Chapter: 238. Hubungan Yang Membaik?Riani perlahan menarik diri. Ia tampak enggan berada terlalu dekat dengan Serayu. Bukan karena benci, melainkan karena bayang-bayang masa lalu yang kembali menghantuinya. Ingatan terpatri pada apa yang telah ia lakukan pada Serayu dulu, hingga membuatnya berhati-hati. Bahkan hingga akhir pertemuan, wanita paruh baya itu lebih banyak diam. Sikapnya jauh berbeda dari cerita yang didengar—tentang bagaimana ia terus mencari Serayu, memanggil namanya bahkan dalam kondisi tak sadar. “Mas ngerasa nggak… Bu Riani menjauh dari saya?” tanya Serayu pelan, memecah hening di antara mereka. Kini suami istri itu sudah meninggalkan rumah sakit. Kunjungan telah selesai, dilanjutkan lain waktu. “Padahal sebelumnya… beliau kelihatan terbuka banget.” Abra melirik sekilas, lalu kembali fokus pada jalan di depan. “Mama masih diselimuti rasa bersalah. Saya lihatnya begitu.” Serayu mengangguk kecil. Ia pun merasakan hal yang sama. "Tapi bisa dibilang hubungan saya dan Bu Riani jauh lebih baik
Last Updated: 2026-04-08
Chapter: 237. Pertemuan KembaliMelihat Riani berinteraksi dengan perawat, kecemasan Abra justru semakin menguat. Meski dokter mengatakan itu hal yang wajar dan masih dalam tahap aman, tetap saja ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Abra meraih tangan Serayu, berniat membawanya keluar sejenak. Namun, baru saja jemarinya menyentuh tangan istrinya, Jay Wijaya menoleh ke arah pintu. “Abra… Serayu?” Suara itu membuat Riani ikut menoleh. Tatapannya jatuh pada pasangan yang berdiri di ambang pintu tepat ketika perawat selesai dengan kegiatannya. Sunyi tipis menyelimuti ruangan. Perlahan, Riani bangkit. Tubuhnya masih lemah, langkahnya tertatih. Ia menatap lama, seolah berusaha mengingat sesuatu. Entah itu kenangan kebersamaan. Namun kosong. Tidak ada satu pun kenangan yang berhasil ia genggam. Refleks, Abra bergeser, berdiri lebih dekat di sisi Serayu saat Riani mulai melangkah mendekat. Hingga akhirnya, wanita itu berhenti tepat di hadapannya. Dengan ragu, tangannya terulur. Jemarinya menyentuh pipi Abra, m
Last Updated: 2026-04-07
Chapter: 236. Pertemuan Dengan Ibu MertuaRino tertawa lepas mendengar cerita Ezra. Sementara dokter ortopedi itu tidak menoleh ke arah sahabatnya. Ia hanya memainkan sebuah tulang humerus replika tulang panjang yang menghubungkan bahu ke siku di tangannya. “Jadi dia bangga bukan secara pribadi, tapi juga satu rumah sakit bangga sama lo… karena lo dokter ortopedi muda terbaik?” kekeh Rino. “Gue penasaran siapa suaminya. Kalau nggak sanggup, gue bersedia gantiin.” Rino langsung tertawa lebar. “Gila. Mimpi lo. Mimpi jadi pebinor? Nggak masuk akal. Kalau nggak sanggup, istrinya nggak mungkin hamil. Itu tanda mereka baik-baik saja dan harmonis. Ah, satu lagi saling mencintai—woi!” pekiknya, kalimatnya terpotong. Rino refleks menangkap tulang contoh yang dilempar Ezra ke arahnya. “Nggak usah dijelasin juga,” gerutu Ezra. “Haruslah. Biar lo sadar. Jomblo menahun, sekalinya jatuh cinta malah sama bini orang. Parah.” Ezra menghela napas pelan. “Sadar gue. Tapi pelan-pelanlah. Gue juga baru tahu kalau love at first sight itu… ada
