam. Bukannya merasa bersalah, lelaki itu justru memajukan wajahnya dan kembali mengecup pipi sang istri. Serayu mengembuskan napas pelan. Ia masih beta
Terakhir Diperbarui: 2026-09-02
Chapter: 356. PersetujuanHari kedua MPASI, Serayu sendiri yang menyiapkan makanan untuk Satria. Seantusias itu istri Dokter Abra. Pagi-pagi sekali ia sudah sibuk di dapur, memastikan makanan sang buah hati siap sebelum dirinya berangkat ke rumah sakit. “Masakan mamanya juga nggak kalah enak,” kata Abra sambil memperhatikan Satria yang tampak bersemangat menyantap makanan di hadapannya. “Lucu banget sih, Mas. Cepat banget anaknya gede. Udah makan aja.” Serayu merajuk dengan nada manja. “Padahal kemarin masih nemplok terus, nen.” Abra menatap Satria dengan senyum bangga. Rasanya baru kemarin ia masih menggendong bayi kecil yang hanya bisa menangis dan menyusu. Kini, anak itu sudah mulai belajar menikmati makanan pertamanya. “Kamu sudah mulai cicil perlengkapan yang mau dibawa saat seminar nanti?” tanya Abra kali ini, mengalihkan perhatian kepada istrinya. Serayu mengangguk. “Iya. Nggak banyak juga kok bawaannya.” “Bawa baju hangat juga.” “Ada, kok, Mas. Nanti saya bantuin Mas packing juga ya malam
Terakhir Diperbarui: 2026-09-02
Chapter: 355. Bincang Sebelum TidurJangan tanya seperti apa kekhawatiran Riani ketika mengetahui cucunya yang baru berusia enam bulan akan ditinggal kedua orang tuanya karena pekerjaan. Kegagalan yang pernah dialaminya di masa lalu membuatnya tak ingin hal serupa terjadi pada cucunya. “Satria sama Mama saja, ya?” pintanya. Entah sudah untuk yang keberapa kalinya Riani mengajukan permintaan itu, tetapi tidak pernah dikabulkan Abra. Abra tidak pernah melarang sang nenek menemui cucunya. Riani bebas datang kapan saja. Mereka pun beberapa kali berkunjung ke rumah Oma dan Opanya untuk bermain. Namun, Abra belum pernah terpikir untuk benar-benar menitipkan Satria kepada Riani. Menurutnya, semua yang sudah dipersiapkannya di rumah jauh lebih dari cukup. Orang-orang yang bekerja di rumah pun sudah dianggapnya seperti keluarga sendiri. Ia sangat mempercayai mereka untuk menjaga Satria. “Soal menu MPASI, Serayu aja yang siapin. Nanny juga ikut aja bersama Satria dan Mama.” Kepala Abra langsung dipenuhi berbagai pertimbangan.
Terakhir Diperbarui: 2026-08-20
Chapter: Extra Part #6“Kamu masih di rumah Abi, Sayang?” tanya Aditama lewat sambungan telepon.Beberapa hari terakhir ia berada di Singapura untuk menghadiri rapat umum pemegang saham. Meski sudah pensiun dan menyerahkan perusahaan pada ketiga putranya, Aditama tetap setia menemani urusan besar yang membutuhkan kehadirannya. Namun, di balik semua itu, ia lebih menikmati masa tuanya berdua bersama sang istri.“Masih, aku mau extend, deh. Dua hari lagi,” jawab Kinara santai.“Mas pulang besok, lho. Kamu malah nambah hari nginap di sana? Mas sendirian dong di rumah?” nada suaranya terdengar seperti rajuk manja.Kinara tersenyum mendengar itu. “Tapi kan aku tetap pulang, Mas. Aku masih kangen sama cucuku.”“Suamimu ini lho juga kangen banget sama kamu.” Kinara terkekeh geli mendengar pengakuan jujur itu.“Boleh ya, Mas? Dua hari aja…,” pintanya lembut. Mana mungkin Aditama bisa menolak. Apa yang tidak bisa ia usahakan untuk istrinya? Mau tidak mau, ia hanya bisa mengalah, meski dalam hati sebenarnya tak rela.
