分享

Bab 645

作者: Ayesha
Jari Raka perlahan mengusap kotak beludru itu. Dia menoleh pada Brielle. Brielle langsung mengulurkan tangan dan mengambil kembali kotak hadiah yang cantik itu.

"Terima kasih."

Bibir Raka terkatup dengan tegang. Di dalam matanya melintas kilatan gelap yang sulit terbaca. Melihat Frederick berhenti melapor dan malah memperhatikan mereka, jari Raka mengetuk meja. Ritmenya terdengar sedikit kesal.

Frederick segera melanjutkan laporan, tetapi sepanjang sisa rapat, pertanyaan Raka menjadi jauh lebih
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (2)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
hayo...si mantan ketar ketir...liat mantan istri kaya hbs dilamar lelaki lain ..rasain lu...menyesal aja sana di pojokan ...
goodnovel comment avatar
Iin Iin
andaikan itu benar Lambert melamar Brielle, apa urusan mu Raka..
查看全部評論

最新章節

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1452

    Raka berjabat tangan dengan Ella dengan sopan. Ella kemudian meraih tangan Brielle. "Ayo, ikut ke sana."Sesampainya di tengah sekelompok orang, mereka kembali saling berkenalan. Tak lama kemudian, semua orang mulai mengobrol santai mengenai dunia medis.Raka berdiri di samping mendengarkan. Sesekali dia menyesap sampanyenya, tetapi lebih sering, pandangannya tertuju pada Brielle. Dulu, dia selalu berdiri di sisi Brielle sebagai seorang investor, mendengarkan percakapannya dengan orang lain.Namun, malam ini berbeda. Dia berdiri di sini sebagai seorang teman yang sesungguhnya. Perasaan yang memenuhi hatinya pun sama sekali berbeda.Saat itu Brielle sedang mendengarkan Ella menceritakan kisah lucu dari sebuah eksperimen hingga dia tak kuasa menahan tawa. Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang dalam.Tatapan itu berasal dari Raka.Pria itu sedikit memiringkan kepala sambil menatapnya. Di bawah sorot lampu, tatapan matanya terasa begitu membara. Brielle segera mengali

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1451

    Brielle mengenakan gaunnya, lalu mengeluarkan sepasang anting mutiara sederhana dari tas rias kecilnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai alami di belakang bahunya. Malam ini adalah jamuan makan malam akademis, jadi penampilan yang sederhana dan pantas sudah cukup.Pukul setengah delapan malam, Brielle turun tepat waktu. Raka sudah menunggunya di lobi.Pria itu berganti mengenakan setelan jas biru tua tanpa dasi. Kerah kemeja putihnya dibiarkan sedikit terbuka, memberi kesan santai tetapi tetap berwibawa.Saat melihat Brielle, sebersit kekaguman melintas di mata Raka. Dia menatap wanita yang melangkah menghampirinya dengan tenang. Jakunnya bergerak pelan.Sudah berapa lama? Sudah berapa lama dia tidak melihat Brielle berjalan menghampirinya seperti ini. Rasanya seolah sudah berlalu satu abad.Dulu, Brielle selalu menghampirinya dengan penuh semangat, berlari memeluknya dengan riang, lembut, dan malu malu. Namun setelah bercerai, sikapnya menjadi dingin dan sengaja menghindarinya. Di

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1450

    Jawaban Raka yang lugas dan tidak ragu-ragu membuat kata-kata yang hendak diucapkan oleh Brielle tertelan kembali. Dia menatap pria yang berdiri membelakangi sinar matahari itu.Dengan setelan jas kasual, kesan tajam dan formal yang biasanya dia miliki berkurang beberapa tingkat, digantikan oleh aura yang lebih santai dan mudah didekati. Namun, wibawa tenang yang menjadi ciri khasnya tetap tidak berubah."Kalau begitu ... sampai nanti malam. Aku mau balik ke hotel dulu untuk istirahat," kata Brielle."Makan sesuatu dulu," ujar Raka dengan suara rendah. Memang itulah tujuan kedatangannya, untuk menjemput Brielle.Brielle teringat bahwa konferensi sudah selesai. Seluruh tubuh dan pikirannya terasa jauh lebih ringan. Dia mengangguk. "Oke."Mereka berjalan melewati jalan setapak yang teduh di dalam kampus. Sinar matahari musim panas menembus sela-sela dedaunan, membentuk bayangan belang-belang di atas tanah.Di kejauhan, beberapa pekerja sedang memangkas rumput. Aroma rerumputan yang segar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1449

