Share

Bab 839

Penulis: Ayesha
"Nggak apa-apa, kebetulan aku lagi makan di rumah teman. Satu kompleks kok, cuma beberapa menit," kata Brielle sambil tersenyum.

"Temanmu?" Harvis bertanya dengan rasa ingin tahu.

Brielle juga tidak berniat menyembunyikan apa pun. "Kamu kenal, teman yang kumaksud Lambert."

Harvis agak terkejut. "Kamu dan Lambert tinggal di kompleks yang sama?"

Brielle mengangguk. "Ya, di kawasan kota lama, kompleks terbaik ya Cloudwave Residence. Keamanannya juga lebih bagus."

Harvis pun akhirnya paham alasan Ra
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (13)
goodnovel comment avatar
Yeni Herlin
gmna mau melentung, nyentuh aj kga, . klo slama ini terkesan mreka mesra itu hnya akal2 an devina aj
goodnovel comment avatar
ELVIRA thoenger01
kpn brielle pergi, menghilang , tinggalkan Raka, jgn mau di hina, di rendahkan , di fitnah terus sama devina, Faye, Raline, semua sekutu , keluarga raka
goodnovel comment avatar
ELVIRA thoenger01
brielle cepat nikah dgn niro, bikin Raka menyesal selingkuh, hianati brielle, utamakan devina pekakor
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1180

    Kalimat itu membuat pria yang baru saja berbalik itu menjadi agak murung. Seorang pelayan lewat di samping Raka. Dia pun mengulurkan tangan untuk mengambil segelas wiski dari nampan, lalu berjalan ke tengah ruangan."Kak Brielle, kita bertemu lagi." Yessy tersenyum. Usianya tiga tahun lebih muda daripada Brielle, terlihat lebih ceria dan lincah."Bu Yessy.""Panggil saja aku Yessy."Kedatangan Agnes langsung menarik perhatian beberapa nyonya dari keluarga kaya. Seketika, banyak orang datang menyapa. Agnes pun sibuk bersosialisasi. Dia menoleh pada putrinya. "Kamu ngobrol dulu sama Brielle, nanti Ibu nyusul."Brielle dan Yessy berjalan ke tempat yang agak tenang. Brielle terus menahan pertanyaan di dalam hatinya dan akhirnya tetap tidak bisa menahan diri."Yessy, akhir-akhir ini Niro pernah menghubungi keluarga?"Yessy menggeleng. Ada sedikit kekhawatiran di matanya. "Belum ada kabar. Tapi jangan khawatir, dia selalu seperti ini kalau lagi menjalankan tugas. Kamu kangen dia ya?"Yessy t

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1179

    Jamuan bisnis diadakan di sebuah hotel bintang tujuh milik kamar dagang.Lampu-lampu terlihat gemerlap. Jalan di depan hotel pun sudah ditutup. Hanya tamu yang membawa kartu undangan yang boleh memasuki area malam ini.Mobil Brielle memasuki area tersebut. Setelah menyerahkan mobil kepada petugas keamanan untuk diparkirkan, dia pun melangkah menuju aula.Gaun putih sederhana yang dia kenakan berpotongan pas di pinggang dan dipadukan dengan sepatu hak tinggi, membuatnya tampak anggun, rapi, dan tetap berwibawa.Saat itu, di pintu masuk lobi, Devina mengenakan gaun panjang berwarna merah anggur dengan punggung terbuka. Dia menggandeng lengan Ignas saat melangkah masuk. Seketika, mereka menarik perhatian seluruh ruangan.Tatapan Devina langsung terkunci pada pria yang berada di tengah ruangan. Raka sedang berbincang dengan beberapa tokoh senior di kamar dagang. Saat menyadari ada tamu datang, dia mengangkat pandangannya, melihat tepat saat Ignas dan Devina mendekat. Tatapannya sedikit ter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1178

    Di tengah suara tepuk tangan, Brielle kembali duduk. Seseorang mengusulkan agar Raka juga menyampaikan beberapa patah kata."Pak Raka, bolehkah Anda berbagi pandangan tentang dukungan bagi dunia penelitian di masa depan?"Raka mengambil mikrofonnya. "Kamar dagang selalu berkomitmen untuk mendukung proyek penelitian yang inovatif. Bagi talenta dengan nilai akademis tinggi, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan dukungan."Pernyataan Raka jelas dan tegas. Pada saat yang sama, pandangannya tertuju pada Brielle. Jelas, Brielle adalah salah satu talenta yang dia maksud.Ucapan itu membuat Brielle ikut mendongak, matanya tepat bertemu dengan tatapan Raka yang dalam. Di balik kacamata berbingkai emas itu, ada emosi yang tidak bisa dia pahami.Tak lama kemudian, Raka pergi lagi, berpindah ke sesi kecerdasan buatan.Siang harinya, Brielle makan bersama Louie dan yang lainnya. Sementara itu, Raka sedang menjamu tamu internasional. Kebetulan mereka bertemu di restoran, dia hanya m

