LOGINSesampainya di rumah, kedua orang tuanya belum pulang. Faye masuk ke kamar mandi, menggosok tubuhnya dengan keras, seolah-olah ingin menghapus noda kotor yang menempel di tubuhnya.Untuk saat ini, dia hanya bisa melangkah dengan hati-hati. Selama belum benar-benar terdesak, dia tidak boleh berbalik melawan Thoriq.....Krisis Grup Datau terus meluas. Menjelang sore, kembali muncul berita buruk.Brielle sedang mengajak putrinya berjalan-jalan di mal. Anya berjalan di depan memilih barang, kuncir kudanya bergoyang, penampilannya tampak polos dan menggemaskan.Di belakang Brielle, Zakie membawa dua bawahannya yang menyamar di antara para pengunjung. Mereka terus mengawasi situasi sekitar.Berbelanja di supermarket adalah hal yang cukup santai. Tatapan Brielle yang lembut mengikuti gerak lincah putrinya. Si kecil kini berdiri di depan rak cokelat, matanya yang besar penuh harap.Dia menoleh ke arah ibunya. "Mama, aku boleh beli satu cokelat nggak?" Setelah itu, dia mengangkat satu jari kec
Walaupun Faye sangat ingin mencabik-cabik Thoriq, saat mendengar ayahnya bisa dipenjara dan reputasinya akan hancur, dia tetap panik. Dia sama sekali tidak boleh membiarkan Thoriq menghancurkan sisa terakhir Keluarga Datau.Saat ini, di mata Thoriq selain kegilaan, masih ada sedikit rasa takut. Bagaimanapun, dia bukan orang yang benar-benar jahat. Dia berpendidikan tinggi, dulu juga seorang pemuda yang penuh impian. Hanya saja, keadaan memaksanya sampai ke titik ini.Ditambah lagi dia memegang bukti tentang Declan, membuat perasaannya terhadap Faye berubah menjadi cinta yang menyimpang.Saat ini, dia justru berharap Faye menyerah dan setuju menjadi pacarnya. Faye adalah gadis yang dia cintai diam-diam selama enam tahun. Dia masih dengan naif berharap bisa memiliki akhir bersama dengannya.Faye menggigit bibir bawahnya erat-erat. Situasi di hadapannya membuat amarahnya mereda dan kembali tenang. Dia tahu tidak boleh memancing emosi Thoriq, setidaknya untuk saat ini tidak.Untuk menenang
Gerakan Faye saat minum air tiba-tiba terhenti. Dia menghindari tatapan Thoriq, suaranya tanpa sadar mengecil. "Itu ... itu 'kan sudah lama sekali berlalu, kenapa masih dibahas?""Sudah berlalu?" Thoriq tertawa ringan, tubuhnya bersandar ke sofa. "Kamu tahu nggak? Awalnya aku punya masa depan yang cerah. Tapi demi kamu, aku melepaskan kesempatan menjadi peneliti, dikeluarkan dari kampus, dan riwayatku ternoda selamanya.""Sedangkan kamu, Nona Besar Faye, seolah-olah nggak merasa bersalah sedikit pun. Bahkan setelah itu, kamu berharap aku menjauh darimu, nggak lagi mengganggumu."Wajah Faye memerah. Dia meneguk air lagi, berusaha tenang. "Thoriq, aku memang berterima kasih padamu. Bukankah setelah itu aku juga membantumu masuk ke perusahaan ayahku? Kamu bahkan sudah jadi wakil direktur ....""Kamu tahu gimana perjuanganku untuk dapat posisi wakil direktur?" Suara Thoriq tiba-tiba meninggi. "Aku minum sampai muntah darah, sampai masuk rumah sakit. Di perusahaan ayahmu aku seperti anjing.
Raka berkata dengan suara dingin, "Mulai sekarang, semua telepon darinya nggak perlu diangkat.""Baik." Gavin langsung mematikan panggilan itu dan melanjutkan laporan pekerjaannya.Devina menatap telepon yang diputus oleh Gavin. Hatinya mencelos. Apakah Raka benar-benar tidak ingin menemuinya lagi?Air mata penuh penghinaan menggenang di matanya, tetapi wajahnya tetap menunjukkan sikap tidak mau kalah. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menelepon Ignas. Ini adalah harapan terakhirnya."Ignas, kamu lagi sibuk?" Suara Devina terdengar tercekat."Ada apa, Devina? Ada yang menindasmu?" Suara Ignas di seberang terdengar perhatian."Nggak ada yang menyakitiku. Hanya saja, perusahaan ayahku lagi dalam masalah. Kamu bisa bantu ayahku?""Grup Datau?" Jelas, Ignas sudah mengetahui situasinya."Ya, perusahaan ayahku mengalami masalah di pasar saham. Apa kamu bisa ...."Ignas langsung memotongnya, "Devina, bukan aku nggak mau bantu. Tapi siapa pun yang bantu Grup Datau pasti akan ikut terseret ma
Sekarang kalau dipikir kembali, sejak saat itu Raka sudah mulai menyusun rencana. Di permukaan dia membantu Grup Datau untuk go public, tetapi diam-diam sudah menanam benih yang mengarah pada kebangkrutan hari ini."Devina, kamu dengar nggak?" Dari seberang terdengar suara Declan yang sangat cemas. "Cepat datang ke sini, hari ini kita harus bertemu Pak Raka. Hanya dia yang bisa menyelamatkan kita."Hati Devina langsung jatuh ke dasar. Bagaimana mungkin Raka yang kejam itu masih akan membantu Keluarga Datau?Dia juga tidak menyangka, satu keputusan yang dia ambil dulu justru akan membuat Grup Datau hancur total."Ayah, dengarkan aku ...." Devina menarik napas dalam-dalam. "Raka nggak akan membantu kita lagi, percuma memohon padanya.""Mana mungkin? Bukannya selama ini dia selalu membantu kita?" Suara Declan penuh kebingungan. Bagaimanapun, dia memang pernah benar-benar mendapatkan manfaat dari Grup Pramudita. Seperti urusan pinjaman bank dan persetujuan sumber daya, semua dibantu oleh R
Dari sisi Smith, pengembangan obat sudah berhasil diselesaikan. Tidak heran jika Raka mulai bergerak.Raka sudah menyiapkan sebuah skema yang rapi untuk Devina. Devina yang serakah mendapatkan 13 persen saham Grup Datau dari tangannya, sebagai "imbalan" atas kerja samanya dalam eksperimen.Ambisi Devina memang besar. Saham enam triliun itu cukup untuk memuaskan hasratnya. Bahkan sejak awal Raka membantu Grup Datau go public, semua itu memang dipersiapkan untuk hari ini.Sekarang eksperimen sudah selesai. Kendali Devina terhadap Raka selama 10 tahun ini berakhir dengan kebangkrutan Grup Datau, dan 13 persen saham yang dimilikinya langsung menjadi tidak bernilai.Krisis internal Grup Datau sebenarnya sudah lama dimulai. Namun demi menenangkan investor, Declan terus menutupinya dari publik. Namun pada akhirnya, kehancuran itu tidak bisa disembunyikan lagi.Di vila Devina, terdengar suara gelas pecah menghantam lantai.Anggur merah yang tumpah menyebar ke mana-mana. Dengan tangan gemetar,
"Boleh minta kontak Profesor Brielle?""Ya, ya! Boleh ya?" Yang bersuara adalah beberapa mahasiswa laki-laki yang cukup tampan. Masing-masing penuh dengan energi muda khas mahasiswa pria.Suasana mendadak menjadi riuh.Brielle baru hendak menolak ketika suara laki-laki yang dalam dan dingin terdenga
"Di perjalanan, Anya meletakkan pialanya di samping dan kembali bermain dengan mainannya. Brielle menoleh ke belakang dan melihat putrinya sama sekali tidak terlalu menggantungkan diri pada rasa bangga itu. Dia malah merasa sedikit lega, anak-anak seharusnya tetap memiliki sifat polos dan alami mere
Lebih-lebih lagi, dunia bisnis penuh dengan tipu muslihat."Brielle, aku nggak punya niat apa pun. Aku hanya berharap bisa memberi Anya jaminan untuk masa depannya." Raka tetap berwajah tenang seperti biasa.Brielle mengerutkan kening. Cara laki-laki ini menghitung dan menekan orang lain sudah lama
Pandangan Lambert jatuh pada Brielle. Dia sedang menatap kedua anak yang bermain piano. Cahaya matahari senja membungkus mereka dengan lembut.Lambert sempat kehilangan fokus. Andai suatu hari mereka bisa menjadi keluarga berempat seperti yang dibicarakan orang, itu pasti luar biasa.Pukul 8 malam,







