LOGINAyunindya terpaksa menerima pernikahan yang sudah diatur Ibu dan Kakek Soedjatmiko untuknya. Davin Sabiru – pria dingin pewaris perusahaan Sabiru yang menjadi suaminya. Pernikahan mereka hambar tanpa sentuhan hingga satu malam yang tak direncanakan membuat Ayunindya hamil. Di saat yang sama kekasih di masa lalu Davin kembali. “Aku sudah kembali, Ayu. Jadi bercerailah dengan Davin.” Lalu apa yang akan terjadi pada pernikahan mereka jika kekasih masa lalu Davin bahkan semua orang kompak meminta mereka berpisah?
View More“Dia sudah kembali!” suara Davin terdengar dingin dan tanpa ekspresi.
Ayunindya menghentikan langkah kakinya. Dia membeku dan hanya menatap punggung belakang Davin. Alat test pack masih menggantung di tangannya. Tadinya dia mau memberitahu kabar kehamilannya pada Davin tapi ucapan Davin yang ambigu membuat Ayunindya menebak-nebak. “Dia?” “Cantika kekasihku!” jawab Davin singkat. Pria itu tanpa rasa bersalah bicara jujur pada Ayunindya. Bahkan gerakannya menyemprotkan parfum terlihat begitu tenang. Tubuh Ayunindya sempat limbung. Cepat-cepat dia menyembunyikan alat test pack di punggung belakangnya. Dia pikir Davin yang akan mendapatkan kejutan pagi ini sebelum mereka berangkat kerja tapi ternyata justru dirinya yang terkejut. “Oh dia!” angguk Ayunindya lemah. Dia sadar sekarang alat test pack itu tidak ada gunanya. Kesalahan satu malam dalam pernikahan mereka yang dingin sepertinya tak membuat Davin berhenti mengejar Cantika. Pernikahan mereka bukan diawali dengan cinta tapi dengan permintaan kakek Davin sebelum sang kakek meninggal. Kakeknya bahkan membuat wasiat kalau perusahaan dan semua kekayaan milik kakeknya akan jatuh ke tangan Davin setelah menikah dengan Ayunindya. Apa alasan kakeknya sampai menikahkan Ayunindya dan Davin tak ada yang tahu sama sekali. Kakeknya memilih gadis polos dan yatim piatu seperti Ayunindya daripada Cantika yang merupakan putri pengusaha. “Kamu terlihat tampan sekali, Davin. Apa kamu suka dasinya?” tanya Puspita, mertua Ayunindya. Wanita itu menyentuh permukaan halus dasi milik putranya tapi sorot mata sinisnya menatap Ayunindya yang berdiri di belakang Davin. “Aku suka, Ma. Terima kasih,” sahut Davin. Mereka berdua baru saja turun dari tangga. Pagi ini mereka harus segera tiba di kantor. “Bukan Mama yang beli. Kemarin Mama jalan sama Cantika dan dia yang membelikan dasi ini,” Puspita tersenyum miring sambil kembali melirik tak suka pada Ayunindya yang sudah duduk di meja makan. “Sampaikan ucapan terima kasihku pada Cantika, Ma.” “Kamu sampaikan saja sendiri, Davin. Bukannya hari ini Cantika juga akan datang ke kantormu,” kali ini senyum penuh kemenangan terlihat mengembang di wajah Puspita. Dia bisa melihat perubahan wajah menantunya yang pias. “Mas mau sosis atau telur saja?” tanya Ayunindya berusaha mengalihkan pembicaraan. Sejak tadi perasaannya sudah tidak nyaman. “Ambilkan aku sosis!” Suara Davin terdengar lebih seperti perintah daripada permintaan tolong. Tapi Ayunindya tetap beranjak dari kursinya. Dia merasa lebih bisa bernapas di dapur daripada di ruang makan bersama mertua dan suaminya. Tapi sayangnya Puspita sengaja melangkah ke dapur bahkan tanpa rasa bersalah mengambil piring berisi sosis yang sudah disiapkan Ayunindya. “Kamu seharusnya pergi dari rumah ini. Tidak ada yang menginginkan kamu tetap di sini Ayunindya!” tekan mertuanya tajam. Ayunindya menelan ludahnya. Dia sudah sangat biasa menerima perlakuan buruk dan kata-kata tajam mertuanya juga kelakuan tak peduli suaminya. Terbesit rasa penyesalan dalam hatinya saat dulu memutuskan menerima pernikahan yang diatur kakek Soedjatmiko. “Davin bahkan tidak peduli padamu. Buat apa bertahan? Karena harta bukan?” tuduh Puspita menatap angkuh. “Kalau begitu kenapa Mama dan Mas Davin datang melamar waktu itu? Kalau tidak menginginkan aku seharusnya jangan aku yang dijadikan istri Mas