LOGINDitindas mertua, dipaksa cerai saat suami kritis, dan diusir dalam keadaan hamil muda. Amara memilih mengalah agar pria yang dicintainya bisa hidup. Enam tahun kemudian, Brian menatap mantan istrinya dengan tatapan benci. "Kamu pikir bisa pergi begitu saja setelah menghancurkan hidupku?" Brian tidak tahu, selama enam tahun ini Amara berjuang sendirian membesarkan darah daging mereka. Dan Brian juga tidak tahu, luka di hatinya hanyalah kebohongan besar yang dirancang oleh ibunya sendiri. Akankah kebenaran terungkap sebelum terlambat?
View MoreSejak Jumat malam, suasana di dalam unit apartemen sederhana milik Amara terasa lebih hangat. Di dalam kamar, Aira duduk bersila di atas tempat tidur dengan kedua tangan mungilnya memeluk boneka kelinci kesayangannya.Amara baru saja selesai merapikan beberapa lembar draf kertas di mejanya sebelum melangkah mendekati ranjang sang putri. Ia menyisir rambut hitam Aira yang halus dengan jemarinya, menyunggingkan senyum lembut yang menenangkan."Sayang, besok hari Sabtu ... Mama harus masuk kantor sebentar, ya," bisik Amara halus.Mata bundar Aira berbinar seketika. "Lho? Hari Sabtu Ibu kerja lagi? Berarti Aira ditinggal di rumah?"Amara menggeleng pelan, lalu mencubit gemas pipi mungil putrinya. "Nggak, dong. Besok Aira ikut Mama ke kantor. Mau?""Beneran, Ma?!" pekik Aira kegirangan. Anak kecil itu mendadak melompat duduk tegak, melupakan rasa kantuknya. "Aira boleh ikut ke tempat kerja Mama yang banyak gambar perhiasan cantiknya itu?!""Boleh, Sayang," kekeh Amara melihat antusiasme bu
Malam harinya, di dalam kamar, Aira sudah lelap terbuai mimpi. Amara baru saja menyeduh segelas teh hangat dan bersiap melanjutkan draf perhiasan pesanan Siska di meja kerjanya ketika layar ponselnya menyala, menampilkan nama Naren.Amara menggeser tombol hijau di layar lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya."Halo, Ren?" panggil Amara lembut, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi."Halo, Ra! Belum tidur, kan?" Suara Naren terdengar dari seberang telepon, selalu membawa kehangatan tersendiri di tengah kelelahan Amara."Belum. Ini baru mau lanjut corat-coret draf lagi. Kamu sendiri baru selesai kerja?""Iya, baru banget menutup laptop. Capek banget minggu ini, Ra." Naren terkekeh pelan. "Nah, makanya aku telepon kamu sekarang. Akhir pekan ini kan Sabtu-Minggu, aku mau ngajak kamu sama Aira jalan-jalan. Aira kemarin bilang ke aku kalau dia mau banget ke kebun binatang, terus makan es krim yang corak pelangi itu. Gimana kalau hari Sabtu besok kita berangkat pagi-pagi?"Amara meng
"Aku tidak menjebakmu, Brian! Aku cuma mempertahankan hakku!" jerit Siska, air mata emosinya mulai menetes. "Kamu pikir aku tidak tahu?! Sejak Amara kembali, kamu tidak pernah menatapku lagi! Kamu selalu memikirkan wanita itu! Aku ini calon istrimu, Brian! Tapi kamu malah memperlakukan aku seperti sampah cuma gara-gara wanita sialan itu!""Cukup, Siska!" potong Brian dingin, suaranya mendadak berubah menjadi sangat rendah. "Jangan bawa-bawa nama orang lain untuk menutupi tingkah lakumu yang melampaui batas.""Kenapa? Kamu takut Amara sakit hati melihat kita mesra?!" cecar Siska penuh kecemburuan yang membakar. "Kamu takut dia makin membencimu?! Ingat, Brian! Dia itu mantan istri yang sudah membuangmu saat kamu sekarat dulu! Kenapa kamu masih membela dia di depanku?!"Kata-kata Siska menusuk saraf sensitif Brian, rasa muak Brian pada tingkah Siska jauh lebih mendominasi saat ini. Brian merapikan jasnya yang sedikit kusut, memutar tubuhnya dan menunjuk pintu keluar dengan tegas."Keluar
"Maksud Tante apa? Brian kenapa lagi, Tante? Jangan bikin Siska takut!"Diana menarik napas panjang, berusaha menetralkan gemuruh di dadanya walau suaranya tetap bergetar hebat. "Brian ... dia baru saja bilang kalau dia tidak mau menikah denganmu, Siska! Dia menolak pernikahan yang tinggal satu bulan lagi ini!""A-apa, Tante?!" jerit Siska, suaranya meninggi. "Brian bilang apa?! Tidak mau menikah denganku?! Gimana bisa, Tante?! Semua undangan sudah siap dicetak! Gaun pernikahan Siska sudah hampir selesai! Kenapa tiba-tiba Brian bilang begitu?!""Tante juga kaget setengah mati, Siska!" adu Diana sambil berjalan bolak-balik di ruang keluarga. "Tante tadi cuma tanya persiapan pernikahan kalian yang tinggal satu bulan lagi. Tapi tiba-tiba dia mengamuk! Dia bilang dari dulu dia tidak pernah setuju dijodohkan denganmu! Dia bilang pernikahan ini cuma obsesi Tante saja!""Kurang ajar!" geram Siska. "Ini pasti gara-gara perempuan murahan itu, kan?! Ini pasti gara-gara Amara sialan itu kem






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews