LOGINRaia sudah menjadi sekretaris Leo selama bertahun-tahun. Ia tahu kebiasaan atasannya, tahu jadwalnya, bahkan tahu satu rahasia besar yang tak pernah Leo ceritakan kepada siapa pun. Sebagai pewaris perusahaan keluarganya, ia seharusnya mengambil alih bisnis dan melanjutkan nama besar keluarganya. Namun diam-diam, Leo justru sedang mempersiapkan diri untuk meninggalkan semuanya. Dan Raia mulai menyadari yang jauh lebih menyakitkan—mungkin bagi Leo, dirinya hanyalah godaan terakhir sebelum pria itu benar-benar pergi. Jika Leo memilih hidup yang selama ini ia impikan, apakah Raia harus rela menjadi satu malam yang akan ia sesali seumur hidup?
View More“Minggu ini, mulailah perbarui portofoliomu dan silakan cari pekerjaan di tempat lain. Saya akan fasilitasi surat rekomendasi terbaik dari perusahaan.”
Perintah itu muncul begitu saja dari pria di hadapan Raia yang sudah tujuh tahun ini menjadi atasannya.
Seketika, tubuh Raia membeku. Jemarinya mencengkram dokumen lebih erat.
“Ma-maksud Bapak?” tanya Raia sedikit bergetar.
“Apakah saya dipecat? Atau ada laporan tentang kinerja saya yang tidak sesuai dengan ketentuan perusahaan?” lanjutnya, menatap Leo bosnya dengan penuh tanya.
Leo tak menjawab. Ia meletakkan pulpennya, lalu mengangkat pandangannya.
“Bukan. Kerjaanmu selalu sempurna, Raia,” jawabnya, menyenderkan punggungnya pada kursi kerjanya.
“Hanya saja ... dalam waktu dekat, saya akan mengundurkan diri dari jabatan ini.”
“M-mundur, Pak?” potong Raia terkejut.
Leo mengangguk, sekali. “Saya berencana pindah ke tempat yang jauh, dan saya tidak bisa membawamu.”
Raia semakin membelalak. “Pindah ke tempat yang ...jauh? maksud Bapak?”
Leonardos Vaneric.
Bagi Raia, Leo adalah sosok CEO muda yang sempurna.
Ia memiliki keberanian yang luar biasa. Ketegasan, kebijaksanaan, dan jiwa kepemimpinannya membuat dirinya dihormati tanpa perlu meninggikan suaranya.
Ditambah dengan kecerdasan dan analisis tajam di dalam situasi sulit, membuat perusahaan yang dipimpinnya melaju dengan begitu pesat.
Selama tujuh tahun mendampingi Leo sebagai sekretaris pribadinya, Raia hafal dengan setiap gerak-gerik dan kebiasaan atasannya itu.
Di mata Raia, Leo adalah pria terbaik dan sempurna yang pernah ia temui—sosok pemimpin yang selalu mengayomi stafnya, seorang pemimpin yang selalu menggunakan empati dalam setiap tindakannya, dan seorang anak yang begitu menyayangi ibunya.
Namun, kali ini Raia merasa kecolongan dengan rencana hidup Leo—seorang CEO dari salah satu konglomerat terbesar di negara ini, ingin melepaskan segala yang ia miliki dan pergi ke tempat yang jauh?
Otak Raia bekerja begitu keras mencerna situasi yang tak masuk akal ini.
Belum juga Raia bisa menanyakan alasannya lebih dalam, Leo sudah berdiri terlebih dahulu.
Ia meraih jasnya dan melangkah meninggalkan berjuta pertanyaan di benak Raia.
Drtt... Drtt...
Getaran ponsel di saku blazernya menyadarkan Raia dari lamunannya. Ia memejamkan mata sembari menghela napas panjang.
Tangannya merogoh saku, dan ibu bosnya sudah terpampang di layar.
“Halo, Ibu?” lirih Raia.
Sebagai sekretaris Leo, ia tentu mengenal sosok wanita itu.
“Rai, bisa ke rumah sekarang?”
Refleks, Raia mengangguk. Meskipun ia tahu jika Ibu Rica tak bisa melihatnya. “Baik, Ibu.”