Terakhir Diperbarui: 2025-09-07
Chapter: Extra Part #5“Kamu itu anak yang paling susah keluarnya. Selama hamil kamu, Mama sampai harus bed rest,” keluh Kinara saat menelepon si bungsu yang kini sibuk berkelana di negeri orang.“Bed rest di Bintan, maksud Mama?” sahut Dion santai dari seberang.Kinara melirik sekilas ke arah Aditama yang duduk santai membaca koran. Sang suami hanya tersenyum tipis, ikut mendengarkan percakapan itu.“Pokoknya kamu itu anak yang paling bikin Mama susah,” lanjut Kinara, meski kenyataannya justru berbanding terbalik. Kehamilan Dion adalah yang paling ringan, ia bisa bepergian lintas udara hingga menyeberang lautan tanpa keluhan berarti.“Tapi paling disayang ‘kan?” goda Dion.“Pulanglah, Nak,” lanjut Kinara akhirnya melemah. “Mama kangen banget sama Dion. Tolonglah bantu Mas Nadeo sama Mas Abi. Papa kamu sudah tidak sanggup lagi menanggung semuanya di perusahaan,” ujarnya dengan nada manja sekaligus serius.“Ujung-ujungnya disuruh kerja rodi. Jadi sebenarnya Mama kangen anaknya atau butuh tenaga kerja?” balas
Terakhir Diperbarui: 2025-09-06
Chapter: Extra Part #4Pagi pertama di villa terdengar suara burung laut dan sinar matahari menembus tirai besar membangunkan Kinara lebih dulu. Ia duduk di teras sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Sesekali menoleh melihat suami dan anaknya masih terlelap. Di hadapannya, laut biru membentang luas, ombak kecil berkejaran pelan membuatnya bersemangat hingga beranjak berdiri di sisi pagar balkon. Tak lama kemudian, Nadeo berlari keluar dengan piyamanya, langsung menghambur ke pelukan ibunya.“Bunda, sudah bangun? Lagi lihat laut ya? Mas senang sekali di sini,” gumamnya. “Tidurnya nyenyak.”“Oh, ya? Enak tidurnya?” Nadeo mengangguk setuju. Ia mendekat ke arah perut Kinara berbisik, “Adik suka juga nggak di sini? Sayang sekali tidak bisa main air dan pasir. Mas semalam main pasir pantai dengan Abi,” katanya menceritakan keseruan versinya. Kinara terkekeh, mencium rambut putranya.Ia tersentak saat merasakan pelukan dari belakang. Aditama muncul membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. “Selama
Terakhir Diperbarui: 2025-09-05
Chapter: Extra Part #3Kehamilan kali ini benar-benar terasa berbeda bagi Kinara. Tidak ada drama seperti dua kehamilan sebelumnya. Justru ia merasa jauh lebih rileks, tenang, dan dimanja oleh Aditama. Setiap hari berjalan dengan penuh cinta, seakan waktu tak ingin berlari terlalu cepat. Karena itulah, sore itu saat mereka duduk di ruang tengah, Kinara tiba-tiba mengutarakan keinginannya. “Mas, aku ingin babymoon,” ujarnya sembari mengusap lembut perutnya yang mulai membuncit. Aditama menoleh dengan senyum geli. “Babymoon atau honeymoon?” tanyanya menggoda. “Mas …,” rajuknya manja. “Mau ke mana, Sayang?” Kinara tersenyum penuh arti. “Ke Bintan, yuk!” Sejenak Aditama terdiam, menatap istrinya yang tampak begitu serius. “Berdua saja?” tanya Aditama menggoda. Kinara langsung menggeleng tegas. “Nggak, dong. Aku nggak tega meninggalkan Nadeo dan Abi. Mereka bagian dari kita, masa ditinggal. Babymoon hanya istilah, aslinya pengen liburan di pantai.” Aditama menghela napas, tidak bisa menolak.
