Share

Davin Terluka

Author: Rhea S
last update publish date: 2026-07-30 18:11:02

Davin langsung paham apa yang terjadi saat ini. Dia ikut lari hingga posisinya sama seperti Kenzo. Tatapan Kenzo fokus pada dua pria berbadan besar yang sekarang menyadari keberadaan mereka.

“Hei jangan lari!” seru Davin mempercepat larinya hingga Kenzo berada di belakangnya.

“Wah itu orang yang semalam, Bos!” seru pria berkepala plontos.

“Cepat lari. Jangan sampai kita tertangkap!”

Keduanya berbelok ke arah lorong sempit yang sepi. Banyak jalan yang bercabang hingga kedua preman itu berpenca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Kotak Misterius untuk Cantika

    Damar terus memindahkan data ponsel ke ponsel miliknya. Lalu dengan cepat dia menghapus semua yang ada di ponsel itu hingga memori ponsel kembali kosong. Dia bahkan menyimpan nomor Davin. Meski tubuhnya masih terasa sangat nyeri, Damar memilih tak peduli. Dia harus secepatnya menghilangkan jejak dari ponsel yang dia ambil.“Oke, sudah selesai. Sekarang tinggal satu ponsel lagi!” ucap Damar segera berusaha memecahkan sandi ponsel.“Sepertinya ponsel yang ini cuma untuk urusan pekerjaan,” gumamnya karena tak menemukan hal aneh apapun. Damar kemudian mematikan semua ponselnya. Dia kembali memakai masker dan topinya agar lukanya tak terlalu terlihat. Dia kembali menjual kedua ponsel itu. Damar tersenyum setelah segepok uang sudah ada di tangannya. “Lumayan, setidaknya setengah dari biaya persalinan sudah aku kumpulkan. Sekarang tinggal aku cari setengahnya lagi.” Selesai menjual ponsel, rasa nyeri makin terasa di tubuhnya. Tapi dia memilih pulang ke rumah. “Damar, apa yang terjadi pad

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Rahasia Terkuak

    Mata Damar beralih ke arah Davin yang sedang membeli es krim. Dia sedang mengukur waktu pria itu kembali hingga dia bisa melihat Cantika yang sebenarnya bisa jalan. “Mumpung sedang sepi. Davin juga sebentar lagi kembali. Sebaiknya aku beraksi sekarang!” putus Damar. Damar berjalan pelan dari arah belakang kursi roda. Cantika sama sekali tak menyadari ada orang di belakangnya. Dia lebih fokus melihat ke arah Davin di ujung jalan. Tangan Damar dengan cepat tiba-tiba mendorong kursi roda itu hingga jatuh. Suara jeritan Cantika terdengar saat tubuhnya ambruk ke rerumputan. Davin menarik tas Cantika lalu lari dengan cepat.“Copet!” pekik Cantika panik yang tiba-tiba berlari dan mengejar copetnya. Dia lupa kalau dia seharusnya sedang pura-pura kakinya tak bisa berjalan. “Wah copet tuh. Kejar woi!” teriak orang-orang yang melihat Damar.“Hei pencuri! Kembalikan tasku. Dasar manusia sampah. Pasti ibumu bukan perempuan baik-baik!” teriak Cantika benar-benar kesal.Davin yang berlari dan me

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Bertemu Davin dan Cantika

    Ayunindya masih memperhatikan foto di dinding. Seorang gadis muda yang terlihat cantik dengan latar belakang pantai yang indah. Dia masih ingat wajahnya dan dia sama sekali tak menyangka kalau kamar itu adalah miliknya.“Ayu, memangnya dia siapa?” tanya Damar yang berdiri di belakang Ayunindya. “Namanya Noni. Dia pernah bekerja sebagai office girl di perusahaan Mas Davin. Tapi tidak lama kerjanya, seingatku dia berhenti dan mau menyusul Ibunya kerja di luar negeri,” jelas Ayunindya. Damar menarik napas lega. Setidaknya dia tahu tidak ada ancaman yang berarti di rumah itu. “Mungkin gajinya lebih menjanjikan. Setidaknya aku tahu kita aman di sini.” “Iya. Di sini aku bisa memasak. Ada banyak perlengkapan masak di sini,” usul Ayunindya sambil menarik sprei dan membuka sarung bantal.“Tidak usah. Kamu sebentar lagi akan lahiran. Biar kita beli makan saja setiap hari,” tolak Damar membuka tas besarnya lalu mengambil selimut dan jaket yang ada di sana.“Kamu mau ke mana, Damar?” “Aku le

