ログイン"Pak Raka, jangan bicara terlalu mutlak. Ke depan kita pasti masih perlu saling berurusan di dunia bisnis. Rasanya nggak sepadan kalau sampai merusak hubungan demi seorang wanita, bukan?""Pak Winston nggak perlu khawatir. Kalau nggak ada hal lain lagi, aku masih ada rapat. Maaf."Raka langsung menutup telepon, lalu melangkah masuk ke lift.Di sisi lain di dalam vila, wajah Winston menjadi muram saat menggenggam ponselnya erat. Sejak awal dia memang tidak menyukai pemuda yang bertindak arogan itu. Sekarang, Raka bahkan sama sekali tidak menghargainya. Ini pertama kalinya dia diperlakukan seremeh itu.Saat itu, sebuah lengan lembut melingkar di lehernya. "Winston, jangan marah. Kamu sudah melakukan banyak hal untukku."Meski sudah berusia, Winston telah puluhan tahun berkecimpung di dunia bisnis. Sifat keras kepala dan tidak mau kalah dalam dirinya tidak kalah dari orang muda. Penolakan Raka yang tegas bukan membuatnya mundur, malah semakin membakar hasratnya untuk menang.Dia menarik D
Brielle melirik jam tangannya, lalu berkata pada pria di sofa, "Kamu pulang saja istirahat."Raka berdiri dan bertanya, "Gaga boleh aku bawa turun?"Brielle belum sempat menjawab, Anya sudah lebih dulu mengiyakan, "Papa, jaga Gaga ya!""Mm." Raka tertawa pelan sambil melirik Gaga. Gaga langsung mengerti dan mengikuti dia keluar.Setelah menidurkan Anya, Brielle kembali ke ruang kerja untuk merapikan materi hari ini. Tanpa sadar, pikirannya kembali pada sosok Qiora. Cara gadis itu menatap burung di langit, pasti dia juga sangat ingin terbang lagi dan kembali ke profesinya.Hati Brielle terasa berat. Beban di pundaknya seolah bertambah.Keesokan paginya, Raka mengantar Anya ke sekolah. Brielle kemudian pergi ke laboratorium. Saat ini sudah memasuki akhir semi, dia keluar dengan pakaian yang tidak terlalu tebal. Dalam perjalanan, dia juga menyadari dua mobil pengawal masih mengikuti di belakang.Setibanya di parkiran laboratorium, Brielle turun dari mobil, tapi tidak langsung masuk ke ged
Langkah Brielle sedikit terhenti.Gadis itu ... dia pernah melihatnya. Memang hanya sekali, tapi kesannya sangat mendalam. Itu adalah pilot wanita bernama Qiora. Saat terakhir bertemu di rumah sakit, dia begitu gagah, penuh semangat, dipenuhi energi hidup. Namun, sekarang ... dia duduk di kursi roda?Justin selesai menelepon dan berjalan mendekat. Melihat arah pandangan Brielle, dia menghela napas pelan, "Itu cucu teman lamaku. Dulu dia pilot yang sangat menjanjikan. Sayang sekali."Brielle tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Pak Justin, dia mengalami kecelakaan saat terbang?"Justin menatap ke arah Qiora dan berkata dengan suara berat, "Iya. Kecelakaan penerbangan membuat kedua kakinya lumpuh." Lalu dia menoleh pada Brielle dengan penuh harap, "Tapi kalau proyek BCI berhasil, ada kemungkinan besar ke depannya bisa benar-benar memulihkan kondisi kakinya."Napas Brielle sedikit tertahan. Dia kembali menatap gadis di kursi roda itu. Qiora sedang mengangkat kepala dan berbicara denga
Brielle baru saja turun dari pesawat ketika ponselnya berbunyi. Dia berhenti sejenak, mengambil ponsel dan melihat pesan itu. Saat melihat foto Gaga, dia langsung menghela napas panjang lega.Di foto itu, Gaga tampak kotor. Kepalanya bersandar di perut Raka, matanya basah dan masih terlihat ketakutan. Pemandangan itu membuat Brielle terdiam beberapa detik.Dalam ingatannya, Raka adalah orang yang punya standar kebersihan tinggi. Bahkan dulu saat dia diam-diam membawa pulang Gaga, meski sekilas Raka tampak menerima, Brielle tahu dalam hatinya Raka agak menolak adanya hewan peliharaan di rumah.[ Terima kasih, maaf merepotkanmu. ]Brielle segera membalas pesan itu, lalu berjalan bersama Rowan menuju mobil penjemput.Raka melihat pesan singkat itu. Beberapa kata sederhana, tapi seolah mengandung sedikit penghargaan. Dia menunduk melihat Gaga di pelukannya yang perlahan mulai tenang. Semua usaha ini terasa sepadan.Setelah tiba di klinik hewan, Gaga kembali gemetar saat melihat dokter. Rak
