LOGINMenikah muda tidak ada dalam kamus Sanaya Qirani ataupun Arkharega Virgie Sirion, apalagi mereka masih sekolah. Bukan karena cinta, bukan karena perjodohan, ataupun karena hamil. Tapi karena kesalahpahaman yang membuat mereka di arak untuk dinikahkan di depan para warga. Belum genap satu minggu pernikahan mereka, tiba-tiba ada seorang perempuan yang menitipkan anaknya kepada Sanaya dan Rega. Semenjak kehadiran anak itu mereka sudah seperti seorang ayah, ibu, dan anak yang menjadi satu keluarga utuh, padahal nyatanya tidak. Tapi akankah cinta lama-lama tumbuh dan terselip di hati Rega maupun Sanaya?
View MoreWajah penuh memar serta seragam yang lusuh membuktikan bahwa dia habis berkelahi. Tapi raut wajahnya yang tanpa ekspresi itu tidak menunjukkan rasa sakit.
Rion mengurut pangkal hidungnya sebentar sebelum kembali menatap Arkharega Virgie Sirion yang merupakan anak pertamanya. Sedangkan Sicka sendiri fokus untuk mengobati anaknya sambil sesekali mengomeli Rega. "Apa yang kamu dapet dari tawuran?" Tanya Rion dingin kepada Rega yang kini sudah menginjak kelas dua belas di Skylar International School. Rega diam, malas sekali rasanya membalas pertanyaan ayahnya. Hal itu membuat Rion berdecak, harus dengan cara apalagi dia menasehati Rega agar tak ikut-ikutan tawuran. Rion hanya khawatir dengan anaknya, dia hanya tak ingin anaknya itu dalam bahaya. "Namanya juga cowok, Yah." Setelah lama terdiam hanya itu yang diucapkan Rega sebagai jawaban atas pertanyaan Rion. Sicka yang sudah selesai mengobati Rega membereskan obat itu lalu menoyor kepala Rega. Sicka heran dengan anaknya yang satu ini, sangat susah diberitahu, berbeda dengan Arsakha Virendra Sirion, anak keduanya. "Mulut kamu minta bunda cabein?! Kalau bisa tuh kamu harus hindari tawuran! Nggak baik! Bunda sama ayah khawatir kamu kenapa-napa, Bang!" Omel Sicka. Inilah yang Rega suka, dia suka cara ayah dan bundanya begitu perhatian dengannya. Meskipun ayahnya terkesan dingin tak peduli tapi Rega tau kalau Rion adalah sosok ayah yang peduli dan bertanggungjawab. Sedangkan bundanya adalah sosok ibu yang cerewet tapi Rega sangat sayang kepadanya. Melihat Rega ditoyor oleh Sicka, diam-diam Rion berkedut ingin tersenyum, tapi dia juga harus terlihat tegas karena bagaimanapun dia adalah kepala keluarga. "Kamu tahu konsekuensi bila ikut tawuran lagi kan?Terpaksa ayah sita motor kamu selama satu bulan!" Setelah mengucapkan hal itu Rega segera melempar kunci motornya dengan kasar ke arah Rion. Memang seminggu yang lalu Rega sudah mendapat ultimatum seperti ini dari Rion. Jadi inilah yang harus dia terima, motor kesayangannya harus di sita oleh Rion. "Bwahahahahaha~ mampus lo bang! Awas aja lo besok nebeng gue." Sakha mengejek sambil memakan apel di tangannya. Rega hanya menatap datar adiknya yang hanya terpaut satu tahun di bawahnya dengan datar. Andai tidak ada Sicka disampingnya sudah pasti tangannya memberi belaian lembut di pipi Sakha. "Heh itu kan apel bunda! Kenapa kamu makan?" Delik Sicka yang menyadari anaknya itu memakan apel yang hanya tersisa satu di dalam kulkas. Sakha memasang wajah polos, "Kirain ini nggak punya siapa-siapa, bunda beli aja lagi deh. Yang ini buat