Saat Aku Berhenti Kamu Malah Mengejarku

Saat Aku Berhenti Kamu Malah Mengejarku

last update최신 업데이트 : 2026-05-15
작가:  Nasri Suju연재 중
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
3 평가 순위. 3 리뷰
30챕터
713조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Dulu, Nareswari adalah "peri penolong" yang rela mengemis perhatian Nakula Pandawara, meski hanya dibalas tatapan remeh dan dijadikan bahan taruhan balap liar. Hancur dan muak, Nareswari memilih mundur. Ia menciptakan sandiwara gila dengan mengaku salah orang dan beralih mencintai Sadewa—kembaran Nakula yang lebih dingin dan menyambut baik niatnya. ​Nareswari pikir pelariannya berhasil. Namun, saat ia mulai nyaman dalam lindungan Sadewa, Nakula justru murka. Cowok yang dulu membuangnya itu kini terbakar cemburu, mengejar Nareswari.

더 보기

1화

BAB 1

JUDUL 01: Jadi Pacarku!

“Mau jadi pacarku, gak?”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Sadewa tanpa ada kontak mata sama sekali. Cowok itu tiba-tiba menghempaskan tubuh di bangku kosong sebelah Nareswari, seolah baru saja menanyakan cuaca, bukan sebuah komitmen.

Nareswari yang sedari tadi pura-pura sibuk membaca dengan headset di telinga—yang kabelnya menjuntai tak terhubung ke mana pun—langsung mendongak.

Ia menatap netra Sadewa lekat-lekat, mencoba membedah apakah ada kilatan jahil atau sisa tawa di sana. Namun, mata itu bersih. Dingin, namun menyimpan beban yang sulit ia terjemahkan.

Suasana kelas yang mulai sepi mendadak terasa mencekik. Nareswari benci keheningan ini. Baginya, Sadewa adalah anomali. Sejak ia jatuh hati pada Nakula, Sadewa selalu ada di pinggir radar pengamatannya—sebagai bayangan, sebagai saksi bisu, sebagai kembaran yang punya sorot mata setajam elang.

Ternyata instingku benar. Dia memang selalu memperhatikanku, batin Nareswari pedih.

Seberapa menyedihkan dirinya di mata cowok ini? Sadewa pasti sudah kenyang menonton pertunjukan "kebodohan" Nareswari.

Mulai dari saat ia mencuri pandang pada Nakula yang sedang tertawa dengan gadis lain, hingga aksi heroik tak kasat mata saat ia menyelipkan jawaban tugas Fisika ke kolong meja Nakula agar cowok itu tidak diamuk guru killer.

Sadewa melihat semuanya. Dia adalah penonton setia bagaimana Nareswari mengemis perhatian pada seseorang yang bahkan tidak menganggapnya ada.

“Kau... kau kasihan padaku, ya?” suara Nareswari bergetar, meski ia sudah sekuat tenaga menahannya. Satu hal yang paling ia benci adalah dikasihani oleh orang yang tahu persis siapa yang sebenarnya ia cintai.

Sadewa tersentak. Ekspresinya yang datar sedikit retak.

“Aku tahu kau memperhatikan aku dan Nakula selama ini,” lanjut Nareswari dengan senyum pahit yang tidak menyentuh mata.

“Jangan menembakku hanya karena kau iba melihatku jadi 'pilihan kedua' yang tidak pernah dipilih. Aku tidak butuh hadiah hiburan dari seorang Pandawara hanya karena aku gagal mendapatkan yang satunya. Lupakan saja.”

Nareswari mulai membereskan buku dengan gerakan kasar, harga dirinya yang terluka menuntut untuk segera pergi. Namun, teriakan Sadewa menghentikannya.

“Berikan aku kesempatan!”

Nareswari menoleh sekilas, tatapannya bertanya: Untuk apa?

“Beri aku kesempatan untuk membuktikan kalau ini bukan soal kasihan. Ini bukan tentang Nakula, Nares. Ini tentang aku!” Sadewa berdiri, suaranya sedikit memaksa, menuntut ruang di hati Nareswari yang selama ini hanya dipenuhi nama kembarannya.

