MasukHarvis terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Tapi pilihanmu waktu itu juga karena kamu ingin bertanggung jawab pada keluarga dan anakmu.""Kalau dipikir-pikir, itu cuma pengorbanan yang membuat diri sendiri terharu saja." Brielle tersenyum pahit."Jadi, Raka memilih bersikap ambigu dengan Devina, juga demi memastikan Devina bersedia mendonorkan darah untuk ibunya, begitu?" tanya Harvis dengan suara rendah, sorot matanya penuh selidik.Brielle menggigit bibirnya, terdiam beberapa detik sebelum berkata, "Itu pilihan dia. Aku bisa memahami keinginannya menyelamatkan ibunya. Tapi kalau waktu itu dia memilih jujur, aku pasti akan menghadapinya bersama dia."Harvis menatap Brielle. "Kalau begitu, Devina pasti menginginkan posisi sebagai Nyonya Pramudita."Brielle mengangkat kepala menatap Harvis, untuk sejenak, tak bisa menjawabnya.Kalau saat itu Raka jujur padanya dan Devina datang dengan kemungkinan untuk menyembuhkan penyakit genetik anak mereka, itu akan menjadi akhir yang berbeda. Dia
"Profesor Brielle, selamat pagi," sapa seorang asisten wanita.Brielle tersadar dari lamunannya, lalu membalas dengan senyuman sopan. Dia berjalan perlahan menuju gedung laboratorium, menyingkirkan potongan-potongan kenangan yang sengaja dia kubur, dan kembali masuk ke mode kerja.Pagi itu, Brielle mengadakan rapat dengan Rowan, membahas persiapan putaran eksperimen berikutnya. Demi mempercepat progres, penelitian mereka kini sudah melangkah lebih jauh dengan pendekatan yang cukup berani.Saat makan siang di kantin, Brielle baru saja duduk bersama Rowan, ketika Harvis datang membawa nampan dan berkata, "Profesor Rowan, boleh aku bicara sebentar dengan Profesor Brielle?"Rowan langsung berdiri, membawa nampannya ke meja lain. Brielle menatap Harvis dengan sedikit heran. "Kak Harvis, ada hal penting?"Setelah duduk, Harvis menatapnya dengan mata yang dalam. "Brie, tiba-tiba aku sadar aku pernah melakukan satu kesalahan dan aku merasa bersalah."Brielle sedikit tertegun. "Maksudmu apa?"H
Setelah menutup telepon, mobil Brielle juga sudah memasuki area parkir laboratorium. Setelah turun dari mobil, dia langsung mengambil ponselnya dan menelepon Raka.Sebagai pemegang saham terbesar kedua di Grup Muse, dia yakin Raka tidak akan menolak memberikan tumpangan untuk Frederick di pesawat pribadinya."Ya?" Suara pria di seberang terdengar rendah dan lembut."Pak Raka, aku mau merepotkanmu sedikit, boleh?" Brielle langsung berbicara dengan sopan dan formal.Dari seberang terdengar tawa rendah yang mengandung kekesalan. "Apa hubungan kita sudah sekaku ini?"Brielle tidak menanggapi kalimat itu, langsung menyampaikan permintaannya. "Kali ini Frederick akan berangkat ke Solar Valley. Apa dia boleh ikut pesawat pribadimu?""Tentu saja boleh." Di seberang, Raka langsung menyetujuinya tanpa ragu."Terima kasih." Setelah mengatakan itu, Brielle berniat menutup telepon."Tunggu." Suara dari seberang tiba-tiba menghentikannya.Brielle sedikit mengernyit. Masih ada apa lagi?"Kali ini, pe
"Bu Brielle," sapa Gavin.Gerakan Raka yang sedang mencabut rumput terhenti. Dia berdiri dan menatap Brielle. Tatapan Brielle yang sedang memeluk buket bunga bertemu dengan matanya. Ada sedikit keterkejutan di mata Brielle, tetapi dengan cepat kembali tenang.Dia tidak menyangka akan bertemu dengan Raka di sini.Melihat situasi itu, Gavin menjelaskan, "Bu Brielle, selama beberapa tahun ini, selama Pak Raka berada di dalam negeri, beliau selalu datang pada hari peringatan wafatnya Pak Adam."Kalimat itu membuat hati Brielle tersentuh.Dulu, empat tahun pertama setelah menikah, mereka selalu datang bersama. Dua tahun berikutnya, setelah hubungan mereka bermasalah, Brielle tidak ingin datang bersamanya lagi, jadi dia datang sendiri.Selama dua tahun itu, makam selalu bersih rapi, dengan bunga segar yang diletakkan di sana. Dia selalu mengira itu berkat murid ayahnya yang datang berziarah. Namun, sekarang setelah dipikir-pikir lagi, pemakaman ayahnya dilakukan dengan sangat sederhana dan t