Sakha, ya?" Puk Rega melempar bantal sofa tepat mengenai wajah Sakha, membuat apel yang ada di tangannya terjatuh ke tong sampah yang memang tersedia di sebelah sofa ruang keluarga. Sicka dan Rega tertawa terbahak-bahak menatap Sakha yang menatap miris apelnya. Sicka heran dengan sifat kedua anaknya, Rega yang lebih pendiam dan tidak banyak bicara sedangkan Sakha yang lebih banyak bicara sekaligus jahil. "Bang, lo mau gue tambahin blush on nggak di pipi lo?" Seringai Sakha yang membuat Rega tersenyum sinis. "Silahkan ..." Melihat kedua anaknya yang sepertinya akan bertengkar, Sicka segera mengambil kemoceng lalu berdiri dan memasang wajah galak. "Kalau berantem, bunda bakal gebukin kalian!" Ancamnya yang membuat Sakha dan Rega bertingkah seolah tak terjadi apa-apa, pasalnya mereka tak ingin berurusan dengan Sicka apabila tengah marah. Sicka tersenyum puas melihat anaknya yang tidak jadi bertengkar. - oOo - Rega tengah merebahkan tubuhnya di kasur king size miliknya. Dia tengah terpikirkan kejadian tawuran tadi, saat dia hampir saja terkena pukulan kayu dari belakang andai cewek itu tidak tiba-tiba datang dan membuat kedua kubu berhenti baku hantam. Flashback on Rega dan gengnya yaitu The Bros Musta, geng yang terkenal di sekolah SIS saling baku hantam dengan anak geng Social Justice Warior, geng yang selalu membuat keributan dengan sekolah lain tepatnya mereka dari SMA Yugoslavia, sekolah elit kedua setelah SIS. Saat Rega tengah fokus menghajar cowok di hadapannya dia tak sadar kalau dibelakangnya ada yang ingin memukulnya dengan balok kayu. Sebuah keberuntungan bagi Rega karena bertepatan dengan itu tiba-tiba ada suara cewek yang berteriak. "HUAAAA MAS MAS JAN BERANTEM DULU WOI!! ADA PASUKAN ORGIL NGAMUK NOHH!" Teriak cewek berjilbab putih itu, tapi Rega tak bisa melihat wajah cewek itu karena dia memakai masker. Serentak pun mereka menoleh, di belakang cewek itu yang memang benar adanya kalau ada sekitar 10 orang gila karena dilihat dari penampilannya yang memang lusuh dan mereka membawa senjata tajam. Membuat kedua geng itu segera lari dan menaiki motornya masing-masing. Rega yang memang parno kepada orang gila pun segera menaiki motornya, pergi mengikuti teman-temannya yang sudah lebih dulu pergi. Entah bagaimana nasib cewek itu karena dia melihat cewek itu memanjat ke atas pohon. Flashback off Senyum terbit dari wajahnya mengingat kejadian itu. Pasti teman-temannya akan mengadakan syukuran bila melihatnya tersenyum. Karena Rega memang di gengnya dikenal tidak pernah senyum apalagi bicara panjang lebar. Berbeda bila di rumah, dia akan lebih sering tersenyum bahkan tertawa serta banyak bicara karena keluarganya. Dia kemudian meraih ponselnya lalu mulai menyetel musik BTS- Mic Drop, tapi jangan salah, dia bukanlah fanboy yang menyukai hal-hal berbau Korea. Tok tok tok Ceklek "Bang, anterin bunda ke supermarket deket Kampung Maduya yuk! Ayah lagi main PS sama Sakha." Ajak Sicka dengan raut wajah kesal. Rega langsung bangkit dan memakai jaket jeansnya lalu langsung merangkul Sicka. "Bunda jangan cemberut, nanti keriputnya tambah banyak." Ucap Rega agar Sicka tidak kesal lagi. Sicka pun tersenyum karena dia tau kalau putranya