Last Updated: 2026-04-06
Chapter: 235. Pujian“Saya mau, Mas,” jawab Serayu, senyumnya merekah. Ia kembali menyuapi dirinya, lalu tanpa ragu merapat, masuk ke dalam dekapan Abra. “Jam besuknya mulai jam lima sore,” ujar Abra pelan. Serayu mengangguk. “Iya. Mas jemput ‘kan?” Abra mengangguk, tangannya membelai sayang puncak kepala kesayangannya. *** Keesokan harinya … Pagi ini Abra sudah lebih dulu bangun. Dapur apartemen yang masih sepi menjadi saksi usahanya menebus kegagalan kecil semalam. Ia berdiri di depan kompor, mengingat setiap langkah dengan lebih hati-hati—takaran yang pas. “Den, Bibi bantu, ya,” tawar asisten rumah tangganya melihat Abra sibuk sendiri. “Saya bisa, Bi.” Garam, minyak zaitun, bawang putih ditumis hingga harum. Bibi tersenyum di ruang utama. Abra menggunakan dapur kotor, tak ingin sibuknya mengusik kesayangannya. Tahu sekali bibi, seberapa sayangnya Abra pada istrinya. Betapa Abra sangat meratukan istrinya. Beberapa menit kemudian, Abra keluar dengan menu kebanggaannya. Serayu baru
Last Updated: 2026-04-05
Chapter: 234. Tak SepadanSore itu, ruangan kerja Abra masih dipenuhi tumpukan berkas. Pintu ruangannya diketuk pelan membuat pandangannya terangkat. “Masuk,” ucapnya singkat. Aksa melangkah masuk, membawa tablet di tangannya. “Pak, data yang Bapak minta sudah saya rangkum. Yang ini … tolong ditandatangani, Pak.” Abra meraih berkas yang Aksa maksud dan menandatanganinya, lalu menyerahkannya kembali. “Tentang dokter ortopedi itu …,” kata Aksa menggantung. “Iya, bagaimana?” tanya Abra, nadanya tersisip rasa penasaran. Aksa menyerahkan tablet, lalu Abra mulai membaca. Ezra Bimantara. Dokter ortopedi baru di rumah sakit tempat Serayu bekerja. Baris demi baris informasi ia telusuri tanpa terburu-buru. Riwayat pendidikan, pengalaman kerja, hingga latar belakang keluarga. Alis Abra terangkat tipis. “Cucu pemilik rumah sakit Husada?” ujarnya sinis, menyeringai tipis. Ia melanjutkan membaca. Ezra baru kembali dari Malaysia, menyelesaikan pelatihan dan praktik di salah satu rumah sakit besar di s
Last Updated: 2026-04-04
Chapter: 233. Perhatian KecilSerayu melirik Ezra. Lelaki itu tampak santai saat mengucapkan perintah tadi, seolah tak terbantah. “Baik, Dok,” sahut Dokter Dwi, segera beranjak ke bed dua. Percakapan yang semula riuh di nurse station mendadak mereda. Beberapa orang kembali pada tugas masing-masing. Ezra melangkah mendekat Serayu yang berdiri di sisi meja nurse station. Lelaki itu merapikan catatan medis pasien yang baru saja ia tangani. “Makan dulu,” ujar Ezra, suaranya tenang namun tegas. “Jangan lewatkan makan siangmu.” “I–iya, Dok.” Ia kembali menunduk, menyelesaikan catatannya. “Berapa usia kandungan kamu?” tanya Ezra kemudian. Serayu menoleh sedikit. “Jalan lima bulan, Dok.” Ada jeda tipis. Darah Ezra berdesir mendengarnya. Namun tak terlihat apa pun berubah di wajah Ezra. “Jaga kesehatan,” katanya singkat. Serayu membeku sejenak. Matanya melirik ke arah Ezra. Lelaki itu tidak menoleh tetap menatap layar di hadapannya. “Terima kasih, Dok,” jawab Serayu. Di tempat lain … Abra mengangkat sedikit k
Last Updated: 2026-04-03
