로그인Dulu, Nareswari adalah "peri penolong" yang rela mengemis perhatian Nakula Pandawara, meski hanya dibalas tatapan remeh dan dijadikan bahan taruhan balap liar. Hancur dan muak, Nareswari memilih mundur. Ia menciptakan sandiwara gila dengan mengaku salah orang dan beralih mencintai Sadewa—kembaran Nakula yang lebih dingin dan menyambut baik niatnya. Nareswari pikir pelariannya berhasil. Namun, saat ia mulai nyaman dalam lindungan Sadewa, Nakula justru murka. Cowok yang dulu membuangnya itu kini terbakar cemburu, mengejar Nareswari.
더 보기JUDUL 01: Jadi Pacarku!
“Mau jadi pacarku, gak?”
Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Sadewa tanpa ada kontak mata sama sekali. Cowok itu tiba-tiba menghempaskan tubuh di bangku kosong sebelah Nareswari, seolah baru saja menanyakan cuaca, bukan sebuah komitmen.
Nareswari yang sedari tadi pura-pura sibuk membaca dengan headset di telinga—yang kabelnya menjuntai tak terhubung ke mana pun—langsung mendongak.
Ia menatap netra Sadewa lekat-lekat, mencoba membedah apakah ada kilatan jahil atau sisa tawa di sana. Namun, mata itu bersih. Dingin, namun menyimpan beban yang sulit ia terjemahkan.
Suasana kelas yang mulai sepi mendadak terasa mencekik. Nareswari benci keheningan ini. Baginya, Sadewa adalah anomali. Sejak ia jatuh hati pada Nakula, Sadewa selalu ada di pinggir radar pengamatannya—sebagai bayangan, sebagai saksi bisu, sebagai kembaran yang punya sorot mata setajam elang.
Ternyata instingku benar. Dia memang selalu memperhatikanku, batin Nareswari pedih.
Seberapa menyedihkan dirinya di mata cowok ini? Sadewa pasti sudah kenyang menonton pertunjukan "kebodohan" Nareswari.
Mulai dari saat ia mencuri pandang pada Nakula yang sedang tertawa dengan gadis lain, hingga aksi heroik tak kasat mata saat ia menyelipkan jawaban tugas Fisika ke kolong meja Nakula agar cowok itu tidak diamuk guru killer.
Sadewa melihat semuanya. Dia adalah penonton setia bagaimana Nareswari mengemis perhatian pada seseorang yang bahkan tidak menganggapnya ada.
“Kau... kau kasihan padaku, ya?” suara Nareswari bergetar, meski ia sudah sekuat tenaga menahannya. Satu hal yang paling ia benci adalah dikasihani oleh orang yang tahu persis siapa yang sebenarnya ia cintai.
Sadewa tersentak. Ekspresinya yang datar sedikit retak.
“Aku tahu kau memperhatikan aku dan Nakula selama ini,” lanjut Nareswari dengan senyum pahit yang tidak menyentuh mata.
“Jangan menembakku hanya karena kau iba melihatku jadi 'pilihan kedua' yang tidak pernah dipilih. Aku tidak butuh hadiah hiburan dari seorang Pandawara hanya karena aku gagal mendapatkan yang satunya. Lupakan saja.”
Nareswari mulai membereskan buku dengan gerakan kasar, harga dirinya yang terluka menuntut untuk segera pergi. Namun, teriakan Sadewa menghentikannya.
“Berikan aku kesempatan!”
Nareswari menoleh sekilas, tatapannya bertanya: Untuk apa?
“Beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau ini bukan soal kasihan. Ini bukan tentang Nakula, Nares. Ini tentang aku!” Sadewa berdiri, suaranya sedikit memaksa, menuntut ruang di hati Nareswari yang selama ini hanya dipenuhi nama kembarannya.
Nareswari menghela napas, lelah berdebat. “Baiklah, Sadewa. Buktikan sampai aku benar-benar bisa percaya.”
Ia melangkah gontai keluar kelas, merasa baru saja menggadaikan sisa harga dirinya pada sebuah ketidakpastian. Namun, langkahnya terhenti di gerbang sekolah saat sebuah motor besar melintang tepat di depannya.
TIIIT!
Di balik kaca helm gelap itu, sepasang mata menatapnya tajam. Identik dengan Nakula, tapi dengan sorot yang jauh lebih menuntut dan posesif.
“Naik,” perintah Sadewa dingin.
Nareswari terpaksa menurut demi menghindari drama di depan siswa lain yang masih berkeliaran. Sepanjang jalan, aroma maskulin Sadewa—campuran antara parfum woody dan aroma aspal—menjajah indranya. Sangat kontras dengan aroma citrus lembut milik Nakula yang selama ini ia puja dalam diam.
