Se connecterFreyna memandangi Devina yang sudah mengamuk cukup lama dengan tetap tenang. Kemudian, dia menganalisis."Devina, sekarang bukan waktunya marah-marah. Wanita-wanita itu datang hanya karena mengincar uang. Kamu berbeda. Kamu masih muda, cantik, dan merupakan pacar yang diakui Ignas. Selain itu, dia pernah minta kamu lahirkan anak untuknya. Itu keunggulanmu."Devina menggigit bibirnya dan menutup perutnya dengan tangan."Keunggulan?" katanya dengan kesal. "Sekarang begitu banyak wanita mengelilinginya. Aku bahkan nggak punya kesempatan untuk menemuinya."Rencananya juga telah berantakan. Awalnya dia ingin segera hamil agar kedudukannya naik. Namun sekarang, Ignas bahkan tidak punya waktu untuk memperhatikannya. Padahal proses bayi tabung berikutnya masih membutuhkan partisipasi Ignas."Kita nggak boleh panik sendiri." Freyna melangkah maju dan menepuk bahunya. "Aku sudah cari tahu. Meskipun Ignas pernah berhubungan dengan wanita-wanita itu, di antara mereka nggak ada lagi dasar perasaan
Setelah bel pintu berbunyi, Brielle datang membukakan pintu.Dia menatap putrinya yang pulang sambil melompat-lompat dengan riang, lalu mengalihkan pandangan ke pria yang berada di belakang putrinya.Keinginan untuk mempertanyakan sesuatu kepada Raka kembali dia tekan. Dia khawatir dirinya tidak bisa mengendalikan emosi dan malah kembali bertengkar dengan Raka.Terlebih lagi, malam ini putrinya tampak sangat bahagia.Makan malam yang dimasak Lastri semuanya bercita rasa ringan dan tidak terlalu berminyak.Raka mengajak mereka ke meja makan. Begitu melihat hidangan favoritnya di atas meja, mata Anya langsung berbinar."Ada iga asam manis kesukaanku! Aku mau makan!""Ikut Papa cuci tangan dulu," kata Raka kepada putrinya.Anya langsung menggandeng tangannya dan mengikuti Raka menuju kamar mandi di lantai satu.Brielle berdiri di tempat dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Pikirannya penuh dengan berbagai hal.Lastri yang melihatnya pun tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Nyo
Di seberang sana, Smith segera mengangkat telepon. "Halo, Brielle.""Profesor, ada sesuatu yang ingin kutanyakan," kata Brielle dengan sopan sambil berusaha menahan gejolak emosinya."Katakan saja.""Aku ingin tanya, saat aku meneliti leukemia waktu itu, apakah data dan materi yang Profesor berikan merupakan hasil penelitian Profesor sendiri?" tanya Brielle."Eh, soal itu ...." Smith tertegun. Dia tidak langsung menjawab, seolah-olah sedang memikirkan bagaimana harus menjelaskan.Brielle sebenarnya sudah mendapatkan jawabannya. Dia langsung mendesak, "Apakah data yang Profesor berikan saat itu sebenarnya adalah hasil penelitian awal ayahku?""Eh! Brielle, kok kamu bisa tahu?" tanya Smith dengan nada terkejut.Brielle menarik napas dalam-dalam. "Aku menemukan buku catatan lama milik ayahku. Banyak teori di dalamnya sangat mirip dengan materi yang pernah Profesor berikan. Jadi aku ingin tanya, saat Raka pertama kali mendanai laboratorium itu, proyek penelitian awalnya sebenarnya apa? Buk
"Jam berapa kita pulang?""Aku sudah pesan restoran untuk makan siang. Kita bisa berangkat sekarang," kata Raka dengan suara rendah.Setelah itu, mereka meninggalkan lapangan golf dan pergi ke sebuah restoran privat dengan suasana yang tenang di dekat sana.Mungkin karena mereka pernah menjadi suami istri, di antara mereka tidak ada banyak kecanggungan maupun rasa sungkan. Bahkan ketika tidak banyak mengobrol, suasananya tetap terasa alami dan santai.Selama makan, Raka juga tidak sengaja membahas topik pribadi. Sebaliknya, Brielle mengajukan beberapa pertanyaan tentang Elliot. Dia ingin mengenal investor itu lebih jauh.Untuk itu, Raka menjelaskan semuanya dengan cukup rinci, sehingga Brielle merasa lebih tenang menerima investasinya tanpa perlu khawatir.Setelah makan siang, Raka tetap mengantar Brielle pulang ke rumah. Meskipun hari ini waktunya memang milik Raka, Brielle sudah mulai merasa lelah."Malam ini keberatan kalau aku mampir ke rumahmu untuk makan malam?" tanya Raka dengan