tengah membuatnya agar tak kesal. - oOo - Dua cewek tengah sibuk memasukkan snack serta kebutuhan lain ke dalam troly di supermarket dekat kampung mereka mengekos "Eh, gimana teater tadi sore? Lancar? Adkel ada yang songong nggak?" Tanya seorang cewek yang rambutnya dikuncir kuda. "Lancar banget Rev, haha~ pokoknya tadi sore seru banget! Apalagi gue sama anak lain terjun langsung pas ada tawuran. Kalo adkel sih biasa aja." Cerita cewek berjilbab hitam. "Hah? Tawuran? Yang bener lo, San! Terus kalian meragain apaan?" Tanyanya lagi dengan raut masih akan keterkejutan. "Yaiyalah bener! Seorang Sanaya Qirani kapan boongnya sih? Nih gue sama Andi cs meragain gue itu warga biasa lalu Andi cs nya jadi orang gila ngamuk yang tiba-tiba ngejar gue gitu." Jawab Sanaya dengan antusias. "Anjir! Si Andi cs mauan aja jadi orgil hahaha~ Eh, tapi yang tawuran itu gimana?" "Ya gitu, mereka semua langsung bubar pas gue teriak ada orgil ngamuk! Apalagi Andi cs tampilannya udah kek orgil beneran hahahha awut-awutan!" Mereka berdua tertawa sedikit kencang karena pembahasan hal ini. Andi cs adalah adik kelas Revi dan Sanaya yang berjumlah sepuluh orang tapi mereka satu ekskul di teater. Kebetulan Andi cs itu sangat sulit untuk diajak memerankan sebuah peran, maka dari itu Sanaya sangat antusias menceritakan hal itu. Mereka berdua patungan untuk membayar belanjaan lalu mulai mengantri di kasir. Sembari menunggu belanjaan mereka dibungkus, pembicaraan tentang tadi masih berlanjut. "Haha~ Jahat amat lo, San, nyuruh adkel sampai segitunya." Revi sungguh merasakan perutnya mulai keram lantaran tertawa tertahan mendengar cerita Sanaya. "Haha~ Ya abisnya kapan lagi coba gue bisa kayak gitu, kan bentar lagi jabatan gue jadi wakil abis." Revi menyerahkan belanjaannya kepada mbak kasir, "terus anak mana yang tawuran deket sekolah kita?" Tanya Revi penasaran. Sanaya berfikir untuk kembali mengingat seragam mereka, "kayaknya mereka dari Yugoslavia sama Skylar deh, soalnya seragamnya sama-sama bagus". "Terima kasih atas kunjungannya," Ucap mbak kasir menginterupsi bahwa belanjaan sudah selesai dibungkus. Revi pun menyerahkan uang lalu mereka berjalan keluar sambil melanjutkan obrolan yang tadi. Tanpa mereka sadari seorang cowok yang berdiri tak jauh darinya mendengar semua pembicaraan Sanaya dan Revi sambil tersenyum tipis. "I got you." --{o}--Malam ini, apartemen Rega kedatangan teman-temannya, yaitu Awan, Cristian, Jerrick, Cakra dan Udin. Sanaya yang berada di kamar bersama Raffa merasa terganggu, apalagi dia sedang menidurkan Raffa supaya ia bisa belajar saat Raffa sudah tidur."Hish! Mereka pasti belum dikasih tahu Rega kalau di sini ada anak kecil. Dasar, Rega!!" Kesalnya. "Ma-ma~ mamamm~" Sanaya tertawa mendengar celotehan Raffa, "Kamu ngomong apa sayang? Laper? Mau nyemil?" Sanaya bertanya sambil menciumi pipi gembul Raffa.Raffa tertawa lebar saat pipinya dicium oleh Sanaya, dia pun merespon dengan menarik rambut Sanaya yang terurai bebas."Aduh!! Sakit loh, Raffa..." Ringis Sanaya yang memang sensitif saat rambutnya ditarik, "Kalau Raffa laper, kita keluar kuy ambil makan sekalian tegur om-om yang berisik itu!" Sanaya kemudian mencari hijab instan dan kardigan untuk di pakai karena saat ini dia sedang memakai daster panjang. Setelah memakai itu semua, Sanaya menggendong Raffa lalu keluar kamar. Sementara di r