Sambungan terputus. Rica bergegas merapikan barang-barangnya dan segera meninggalkan ruangan dan menuju ke kediaman keluarga Vane.
Setibanya di rumah milik keluarga Vane, Raia disambut oleh seorang pelayan dan membawanya menuju ruang tamu utama.
Di sana, Bu Rica duduk di sofa beludru berwarna biru dengan raut gelisah dan wajah pucat, jauh dari kesan tenang yang selama ini membingkai wajahnya.
“Rai, duduklah,” ujar Bu Rica cepat.
Raia mengangguk, ia mengambil posisi duduk di samping Bu Rica.
Ibu Rica mengepalkan tangannya, pandanganannya melayang jauh, memendam kekecewaan.
“Leo ... anak itu benar-benar sudah gila, Raia!” ucapnya tertahan.
“Pagi tadi, dia mendatangi Ibu dan menyatakan akan melepaskan seluruh hak waris serta jabatannya di perusahaan. Siapa yang akan meneruskan perusahaan sebesar ini, Rai?!”
Dada Raia berdesir. Berita yang baru saja didengarnya dari Pak Leo di kantor ternyata bukan sekedar gertakan biasa.
“Pak Leo sungguh-sungguh ingin mengundurkan diri?” tanya Raia, mengerutkan alisnya.
Ibu Rica mengalihkan tatapannya pada Raia dengan mata berkaca-kaca.
“Rai, kamu kan sudah tujuh tahun bekerja dengan Leo, dan kamu mengerti dia lebih dari siapapun,” jelas Ibu Rica singkat.
Tangannya bergerak mengambil jemari Raia dan menggenggamnya erat. “Ibu minta tolong ... carikan wanita-wanita dari keluarga terpandang untuk didekatkan dengan Leo. Buatkan jadwal pertemuan, perjodohan, atau apapun itu,” pintanya terdengar begitu tulus.
Raia mengerutkan dahinya, bingung dengan permintaan mendadak ini. “Perjodohan?”
Pasalnya, selama ini, Rica sama sekali tak pernah mengetahui jika Leo memiliki hubungan dengan perempuan lain. Waktu pria itu hanya dihabiskan dengan berbagai berkas dan rapat silih berganti tanpa jeda.
Ibu Rica menatap foto Leo yang terpajang di dinding belakang Raia dengan tatapan kosong.
“Hanya ada satu cara untuk menahannya tetap berada di dunia ini ... yaitu, jika dia jatuh cinta dan memilih alasan itu untuk tetap bertahan.”
Raia memicingkan matanya. “Bukannya Pak Leo bilang kalau beliau berniat mengundurkan diri dan pindah ke tempat yang sangat jauh ya, Bu?” tanya Raia, semakin bingung.
Ibu Rica menghembuskan napas panjang. “Dia ... dia tidak memberitahumu soal rencananya?”
Raia menggelengkan kepalanya. “Beliau tidak memberikan secara detail, Ibu,” jawab Rai jujur.
Ibu Rica mengeratkan genggamannya pada jemari Raia, menatap gadis itu penuh keputusasaan.
“Leo ... dia bilang ingin menjadi pelayan gereja ... dia ingin menjadi pastor. Ibu harus bagaimana, Rai?”