Davin, Ma,” tegas Ayunindya tak terima. Mata Puspita sampai melotot. “Seharusnya kamu menolak waktu itu. Kasihan putraku harus menikahi wanita tak berguna sepertimu. Orang tuamu hanya orang biasa bukan pengusaha seperti Cantika." “Tolong jangan bawa-bawa ibu dan ayahku. Mereka sudah tiada,” pinta Ayunindya kali ini sendu. Dia benar-benar merasa sendirian di rumah itu. Tak ada lagi orang tua tempatnya pulang dari segala resah. “Andai bukan karena perintah kakeknya Davin, aku tidak akan pernah menerimamu di rumah ini,” sudut bibir Puspita terangkat. Tatapan matanya masih angkuh. Dengan cepat dia membawa piring sosis ke ruang makan. Bahu Ayunindya melorot. Tarikan napasnya terasa panjang kali ini. Hari-harinya berat semenjak menikah dengan Davin. “Ini sosisnya, Davin. Mama yang terpaksa mengambilkan untukmu. Ayu malah asyik mengobrol dengan pelayan.” Suara mertuanya terdengar dari balik dinding. Ayunindya berhenti sejenak dan memejamkan mata sesaat. Bahkan hanya sekedar sosis sudah bisa jadi alasan mertuanya untuk menjelekkan dirinya. Davin tak bereaksi sama sekali. Dia tetap makan dengan tenang. Hingga Puspita mendengus kesal. “Jangan terlambat pagi ini. Aku ada rapat,” titah Davin saat selesai makan. “Baiklah,” Ayunindya hanya mengangguk. Satu lagi permintaan dari kakek Soedjatmiko waktu itu, yaitu menjadikan Ayunindya sekretaris Davin. Mobil Davin akhirnya melaju meninggalkan pelataran rumah mewah itu. Sementara Ayunindya masih berdiri di depan pintu utama sambil memesan ojek online di ponselnya. “Cih, kalau aku jadi kamu pasti aku akan menuntut perceraian. Buat apa jadi istri yang tak dianggap sama sekali?” mertuanya berdecih lalu meninggalkan Ayunindya sendirian di luar pintu rumah. Ayunindya membeku. Ucapan mertuanya langsung menampar dirinya. “Bercerai? Tapi bagaimana dengan ini?” tanya Ayunindya sambil mengelus perutnya. * Napas Ayunindya terengah-engah saat akhirnya sampai pintu utama kantor. Keringat membanjiri keningnya. Dia berlari cepat setelah turun dari mobil bus tadi. Pagi ini dia tidak mendapatkan ojek online hingga terpaksalah dia menunggu mobil bus di halte. Baru saja membuka pintu kaca tebal itu, kaki Ayunindya urung melangkah. Davin sudah berdiri tak jauh dari pintu, matanya menyorot tajam ke arah Ayunindya sambil melihat jam tangannya. “Maaf Pak, aku terlambat,” ucap Ayunindya tertunduk. Napasnya bahkan belum kembali normal. “Jam berapa ini, Ayu? Kamu tahu rapat dimulai sepuluh menit lagi!” sergah Davin tanpa peduli kalau saat ini banyak karyawan di lobi yang memperhatikan mereka. Tak ada yang tahu Ayunindya adalah istri Davin. Hingga semua orang menganggap layak kemarahan Davin saat menegur Ayunindya. Ayunindya menggigit bibirnya. Dia hanya bisa mengeluh dalam hati. Andai saja Davin mengajaknya satu mobil, mana mungkin dia terlambat. “Aku–” “Jangan ulangi!” Davin tak mau mendengar alasan Ayunindya. Sorot mata Ayunindya mengikuti arah langkah Davin hingga dia sedikit kaget saat melihat ada Cantika sudah duduk manis di sofa. Wanita itu bahkan sudah melihatnya sejak pertama kali membuka pintu kantor. “Hai Ayu,” sapa Cantika tersenyum manis. Tapi Ayunindya tahu kalau Cantika hanya pura-pura ramah. “Hai!” Ayunindya tetap membalas sapaan itu sambil tersenyum. Dia berusaha terlihat baik-baik saja. Hingga akhirnya dia memilih ke toilet. Merapikan pakaian dan riasannya. Baru beberapa saat dia di depan kaca toilet, di sampingnya sudah berdiri Cantika yang menatapnya dari kaca. Udara langsung terasa menipis seiring ketegangan di ruang toilet itu. Tapi Cantika terlihat sangat percaya diri. Satu tarikan di sudut bibirnya langsung membuat Ayunindya merasa terintimidasi. “Aku sudah kembali, Ayu. Jadi bercerailah dengan Davin.”Damar terus memindahkan data ponsel ke ponsel miliknya. Lalu dengan cepat dia menghapus semua yang ada di ponsel itu hingga memori ponsel kembali kosong. Dia bahkan menyimpan nomor Davin. Meski tubuhnya masih terasa sangat nyeri, Damar memilih tak peduli. Dia harus secepatnya menghilangkan jejak dari ponsel yang dia ambil.