FAZER LOGINRaline menggandeng Anya menuju sebuah kios yang menjual bunga. Mawar-mawar yang dibungkus dengan kertas warna-warni itu tetap tampak segar dan indah meski di bawah langit malam.Dia membeli satu buket, lalu menarik Anya mendekat dan berbisik, "Anya, kasih bunga ini ke Papa, terus suruh Papa kasih ke Mama."Anya langsung mengangguk. Sambil memeluk buket bunga itu, dia berlari menghampiri Raka bak burung kecil yang riang. Dia mendongakkan wajah mungilnya dan berkata, "Papa, ini buat Papa."Raka sedikit terkejut melihat buket bunga di tangan putrinya. Tak lama kemudian, dia melihat Raline yang berdiri tidak jauh dari sana tersenyum penuh kelicikan sambil menggerakkan bibir tanpa suara. 'Kasih ... ke ... Kak Brielle.'"Terima kasih, Sayang." Raka menerima buket bunga itu. Tatapannya dipenuhi senyuman, bercampur sedikit rasa tak berdaya sekaligus kasih sayang.Tentu saja dia mengerti maksud adiknya. Dia menunduk melihat buket bunga di tangannya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Brielle ya
Namun, waktu telah berlalu. Segalanya sudah berubah. Kini, Brielle menyukainya atau tidak, rasanya sudah tidak lagi berarti. Terlebih lagi, tato itu pernah menjadi sesuatu yang membuatnya sangat menderita.Permukaan air kolam bergoyang pelan, sementara sinar matahari terasa sedikit menyilaukan. Tatapan Raka tetap terkunci padanya, seolah masih menunggu jawabannya.Bulu matanya yang lebat dipenuhi butiran air, bagai deretan kipas kecil, membuat sorot matanya tampak makin dalam bak lautan."Yang penting kamu suka." Brielle menundukkan pandangannya. Jawabannya tetap sama seperti tadi. Cahaya di mata Raka sedikit meredup.Raka tahu Brielle sedang menghindari pertanyaannya, jadi dia tidak memaksanya untuk menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, lalu berkata dengan suara rendah, "Aku suka."Dua kata itu diucapkan dengan pelan tetapi jelas, mengandung keyakinan yang tak perlu diragukan lagi.Brielle tetap menunduk sambil menggerakkan air dengan ujung jarinya. Raka mengambilkan pelampungnya, meny
Di seberang kolam, Anya langsung panik. "Mama, Mama nggak apa-apa?"Anak kecil itu langsung hendak mengayuh pelampungnya untuk menghampiri. Namun, sebuah tangan segera menariknya."Nggak apa-apa. Ada Papa yang melindungi Mama."Dalam situasi seperti ini, mana mungkin Raline membiarkan si kecil mengganggu? Tentu harus ditahan.Sambil mengusap air di wajahnya, Brielle menenangkan putrinya. "Anya, Mama nggak apa-apa. Jangan khawatir."Brielle menyeka tetesan air yang menutupi matanya. Begitu membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah garis-garis tubuh yang kencang dan kekar tepat di hadapannya.Tubuhnya seketika membeku. Wajahnya pun mulai terasa panas.Tangan Raka masih melingkari pinggangnya dengan erat. Telapak tangannya pun memancarkan kehangatan yang begitu nyata.Posisi mereka terlalu dekat. Begitu dekat hingga seolah membawa mereka kembali ke tahun-tahun ketika mereka masih sangat mesra.Tepat pada saat itu, Brielle melihat tato di dekat jantung Raka. Tatapannya langsung mem
Kolam renang berada di teras yang memanjang dari lantai satu vila dan terhubung langsung dengan bagian dalam rumah melalui pintu kaca besar.Air kolam yang jernih berkilauan diterpa sinar matahari sore. Anya mengenakan pelampung dan sedang asyik bermain air."Papa, Mama, kalian datang!" Dia menatap orang tuanya yang datang bersama dengan wajah penuh kegembiraan.Raline juga tampak terkejut sekaligus senang melihat pemandangan itu. Sebulan yang lalu, dia bahkan tidak berani membayangkan momen seperti ini.Sekarang, dia merasa harapan yang selama ini dinantikannya benar-benar memiliki peluang untuk menjadi kenyataan.Raka melempar handuk ke kursi santai, lalu berjalan ke tepi kolam. Dengan gerakan yang lincah, dia langsung melompat ke dalam air, memercikkan cipratan yang cukup besar.Dalam sekejap, dia sudah menyelam beberapa meter sebelum akhirnya muncul kembali di samping putrinya. Tetesan air mengalir dari rambut pendeknya yang rapi hingga ke wajahnya yang tampan."Papa hebat sekali!"
