Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh

Menjinakkan Pewaris Yang Tak Tersentuh

last updateLast Updated : 2026-09-04
By:  SoffiaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
11Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Arkasean sengaja menutup perasaan dan cinta dalam kehidupannya. Karena tak ingin membuat rasa itu justru jadi pemicu akhir kehidupannya. Tapi detak jantungnya tiba-tiba harus menghadapi yang namanya serangan cinta yang datang dari seorang gadis.

View More

Chapter 1

BAB : 1

 “Pak Arka!!”

Sebuah teriakan membuat langkah Arka terhenti, diiringi oleh hembusan napas berat yang menyertai. Melihat ekpressi itu, sudah bisa ditebak siapa yang sedang memanggilnya. Dan ya ... kini sesosok makhluk sedang berdiri dihadapannya.

Arka bersidekap dada, menatap tajam pada gadis itu.

“Kamu bisa nggak, jangan terus berteriak seperti itu memanggil saya?”

“Kalau memanggil dengan nada rendah, bapak nggak akan mendengarnya.”

“Ya lain kali kamu hampiri saya baik-baik seperti manusia normal pada umumnya, Livia. Paham?”

Gadis bernama Livia itu bukannya menjawab atau merespon peringatan yang Arka berikan, tapi malah tersenyum sembringah seakan habis dikasih kata sayang saja.

“Kenapa kamu tersenyum begitu?” tanya Arka memastikan apa yang terjadi pada Livia, hingga memasang ekpressi begitu.

“Jadi terharu. Ternyata Bapak hapal nama saya.”

“Gimana nggak hapal, kamu tiap detik berasa berputar putar di sekitaran saya,” balas Arka gregetan.

Setelah mengatakan hal itu, Arka melanjutkan langkahnya menuju ruangannya di lantai atas. Parahnya, gadis ini malah terus mengekorinya layaknya anak bebek yang takut nyasar.

“Pak, saya belum selesai bicara loh. Main tinggal begitu saja.”

“Saya ada kelas.”

“Ya tau, kan saya di kelas Bapak.”

“Yasudah, nanti bicaranya di kelas saja.”

“Tapi ini tuh pembicaraan yang private, Pak Arka. Masa di kelas,” balas Livia tetap pada pendiriannya.

Lagi, langkah Arka seolah dipaksa untuk berhenti. Jangan ditanya lagi seperti apa emosinya saat ini. Berasa mau menelan gadis ini mentah-mentah saking kesalnya.

“Katakan,” ujarnya.

Livia tersenyum penuh harap. “Boleh minta nomer HP Bapak nggak?”

“Buat apa?”

“Buat nanya-nanya.”

“Ada di grup kelas, kan.”

“Ish, bukan yang itu, Pak. Tapi nomer pribadi. Yang di grup kelas mah pasti nomer khusus yang memang kesebar. Saya tuh mau nya yang private,” jelas Livia.

“Ya kalau mau nanya perihal tugas atau masalah kuliah, tinggal kamu up di grup. Yang lain juga bisa bantu. Biasanya kan begitu.”

“Masa saya mau nanyain ... kondisi bapak, udah makan atau belum, ngasih ucapan selamat malam juga di grup?”

Arka maju satu langkah, hingga membuat posisinya dan Livia semakin dekat. Kemudian meletakkan telapak tangannya di atas kepala gadis itu seolah mentransfer do’a khusus agar otak dia berjalan dengan benar.

“Kamu itu mahasiswi saya, Livia. Jadi, bersikap lah layaknya seorang mahasiswi pada dosennya.”

Livia berasa sentuhan Arka  di atas kepalanya seperti sebuah guyuran air di kala panas terik. Rasanya adem sampai ke jantung, hingga detakannya makin parah. Tapi langsung tersadar dan tersenyum.

“Kalau begini juga sikap dosen ke mahasiswinya juga nggak, Pak?” tanya Livia pada sikap yang Arka berikan padanya.

Arka menarik napasnya panjang, seakan Livia sedang benar-benar menguji sabarnya. Langsung berbalik badan dan melangkah pergi begitu saja. Kelamaan di sekitar Livia, bisa-bisa ia ikutan stress.

Livia memasang ekpressi puas dan tersenyum sembringah. Kemudian langsung kabur dari sana dan kembali ke kelas. Itu niat awalnya, tapi saat melihat seseorang dari kejauhan membuat niatnya beralih dan gegas menghampiri dia.

“Kak!” hebohnya langsung menggandeng lengan dua orang mahasiswi dengan wajah girang.

Yap, Narinda dan Anzhel atau biasa dipanggil Jeje oleh teman-temannya.

“Roman-romannya ada yang baru dapat jackpot, nih,” ujar Jeje yang memerhatian sikap dan raut wajah Livia.

“Kak Jeje bener,” sahut Livia langsung.

Rinda menghentikan langkahnya, menatap Livia yang ada di sampingnya. “Jangan bilang kalau kamu menang lomba,” tebaknya.

Livia bersidekap dada, memasang ekspressi bangga dengan senyuman. “Pastinya dong.”