Brielle tertegun sejenak, lalu menerima botol air itu dan mulai minum. Setelah latihan barusan, dia mulai merasa olahraga ini tidak semembosankan yang dibayangkan.Mereka berdua berjalan ke area istirahat di dekat sana. Seorang pelayan datang mengantarkan minuman dingin dan sepiring buah potong.Melihat ekspresi Brielle yang tampak lebih santai, Raka berkata dengan santai, "Dari pihak kamar dagang, ada satu kuota untuk mengikuti konferensi pertukaran riset internasional di Negara Madagasa. Acaranya bulan depan.""Temanya berkaitan dengan perkembangan mutakhir di bidang ilmu saraf. Pak Elliot sudah bantu mengajukan berkas pendaftaranmu. Kamu bisa ikut."Brielle memang sedang memperhatikan konferensi itu. Karena itu, saat mendengar bahwa Elliot telah membantu mengajukan kuota untuknya, dia benar-benar terkejut sekaligus senang."Benarkah? Kalau begitu aku harus berterima kasih padanya."Raka mengangkat sudut bibirnya. "Ini cuma karena pihak investor optimis terhadap prospek proyek ini, j
Brielle mengabaikan pujiannya. "Ayo berangkat."Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak berbicara.Setelah tiba di lapangan golf, suasananya begitu tenang dan asri. Hamparan rumput hijau membentang luas sejauh mata memandang, membuat siapa pun yang menginjaknya merasa segar dan rileks.Brielle pun merasakan hal yang sama. Sudah lama dia tidak melihat padang rumput sehijau ini. Tanpa sadar, suasana hatinya menjadi lebih rileks dan nyaman."Masih ingat gerakan yang diajari Lambert waktu itu?" tanya Raka tiba-tiba.Brielle mengingat kembali kejadian saat bermain golf sebelumnya. Saat itu, Lambert hanya mengajarinya cara memegang stik dan mengayunkannya. Namun sekarang, semuanya sudah terlupakan.Raka menyipitkan mata sambil tersenyum. "Hari ini aku yang akan ajari kamu.""Boleh nggak kalau aku nggak belajar?" tanya Brielle sambil mendongak."Karena sudah datang, kenapa nggak sekalian belajar? Setidaknya biar nggak sia-sia," bujuk Raka.Brielle berpikir sejenak. Karena ini adalah harga y
Begitu Lambert melepaskan tangannya, dia melihat posisi pegangan tongkat Brielle agak miring. Dia pun kembali berdiri di belakangnya — tubuhnya yang tinggi menjulang hampir menutupi sosok Brielle sepenuhnya. Suaranya terdengar lembut di telinganya."Pergelangan tanganmu rileks sedikit.""Iya, begitu
Wajah kecil itu kini tumbuh semakin cantik. Dua kepang kecilnya bergoyang lembut saat berjalan, memperlihatkan dahi putih mulusnya. Sementara itu, sepasang matanya yang besar berkilau seperti batu permata hitam.Brielle menunduk dan mengecup kepala kecil putrinya, lalu menggandeng tangannya keluar r
Pria di sisi lain juga mengucapkan selamat kepada Brielle. Brielle menoleh dan tersenyum sopan sambil mengangguk pelan. "Terima kasih."Namun, ucapan selamat dari pria di sebelah kirinya seolah-olah tak pernah dia dengar.Tatapan Raka yang dalam bergulung dengan emosi samar, tetapi wajah tampannya k
Cherlina akhirnya mengumumkan jawabannya, "Devina juga datang, tadi dia kelihatan sedang ngobrol dengan Faye!"Brielle berpikir sejenak, lalu mengangguk pelan. Dia tidak terkejut. Kalau penelitiannya benar-benar bisa menyelamatkan nyawa Devina, wajar saja dia datang untuk mendengarkan langsung lapor