Keheningan di atas motor itu terasa jauh lebih mengintimidasi. Sadewa memacu motornya dengan kecepatan yang membuat jantung Nareswari berpacu, lalu berhenti tepat di depan rumahnya. Cowok itu tahu alamatnya tanpa perlu bertanya—sebuah detail yang membuat kuduk Nareswari meremang.
“Besok jam tujuh, aku jemput,” ucap Sadewa datar saat Nareswari turun. Sebelum memutar gas, ia menarik kaca helmnya ke atas, berbisik rendah yang sanggup menggetarkan pertahanan Nareswari.
“Berhenti melihat Nakula, Nares. Mulai sekarang, cuma aku yang boleh ada di matamu.”
Nareswari terpaku di balik pintu rumahnya yang sunyi setelah motor itu melesat pergi. Tangannya masih gemetar saat merogoh ponsel untuk mematikan daya. Namun, sebuah notifikasi dari grup lounge sekolah yang biasanya ia abaikan, mendadak membanjiri layar.
Dunia Nareswari seolah runtuh saat ia membaca pesan yang tersemat di sana:
"Kasihan si 'Peri Penolong' kelas kita. Semalam dia jadi taruhan balap liar antara si kembar Pandawara. Sadewa menang, dan sekarang dia punya hak penuh atas Nareswari selama sebulan."
Di bawah pesan itu, sebuah foto terpampang nyata: Nakula yang sedang memegang tumpukan uang di arena balap liar semalam dengan seringai tipis, sementara Sadewa berdiri di samping motornya, menatap lurus ke arah kamera dengan tatapan yang kini Nareswari sadari sebagai tatapan kemenangan seorang pemenang taruhan.
Ponsel Nareswari meluncur jatuh, menghantam lantai dengan bunyi yang memilukan. Dadanya sesak, oksigen seolah hilang dari paru-parunya.
Ponsel Nareswari meluncur jatuh, menghantam lantai dengan bunyi prak yang memuakkan—persis seperti bunyi jantungnya yang baru saja remuk. Ia mencengkeram dadanya yang mendadak sesak, sementara tawa Nakula dan tatapan tajam Sadewa di foto itu terus membayang di pelupuk matanya.
"Bodoh..." Nareswari berbisik pada kesunyian ruangan, suaranya pecah dan bergetar hebat.
"Bisa-bisanya aku percaya..." Ia tertawa getir, sebuah tawa kering yang lebih mirip rintihan. Air mata mulai mengaburkan pandangannya. "Ternyata aku memang semurah itu, ya? Cuma tumpukan uang di tangan Nakula dan mainan satu bulan buat Sadewa."
Ia memejamkan mata erat-erat, meremas kemeja seragamnya tepat di bagian jantung.
"Satu bulan? Baiklah. Kalau kalian mau main-main."
Ruang Karantina Olimpiade. Hanya ada Nakula saat Nareswari masuk, dia terlihat santai, melihat ke jendela, tak mengerjakan soal-soal Olimpiade. Mungkin sudah. Pikir Nareswari. Nareswari memilih duduk di dekat jendela, barisan Nakula di baris ketiga.Nakula bisa melihat dengan jelas rambut Nareswari yang terkena sinar matahari, rambutnya jadi kemerahan, rambutnya kini biasa tergerai. Dulu Nareswari selalu mengikat rambutnya, kini matanya yang anggun bak angsa di sungai sekarang bisa dilihat siapa saja, pukauan tersembunyi seolah adalah daya tariknya. Suasana sangat hening, hanya ada suara ac yang menjalankan tugasnya. "Ugh,"Nakula tak terbiasa dengan keheningan ini, dia yang terbiasa mendengar suara perhatian Nareswari, melihat Nareswari yang bahkan hanya sejarak meja saja sekarang, tapi mereka seperti sangat berjauhan. Seolah Nareswari tidak menganggapnya ada tapi tidak dengan sebaliknya, Nakula selalu merasakan kehampaan itu. Nareswari fokus mengerjakan soal-soal dengan san