Terakhir Diperbarui: 2025-09-03
Chapter: Extra Part #2“Kamu menerima kehamilan ini, Mas?” tanya Kinara pelan, sorot matanya ragu.“Kenapa nanya begitu?” Aditama mengernyit. “Jelas Mas terima, itu anak Mas.”“Tapi… Abi masih kecil banget, baru satu tahun lebih. Kayak… kebobolan gitu.”Aditama terkekeh kecil, menggeleng. “Nggak ada istilah kebobolan, Ra. Kita melakukannya dengan sadar dan sama-sama mau. Kamu ini lucu, punya suami malah takut hamil.”Kinara menunduk, pipinya bersemu. Namun Aditama segera meraih jemarinya, menggenggam hangat.“Mas tahu, mengandung, melahirkan, sampai menyusui itu bukan hal mudah. Karena itu, Mas janji bakal bikin kamu senyaman mungkin. Kamu nggak sendirian, Sayang. Suruh saja Nadeo kalau kamu butuh apa-apa,” kekehnya saat melihat mata sang istri membulat dan mulutnya sedikit terbuka ingin melayangkan protes. “Atau Abi,” lanjutnya sedikit memutar tubuh mungil di pangkuannya. “Jagain Mama, ya! Jangan maunya nyusu aja kerjanya. Papa udah banyak ngalah sama Abi—”“Heh … heh …! Ngomong apa sih,” protes Kinara menu
Terakhir Diperbarui: 2025-09-02
Chapter: Extra Part #1Empat tahun berlalu sejak perjalanan panjang Kinara dan Aditama sebagai orang tua. Waktu telah menjadikan mereka lebih dewasa, lebih utuh, dan semakin menyadari betapa berharga kebersamaan yang kini mereka miliki.Kinara memutuskan untuk tidak lagi fokus mendesain. Waktunya kini telah sepenuhnya ia abdikan untuk kedua putranya—Nadeo, si sulung yang beranjak semakin pintar dan penuh rasa ingin tahu, serta si kecil Abinza Deo Aditama yang hari ini genap berusia satu tahun. Baginya, menjadi seorang ibu sepenuhnya bukan berarti meninggalkan impian, melainkan menggantinya dengan kebahagiaan yang lebih nyata.Pokoknya Kinara adalah wanita paling cantik seisi rumah, memiliki tiga bodyguard—suami tampan dan dua anak lelakinya yang tak kalah tampan. Pesona alaminya tak pernah luntur meski sudah menjadi ibu dua anak.Fany, sang adik, kini telah menempuh sekolah khusus desain di luar negeri dan tinggal di asrama atas permintaannya sendiri. Meski begitu, rumah mereka tak pernah terasa sepi. Justru
Terakhir Diperbarui: 2025-09-01
Chapter: Bab 17. Fakta Baru“Kamu sangat menikmati waktu istirahatmu, Bianca,” ujar Liam. Bola mata Bianca melirik ke kiri dan kanan. Semua rekannya sudah kembali duduk di kursi masing-masing menyibukkan diri. Kan… kan … hal memalukan seperti ini lagi-lagi Liam yang melihatnya. “Tuan butuh bantuan saya?” tanya Bianca lirih. Pelan-pelan ia menelan ludahnya. “Buatkan tiga kopi. Antar ke ruangan Tuan Besar Hayes,” titah Liam. “Baik, Tuan. Tiga kopi,” ulang Bianca. Liam menatap Bianca. Sementara yang ditatap tersenyum kaku. “Akan segera saya buat.” Liam pun pergi meninggalkan area kubikel kerja itu. Begitu sosok itu menghilang di balik lorong, Bianca langsung menjatuhkan kepalanya di meja briefing yang beberapa menit lalu menjadi tempatnya bermain bersama rekan-rekannya. ‘Kaget banget… kayak tiba-tiba… aarrgghhh!’ Bianca gusar di dalam hati. Tak lama terdengar suara kursi kerja beroda mendekatinya. “Bianca, are okay?” Salah seorang rekannya meraih lengannya. Namun, Bianca tetap menenggelamk
Terakhir Diperbarui: 2026-09-30
Chapter: Bab 16. Sikap AnehPercayalah saat bekerja dengan Tuan Besar Hayes, Bianca begitu cekatan, luwes, dan bisa diandalkan. Namun, entah kenapa… setiap kali bekerja dengan Liam, selalu saja ada salahnya dan celah memalukan yang membuatnya terlihat teledor. “Kita ketemu desainer interior, kan?” tanya Liam kepada Bianca sebelum masuk ke dalam mobil usai dari kunjungan kerja. “Benar, Tuan.” Liam mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. Bianca menyusul, kemudian duduk di kursi depan bersama Nolan di sisi kemudi. Liam di belakang memperhatikan Bianca akhirnya membuka suara. “Tidak tanya saya mau makan siang di mana?” Bianca menoleh. Liam menyadari sesuatu terjadi pada Bianca karena wanita itu banyak diamnya sejak tadi. Biasanya, tanpa diminta pun wanita itu sibuk melaporkan ini dan itu. “Mau makan siang di mana, Tuan?” tanyanya akhirnya. “Kamu saja yang pilih tempatnya.” “Baik, Tuan.” Setelah itu, tidak ada lagi percakapan. Sampai akhirnya mobil berhenti di sebuah restoran yang tidak terlalu ja