Chapter: Extra Part #6“Kamu masih di rumah Abi, Sayang?” tanya Aditama lewat sambungan telepon.Beberapa hari terakhir ia berada di Singapura untuk menghadiri rapat umum pemegang saham. Meski sudah pensiun dan menyerahkan perusahaan pada ketiga putranya, Aditama tetap setia menemani urusan besar yang membutuhkan kehadirannya. Namun, di balik semua itu, ia lebih menikmati masa tuanya berdua bersama sang istri.“Masih, aku mau extend, deh. Dua hari lagi,” jawab Kinara santai.“Mas pulang besok, lho. Kamu malah nambah hari nginap di sana? Mas sendirian dong di rumah?” nada suaranya terdengar seperti rajuk manja.Kinara tersenyum mendengar itu. “Tapi kan aku tetap pulang, Mas. Aku masih kangen sama cucuku.”“Suamimu ini lho juga kangen banget sama kamu.” Kinara terkekeh geli mendengar pengakuan jujur itu.“Boleh ya, Mas? Dua hari aja…,” pintanya lembut. Mana mungkin Aditama bisa menolak. Apa yang tidak bisa ia usahakan untuk istrinya? Mau tidak mau, ia hanya bisa mengalah, meski dalam hati sebenarnya tak rela.
Last Updated: 2025-09-07
Chapter: Extra Part #5“Kamu itu anak yang paling susah keluarnya. Selama hamil kamu, Mama sampai harus bed rest,” keluh Kinara saat menelepon si bungsu yang kini sibuk berkelana di negeri orang.“Bed rest di Bintan, maksud Mama?” sahut Dion santai dari seberang.Kinara melirik sekilas ke arah Aditama yang duduk santai membaca koran. Sang suami hanya tersenyum tipis, ikut mendengarkan percakapan itu.“Pokoknya kamu itu anak yang paling bikin Mama susah,” lanjut Kinara, meski kenyataannya justru berbanding terbalik. Kehamilan Dion adalah yang paling ringan, ia bisa bepergian lintas udara hingga menyeberang lautan tanpa keluhan berarti.“Tapi paling disayang ‘kan?” goda Dion.“Pulanglah, Nak,” lanjut Kinara akhirnya melemah. “Mama kangen banget sama Dion. Tolonglah bantu Mas Nadeo sama Mas Abi. Papa kamu sudah tidak sanggup lagi menanggung semuanya di perusahaan,” ujarnya dengan nada manja sekaligus serius.“Ujung-ujungnya disuruh kerja rodi. Jadi sebenarnya Mama kangen anaknya atau butuh tenaga kerja?” balas
Last Updated: 2025-09-06
Chapter: Extra Part #4Pagi pertama di villa terdengar suara burung laut dan sinar matahari menembus tirai besar membangunkan Kinara lebih dulu. Ia duduk di teras sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Sesekali menoleh melihat suami dan anaknya masih terlelap. Di hadapannya, laut biru membentang luas, ombak kecil berkejaran pelan membuatnya bersemangat hingga beranjak berdiri di sisi pagar balkon. Tak lama kemudian, Nadeo berlari keluar dengan piyamanya, langsung menghambur ke pelukan ibunya.“Bunda, sudah bangun? Lagi lihat laut ya? Mas senang sekali di sini,” gumamnya. “Tidurnya nyenyak.”“Oh, ya? Enak tidurnya?” Nadeo mengangguk setuju. Ia mendekat ke arah perut Kinara berbisik, “Adik suka juga nggak di sini? Sayang sekali tidak bisa main air dan pasir. Mas semalam main pasir pantai dengan Abi,” katanya menceritakan keseruan versinya. Kinara terkekeh, mencium rambut putranya.Ia tersentak saat merasakan pelukan dari belakang. Aditama muncul membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri. “Selama