Suasana hening, Nareswari berusaha agar tidak terus terang memperhatikan Sadewa, menunjukan dirinya memakai make up saja sudah terasa memalukan. Kenapa aku harus menerima tawaran Tirta buat di make up sih. Tirta melirik lalu berpaling cepat saat tahu Sadewa memperhatikannya, dia berusaha fokus melihat pemandangan dari bawah, dia bisa merasakan dari sudut matanya, Sadewa seperti tengah tersenyum, seperti bunga yang baru saja tumbuh, merekah. Nareswari mengibas-ngibas wajahnya yang terasa panas dengan tangannya. Suasana canggung baginya, tapi Sadewa nampak menikmatinya. "Cantik, aku lupa ngomong gitu."Ucap Sadewa sambil menangkup dagunya di tangan, matanya fokus pada Nareswari seperti pemandangan sore pun kalah oleh paras Nareswari kali ini. Kapan lagi kan Sadewa liat Nareswari dandan seserius ini. Nareswari yang mendengar itu rasanya ingin menghilang saja di telan angin yang semakin lama semakin dingin. Mata Sadewa tidak mengalihkan apapun dari dirinya. "Bisakah kamu berhenti
"Kemana!" Tanya Nareswari matanya terbuka lebih jelas, wajah polosnya terlihat seperti daya pikatnya yang tersembunyi. Sadewa memegang dadanya berusaha menahan diri agak tidak melakukan apa-apa pada Nareswari, bisa saja kan Sadewa menggigitnya karena saking menggemaskannya Nareswari. "Aku mau ngasih kejutan," Bisik Sadewa tepat di telinga Nareswari, sebelum berbisik Sadewa meminta maaf untuk menyeka rambut Nareswari. Sadewa membuka sedikit ruang di tangannya, meminta Nareswari agar menggandengnya, dan Nareswari dengan kikuk menerima gandengan itu. Grep! Tangan Nareswari dan lengan Sadewa saling tersambung, meski kata Sadewa dia bau keringat, justru Nareswari mencium semerbak parfum beraroma lembut dan sopan. Jantung Nareswari rasanya berhenti berdetak, nafasnya pendek, dan tangannya yang menaut dengan lengan Sadewa rasanya seperti kayu yang tak bisa bergerak. Ada mata yang melihat itu dengan tatapan hampir frustasi, Nakula, matanya terbuka lebar namun menyimpan bunga y
"Kamu mau ngapain Tirta?"Tanya Nareswari masih belum bisa mencerna, yah memang tidak peka saja. Tirta memasang wajah datar dan sebal karena Nareswari tidak mengerti. "Intinya aku bakal dandanin kamu,""Bu-buat apa?""Hah, tadi kan aku udah bilang Nares, kamu kan nanti mau dijemput Sadewa, penampilannya harus oke dong."Ungkap Tirta, gelagat nya seperti seorang sales yang sudah menyelesaikan s2 marketingnya. Dan Nareswari adalah pembeli bodoh yang mudah termakan barang promo. "Oke, ayo kita mulai!"Semangat Tirta membara seperti api unggun di acara pramuka. Dia memperhatikan wajah Nareswari, dia seperti terpukau dengan wajah Nareswari yang. "Kamu punya wajah bersih, gak keliatan pori-pori atau apapun yang mengganggu make up kena kulit sekalipun."Tirta dengan intonasi cepat seperti seorang yang tengah nge rap di panggung cochlea. Nareswari rasanya kikuk tidak biasa dia dipuji soal fisiknya. Nareswari terbiasalah mengikat rambutnya seperti ekor kuda yang jatuh, orang dari kejau
"Aduh udahan mesra-mesraannya~"Ibu kepala sekolah menegur kecil dua sejoli itu, Nareswari dengan cepat menghindari Sadewa, dan Sadewa nampak tidak senang, Ibu Risa yang melihat itu hanya menggeleng kepala. Sadewa, dulu bahkan dia sangat kesulitan mengekspresikan dirinya sendiri, namun berkat Nare
"Kamu beresin barang-barang aku?"Tanya Nareswari dengan mata membulat sempurna, wajahnya nampak terkejut dan tak enak. Sadewa hanya mengangguk jujur. "Haduh padahal aku bisa sendiri,"Lagi-lagi Sadewa melakukan hal yang tak perlu, padahal Nareswari hanya ingin Sadewa memperlakukannya di depan ba
"Ke-kenapa kamu ngikutin aku???"Tanya Nareswari seperti biasa dengan emosinya. "A-aku udah jawab,"Sadewa kikuk, takut melakukan kesalahan. "Apa!!!""Ka-karena ingin memastikan kamu pulang dengan selamat,"Ungkap Sadewa jujur. 'Apakah dia akan percaya, oh, pasti tidak.'Nareswari melotot, alisn
BAB 7: Seandainya….Nareswari berjalan gontai menuju area parkir sekolah yang mulai lengang. Di sana, Sadewa sudah berdiri menyandar pada motor besarnya, helm cadangan sudah tersampir di spion.Tidak ada senyum di wajah Nareswari, apalagi binar bahagia layaknya gadis yang baru saja jadian dengan sa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
리뷰