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Pindah Kontrakan

    Davin dan Adit saling pandang. Wajah mereka sama-sama terlihat menegang. Mata mereka sama-sama tertuju pada semak-semak tinggi yang lebat. Tak terlihat apapun dari pinggir jalan tapi rasa penasaran membuat kaki Davin melangkah.Sementara Ayunindya berubah panik. Matanya membulat saat mendengar suara kaki melangkah mendekat. Dia jadi menyesal kenapa lebih menuruti rasa penasarannya ketimbang ucapan Damar yang memintanya tetap tinggal di Masjid. “Ya Allah, hamba cemas!” lirih Ayunindya tanpa suara. Dia sampai merapatkan tubuhnya ke balik tanaman.“Pak, hati-hati!” seru Adit langsung menarik tangan Davin. Takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu.“Aku hanya ingin lihat!” “Takutnya itu ular atau mungkin binatang berbisa lainnya,” sergah Adit yang membuat Davin tiba-tiba gamang. Suara gemerisik kembali terdengar dari balik tanaman namun kali ini ada seekor kucing kecil yang menyembul keluar sambil mengeong. “Oh, ternyata kucing!” ucap Davin dan Adit akhirnya tersenyum lega. Mereka akhi

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Tak Ingin Bertemu

    Tangan Damar mengepal kuat. Keningnya berkerut dalam memikirkan jalan keluar. Damar pikir dia bukan hanya harus lari tapi juga harus bisa mengecoh Davin agar tak lagi mencari Ayunindya.Sekali lagi Damar mengintip. Matanya memicing memperhatikan dua pria yang masih berusaha mengintip ke dalam rumah kontrakan.“Damar!” panggil Ayunindya dengan pandangan mata penuh tanya. “Ayu, jangan kembali ke rumah. Kamu harus pergi dulu. Biar aku yang urus di sini!” putus Damar dengan pandang mata serius.“Ada apa? Apa ada masalah?” Ayunindya jadi cemas.“Nanti aku ceritakan. Tapi kita harus menjauh dari sini!” ajak Damar berbalik arah ke sebuah jalan setapak kecil. Sepanjang jalan Damar terus memikirkan cara apa yang membuat Davin pergi dan tak lagi kembali. “Damar, jangan bilang Davin ada di sekitar sini?” tanya Ayunindya yang berusaha tak percaya dengan pikirannya sendiri. Damar menoleh dan menatap sorot mata penuh rasa khawatir pada Ayunindya. “Sayangnya kamu benar, Ayu. Davin memang berdir

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Tempat Persembunyian Ayunindya

    Damar berada di ujung sebuah lorong sepi dan penuh semak belukar. Napasnya terengah, keringatnya mengucur deras dan jantungnya berdetak kencang seiring rasa cemas yang mendera dirinya.“Sepertinya sudah aman!” pikirnya sambil terus mengusap kakinya yang terasa nyeri oleh tendangan Davin.Damar melihat ponsel Davin. Sejak tadi dia sudah membuang kartu di ponsel itu dan mengotak-atik ponselnya supaya tak lagi terlacak. “Ini pasti ponsel mahal. Lumayan kalau dijual dan bisa untuk biaya operasi sesar Ayu. Uangnya juga lumayan buat makan beberapa minggu,” gumam Damar menghitung uang yang ada di dompet.“Setidaknya kamu harus ikut bertanggung jawab, Davin. Anakmu sebentar lagi lahir!” ucap Damar sambil melemparkan dompet Davin ke selokan yang dalam.Davin memilih berlari ke arah jalan lain. Dia memutuskan menjual ponsel milik Davin di sebuah toko.Desahan napas Damar terdengar saat uang hasil penjualan ponsel sudah ada di tangannya. “Uangnya lumayan tapi belum mencukupi untuk biaya lahiran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status