Mobil melaju kencang. Di sepanjang jalan, Raka menelepon beberapa pihak. Dia langsung menghubungi jajaran tinggi pemerintah kota, meminta agar proses penanganan anjing-anjing yang ditangkap semalam dihentikan sementara.Siapa sangka, orang terkaya di Kota Amadeus akan mengerahkan kekuasaan dan sumber daya sebesar itu hanya demi seekor anjing.Mobil Zakie mengerem mendadak, berhenti di depan sebuah halaman tua di pinggiran kota. Tempat itu adalah lokasi penampungan sementara. Tanpa menunggu Zakie membukakan pintu, Raka sudah mendorong pintu mobil dan turun, melangkah cepat masuk ke dalam.Beberapa petugas yang sedang duduk minum teh di dalam langsung terpaku melihatnya.Melihat pria dengan setelan jas mahal dan wajah dingin itu, mereka sejenak tidak tahu harus bagaimana bereaksi.Penanggung jawab lokasi itu langsung teringat pada panggilan telepon yang diterimanya 20 menit lalu. Katanya ada seorang pengusaha kaya yang kehilangan anjing, kemungkinan ada di tempat penampungan ini.Tak dis
Anya mengenakan tas sekolah kecil di punggungnya. Sepasang matanya yang besar berkedip-kedip melihat ayah dan ibunya. Meski masih kecil, dia sudah mulai peka membaca situasi.Dia mendongak dan bertanya, "Ma, tadi Mama mau bilang apa ke Papa?"Brielle mengusap kepalanya. "Mama mau ke Kyoza untuk rapat. Kamu ikut Papa dulu, ya?""Baik! Nanti Mama bawakan aku oleh-oleh dari Kyoza?" Anya bertanya penuh harap."Iya, pasti." Brielle mengangguk.Sejak kecil, Anya memang termasuk anak dengan kebutuhan tinggi. Setelah mulai mengenali orang, dia sangat menolak orang asing dan hanya mau dekat dengan ayah dan ibunya. Dulu sempat ada tiga pengasuh di rumah, tapi akhirnya diberhentikan oleh Brielle.Kalau sedang rewel, bahkan Lastri pun tidak bisa menggendongnya. Itu sebabnya Brielle dan Raka selalu turun tangan sendiri dalam segala hal untuk putri mereka. Brielle juga terbiasa secara mental, bahwa dia belum bisa benar-benar mempercayakan anaknya pada siapa pun selain Raka.Setelah Raka membawa Anya
Saat itu di dalam aula pameran yang tenang, ponsel Brielle berbunyi. Dia mengeluarkannya dan melirik sebentar, lalu langsung memutus panggilan itu.Lambert menoleh dan bertanya, "Kenapa nggak diangkat?""Telepon iseng," jawab Brielle dengan tenang.Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Brielle meng
Untuk bisa mendengar apa yang akan dikatakan Savana, Raline pura-pura menelepon seseorang lalu berjalan masuk ke balik pepohonan di dekat sana.Lambert yang berbalik melihat ibunya datang, seketika merasa tegang. Meskipun belakangan ini sikap ibunya mulai melunak, dia tetap belum bisa menebak isi ha
Brielle baru saja membuka beberapa artikel rekomendasi ketika matanya melihat sebuah informasi menarik. Sebuah pameran lukisan berskala internasional sedang diadakan di gedung budaya Kota Amadeus.Dia mengetuk layar, membaca tema pameran, dan merasa ini akan sangat bagus untuk menumbuhkan minat seni
Brielle tahu alasan Lambert meminta maaf. Dia tersenyum tipis. "Nggak apa-apa."Ekspresinya yang tenang justru membuat Lambert semakin merasa bersalah. Dia sadar, tindakannya hari ini memang agak licik."Aku duluan, kamu masuklah," kata Brielle, lalu membuka pintu mobil dan duduk di dalamnya.Lamber