“Ahh! Nghhh ... h-hah ... pelan ... Pak... ahh!” Desahan Raia panas, bersatu dengan hembusan napas berat Leo yang kian membara di atas tubuhnya, menandai awal dari penyatuan yang semakin dalam dan intens.Tempo pergerakan di antara keduanya semakin tak terkendali. Hentakan Leo dengan cepat menghujam milik Raia begitu dalam, menciptakan hawa panas yang membakar seluruh tubuhnya. Satu tangan Leo bergerak turun, melingkari pinggang Raia lalu mencengkeram dan meremas pinggul serta bokongnya keras, menahan tubuh wanita itu agar semakin menempel rapat pada setiap dorongannya.“Nghhh! Ahh ... Leo! L-lebih cepat ... ahhh!” jerit Raia terputus-putus.Raia tak mampu lagi menahan puncaknya yang semakin dekat. Punggungnya melengkung ke atas, dadanya terangkat ketika puncak dahsyat menjalar dari pusat tubuhnya. Kakinya yang melingkari pinggang Leo terasa semakin erat, memburu klimaks yang sudah di pelupuk mata.“Nghh ... sekali lagi, Raia ...,” geram Leo dengan suara serak, mempercepat ritmeny
“Mmp—Pak?”Tanpa menunggu lebih lama lagi, tubuh Leo perlahan semakin maju, mengikis jarak di antara keduanya, membuat napas beraroma alkohol miliknya menerpa wajah Raia. Otot-ototnya melunak ketika ia mendekap tubuh Raia dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Raia, memeluk wanita itu begitu erat. Pelukan rapuh dan keputusasaan atas rasa sepi yang begitu mendalam ia rasakan selama bertahun-tahun dan akhirnya menemukan tempat untuk berlindung.Raia tersentak. Tubuhnya membeku ketika merasakan rengkuhan hangat dan jantung Leo yang berdetak begitu cepat. Rasa pening akibat alkohol yang ia rasakan membuatnya tak lagi bisa berpikir jernih. Ia ingin mendorong tubuh pria itu menjauhinya, namun, pelukan erat itu justru membuatnya terdiam.“P-Pak Leo?” lirihnya.“Saya ... saya sangat lelah, Rai,” guman Leo serak. Ia mengeratkan pelukannya, tak memberi kesempatan Raia untuk menjahuinya.Belum sempat Raia merespon apa yang Leo lakukan, pria itu menarik kepalanya dan memberi sedikit jarak.
Semua pertemuan yang diatur Raia berjalan buntu—seperti dugaannya. Entah yang pertama, yang kedua, ketiga. Gagal.Leo hadir, memang. Tapi sebagai seorang CEO. Namun, tatapan dinginnya menyiratkan jika ia tak tertarik dengan pembahasan yang mengarah ke kehidupan pribadi. Tidak ada satupun yang berhasil menarik Leo untuk bertahan lebih lama.Leo selalu menjadikan Raia tameng ketika ia merasa tak nyaman dengan kehadiran wanita-wanita itu. Ia akan memanggil Raia, menanyakan jadwal yang sangat padat, dan menyudahi pertemuan itu dengan alasan pekerjaan yang sudah menunggu.Bagi Raia, pemandangan ini sangat menyakitkan. Ia sudah berusaha untuk menyelamatkan masa depan Leo dengan sudut pandang sang ibu, namun, di sisi lain, ia sadar jika apa yang dilakukannya sia-sia. “Tumben sekali,” guman Leo tiba-tiba, ketika perjalanan kembali ke kantornya. Raia yang duduk di sampingnya, langsung menoleh dengan napas tertahan. “Maksud Bapak?”Leo mengetuk-ngetukkan jemarinya pada pahanya. “Dari tiga k
Raia menatap rencana yang ia susun di laptopnya. Bagaimana ia harus menjalankan perintah ibu bosnya?Tatapannya tertuju pada sebuah foto di atas meja kamar tidurnya——foto dirinya tengah tertawa bahagia bersama tunangannya, diambil hanya beberapa minggu sebelum kecelakaan tragis yang merenggut seluruh rencana pernikahan dan masa depan keduanya. Kenangannya kembali melayang jauh ketika melewati hari-hari penuh tawa bahagia dan merajut mimpi-mimpi indah, kini harus terkubur tanpa ia tahu harus bagaimana lagi caranya bertahan. Pernikahan impian, gaun pengantin, bahkan persiapan yang hampir jadi seketika musnah dalam satu malam.Dan kini berusaha menyembuhkan pria dengan cinta?Air mata yang ditahannya seharian, akhirnya menetes membasahi pipinya. Tangannya terulur, mengusap permukaan bingkai tersebut dengan tangan sedikit bergetar. Luka lama yang berusaha ia kubur dalam-dalam, kini kembali menguap, memukulnya dengan rasa kehilangan yang sangat menyakitkan. Namun, dibalik rasa sakit ya






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore