Mag-log inDitindas mertua, dipaksa cerai saat suami kritis, dan diusir dalam keadaan hamil muda. Amara memilih mengalah agar pria yang dicintainya bisa hidup. Enam tahun kemudian, Brian menatap mantan istrinya dengan tatapan benci. "Kamu pikir bisa pergi begitu saja setelah menghancurkan hidupku?" Brian tidak tahu, selama enam tahun ini Amara berjuang sendirian membesarkan darah daging mereka. Dan Brian juga tidak tahu, luka di hatinya hanyalah kebohongan besar yang dirancang oleh ibunya sendiri. Akankah kebenaran terungkap sebelum terlambat?
view more"BRIAN!"
Teriakan histeris terdengar di tepi jalan. Suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak disusul benturan keras, mengubah segalanya dalam sekejap mata. Tubuh Brian terlempar beberapa meter ke aspal setelah dihantam mobil berkecepatan tinggi yang langsung tancap gas melarikan diri. Pria yang beberapa detik lalu tersenyum hangat ke arah Amara sambil membawa kantong plastik berisi makanan malam mereka, kini tergeletak tak berdaya. Tubuhnya bersimbah darah. "Brian! Brian, bangun! Jangan becanda, Brian!" Amara berlari kencang, melempar payung di genggamannya hingga terjatuh di kubangan air hujan. Tangan Amara gemetar hebat saat merengkuh kepala Brian. Bau amis darah langsung menyeruak, memenuhi indera penciumannya. Darah segar mengalir deras dari kepala Brian, membasahi pakaian Amara. "Tolong! Siapa saja tolong!" jerit Amara hysteris, menatap jalanan yang sepi. Tidak ada orang. Dengan jemari yang licin oleh darah, Amara merogoh ponsel murah dari saku celananya. Air matanya menetes deras, mengaburkan layar ponsel yang retak. "Halo! Ambulans! Tolong, suami saya ditabrak mobil di Jalan Flamboyan! Tolong, pendarahannya banyak sekali! Cepat, Mbak, tolong!" Suara Amara tercekat oleh tangisan yang tak terbendung. Suara roda brankar yang didorong cepat bergema di koridor Rumah Sakit Medika. Amara berlari pincang di samping tubuh Brian yang sudah dipasangi masker oksigen dan berbagai peralatan darurat. "Pak, Brian! Buka matamu, Brian! Aku di sini!" tangis Amara terus menggenggam jemari Brian yang kian dingin. "Maaf, Mbak. Anda harus tunggu di luar. Kami harus segera menangani pasien!" tegas seorang perawat menahan tubuh Amara di depan pintu ruang penanganan kritis. Pintu tertutup rapat. Amara luruh di lantai, menatap telapak tangannya yang dipenuhi darah kering suaminya. Tubuhnya bergetar hebat. Setiap detik terasa bagai siksaan yang membakar jiwanya. Satu jam berlalu. Pintu ruangan akhirnya terbuka. Seorang dokter pria berwajah tegang keluar sambil melepas sarung tangannya. Amara langsung bangkit berdiri, hampir tersandung kakinya sendiri. "Dokter! Bagaimana suami saya? Brian baik-baik saja, kan, Dok?" Dokter menatap Amara dengan raut wajah berat. "Apakah Anda keluarga dari Pasien Brian?" "Saya istrinya, Dok." "Ibu Amara, kondisi Pak Brian sangat kritis. Benturan keras di kepalanya menyebabkan pendarahan otak yang cukup parah. Tekanan di dalam tempurung kepalanya terus meningkat. Jika tidak segera dilakukan tindakan operasi pembedahan otak malam ini juga, nyawa suami Anda tidak akan tertolong." Bagaikan disambar petir di siang bolong, lutut Amara lemas. "O-operasi, Dok? Lakukan, Dok! Tolong selamatkan suami saya!" "Operasi ini tergolong bedah saraf rumit dan membutuhkan tim spesialis. Estimasi biaya awal yang harus diselesaikan untuk tindakan dan deposit adalah dua ratus juta rupiah. Kami butuh persetujuan dan pembayaran deposit sebelum operasi dimulai." "Dua ratus juta?" Amara memegang dadanya yang terasa sangat sesak. "Dok, kami tidak punya uang sebanyak itu ... tabungan kami tidak sampai sepuluh juta. Bisakah operasinya dilakukan dulu, Dok? Saya janji akan cari uangnya!" "Maaf sekali, Bu Amara. Ini regulasi rumah sakit swasta untuk tindakan khusus. Tanpa kejelasan biaya dan penanggung jawab, kami tidak bisa mengeluarkan alat dan obat-obatan medis tertentu. Tolong diusahakan secepatnya, waktu kita tidak