Last Updated: 2025-09-05
Chapter: Extra Part #3Kehamilan kali ini benar-benar terasa berbeda bagi Kinara. Tidak ada drama seperti dua kehamilan sebelumnya. Justru ia merasa jauh lebih rileks, tenang, dan dimanja oleh Aditama. Setiap hari berjalan dengan penuh cinta, seakan waktu tak ingin berlari terlalu cepat. Karena itulah, sore itu saat mereka duduk di ruang tengah, Kinara tiba-tiba mengutarakan keinginannya. “Mas, aku ingin babymoon,” ujarnya sembari mengusap lembut perutnya yang mulai membuncit. Aditama menoleh dengan senyum geli. “Babymoon atau honeymoon?” tanyanya menggoda. “Mas …,” rajuknya manja. “Mau ke mana, Sayang?” Kinara tersenyum penuh arti. “Ke Bintan, yuk!” Sejenak Aditama terdiam, menatap istrinya yang tampak begitu serius. “Berdua saja?” tanya Aditama menggoda. Kinara langsung menggeleng tegas. “Nggak, dong. Aku nggak tega meninggalkan Nadeo dan Abi. Mereka bagian dari kita, masa ditinggal. Babymoon hanya istilah, aslinya pengen liburan di pantai.” Aditama menghela napas, tidak bisa menolak.
Last Updated: 2025-09-03
Chapter: Extra Part #2“Kamu menerima kehamilan ini, Mas?” tanya Kinara pelan, sorot matanya ragu.“Kenapa nanya begitu?” Aditama mengernyit. “Jelas Mas terima, itu anak Mas.”“Tapi… Abi masih kecil banget, baru satu tahun lebih. Kayak… kebobolan gitu.”Aditama terkekeh kecil, menggeleng. “Nggak ada istilah kebobolan, Ra. Kita melakukannya dengan sadar dan sama-sama mau. Kamu ini lucu, punya suami malah takut hamil.”Kinara menunduk, pipinya bersemu. Namun Aditama segera meraih jemarinya, menggenggam hangat.“Mas tahu, mengandung, melahirkan, sampai menyusui itu bukan hal mudah. Karena itu, Mas janji bakal bikin kamu senyaman mungkin. Kamu nggak sendirian, Sayang. Suruh saja Nadeo kalau kamu butuh apa-apa,” kekehnya saat melihat mata sang istri membulat dan mulutnya sedikit terbuka ingin melayangkan protes. “Atau Abi,” lanjutnya sedikit memutar tubuh mungil di pangkuannya. “Jagain Mama, ya! Jangan maunya nyusu aja kerjanya. Papa udah banyak ngalah sama Abi—”“Heh … heh …! Ngomong apa sih,” protes Kinara menu
Last Updated: 2025-09-02
Chapter: Extra Part #1Empat tahun berlalu sejak perjalanan panjang Kinara dan Aditama sebagai orang tua. Waktu telah menjadikan mereka lebih dewasa, lebih utuh, dan semakin menyadari betapa berharga kebersamaan yang kini mereka miliki.Kinara memutuskan untuk tidak lagi fokus mendesain. Waktunya kini telah sepenuhnya ia abdikan untuk kedua putranya—Nadeo, si sulung yang beranjak semakin pintar dan penuh rasa ingin tahu, serta si kecil Abinza Deo Aditama yang hari ini genap berusia satu tahun. Baginya, menjadi seorang ibu sepenuhnya bukan berarti meninggalkan impian, melainkan menggantinya dengan kebahagiaan yang lebih nyata.Pokoknya Kinara adalah wanita paling cantik seisi rumah, memiliki tiga bodyguard—suami tampan dan dua anak lelakinya yang tak kalah tampan. Pesona alaminya tak pernah luntur meski sudah menjadi ibu dua anak.Fany, sang adik, kini telah menempuh sekolah khusus desain di luar negeri dan tinggal di asrama atas permintaannya sendiri. Meski begitu, rumah mereka tak pernah terasa sepi. Justru
Last Updated: 2025-09-01