INICIAR SESIÓNSatu kata buat Reynard, malu hahaha
"Janji, Nyonya," ucap Alina, suaranya bergetar, memecah keheningan yang sempat tercipta di antara mereka. Air mata yang sejak tadi menggenang di pelupuk matanya akhirnya meluncur deras, membasahi pipi. Manik mata Alina menatap lurus pada Nyonya Ella, membalas genggaman tangan wanita tua itu dengan sama eratnya, seolah menyalurkan seluruh ketulusan yang bermekaran di dalam dadanya. "Saya berjanji dari lubuk hatiku yang paling dalam," lanjut Alina, menegaskan setiap kata yang keluar dari bibirnya, "Saya akan menyayangi Sean dan Tuan Reynard dengan segenap jiwa saya. Saya tidak akan pernah membuat mereka kecewa, apalagi meragukan keberadaan saya di sisinya. Saya berjanji, Nyonya." Nyonya Ella menghela napas lega, senyum tipis yang sarat akan kehangatan mengembang di bibirnya. Tangan tuanya yang lembut terangkat, mengusap air mata di pipi Alina dengan penuh kasih sayang, layaknya seorang ibu kepada putrinya sendiri. "Memanggilku Nyonya lagi?" goda Nyonya Ella lembut, mencoba mencairka
"Minggu depan?! Kenapa mendadak sekali?!" pekik Mirna histeris, menatap Nyonya Ella dengan pandangan yang sulit diartikan. Nyonya Ella membetulkan posisi duduknya, menyilangkan kaki dengan anggun. "Segala persiapan di kota sudah hampir selesai, Bu Mirna. Kami hanya butuh formalitas izin dan kepastian dari Anda sebagai ibu kandungnya." Mirna bersedekap dada, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa kusam. Wajahnya yang tadinya terkejut perlahan berubah menjadi licik. Otak bisnis liar di kepalanya mendadak berputar cepat memanipulasi situasi. "Tidak bisa begini!" cetus Mirna melengking, memotong cepat. "Kalian pikir kalian ini siapa, hah?! Datang tiba-tiba lalu mau membawa dan menikahkan anak saya minggu depan tanpa ada omongan dari jauh-jauh hari! Saya ini ibu kandungnya! Saya merasa sangat tidak dihargai!" Alina yang duduk di samping Nyonya Ella hanya bisa meremas tangannya yang mulai dingin, menunduk dengan bibir terkatup rapat. "Lalu, apa yang Anda inginkan, Bu Mirna?" tanya N
"Nyonya... ini kita mau pergi ke mana?" tanya Alina dengan raut wajah bingung bercampur cemas, menatap Nyonya Ella yang sedang sibuk mengamati jalanan dari balik kaca mobil mewah mereka. Nyonya Ella menoleh, tersenyum tenang sembari mengusap jemari Alina. "Kita mau ke rumah Ibumu, Alina. Ke kampung halamanmu." Alina seketika membelalak kaget, napasnya seolah tertahan di tenggorokan. "S-ke rumah Ibu saya? Tapi... tapi saya bahkan belum pernah memberitahukan alamat rumah Ibu saya di kampung kepada Nyonya!" Nyonya Ella terkekeh pelan, mengibaskan tangannya santai. "Alina, Sayang, mencari alamat di zaman sekarang itu sangat mudah untuk keluarga Dirgantara. Kau lupa siapa calon mertuamu ini?" Alina menunduk, menghela napas pasrah di dalam hati. Kekuatan uang memang di atas segalanya, batin Alina meringis pelan. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu beberapa jam itu, kecemasan di dada Alina tidak kunjung surut, justru semakin menjadi-jadi. Ia memutar tubuhnya menghadap Nyonya Ella, m
"Tidak mau! Nanti Tuan pasti minta yang aneh-aneh lagi!" tolak Alina cepat, kedua tangannya terangkat menahan dada tegap Reynard yang semakin mengikis jarak di antara mereka. Alina paham betul kelakuan pria di hadapannya ini. Jika sudah berurusan dengan yang namanya ciuman, Reynard tidak akan pernah puas hanya dengan satu kecupan singkat. Pria itu selalu punya cara untuk melangkah lebih jauh. Bukannya mundur, Reynard justru makin gencar mendekat. Pria perkasa itu memasang raut wajah memelas yang amat manja, menggesekkan hidungnya yang mancung di pipi halus Alina. "Ayolah, Sayang... Satu saja, janji!" bisik Reynard dengan suara serak yang menggodanya. "Aku ini calon suamimu. Tolong kasihan sedikit pada pria yang sudah menahan rindu berbulan-bulan ini..." Alina mendesah pelan, geleng-geleng kepala melihat tingkah menggemaskan sang calon suami. Karena tidak tega melihat wajah mengiba pria itu, Alina akhirnya memajukan wajahnya lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi kanan Reyn
"Iya, Sean... Papamu memang akan menikah dengan Tante Alina," jawab Tuan Richard mengonfirmasi pertanyaan cucunya dengan senyum tipis di bibirnya. Mendengar pengakuan sang Kakek, Sean seketika membelalak gembira. "Hore! Yeay!" Anak kecil itu langsung melompat-lompat heboh di atas lantai marmer. "Aduh!" Sean meringis pelan sembari memegangi kakinya. Luka di kakinya yang belum sembuh total mendadak terasa agak tercekat akibat lompatan serambangan itu. Namun rasa gembira yang membuncah mengalahkan rasa sakitnya. Tanpa memedulikan ringisannya, anak itu langsung berlari cepat menyusul Reynard dan Alina ke ruang tengah. "Tante Alina!" jerit Sean kencang sembari menubruk dan memeluk erat pinggang Alina. Alina berlutut, membalas pelukan hangat anak kecil itu. "Ada apa, Sean?" "Tante... kalau Papa dan Tante Alina menikah, itu artinya Sean bisa memanggil Tante dengan sebutan Mama sesuka hati Sean, kan?" tanya Sean dengan mata bulatnya yang berbinar-binar menatap penuh harap. Alina mengang
"S-Saya..." Pertanyaan dari Tuan Richard menghantam dadanya begitu telak. Kilasan trauma masa lalu, rasa sakit luar biasa saat proses kehamilan dan persalinan yang pernah menyiksanya, mendadak berputar hebat bagai mimpi buruk di dalam kepala. Jemari Alina bergetar hebat di atas pangkuannya, napasnya terasa tertahan di tenggorokan. Namun, bayangan wajah Reynard yang selalu memperjuangkannya tanpa henti perlahan mengikis rasa takut itu. Demi pria yang dicintainya, demi kebahagiaan mereka, Alina rela menekan dalam-dalam seluruh trauma yang menghantuinya. Alina menegakkan tubuhnya, menatap Tuan Richard dengan mata berbinar penuh keyakinan. "Saya sanggup, Tuan. Saya akan memberikan apa pun yang Tuan Reynard inginkan. Jika perlu, saya akan membuang semua rasa takut dan trauma saya demi memberikan keturunan untuk Tuan Reynard dan adik baru untuk Sean. Saya mohon... tolong berikan restu untuk kami, Tuan..." Untuk pertama kalinya dalam sejarah, sudut bibir Tuan Richard terangkat. Sebua