Brielle keluar. Lastri membawa semangkuk sup sarang burung dan berkata, "Nyonya, aku masakkan sup sarang burung untuk menambah stamina."Brielle menatapnya dengan penuh rasa syukur. "Terima kasih."Kali ini karena kejadian Gaga, Lastri juga merasa sangat bersalah. Karena kelalaian sesaat, mereka jadi menyia-nyiakan begitu banyak waktu berharga.Brielle duduk sambil memakan sup sarang burung itu, sekaligus memegang iPad untuk lanjut menganalisis data.Pukul 8.30 malam, Raka keluar bersama putrinya untuk minum air. Anya berseru dengan gembira, "Mama sudah pulang! Aku lagi latihan perkenalan diri pakai bahasa asing sama Papa.""Hmm! Mama dengar kok, Anya sudah banyak kemajuan." Brielle memuji putrinya.Tatapan Raka tertuju ke wajahnya. Brielle mengangkat kepala dan berkata pelan kepadanya, "Terima kasih."Alis Raka sedikit berkerut. "Di antara kita nggak perlu seformal itu."Namun, Brielle merasa itu perlu. Mereka sudah menjadi dua individu yang terpisah, bukan lagi suami istri. Dia tidak
Harvis mengangguk ringan, tidak berkata apa-apa lagi. Dia tahu bahwa selama pernikahannya, Brielle sengaja menyembunyikan mimpi dan ambisinya. Menjadi istri dan ibu yang baik memang impiannya, tetapi jelas itu bukan jalan yang cocok untuknya. Dia seharusnya bersinar di bidangnya sendiri.Mungkin Raka sekarang sudah mengerti, tetapi semuanya sudah terlambat. Brielle yang dia kenal sekarang sudah bersinar terang dalam kariernya. Yang mendefinisikan Brielle sejak awal bukanlah pernikahannya dengan keluarga kaya, melainkan kemampuannya sendiri.Gavin memandang bosnya yang berdiri diam di tempat. Meskipun tidak tahu apa yang dibicarakan Raka dengan Harvis, saat ini aura yang menyelimuti atasannya terasa sangat berat. Benar-benar sesuatu yang jarang terjadi."Ayo!" Tak lama kemudian, Raka melirik jam tangannya, lalu berkata kepada Gavin. Setelah ini, dia masih harus pergi ke Grup Pramudita untuk rapat.Setelah Gavin masuk ke mobil, dia tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Pak Raka, untuk u
Setelah turun dari pelukan Raka, Anya langsung menggenggam tangan Brielle. Pelukan Raka pun mendadak kosong, alisnya sedikit berkerut.Brielle menggandeng putrinya berdiri sejenak. Anya teringat mainannya yang masih berada di sofa di samping Raka, lalu berkata, "Mama, mainanku masih ada di sofa sebe
"Kak Harvis, ini kenapa?" tanya Brielle dengan nada khawatir."Tadi waktu menahan babinya, aku nggak sengaja tergores kukunya. Bukan masalah besar kok.""Aku bantu bersihkan dan perban ya," kata Brielle sambil pergi mengambil kotak P3K.Saat Brielle duduk di laboratorium untuk membersihkan dan memba
Lambert juga melihat Brielle datang. Dia membuka pintu dan turun dari mobil, lalu tersenyum. "Kamu sudah sampai.""Gimana tanganmu?" tanya Brielle dengan khawatir."Sudah jauh lebih baik. Selain nggak boleh angkat barang berat untuk sementara, pada dasarnya nggak memengaruhi aktivitas sehari-hari,"
Harvis menanyakan hal itu karena dia ingin tahu apakah Brielle masih akan memberi kesempatan pada Raka.Brielle menunduk. Suaranya tenang tetapi tegas. "Nggak ada kemungkinan seperti itu."Harvis mengembuskan napas lega, tetapi segera mengerutkan kening. Brielle jelas tidak akan rujuk, tetapi bagaim







