Share

Bab 384

Author: Ayesha
Di ruang rapat, lebih dari sepuluh perwira tinggi militer dan pakar medis sudah menunggu cukup lama. Raka masuk bersama seorang jenderal dan duduk di kursi utama masing-masing tim.

Di seberang meja, seorang pria paruh baya segera berdiri menyambut. "Dokter Brielle, akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda! Saya sudah membaca makalah Anda tentang Simulasi Sel Berbasis AI, teorinya luar biasa."

Brielle sempat tertegun, lalu tersenyum sopan. "Terima kasih."

Di sisi lain, Faye menahan tawa sinis.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
kan mulai...si Faye dgn segala pemikirannya yg pendek dan iri hati...
goodnovel comment avatar
Suryat
si faye kepo banget jadi orang..iri aja terus..haha..
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1068

    Perasaan dan kondisi batin Raline sekarang memang sudah banyak berubah. Dari awal yang penuh ketakutan terhadap penyakitnya, kini dia benar-benar sudah lebih tenang. Lagi pula, jika dia bisa pulih, itu berarti penyakit ibunya juga memiliki harapan untuk disembuhkan.....Di vila, Devina baru saja menerima telepon dari ibunya dan suasana hatinya sedang buruk. Freyna membawa kontrak iklan yang baru diterima dan meletakkannya di depannya."Devina, aku tahu belakangan ini suasana hatimu nggak baik. Tapi, uang yang datang sendiri ini, apa nggak sebaiknya kita ...."Devina melihat kontrak iklan itu, lalu berkata dengan kesal, "Iklan sampah apa ini? Kamu suruh aku jadi bintang iklan popok?""Bukan, maksudku ...." Freyna mencoba menjelaskan.Devina membanting kontrak itu ke meja dengan marah, "Kamu pikir aku sudah terpuruk sampai harus menerima iklan apa saja? Iklan yang merendahkan statusku begini, jangan pernah kamu bawa lagi."Freyna menghela napas, lalu membujuk dengan sabar, "Devina, seka

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1067

    Dari balik kaca, Brielle melihat Raka yang duduk tenang di kursi dan lengannya terulur. Perawat melakukan prosedur pengambilan darah dengan terampil.Seolah menyadari keberadaan Brielle di luar, Raka mengangkat kepala. Tatapannya kembali dalam dan tenang seperti biasa. Tatapan mereka sempat bertemu sesaat, lalu Brielle langsung berbalik untuk pergi.Perawat mencabut jarum dan menekan bekas tusukan dengan kapas. Raka mengucapkan terima kasih dengan suara pelan, lalu berdiri. Dia menggulung lengan kemeja dan memperlihatkan lengannya yang kokoh. Setelah menekan beberapa detik, dia merapikan kembali lengan bajunya dan berjalan menuju pintu dengan tenang.Brielle baru hendak masuk ke kantor ketika mendengar langkah kaki di belakangnya. Dia pun berbalik.Raka berdiri beberapa langkah darinya dan menjaga jarak yang tepat."Dokter Brielle," sapanya dengan nada bicara formal.Brielle mengangkat pandangan dengan dingin. "Ada perlu?""Aku datang untuk menyelesaikan pengambilan darah minggu ini,"

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1066

    Brielle memang mewarisi sifat ayahnya yang terobsesi pada penelitian. Saat Brielle jatuh pingsan ketika meneliti tanpa henti selama tiga hari tiga malam waktu itu, Raka yang berdiri di depan ruang gawat darurat telah mengambil keputusan untuk jawaban hari ini.Tidak apa-apa, biarlah Brielle membencinya.Masalah itu sudah berhasil dipecahkan Brielle, jadi tidak perlu lagi menjadi beban berat di hatinya. Mengurangi satu tanggung jawab dan beban di pundak Brielle agar wanita itu bisa hidup dengan lebih tenang.Raka kembali memejamkan mata dan menekan semua emosinya.Pukul sebelas, dia berkata dengan suara serak, "Kamu kembali untuk istirahat saja. Aku sudah nggak apa-apa."Brielle melirik waktu, lalu benar-benar berdiri hendak pergi.Raka menatap punggungnya yang berjalan tanpa ragu menuju pintu. Dadanya terasa sesak. Hampir secara refleks dia ingin bangkit untuk menghentikan Brielle."Brielle ...," panggil Raka dengan suara serak dan tiba-tiba berdiri dari sofa.Namun, kelemahan dan rasa