“Oke, sudah selesai. Sekarang tinggal satu ponsel lagi!” ucap Damar segera berusaha memecahkan sandi ponsel.“Sepertinya ponsel yang ini cuma untuk urusan pekerjaan,” gumamnya karena tak menemukan hal aneh apapun. Damar kemudian mematikan semua ponselnya. Dia kembali memakai masker dan topinya agar lukanya tak terlalu terlihat. Dia kembali menjual kedua ponsel itu. Damar tersenyum setelah segepok uang sudah ada di tangannya. “Lumayan, setidaknya setengah dari biaya persalinan sudah aku kumpulkan. Sekarang tinggal aku cari setengahnya lagi.” Selesai menjual ponsel, rasa nyeri makin terasa di tubuhnya. Tapi dia memilih pulang ke rumah. “Damar, apa yang terjadi pad
Mata Damar beralih ke arah Davin yang sedang membeli es krim. Dia sedang mengukur waktu pria itu kembali hingga dia bisa melihat Cantika yang sebenarnya bisa jalan. “Mumpung sedang sepi. Davin juga sebentar lagi kembali. Sebaiknya aku beraksi sekarang!” putus Damar. Damar berjalan pelan dari arah belakang kursi roda. Cantika sama sekali tak menyadari ada orang di belakangnya. Dia lebih fokus melihat ke arah Davin di ujung jalan. Tangan Damar dengan cepat tiba-tiba mendorong kursi roda itu hingga jatuh. Suara jeritan Cantika terdengar saat tubuhnya ambruk ke rerumputan. Davin menarik tas Cantika lalu lari dengan cepat.“Copet!” pekik Cantika panik yang tiba-tiba berlari dan mengejar copetnya. Dia lupa kalau dia seharusnya sedang pura-pura kakinya tak bisa berjalan. “Wah copet tuh. Kejar woi!” teriak orang-orang yang melihat Damar.“Hei pencuri! Kembalikan tasku. Dasar manusia sampah. Pasti ibumu bukan perempuan baik-baik!” teriak Cantika benar-benar kesal.Davin yang berlari dan me
Ayunindya masih memperhatikan foto di dinding. Seorang gadis muda yang terlihat cantik dengan latar belakang pantai yang indah. Dia masih ingat wajahnya dan dia sama sekali tak menyangka kalau kamar itu adalah miliknya.“Ayu, memangnya dia siapa?” tanya Damar yang berdiri di belakang Ayunindya. “Namanya Noni. Dia pernah bekerja sebagai office girl di perusahaan Mas Davin. Tapi tidak lama kerjanya, seingatku dia berhenti dan mau menyusul Ibunya kerja di luar negeri,” jelas Ayunindya. Damar menarik napas lega. Setidaknya dia tahu tidak ada ancaman yang berarti di rumah itu. “Mungkin gajinya lebih menjanjikan. Setidaknya aku tahu kita aman di sini.” “Iya. Di sini aku bisa memasak. Ada banyak perlengkapan masak di sini,” usul Ayunindya sambil menarik sprei dan membuka sarung bantal.“Tidak usah. Kamu sebentar lagi akan lahiran. Biar kita beli makan saja setiap hari,” tolak Damar membuka tas besarnya lalu mengambil selimut dan jaket yang ada di sana.“Kamu mau ke mana, Damar?” “Aku le
Davin dan Adit saling pandang. Wajah mereka sama-sama terlihat menegang. Mata mereka sama-sama tertuju pada semak-semak tinggi yang lebat. Tak terlihat apapun dari pinggir jalan tapi rasa penasaran membuat kaki Davin melangkah.Sementara Ayunindya berubah panik. Matanya membulat saat mendengar suara kaki melangkah mendekat. Dia jadi menyesal kenapa lebih menuruti rasa penasarannya ketimbang ucapan Damar yang memintanya tetap tinggal di Masjid. “Ya Allah, hamba cemas!” lirih Ayunindya tanpa suara. Dia sampai merapatkan tubuhnya ke balik tanaman.“Pak, hati-hati!” seru Adit langsung menarik tangan Davin. Takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu.“Aku hanya ingin lihat!” “Takutnya itu ular atau mungkin binatang berbisa lainnya,” sergah Adit yang membuat Davin tiba-tiba gamang. Suara gemerisik kembali terdengar dari balik tanaman namun kali ini ada seekor kucing kecil yang menyembul keluar sambil mengeong. “Oh, ternyata kucing!” ucap Davin dan Adit akhirnya tersenyum lega. Mereka akhi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.