Nareswari menghela napas, lelah berdebat. “Baiklah, Sadewa. Buktikan sampai aku benar-benar bisa percaya.”

Ia melangkah gontai keluar kelas, merasa baru saja menggadaikan sisa harga dirinya pada sebuah ketidakpastian. Namun, langkahnya terhenti di gerbang sekolah saat sebuah motor besar melintang tepat di depannya.

TIIIT!

Di balik kaca helm gelap itu, sepasang mata menatapnya tajam. Identik dengan Nakula, tapi dengan sorot yang jauh lebih menuntut dan posesif.

“Naik,” perintah Sadewa dingin.

Nareswari terpaksa menurut demi menghindari drama di depan siswa lain yang masih berkeliaran. Sepanjang jalan, aroma maskulin Sadewa—campuran antara parfum woody dan aroma aspal—menjajah indranya. Sangat kontras dengan aroma citrus lembut milik Nakula yang selama ini ia puja dalam diam.

Keheningan di atas motor itu terasa jauh lebih mengintimidasi. Sadewa memacu motornya dengan kecepatan yang membuat jantung Nareswari berpacu, lalu berhenti tepat di depan rumahnya. Cowok itu tahu alamatnya tanpa perlu bertanya—sebuah detail yang membuat kuduk Nareswari meremang.

“Besok jam tujuh, aku jemput,” ucap Sadewa datar saat Nareswari turun. Sebelum memutar gas, ia menarik kaca helmnya ke atas, berbisik rendah yang sanggup menggetarkan pertahanan Nareswari.

“Berhenti melihat Nakula, Nares. Mulai sekarang, cuma aku yang boleh ada di matamu.”

Nareswari terpaku di balik pintu rumahnya yang sunyi setelah motor itu melesat pergi. Tangannya masih gemetar saat merogoh ponsel untuk mematikan daya. Namun, sebuah notifikasi dari grup lounge sekolah yang biasanya ia abaikan, mendadak membanjiri layar.

Dunia Nareswari seolah runtuh saat ia membaca pesan yang tersemat di sana:

"Kasihan si 'Peri Penolong' kelas kita. Semalam dia jadi taruhan balap liar antara si kembar Pandawara. Sadewa menang, dan sekarang dia punya hak penuh atas Nareswari selama sebulan."

Di bawah pesan itu, sebuah foto terpampang nyata: Nakula yang sedang memegang tumpukan uang di arena balap liar semalam dengan seringai tipis, sementara Sadewa berdiri di samping motornya, menatap lurus ke arah kamera dengan tatapan yang kini Nareswari sadari sebagai tatapan kemenangan seorang pemenang taruhan.

Ponsel Nareswari meluncur jatuh, menghantam lantai dengan bunyi yang memilukan. Dadanya sesak, oksigen seolah hilang dari paru-parunya.

Ponsel Nareswari meluncur jatuh, menghantam lantai dengan bunyi prak yang memuakkan—persis seperti bunyi jantungnya yang baru saja remuk. Ia mencengkeram dadanya yang mendadak sesak, sementara tawa Nakula dan tatapan tajam Sadewa di foto itu terus membayang di pelupuk matanya.

"Bodoh..." Nareswari berbisik pada kesunyian ruangan, suaranya pecah dan bergetar hebat.

"Bisa-bisanya aku percaya..." Ia tertawa getir, sebuah tawa kering yang lebih mirip rintihan. Air mata mulai mengaburkan pandangannya. "Ternyata aku memang semurah itu, ya? Cuma tumpukan uang di tangan Nakula dan mainan satu bulan buat Sadewa."

Ia memejamkan mata erat-erat, meremas kemeja seragamnya tepat di bagian jantung.

"Satu bulan? Baiklah. Kalau kalian mau main-main."

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

리뷰

Mirielle
Mirielle
ceritanya seru. nama tokohnya bisa kepikiran kesitu ya thor(^.^)
2026-06-15 00:35:54
0
0
Strawberry
Strawberry
Seru banget kalau Nakula jadi gila!
2026-05-02 21:31:27
1
0
Anafsyy _hee_
Anafsyy _hee_
cerita seru, bikin gemas sama nareswari juga Sadewa XD
2026-04-29 18:40:40
2
0
30 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status