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1065

    Saat Brielle hendak menutup telepon, Gavin berkata dengan cemas, "Bu Brielle, tolong bantu urus Pak Raka. Ayahku juga baru dirawat di rumah sakit, aku nggak bisa pergi."Brielle tertegun sejenak, lalu menjawab, "Baik."Brielle membuka pintu. Di ruang tamu hanya ada satu lampu dinding yang redup menyala. Raka terbaring di sofa dan tampaknya sudah tertidur. Brielle mendekat untuk memeriksanya dan mendapati napasnya tampak memburu. Alisnya berkerut dan tidurnya tidak nyenyak.Brielle mengulurkan tangan untuk menyentuh dahinya. Ternyata benar, panasnya mengejutkan.Raka kembali demam tinggi.Brielle berdiri dan pergi ke kamar mandi. Dia memeras handuk dingin, lalu kembali dan menempelkannya di dahi Raka. Saat dia sedang mengambil obat di atas meja, dari belakang terdengar suara pria yang serak dan tidak percaya, "Brielle?""Jam berapa terakhir kali kamu minum obat?" Brielle menoleh dan menatapnya dengan dingin.Raka mengernyit, seolah sedang mengingat, "Sepertinya sekitar jam empat lewat."

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1064

    Brielle kembali ke rumah. Setelah masuk ke ruang kerja, air matanya akhirnya tidak bisa lagi ditahan. Dia menangis karena ayahnya.Memikirkan seseorang yang mendedikasikan diri pada penelitian sepanjang hidupnya, tapi malah dipandang sebagai sebuah peluang bisnis bagi sebagian orang di masa-masa terakhirnya.Beberapa menit kemudian, Brielle mengusap air matanya hingga kering, sorot matanya perlahan berubah menjadi tegas.Mungkin mengejar kebenaran memang tidak lagi ada artinya sekarang. Akan tetapi, dia tidak boleh lemah. Di masa depan, dia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti orang yang dipedulikannya dalam bentuk apa pun.Pukul sembilan, Lastri yang turun untuk memanggil Anya. Anya pun naik ke lantai atas dengan patuh.Sebelum tidur, Anya berkata dengan sedikit murung, "Papa bilang dia mau pergi beberapa hari, nggak tinggal di bawah lagi."Brielle menghiburnya, "Mungkin Papa sedang sakit, jadi harus pergi berobat. Mama yang temani Anya.""Mama, Papa kasihan sekali sendirian. Dia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1063

    "Baik, aku akan panggil Anya naik untuk makan," kata Brielle.Brielle datang ke lantai 27 dan menekan bel. Melihatnya datang, Gavin lalu tersenyum, "Bu Brielle datang, ya. Kebetulan aku ada urusan dan harus pergi. Tolong bantu jaga Pak Raka sebentar."Brielle sedikit terkejut, lalu bertanya, "Gimana kondisinya sekarang?""Sekarang Pak Raka sudah dalam kondisi demam ringan, tapi dokter khawatir malam ini dia bisa kembali demam tinggi," kata Gavin dengan nada khawatir."Ya." Brielle mengangguk.Gavin langsung terlihat lega, "Kalau begitu, maaf merepotkan Bu Brielle. Aku pamit dulu."Ekspresi Gavin seperti baru saja melepaskan beban berat. Dia membuka pintu dan pergi dengan santai.Raka tidak ada di ruang tamu. Brielle mendengar suara dari ruang bermain. Raka sedang duduk di sofa menemani putrinya bermain balok. Gaga berbaring di sofa, mulutnya bersandar manja di paha Raka sambil menikmati usapan tangannya dengan mata setengah terpejam.Pemandangan ayah, anak, dan seekor anjing itu sebena

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 811

    Jay teringat sesuatu, lalu lebih dulu turun untuk mengatur tempat duduk. Kursinya berada di baris kedua paling kanan. Dia sudah lebih dulu meminta staf menyiapkan tiga kursi kosong di sana.Setelah Raline dan Devina duduk, mereka mendongak dan melihat film promosi di layar. Isinya adalah potongan fo

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 810

    Saat itu, Jay melihat Frederick. Dia pun melangkah maju dan memanggilnya, "Pak Frederick.""Pak Jay sudah datang.""Lihat Lambert nggak?""Bukankah Pak Lambert bersama Bu Brielle?" jawab Frederick dengan nada alami.Tatapan Jay sedikit menyipit. Dia menepuk bahu Frederick. "Baiklah, silakan lanjutka

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 800

    Gavin membawakan makan malam untuknya. Setelah menatanya, dia masuk ke ruang kebugaran. Melihat bosnya sudah berlatih selama satu jam penuh, dia berkata dengan khawatir, "Pak Raka, makanlah sedikit."Kaos olahraga Raka basah oleh keringat dan menempel di tubuhnya, menonjolkan garis otot pria itu yan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 819

    Raline melempar ponselnya ke samping, bersandar di kursi sambil berkata, "Akhirnya aku nggak marah lagi, mood-ku juga jadi lebih baik."Devina tersenyum. "Kakakmu paling sayang sama kamu, pasti nggak akan mempermasalahkannya. Tapi ...."Devina tampak ragu untuk melanjutkan."Tapi apa?" Raline langsu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status