    Brielle tertegun. Untuk sesaat, dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa."Maaf. Saat itu reaksiku memang sangat keras dan caraku menghadapinya juga sangat bodoh," ujar Raka sambil tersenyum pahit."Jadi kamu sengaja menggunakan Devina untuk memancing reaksiku?" Brielle menatapnya, lalu bertanya lagi, "Kenapa nggak langsung tanya ke aku?"Raka menatapnya tanpa berkedip. Cahaya matahari memantul di kedua matanya. Dia tersenyum. "Kalau kita bisa kembali ke masa itu, aku pasti akan langsung tanya ke kamu."Tiba-tiba, Brielle ikut tersenyum. "Kamu nggak akan melakukannya. Karena aku juga nggak akan melakukannya."Dia tidak akan mempertanyakan hubungan Raka dan Devina yang sebenarnya. Dia hanya akan menebak-nebak hubungan mereka, lalu terus menyangkal dirinya sendiri, menyiksa dirinya sendiri, hingga akhirnya memilih untuk mengakhiri semuanya.Senyuman Raka mengandung kepedihan sekaligus pengertian. "Kamu benar."Dia mengakuinya. Karena saat itu, mereka berdua sama-sama takut. Takut jika

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1448

    Pagi harinya, alarm di samping bantal tiba-tiba berbunyi dan membangunkan Brielle. Sinar matahari yang menyilaukan menusuk matanya hingga dia refleks mengangkat tangan untuk menghalanginya.Nuansa musim panas terasa dari luar jendela. Brielle melirik jam. Meskipun masih sangat kurang tidur, dia harus bangun untuk menyelesaikan hari terakhir di kegiatan akademiknya.Dia berdiri dan berjalan ke depan cermin. Matanya bengkak dan kantung matanya yang gelap terlihat jelas, tetapi sorot matanya sudah jernih dan tidak lagi dipenuhi kebingungan.Brielle merapikan rambutnya, lalu mengenakan setelan yang rapi. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi masa depan masih panjang. Setidaknya sekarang, dia sudah memiliki keberanian untuk menghadapi semuanya.Brielle mengambil tas laptopnya. Setelah semalaman menata ulang emosinya, dia memutuskan untuk memberanikan diri menghadapi segala sesuatu. Bagaimanapun juga, setiap masalah pasti memiliki jalan keluar.Begitu membuka pintu kamar, dia melihat Ra

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1447

    Memang benar, selama di Negara Madagasa, Brielle pernah beberapa kali bertemu dengan Harvis.Hubungan mereka juga cukup baik. Mereka bahkan sering berkomunikasi dan bertukar kabar secara online.Pada masa itu, Harvis adalah satu-satunya pria yang bisa menjadi tempat Brielle mencurahkan keluh kesahnya.Dia masih ingat suatu kali ketika dirinya ketinggalan pesawat, Raka sudah lebih dulu pulang ke tanah air bersama Anya.Saat itu, Brielle menjelaskan bahwa dia terlambat karena pergi berwisata ke daerah sekitar bersama seorang teman.Namun ketika dia tiba di rumah, wajah Raka terlihat sangat muram. Pria itu hanya duduk diam di sofa, sementara suasana di sekelilingnya dipenuhi tekanan yang menyesakkan.Brielle menggigit bibirnya dengan pelan. Raka memang orang yang sangat menjaga harga diri dan terbiasa memendam segala sesuatu.Dia pernah berkonsultasi dengan seorang psikolog. Kesimpulan yang diberikan psikolog itu adalah pria yang emosinya terlalu stabil sering kali memiliki masalah dalam

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 17

    Jantung Brielle mencelos. Saat menengadah, dia langsung melihat sosok yang tinggi tegap dan tenang milik Raka sedang berjalan di belakang putrinya.Saat sedikit menarik napas lega, dari kerumunan kembali muncul sosok Raline yang bergandengan dengan Devina. Keduanya sedang berbincang dan tertawa deng

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 35

    Beberapa kali saat bermain bola, pandangan Raka tanpa sadar terus melirik ke arah sofa tempat Brielle tadi duduk. Selesai menangani email-nya, Brielle naik ke atas dan baru turun lagi menjelang waktu makan malam.Masakan Lastri hari itu sangat lezat. Anya pun tampak lahap menyantap hidangan yang sel

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 23

    "Tidur di ranjang saja," kata Raka datar.Brielle melirik ponselnya, saat ini baru lewat tengah malam. Dia langsung mengambil keputusan untuk pulang.Kemudian, dia mengambil jaket dan menyampirkannya ke bahu, lalu menggenggam ponselnya. "Nggak perlu, aku pulang saja tidur di rumah."Gerakan Raka yan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 56

    "Pak Raka, ada teman Bapak yang sakit?""Ya," jawab Raka singkat, lalu melirik sosok ramping berseragam jas lab putih di pelukan Harvis. Kemudian, dia segera melangkah masuk ke ruang rawat.Harvis masih merangkul bahu Brielle saat mereka berjalan menuju ruang rawat pasien terakhir. Dia menoleh dan m

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status