Share

Menyamar

Author: Rhea S
last update publish date: 2026-08-13 20:47:27

Adit sudah menyamar jadi pemulung dan detektif sudah memakai pakaian tukang pembersih sampah.

Davin akhirnya tiba di ujung jalan Anggrek. Jalanan itu sepi. Ada banyak pepohonan rimbun yang tumbuh di pinggir jalan. Suara yang terdengar hanya suara angin.

Tak ada rumah di bagian ujung. Hanya ada taman sepi. Warga kawasan itu juga sepertinya tak terlalu suka ke taman. Terlihat dari lokasi yang terlihat tak terawat. Ada banyak tanaman liar dan rumput yang sudah tinggi.

Davin memperhatikan tempat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Dokter Obgyn

    Davin terhuyung saat menerima bogem mentah dari papa Cantika yang mendadak. Tapi dia memilih tak membalas. Dia merasa bersalah telah melanggar janjinya pada Cantika.Davin tatap wajah papa Cantika. Wajah tua itu memerah dengan mata yang mendelik tajam. Davin yakin ancamannya tidak main-main. Sementara Cantika sendiri kaget dengan reaksi papanya namun tetap saja dia senang dengan ancaman papanya. “Ayo bicara. Kenapa diam saja!” Hardik papa Cantika. “Pak, kita ada di ruang publik!” Elak Davin karena orang-orang dari warung makan sampai keluar memperhatikan mereka. Apalagi sekarang memang waktunya sarapan pagi.“Aku tidak peduli. Mereka semua tidak penting bagiku. Kamu sudah mempermainkan putriku!” Tekan papa Cantika dengan napas memburu. “Aku tahu Bapak marah karena aku mengambil keputusan sepihak!” “Oh jelas. Siapa pun pasti marah kalau berada di posisiku!” sambar papa Cantika masih dengan tangannya yang mengepal erat. “Tapi aku tetap tidak bisa. Istriku ternyata masih hidup!” Ung

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Pukulan untuk Davin

    Ayunindya sampai terdiam mendengar ucapan Damar. Dia sama sekali tak menyangka Damar akan mengungkapkan isi hatinya. Dia pikir perhatian Damar selama ini karena mereka sudah saling kenal sejak di desa.“Damar?” Ayunindya mengerutkan keningnya. Mengira Damar hanya iseng meski wajah Damar terlihat sama sekali tidak seperti orang yang sedang iseng. Damar menatap wajah Ayunindya. Wajah manis yang tak bosan untuk dipandang. “Aku tidak mengerti bagaimana bisa suamimu menyia-nyiakan kamu, Ayu? Kamu perempuan yang punya segala hal yang bisa buat laki-laki jatuh cinta.”Ucapan Damar justru membuat air mata Ayunindya jebol. Selama menikah dengan Davin, dia bahkan percaya kalau dia perempuan yang jelek dan tidak punya hal yang membanggakan hingga dia tak bisa membuat Davin menyukai dirinya. “Aku bukan perempuan yang seperti kamu bilang, Damar. Aku cuma yatim piatu yang nggak punya kelebihan apapun,” lirih Ayunindya tertunduk.“Apa yang membuatmu sampai bicara seperti ini? Apa Davin sering memb

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Lamaran Mendadak

    Damar dan anak buahnya saling pandang. Mereka sama sekali tidak memikirkan sejauh itu. Ayunindya hanya bisa tersenyum tipis. Satu hal yang dia syukuri selama ini adalah calon anaknya tidak pernah rewel.“Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Lagipula aku masih menyimpan vitamin dari dokter. Calon anakku juga pasti sangat pengertian!” ucap Ayunindya menenangkan semuanya. Ayunindya mengelus perutnya. Dia sangat bangga dengan calon anaknya. Sudah sejauh ini mereka berdua berjuang untuk tetap hidup. “Tenang saja, Nak. Di sini lebih aman daripada di kota. Justru di kota sangat bahaya buat kita berdua,” gumam Ayunindya dalam hati. Dia ingat bagaimana di kota ada saja hal berbahaya yang menghampirinya. Dan dia akhirnya tahu siapa yang melakukannya.“Ayu, kamu tenang saja. Kita bakal siap mengantar kamu ke pulau lain kalau memang akan melahirkan!” putus Damar.Ayunindya tersenyum dan mengangguk cepat. “Terima kasih, Damar. Kamu selalu membantuku.” Damar mengacungkan jempolnya. “Ayo terus berja