Terakhir Diperbarui: 2026-09-29
Chapter: Bab 15. Malu“Tuan, Zoom meeting tadi... meeting apa? Tuan tidak punya jadwal meeting pagi ini—” “Seterusnya tugas kamu menyelipkan jadwal meeting seperti tadi, serta kunjungan ke proyek yang kita bahas kemarin,” potong Liam. Bianca langsung berdiri saat mendengar penjelasan Liam sambil merapikan dirinya. “Sebentar... berarti meeting tadi tidak ada orang kantor? Tidak ada Tuan Besar Hayes?” Liam mengangguk. Bianca langsung mengembuskan napas lega. “Bersiaplah. Nolan sudah siapkan pakaian untuk kamu. Ada di meja dekat pintu.” “Pakaian saya? Tidak perlu. Saya bisa pulang sebentar, lalu segera ke kantor—” Kalimat Bianca yang semula penuh semangat perlahan melemah. Matanya mengikuti arah pandang Liam. Lelaki itu mengangkat dagunya ke arah jam yang tergantung di dinding. Bianca menoleh, matanya langsung membulat. ‘Pukul delapan?’ teriaknya dalam hati. “Tuan... bagaimana ini?” Seketika saja wajahnya dipenuhi kepanikan. Sejak bekerja untuk Tuan Besar Hayes, Bianca tidak pernah terlamb
Terakhir Diperbarui: 2026-09-28
Chapter: Bab 14. Mati KutuBianca mengeratkan pelukannya dengan nyaman. Kepalanya mendusel manja pada dada bidang yang terasa empuk dan wangi. ‘Dada bidang? Wangi ini?’ Bianca tiba-tiba membuka matanya yang langsung membulat. Otaknya baru mencerna apa yang sedang terjadi. Ia mengingat kejadian sebelumnya, Liam yang terkulai dan tertidur di atas kepalanya karena tubuh lelaki itu jauh lebih tinggi dibandingkan tubuhnya yang mungil. Tapi … kenapa sekarang posisi mereka malah berbaring sambil berpelukan di sofa? Oh, lebih tepatnya Bianca yang memeluk Liam. Bianca memejamkan matanya rapat-rapat, merutuki dirinya. ‘Sumpah … ini gimana cara lepasinnya?’ rengek Bianca dalam hati. Sementara Bianca sibuk menyusun strategi agar bisa melepaskan tangannya dari tubuh Liam tanpa membangunkannya, lelaki itu justru tengah menjelingkan matanya jengah. “Sampai kapan ini kamu mau peluk saya?” ujar Liam datar. “Saya tahu kamu sudah bangun.” ‘Matilah kamu, Bianca,’ rutuk Bianca lagi pada dirinya, tentunya di dalam ha
Terakhir Diperbarui: 2026-09-25
Chapter: Bab 13. Nyaman Dalam DiamLiam meraih tangan Bianca, lalu perlahan menjauhkannya dari bibirnya. Padahal gerakannya tenang, tapi tetap saja Bianca salah tingkah. Ia abaikan degup jantungnya yang tak karuan saat ini. “Sa–saya pesan makan malam,” ujar Bianca terbata. Ia mengangguk sopan, lalu menunduk segan ketika melewati Liam. Baru beberapa langkah Bianca berbalik bertanya, “Apa Tuan ada alergi makanan?” Liam tidak menjawab, lelaki itu menatap Bianca tanpa berkedip. “Saya hanya ingin memastikan–” “Udang,” pangkas Liam, membuat Bianca membeku, pasalnya ia juga alergi seafood satu itu. “Baik, Tuan.” Bianca pun kembali menuju sofa. Kini, keduanya sudah kembali duduk berdampingan di sofa. “Saya tidak lapar,” kata Liam, entah untuk keberapa kalinya seraya menatap Bianca yang tengah menyiapkan makan malam yang wanita itu pesan untuk mereka malam ini. “Nurut,” balas Bianca. Entah keberanian dari mana pula yang membuatnya mengatur hidup the devil of Hayes family itu. Belum lagi telunjuk nakalnya y
Terakhir Diperbarui: 2026-09-24
Chapter: Bab 12. Week-endBianca tersenyum kaku ketika mendengar Adrian mengatakan kalau ia menemukan tumbler miliknya di mobil Liam. Lelaki itu mengira Bianca sengaja menitipkannya kepada sang atasan. “Lain kali jangan begitu,” ujar Adrian mengingatkan Bianca yang hanya bisa meringis tanpa mengklarifikasi. Kini keduanya sedang menikmati kopi di sebuah kafe. Ya, Bianca memilih menemui Adrian siang itu. Rencananya, sore nanti barulah ia mendatangi apartemen Liam. Panggilan Liam kali ini juga tidak mendesak. Bianca sudah memastikan hal itu. Saat ditanya saja, lelaki itu tidak memberitahu untuk apa sebenarnya ia meminta Bianca datang ke apartemen barunya. “Katanya Montclair ini kopinya bagus,” ujar Adrian sambil memperhatikan cangkir di hadapannya. “Kamu bisa menyarankan Liam berkunjung ke petani kopi di sini.” Bianca hanya tersenyum. “Tapi jujur, aku lebih suka kopi di kafe sebelumnya,” lanjut Adrian. “Kalau tempatnya di-upgrade, mungkin memang karena seenak itu sampai layak dikembangkan.” Bianca mengangg
Terakhir Diperbarui: 2026-09-21