Sesampainya di pantai, Brielle memandang putrinya yang sedang bermain sambil menginjak air laut. Tanpa sadar, senyum pun merekah di wajahnya. Memang sudah lama sekali dia tidak mengajak putrinya keluar untuk bersantai."Papa, Mama, cepat ke sini! Air lautnya dingin sekali!" seru Anya sambil melambaikan tangan kecilnya dengan gembira.Brielle melepas sepatunya, lalu ikut berjalan ke air.Saat ombak kecil menyapu kakinya, dia tidak sadar gaunnya terlalu panjang. Dia berseru pelan, lalu buru-buru mengangkat ujung gaunnya hingga di atas lutut. Sepasang kaki jenjangnya yang putih mulus pun langsung terlihat.Raka berdiri beberapa meter di belakang mereka. Di balik kacamata hitamnya, dia diam-diam memandangi ketiga orang yang berada di pantai.Saat melihat kepanikan kecil Brielle barusan yang jarang sekali terlihat, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum. Dia berdiri dengan kedua tangan terlipat di dada. Angin laut mengibaskan ujung kemeja linen yang dikenakannya, sekaligus me
Dia merasa perlu mandi dulu agar pikirannya kembali segar sebelum lanjut lembur.Sepanjang akhir pekan, Brielle sibuk mempersiapkan perjalanan ini. Dia membelikan berbagai produk tabir surya untuk putrinya, sementara untuk dirinya sendiri juga menyiapkan banyak perlengkapan. Pergi ke pantai saat musim panas membuatnya merasa lebih tenang jika membawa satu set lengkap perlengkapan pelindung dari matahari.Anya juga sangat menantikan liburan ini. Dia bahkan sudah menyiapkan tas perjalanan kecilnya sendiri, mengisinya dengan gaun-gaun kecil kesayangannya. Brielle pun senang membiarkan putrinya merasakan serunya mengemas barang sendiri.Selama dua hari terakhir, Raka sangat sibuk. Dia harus menyelesaikan beberapa urusan sebelum berangkat liburan.Hari Selasa pukul sembilan lewat tiga puluh menit, jet pribadi Raka sudah siap untuk lepas landas.Anya tampak begitu bersemangat. Raline mengenakan gaun panjang kasual, sedangkan Raka hari itu memakai kaus polo putih sederhana dipadukan dengan ce
Namun pada saat itu, Raka menatap Harvis. "Pak Harvis, proyek sipil sepenuhnya berada di bawah tanggung jawabmu. Perekrutan tim, termasuk penentuan dan evaluasi penanggung jawab tiap kelompok riset, semuanya kamu yang pilih."Harvis mengangguk singkat, lalu berkata kepada semua yang hadir, "Penanggu
"Sepertinya hari ini kamu benar-benar jadi pusat perhatian." Suara yang bernada jelas penuh permusuhan terdengar dari belakang.Brielle melihat lewat cermin, Raline bersandar di kusen pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Bibir merahnya melengkung membentuk senyuman sinis.Brielle tidak menole
Raline mendongak tajam. Matanya penuh ketidakpercayaan. "Kak, kamu menyuruhku minta maaf?"Dia mengempaskan tangan Raka. "Aku nggak merasa salah apa pun. Kenapa aku harus minta maaf? Aku nggak mau."Selesai berbicara, dia menatap Brielle dengan tajam. "Sebenarnya ramuan apa yang kamu berikan pada ka
Setelah Raka selesai berbicara, dia berdiri. Tatapan di balik lensa kacamatanya jelas menyiratkan hawa dingin. Meski dipenuhi rasa ingin tahu, para wartawan sama sekali tidak berani melanjutkan pertanyaan.Saat meninggalkan area wawancara, Gavin berkata pelan, "Pak Raka, maaf, tadi aku nggak berhasi