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Mencari Jejak Ayunindya

    Cantika pulang kali ini dengan mama dan papanya. Dia memilih kapal yang terpisah dari Davin dan Puspita. Sepanjang perjalanan dengan kapal, Cantika bahkan mabuk laut. Sekuat tenaga dia menolak keinginan untuk makan rujak buah. “Ca, kamu kenapa?” tanya mamanya heran melihat Cantika terlihat sangat lemas.“Tidak apa-apa, Ma,” Cantika menggelengkan kepala.“Tapi wajahmu pucat!” Mamanya langsung memegang kening Cantika. “Tidak panas ya.” Cantika langsung memundurkan langkahnya. Takut mamanya menyadari sesuatu. Tapi perutnya tiba-tiba kembali bergejolak.Cantika memilih berlari ke arah wastafel. Mamanya yang khawatir langsung menyusul. “Kamu kenapa, Ca?” tanya mamanya sambil memijat lembut punggung belakang Cantika.“Tidak apa-apa, Ma. Cuma mabuk perjalanan saja, mungkin juga masuk angin,” elak Cantika.“Oh, kalau begitu di kamar saja. Kamu istirahat dulu ya. Lagipula kenapa kita pulang tidak bersama Davin dan Bu Puspita?” tanya mamanya heran.“Tidak apa, Ma. Aku memang yang mau pulang

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Putus

    Cantika benar-benar kaget mendengar ucapan Davin. Padahal dia datang untuk meminta pernikahan mereka dipercepat tapi malah Davin minta pertunangan mereka dibatalkan. Cantika syok. Dia mulai merasa rencananya akan berantakan. Padahal dia ingin menjadikan pernikahan dia dan Davin sebagai tameng kalau benar dia hamil.“Davin…kamu lagi sakit ya? Ucapanmu melantur,” lirih Cantika cemas.“Tidak. Aku serius, Ca. Sepertinya kita memang tidak ditakdirkan bersama,” ungkap Davin sambil memandang ke arah laut. Dia bahkan tidak menoleh pada Cantika “Tapi kenapa Davin? Apa salahku?” Cantika mulai menangis tersedu seakan dia korban yang patut dikasihani.“Kamu tidak salah, Ca. Aku yang salah!” jawab Davin. Suaranya terdengar datar tanpa emosi apapun. Cantika memiringkan kepalanya. Menatap Davin lebih dekat. Dia harap hanya candaan. Tapi wajah Davin terlihat sangat serius.“Davin, apapun kesalahan kamu aku bakal terima. Oke?!” Cantika menggenggam tangan Davin.Davin buru-buru menarik tangannya. Hi

  • (Bukan) Istri Pilihan Tuan Davin    Keputusan Davin

    Damar yang mendapatkan telepon dari manajer di pulau terlihat langsung terdiam. Dia menutup telepon namun keningnya berkerut dalam. Damar tahu masalahnya kali ini serius. “Damar, makanan sudah siap. Ayo makan,” ajak Ayunindya yang muncul di pintu. Wajah Ayunindya terlihat lebih segar setelah minum obat dan istirahat.“Baiklah! Aku akan segera ke sana,” ucap Damar malah memilih ke anjungan kapal. Matanya terus menatap laut biru namun pikirannya sibuk memikirkan jalan keluar. “Apa ada yang sedang kamu pikirkan?” tanya Ayunindya yang ternyata mengikuti Damar. Ayunindya bisa merasakan kalau Damar seperti sedang dalam masalah. “Tidak ada. Aku hanya sedang melihat ikan yang meloncat kegirangan!” jawab Damar berbohong. “Oh, baiklah. Apa tidak mau bergabung makan bersama yang lain? Nanti makanannya dingin,” tawar Ayunindya lagi.“Tidak. Kamu duluan saja. Ibu hamil harus banyak makan!” “Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lagi. Apa kita jadi ke pulau berikutnya?” tanya Ayunindya. Damar s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status