“Arrgghh ... congrats sayangku!” heboh Rinda yang merasa ikuta bahagia dengan pencapaian yang Livia dapatkan.

“Kita udah was-was banget tahu nggak. Takut kamu nggak lolos ke babak selanjutnya. Karena kemarin kan waktunya mepet banget. Ternyata berhasil,” ungkap Jeje ikut senang.

Terlihat santai bahkan bukan sejenis cewek kutu buku, tapi kalau sudah berhadapan dengan yang namanya tantangan atau lomba, Livia itu bisa jadi berbeda.

“Nanti ku traktir, ya.”

“Hem, kapan kak?” tanya Livia langsung menagih ucapan Jeje.

“Minggu deh. Mumpung libur. Ajak Gia juga.”

Livia mengangguk setuju, tapi dia langsung tersadar. “Tapi ada satu hal lagi yang mau ku bahas.”

“Apa?”

Kini pandangan Livia tertuju pada Narinda. Tadi Arka, Sekarang giliran Rinda yang akan ia pepet. Karena apa? Karena Rinda adalah adiknya Arka, jadi peluang untuk mendapatkan nomer HP dosen itu akan sangat besar.

“Kak Rinda, boleh minta nomer HP nya Pak Arka, nggak?”

Tawa Jeje langsung meledak saat mendengar permintaan Livia pada Rinda. “Gadis ini blak-blakan sekali ngejar Kakak lo, Rin.”

Sudah satu tahunan loh Livia ini mepetin Arka. Lebih tepatnya saat status dia jadi mahasiswi baru dan makin gercep saat tahu kalau Rinda adalah adiknya Arka. Apalagi sebagai sahabat dari Narinda, jelas Jeje tahu betul.

“Pantang mundur sebelum dapat dong, Kak,” balas Livia. Kemudian mengarah pada Rinda dengan wajah penuh harap. “Kak Rinda, boleh nggak? Plisss ...”

Rinda bersidekap dada, menatap Livia dengan serius.

“Vi, kamu itu percuma loh deketin tu cowok. Nggak akan ada hasilnya. Buang-buang waktu aja,” ujar Rinda.

“Kan belum dicoba,” balas Livia.

“Satu tahun ya, Vi. Apa waktu percobaannya masih kurang?” Giliran Jeje yang memberikan balasan.

Livia hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal, karena ternyata Rinda dan Jeje tahu durasi pengejarannya.

“Aku bukannya mematahkan hati seorang Livia loh, ya. Apalagi kamu itu sahabatku. Cuman ngasih peringatan aja. Kalau apa yang kamu lakuin itu percuma. Kak Arka itu hatinya udah dia tutup rapat dan digembok. Jadi, ya ... begitulah.”

“Kenapa ditutup?” tanya Livia.

Narinda tak memberikan jawaban. Kayaknya nggak terlalu penting juga ia infokan pada Livia.

Rinda merangkul pundak Livia. “Daripada kamu pusing mikirin Kak Arka yang rada ngeselin itu, mending kita jajan yuk.”

“Aku ada kelas tapi ...”

“Yahh ... sayang sekali.” Rinda dan Jeje memberikan keluhan berbarengan.

Lagi-lagi Livia mengarah pada Rinda, kemudian menyodorkan ponsel miliknya pada dia.

“Pliiss, Kak. Ayo ...”

“Nanti aku digaplok sama dia kalau ngasih-ngasih nomer pribadinya. Karena memang dia pake buat kehidupan pribadinya,” jelas Rinda.

Livia menarik napasnya panjang, kemudian menghela perlahan. Ya benar juga sih. Kalau ketahuan ia dapatkan kontak pribadi dari Rinda, nanti Rinda yang kena.

“Sepertinya aku harus berjuang lagi, nih.”

“Semangat!!!”

“Makasih calon kakak ipar,” ucap Livia langsung kabur sambil cekikikan.

“Yeee ... ngaku-ngaku,” heboh Rinda dengan kelakuan Livia.

Livia gegas menuju kelasnya. Untungnya Pak Dosen bernama Arkasean itu belum masuk. Bisa-bisa ia kena omel habis-habisan kalau keduluan. Udah pernah punya pengalaman, makanya ia tahu kalau versi ngomelnya seorang Arka ternyata takutin.

“Livia lo darimana sih. Untung Pak Arka belum masuk,” ujar Hagia menyambut Livia yang baru datang.

“Habis pepetin Pak Arka dulu tadi. Tapi belum berhasil,” jawabnya.

Hagia malah ngakak mendengar curhatan Livia. “Udahlah, mumet gue sama lo. Udah di bilang susah, Livia. Jalurnya ribet. Jalur darat, padat merayap. Jalur langit pun macet parah dan kalau lo tempuh kayaknya juga bakalan gagal.”

Livia menggerutu.

“Parah banget lo. Harusnya sebagai sahabat yang baik, lo semangatin gue dong. Biar mental gue nggak breakdance. Kak Rinda aja ngasih gue semangat loh.”

“Cemungut, Livia. Hwaiting!!”

Mood booster banget kan kalau temenan sama Livia. Iya, bahkan saking mood nya kayaknya dia nggak pernah badmood. Itulah yang banyak orang nilai dari gadis ini.

Di saat yang bersamaan, dosen masuk kelas. Yap, dosen idaman para gadis. Sosok manusia dari kaum adam yang bukan hanya sempurna dari fisik, tapi juga otak dan isi dompet. Ya siapa juga yang tak kenal keluarga Wijaya.

“Tugas yang saya berikan kemarin tolong dikumpulkan,” ujar Arka menggetok mejanya dengan spidol yang ia pegang.

Satu persatu, mahasiswi dan mahasiswa maju ke depan kelas dan meletakkan lembaran tugas di meja.

“Nitip, Vi,” ujar Gia menyodorkan lembaran tugasnya pada Livia.

Saat Livia beranjak dari kursinya, tiba-tiba saja Melisa datang mendesak dari arah belakangnya hingga membuat Livia terdorong ke sudut meja.

“Lo ya kalau jalan yang bener dong,” kesal Hagia saat melihat dengan jelas kalau Melisa memang sengaja menyenggol Livia, hingga menabrak meja.

“Apasih lo. Ngapain gue sengaja. Kurang kerjaan banget!” umpat Melisa melanjutkan langkahnya menuju depan kelas.

“Baik-baik aja, kan?” tanya Gia memastikan keadaan Livia.

“Iya,” jawab Livia, kemudian lanjut menuju arah depan kelas untuk mengumpulkan tugasnya.

“Ini Pak tugas saya. Bapak pasti bangga, karena saya menyelesaikan dengan sangat benar dan rapi,” ujar Melisa tersenyum manis dihadapan dosennya itu.

Terlihat bodo amat, itulah ekpressi yang Arka perlihatkan. Seakan tak mempan sama sekali akan godaan para pemujanya.

Tadi dengan sengaja menyenggolnya hingga menabrak meja, sekarang papasan dan Melisa lagi-lagi dengan sengaja mencengkeram lengan Livia dengan kukunya yang panjang itu.

“Melisa lo apaan, sih?!” kesal Livia meringis saat tangannya terasa perih.

“Hem, apa? Lo tiba-tiba marah ke gue.”

“Sengaja nabrak gue, sekarang lo sengaja nyakar gue!”

“Ngasal!”

Balasan melisa asli bikin emosi naik. Jelas-jelas menyerang, tapi terus saja mengelak.

“Saya masih di sini, ya. Kalau kalian mau bertengkar, di luar sana!” tegur Arka pada Melisa dan Livia yang malah adu mekanik dihadapannya.

Melisa tersenyum sinis pada Livia, kemudian lanjut kembali ke kursinya. Sedangkan Livia lanjut menyerahkan tugas pada Arka.

Pandangan Arka malah terfokus pada pergelangan tangan Livia yang tampak terluka gores.

Arka menghela napas, kemudian menyenderkan punggungnya di kursi sambil bersidekap dada.

“Melisa, kesini kamu.”

Melisa agak kaget saat namanya dipanggil. Pun dengan Livia yang masih di posisinya. Ada apa gerangan dosen ini sampai kembali memanggil Melisa?

Melisa gegas menghadap Arka. “Iya, Pak?”

Arka menatap Melisa fokus. “Apa yang barusan kamu lakukan. Kenapa tangan Livia terluka begitu?”

Melisa yang ditanya, tapi Livia mendadak kegirangan karena ternyata Arka ngeh dengan luka di tangannya. Padahal kan nggak niat sama sekali buat nyari simpati.

“Lah, mana saya tahu, Pak,” elak Melisa.

“Jelas-jelas lo nyakar tangan gue barusan,” ujar Livia.

“Fitnah banget lo. Nggak sengaja doang lo bilang gue nyakar tangan lo. Bilang aja mau nyari simpati sama Pak Arka, kan,” balas Melisa mode ngegas.

“Apasih lo nggak jelas. Kalau udah salah yaudah sih ngaku. Pake ngeles lagi lo.”

“Lo mau nyari gara-gara sama gue, ya?!”

“Diam!”

Emosi Arka kini tertuju pada Melisa dan Livia, tapi seisi kelas dibuat hening.

“Kalau memang kamu nggak sengaja, tinggal minta maaf. Itu nggak akan membuat reputasi kamu hancur kan, Melisa?”

Livia mengulum senyumannya. Bukan reputasi saja yang hancur, tapi juga harga diri Melisa sepertinya akan seperti diinjak kalau mengeluarkan kata maaf.

“Gue minta maaf,” ucapnya dengan berat hati.

“Awas lo kalau ngulang lagi. Gue cekek lo,” balas Livia dengan muka kecut. Tapi langsung tersadar saat tatapan tajam Arka sedang mengarah padanya. Kemudian kembali menatap Melisa dengan senyuman ramah tamah. “Dimaafkan, Melisa. Lain kali jangan cakar-cakar lagi, ya. Kalau enggak, gue cakar lo balik!”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status