LOGIN"Iya, Mama... Sean benar-benar ingin punya adik," cicit Sean lirih, mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan mungilnya. Alina menatap lekat-lekat paras polos anak sambungnya. Ditatapnya mata bulat yang masih basah itu dengan perasaan haru yang membuncah. Ia membelai lembut pipi Sean, mencoba mencerna setiap kata yang keluar dari bibir mungil anak tujuh tahun tersebut. "Kenapa Sean mendadak ingin punya adik?" tanya Alina lembut, suaranya mengalun bagai bisikan penenang di tengah heningnya malam. "Bukankah selama ini ada Mama di rumah yang selalu menemani Sean bermain?" Sean terdiam sejenak. Jemari kecilnya meremas ujung selimut antariksa miliknya. Bocah itu tampak kebingungan mencari alasan yang pas untuk menjawab pertanyaan ibunya. "Tapi... tapi kan Mama itu Mama," sahut Sean dengan kepolosan khas anak kecil. "Mama kan dewasa. Kalau adik... adik bisa Sean ajak main rumah-rumahan, main mobil-mobilan di lantai sampai malam, terus... terus kalau Ethan dan Leo pamer ad
"Ma, ayo cepat! Nanti Sean terlambat sampai di sekolah!" seru Sean seraya menarik-narik ujung gaun kasual yang dikenakan Alina. Alina tertawa halus, merapikan letak kerah seragam merah-putih yang membungkus tubuh mungil anak tujuh tahun itu. "Iya, sayang. Ini sudah mau berangkat. Bekal makanan dan botol minumnya sudah masuk ke dalam tas, kan?" "Sudah semua, Ma! Sean mau pamer bekal bekal pancake buatan Mama ke Ethan dan Leo!" sahut Sean riang, matanya berbinar-binar penuh kebanggaan. Setelah menghabiskan masa liburan keluarga yang riuh di Bali, kehidupan mereka kembali berjalan normal. Pagi itu, Alina bertugas mengantarkan Sean ke sekolah sekolah dasarnya. Di depan gerbang sekolah, beberapa anak seusia Sean tampak berkumpul bersama orang tua mereka. Begitu melihat kehadiran Sean, dua kawan akrabnya langsung berlari menghampiri. "Sean! Kau sudah pulang dari Bali?" tanya Ethan, seorang bocah berkacamata bulat. "Sudah dong! Aku dibelikan robot dinosaurus besar sama Papa!" pamer Sean
"Mas... pelan-pelan, paha dan pinggangku rasanya mau patah," ringis Alina seraya memegangi lengan tegap Reynard erat-erat. Setiap kali kakinya melangkah menuruni anak tangga, rasa nyeri dan pegal yang luar biasa menjalar di bagian bawah tubuhnya. Reynard merangkul pinggang Alina posesif, menahan tumpuan badan istrinya agar tidak terjatuh. Senyum jahil tertancap sempurna di wajah tampannya. "Makanya, jangan memancing singa yang sedang lapar kalau tidak mau kehabisan tenaga sampai pagi, cantik." Alina melotot tajam, mencubit pelan pinggang Reynard yang keras bagai batu. "Mas Rey! Ini semua kan gara-gara kau yang tidak tahu waktu! Sudah kubilang cukup, tapi malah berlanjut sampai ronde entah ke berapa. Sekarang lihat, berjalan saja aku kesulitan!" "Tapi kau menikmati setiap detiknya, bukan?" goda Reynard tepat di telinga Alina dengan suara serak yang memikat. "Reynard!" cicit Alina dengan wajah memerah padam, menyembunyikan paras mewahnya di balik bahu tegap suaminya saat mereka maki
"Kau yakin sanggup mengambil alih kendali malam ini, Alina?" bisik Reynard, suaranya serak dan bergetar di tengah kegelapan kamar yang hanya diterangi lampu tidur temaram. Alina tidak menjawab dengan kata-kata. Wanita itu hanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan godaan, lalu perlahan merayapkan jemarinya dari dada tegap Reynard turun menuju perut berotot suaminya. Tatapan matanya yang biasanya lembut kini berkilat liar, memancarkan pendar gairah yang belum pernah Reynard lihat sebelumnya. "Kenapa, Mas? Kau ragu padaku?" sahut Alina berbisik lembut tepat di depan bibir Reynard. Tanpa memberi kesempatan pada Reynard untuk merespons, Alina menunduk dan menyapu bibir tebal suaminya dengan ciuman yang lambat namun menuntut. Ia menyesap bibir atas dan bawah Reynard bergantian, memainkan lidahnya dengan begitu lihai hingga membuat Reynard menggeram rendah. Pria itu mencoba memegang pinggang Alina untuk memegang kendali, namun Alina dengan cepat menepis halus tangan besar itu dan
"Kalian belum tidur, kan?" Pertanyaan dari balik pintu itu seketika mematahkan atmosfer panas yang baru saja terbangun di antara Reynard dan Alina. Reynard, yang masih membopong Alina di pelukannya, menghentikan langkah persis dua jengkal dari pintu kamar utama. Wajahnya yang semula diliputi gairah langsung berubah datar, lalu berganti menjadi guratan kekesalan yang amat nyata. "Ayah... sungguh? Di jam seperti ini?" gumam Reynard dengan nada tertahan, rahangnya mengetat. Alina menepuk pelan bahu bidang suaminya, menyiagakan diri agar tidak tertawa melihat ekspresi frustrasi Reynard. "Turunkan aku dulu, Reynard. Tidak enak kalau Ayah melihat kita begini." Dengan berat hati dan helaan napas berat, Reynard menurunkan Alina. Namun, lengannya tetap melingkar protektif di pinggang sang istri saat dia berjalan mendekati pintu depan dan memutar gagangnya. Di luar pintu, Tuan Richard berdiri tegap dengan kemeja santai dan setelan kasual vila. Di tangannya, dia memegang sebuah map tipis ya
"Baru saja badan ini menyentuh kasur, telepon sudah berbunyi seperti ada panggilan darurat," gerutu Reynard seraya meraba saku jasnya yang tergeletak di atas bed runner. Pria itu menghela napas panjang ketika layar ponselnya menyala, menampilkan nama sang ibu dengan huruf kapital tebal. Dengan gurat lelah di wajahnya setelah perjalanan udara yang diwarnai drama, ia menggeser tombol hijau ke kanan lalu menempelkan ponsel ke telinga. "Ya, Bu?" panggil Reynard, suaranya agak lemas. "Reynard! Di mana Sean?!" suara nyaring Nyonya Ella seketika memekakkan telinga, membuat Reynard menjauhkan gawai itu beberapa senti dari telinganya. "Ibu baru saja dari kamar mandi dan Sean sudah hilang! Rumah sudah seperti digulung topan karena semua orang mencari Sean! Kau jangan santai-santai di Bali sana, bantu telepon pengawal atau—" "Sean ada bersama kami, Bu," potong Reynard datar, memotong kepanikan ibunya sebelum semakin melantur. Hening sejenak di seberang telepon. "Apa?! Kau bilang apa?!