Kini mereka sudah berada di dalam mobil, Rega menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sesekali ia melirik Sanaya yang tengah mengajak ngobrol bayi di gendongannya. "Lucunya~ Hih!! Gemesh pipinya embem banget kayak bakpao!" Sanaya mencium pipi bayi itu yang begitu gembul. Bayi itu tertawa saat diciumi oleh Sanaya, tangan mungilnya juga mencoba meraih wajah Sanaya meskipun tak sampai. "Lega banget ya, Ga, karena bocil udah punya ibu susu." Dalam hati, Sanaya terus bersyukur karena memiliki mertua yang baik seperti Sicka dan Rion. Meskipun pernikahannya terkesan kurang baik, tetapi ada berkah yang tidak semua orang bisa dapatkan. Karena koneksi ibu mertuanya, Sanaya tak perlu khawatir dengan kebutuhan asi anak yang dirawatnya. "Hm." "Kita kasih nama apa ya,Ga, sama anak kita?" Tanya Sanaya. Cittt Dugh "Aduh!! Rega!! Hati-hati ngapa?!" Sanaya mengelus jidatnya yang terantuk dashboard. "Hihihi~" "Yeuu~ Si bocah malah ngetawain gue..." Karena gemas deng
Rega terkejut saat mendengar lengkingan Sanaya, apalagi istrinya itu langsung berlari setelah berteriak keras. Dia pun segera turun dari motor dan melepas helmnya lalu menyusul Sanaya.Rega melihat di depannya sudah ada begitu banyak warga yang mengerubung dan hal itu makin membuatnya mempercepat langkah kakinya. Setelah dia berhasil mendekat dan menyibak para warga yang berkerumun, dia mendapati Sanaya sedang menggendong bayi yang menangis kencang karena ikut terluka.Rega mendengar bahwa wanita ini korban tabrak lari, dan hal itu membuat Rega bertanya pada warga apakah sudah memanggil ambulance atau belum. "Sebentar lagi ambulance datang, Bang! Gue yang manggil." Tidak lama, ambulance datang dan segera membawa korban menuju rumah sakit terdekat. Sanaya ikut naik di dalam ambulance karena dia yang menjadi saksi sekaligus yang berani menggendong bayi korban. Rega memilih membuntuti ambulance dari belakang. Untunglah jalanan tidak macet seperti biasanya, jadi mereka tiba di rumah s
Berada di bawah kipas angin, serta guru yang tidak terlalu memperhatikan ke arahnya membuat Sanaya benar-benar harus menahan kantuk yang luar biasa. Menguap pun sudah tak terhitung lagi baginya. "Selanjutnya adalah menyetarakan jumlah unsur-unsur lain dengan kation, anion, hidrogen, dan oksigen. Kalau ada yang belum paham bisa ditanyakan besok." Terang Bu Puji selaku guru kimia, dan dibalas gumaman satu kelas. "Setengah jam lagi bel pulang, kalian kerjakan halaman tiga puluh, ya? Saya sedang ada tamu, jadi kalau saya belum kembali kalian nanti doa sama nyanyi sendiri saja." "Halaah~ Bu~" Satu kelas berseru sama dengan wajah lesu seolah-olah enggan ditinggal oleh Bu Puji. Dan tentu saja itu tidaklah ekspresi yang sebenarnya.Bu Puji tertawa, "Halah kalian ini, tidak usah acting, bilang aja kalian seneng kan?" Satu kelas tertawa ternyata Bu Puji tahu kalau itu hanyalah pencitraan mereka. "Ampun, Bu, hehe..." "Ya sudah kalau begitu, Bu puji keluar dulu ya... Assalamu'alaikum warah






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.