banyak." Dokter itu menepuk bahu Amara prihatin sebelum kembali ke dalam. Amara menyandar di dinding, napasnya memburu. Dari mana dia bisa mendapat uang dua ratus juta dalam hitungan jam? Teman-teman Brian sesama pekerja serabutan jelas tidak memiliki uang sebesar itu. Saat keputusasaan berada di puncak, suara langkah kaki sepatu hak tinggi yang tegas bergema di koridor. Seorang wanita paruh baya berpakaian sangat elegan dengan perhiasan berlian berjalan mendekat, didampingi dua orang pengawal berjas hitam. Ibu Diana. Ibu kandung Brian. Mata Amara berbinar melihat kehadiran wanita itu. Tanpa berpikir panjang, Amara berlari mendekat. Tanpa peduli pada harga dirinya, Amara langsung menjatuhkan tubuhnya, berlutut dan memeluk erat kaki Ibu Diana. "Ibu ... Ibu Diana! Tolong Brian, Bu! Brian kecelakaan parah!" tangis Amara pecah, terisak-isak di bawah kaki wanita yang selama ini membencinya. Ibu Diana menghentikan langkahnya. Ia menatap dingin ke arah Amara yang berlutut di tanah, lalu menarik kakinya sedikit karena jijik melihat pakaian Amara yang bernoda darah. "Lepaskan tanganmu dari sepatuku," ujar Diana dengan suara dingin bagai es. "Mana Brian?" "Brian di dalam, Bu ... Brian mengalami pendarahan otak. Dokter bilang harus segera dioperasi malam ini juga, kalau tidak ... Brian bisa meninggal, Bu!" Amara mendongak, matanya yang sembab menatap Diana penuh pemohonan. "Biayanya dua ratus juta, Bu. Amara nggak punya uang sebanyak itu. Tolong bantu Brian, Bu. Dia anak kandung Ibu." Diana tersenyum sinis. Ia bersedekap dada, menatap Amara dari atas ke bawah dengan pandangan merendahkan. "Anak kandung?" Diana tertawa hambar. "Baru sekarang kamu mengakui dia anakku? Dulu, saat aku melarangnya menikah denganmu, apa yang dia katakan? Dia bilang dia siap melepaskan kemewahan keluarganya demi kamu! Dia rela hidup sengsara, bekerja serabutan jadi kuli dan buruh, hanya demi menikahi gadis yatim piatu miskin seperti kamu!" "Amara mohon, Bu ... marahi Amara, caci maki Amara, tapi tolong selamatkan nyawa Brian dulu. Brian butuh Ibu sekarang." Amara menggenggam kedua tangan Diana, memohon histeris. Diana menepis tangan Amara dengan kasar. "Dia menderita seperti ini karena kamu, Amara! Kalau dia tidak bersamamu, dia tidak akan hidup sengsara! Dia melupakan statusnya sebagai ahli waris tunggal keluarga hanya karena terpesona oleh wanita miskin yang tidak punya masa depan seperti kamu!" "Saya tahu saya salah, Bu ... saya yang bodoh ... Tapi tolong, Bu, nyawa Brian dalam bahaya. Waktunya tidak banyak!" Amara kembali menundukkan kepalanya hingga dahi menyentuh lantai koridor yang dingin. "Amara rela melakukan apa saja, Bu ... asal Brian bisa selamat dan sehat lagi. Amara mohon ...." Koridor itu hening sejenak. Hanya terdengar suara terisak Amara yang pilu. Diana menatap wanita di bawah kakinya dengan mata menyipit. Sebuah ide melintas di benaknya. Ini adalah kesempatan emas untuk menarik kembali putra tunggalnya ke dalam genggamannya. "Kamu bilang ... kamu rela melakukan apa saja demi keselamatan Brian?" tanya Diana datar, suaranya menusuk. Amara mendongak cepat, menyapu air matanya. "Iya, Bu! Apa saja! Amara janji akan turuti semua kemauan Ibu, asal Ibu mau bayar biaya operasi Brian!" Diana tersenyum tipis. "Baik. Aku akan menanggung seluruh biaya operasi Brian sampai dia benar-benar sembuh. Aku bahkan akan membawanya ke rumah sakit terbaik di luar negeri jika diperlukan." Napas Amara tertahan. "Terima kasih, Bu ... Terima kasih banyak—" "Tapi ada syaratnya," potong Diana cepat, menghentikan kalimat Amara. Amara terpaku. "S-syarat apa, Bu?" Diana membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya pada Amara, membisikkan kata-kata yang memotong habis seluruh napas kehidupan Amara. "Tinggalkan Brian. Ceraikan dia, dan pergi jauh dari kehidupannya selamanya."Amara membeku. Lima ratus juta? Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebesar itu? Jika ia tidak bisa membayar, Brian bisa membawanya ke jalur hukum, dan hidupnya bersama Aira akan hancur.Melihat diamnya Amara, Brian merasa menang, meski di dasar hatinya ada rasa perih yang melintas saat melihat mata manis wanita itu berkaca-kaca. Rasa benci dan rasa rindu bergejolak hebat, membuat dada Brian sesak."Baik, Pak," jawaban Amara. Wanita itu menatap Brian lurus-lurus dengan ketegaran yang membuat Brian tertegun. "Saya terima tugas itu. Lima puluh sketsa baru dalam tiga hari."Brian menyipitkan matanya. "Jangan memaksakan diri kalau akhirnya hanya menghasilkan sampah.""Saya akan buktikan profesionalisme saya, Pak Direktur. Permisi." Amara membungkuk sopan, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan kepala tegak, walau kakinya terasa gemetar hebat.Brian menatap punggung Amara yang menghilang di balik pintu. Ia mengepalkan tangannya di atas meja, bernapas memburu." Kenapa kamu t
Amara menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan gemetar di tangannya. Ia menginjakkan kaki ke dalam ruangan kerja yang sangat luas dengan pemandangan lanskap kota dari dinding kaca raksasa.Di balik meja kerja yang megah, seorang pria berjas hitam duduk membelakanginya, menatap ke luar jendela. Postur tubuh itu tampak begitu tegap, dominan, dan memancarkan aura dingin yang mengintimidasi."Permisi, Pak ... Saya Amara Anindita Pramesti dari departemen desain," ucap Amara pelan dan sopan.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia perlahan memutar kursi kebesarannya.Saat wajah pria itu terlihat sepenuhnya di bawah sorotan lampu ruangan, napas Amara seolah berhenti. Seluruh darah di tubuhnya terasa membeku seketika.Tatapannya bertabrakan dengan sepasang mata tajam yang kini menatapnya penuh kebencian dan rasa benci yang mendalam. Rahang pria itu mengeras, garis wajahnya yang makin tegas kini tak lagi memancarkan kehangatan masa lalu.Brian.Mantan suaminya, kini berdiri sebagai
"CUKUP, BU! CUKUP!" teriak Brian dengan suara pecah. Dadanya naik turun menahan guncangan emosi yang luar biasa. "Amara tak mungkin sejahat itu ... aku mau ketemu Amara! Aku mau dengar langsung dari mulutnya!""Kamu tidak percaya pada ibumu sendiri?!" tangis Diana pecah, akting yang sangat sempurna. "Ibu yang membiayai seluruh operasimu sampai Ibu harus merendahkan diri mencari bantuan demi menyelamatkan nyawamu, Brian! Sementara wanita itu ... dia bahkan tidak pernah menengokmu satu kali pun sejak kamu masuk ruangan ini! Dia sudah pergi membawa uang dari pria barunya!"Brian terkulai. Kepalanya bagaikan dihantam ribuan jarum. Hatinya yang hancur terbakar oleh rasa sakit yang mendalam.Satu bulan kemudian, setelah kondisinya pulih dan diperbolehkan rawat jalan, hal pertama yang dilakukan Brian adalah mendatangi kontrakan kecil tempat ia dan Amara dulu merajut mimpi.Dengan langkah terseok-seok menggunakan tongkat, Brian mengetuk pintu kayu yang lapuk itu keras-keras."Amara! Ama
Amara tersentak bagai dihantam batu besar. "I-Ibu ... apa maksud Ibu?""Kamu dengar sendiri kata-kataku, Amara," ujar Diana tegas sambil kembali berdiri tegak. "Aku hanya akan membayar biaya operasinya jika kamu bersedia menandatangani surat cerai dan menghilang dari hidup anakku. Besok kamu datang ke pengadilan, pengacara saya akan mengurus sidang cerai kalian dengan cepat.""Bu ... Amara sangat mencintai Brian ... kami ...""Cinta tidak bisa membayar biaya operasi itu, Amara!" bentak Diana keras. "Pilih sekarang! Kamu mempertahankan statusmu sebagai istrinya dan biarkan Brian mati di dalam sana karena tidak ada uang operasi, atau kamu pergi dari hidupnya dan biarkan dia hidup bahagia sebagai putra pengusaha kaya kembali?"Kata-kata Diana menghujam hati Amara hingga hancur. Amara menoleh ke arah pintu ruang perawatan. Di balik pintu itu, pria yang sangat dicintainya sedang bertaruh nyawa di garis batas kematian.Jika ia bertahan, Brian akan mati. Jika ia pergi, Brian akan hidup












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.