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1177

    Hanya saja, melepaskan tidak berarti memulai kembali. Beberapa luka tidak bisa dihapus dengan mudah.Brielle hanya mengusap rambut putrinya dengan lembut, tersenyum tipis tanpa berkata apa pun.Raka melihat Brielle melalui kaca spion, kebetulan menangkap tatapan lembut yang disertai senyuman itu. Putrinya ada di sisinya, itu artinya orang yang bisa membuat Brielle melamun seperti itu hanya satu orang.Langit di luar jendela yang semakin gelap tercermin di mata pria itu, membuatnya tampak semakin suram."Malam ini aku ada urusan, jadi nggak ikut makan di rumahmu." Setelah turun dari mobil, Raka berkata kepada Brielle.Brielle menggandeng putrinya dan mengangguk. "Baik."Anya melambaikan tangan kecilnya. "Dah, Papa!"Brielle menggandeng putrinya masuk ke lift. Malam ini dia akan menemani putrinya berlatih menulis dan menggambar, juga harus menyeimbangkan pekerjaan sambil lebih banyak menemani anaknya.Pada hari Senin, forum yang diselenggarakan oleh kamar dagang resmi dimulai. Pagi-pagi

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1176

    Sebelum pukul 5 sore, mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah. Kebetulan, masih tersisa waktu sepuluh menit sebelum jam pulang.Brielle berkata kepada pria di dalam mobil, "Biar aku yang jemput Anya, kamu tunggu di mobil saja."Di telinga Raka, maksud tersirat dari ucapannya adalah Brielle tidak ingin muncul bersamanya di tempat yang sama."Baik," jawab Raka dengan lembut. Namun, setelah Brielle turun dari mobil, dia merasakan bagian dalam dadanya sedikit nyeri. Apa Brielle sebegitu keberatannya?Brielle menggandeng Anya keluar. Saat mendengar ayahnya juga datang menjemput, si kecil melompat-lompat dengan senang. "Asyik! Aku paling suka Papa dan Mama jemput aku bareng!""Papaku jemput aku!" Seorang anak laki-laki sengaja berteriak ke arah Anya."Papaku juga!" Anya membalas dengan suara lantang, sedikit tidak mau kalah.Brielle sempat tertegun beberapa detik. Melihat senyuman putrinya yang polos dan ceria, hatinya terasa sedikit perih.Di dunia anak yang sederhana, ayah dan ibu dat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1175

    Tiga hari kemudian, Meira keluar dari rumah sakit. Di bawah perawatan tim Smith yang teliti, kondisinya sudah jauh membaik. Dengan mempertimbangkan berbagai hal, dia akan pulang untuk beristirahat di rumah.Raline datang ke kantor Brielle. "Kak Brielle, hari ini Ibu sudah boleh keluar dari rumah sakit. Maaf sudah merepotkanmu selama ini.""Yang bekerja keras bukan aku, tapi tim Doktor Smith." Brielle menggeleng pelan. Dia hanya bertanggung jawab untuk urusan penelitian, sedangkan proses perawatannya sendiri adalah kontribusi tim Smith. Dia tidak bisa mengakui hasil kerja keras orang lain."Bagaimanapun juga, aku dan Ibu bisa sembuh dari penyakit darah ini, sebagian besar karena jasamu. Aku, Ibu, bahkan seluruh Keluarga Pramudita, akan selalu mengingat kebaikan ini." Raline berkata dengan tulus.Brielle mengangguk padanya. "Pulanglah. Nenekmu sendirian di rumah, temani dia."Raline mengangguk. "Baiklah. Nanti kalau ada waktu, ajak Anya pulang makan bersama ya."Brielle menjawab, "Kalau

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 849

    Tangan Brielle sedikit terhenti. Dia menatap putrinya, lalu berkata dengan lembut sekaligus tegas, "Anya, usia Nenek Buyut sudah tua. Mungkin Nenek Buyut salah bicara."Anya memiringkan kepala. Bibirnya pun manyun. "Tapi Nenek Buyut bilang aku satu-satunya anak perempuan Papa!"Lastri yang mendengar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 853

    Namun, saat ini Devina memang paling membutuhkan kakaknya, jadi Raline memilih tidak masuk untuk mengganggu.Jay juga berdiri sejenak dan berpamitan singkat kepada Raline, lalu berbalik dan pergi.Raline bermain ponsel di lorong luar. Belum sampai sepuluh menit, dia melihat pintu kamar Devina terbuk

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 809

    "Dia juga mengusulkan memelihara kelinci kecil dan hamster, aku masih mempertimbangkannya," kata Lambert sambil menyebut keponakannya. Sorot matanya memperlihatkan sedikit rasa sayang.Mungkin karena membesarkan anak-anak yang usianya hampir sama, terkadang kekhawatiran mereka pun serupa."Kalau ing

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 824

    Saat Brielle hendak pulang kerja, Harvis datang mencarinya untuk membicarakan proyek sipil. Pusat Biomedis Pramudita sedang mengumpulkan tim riset, dan dari pihak mereka, satu-satunya personel yang akan dipisahkan hanyalah Faye."Aku sudah menerima emailnya. Malah bagus kalau Faye keluar dari tim,"

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status