Beranda / Romansa / Bukan Pelakor / Bab 15. Tergagap

Share

Bab 15. Tergagap

last update Tanggal publikasi: 2021-10-12 11:27:06

Prang ...!

Nampan yang dipegang Utari sontak terjatuh ke lantai ketika mata sucii Utari benar-benar melihat belalai panjang, besar, dan berurat milik Darsa.

"Utari!"

***

Kedua mata Utari terpejam sangat erat sekali dengan kedua tangan saling meremas sisi samping bajunya untuk mengurangi rasa takut, cemas, dan juga malu.

Sarah langsung naik ke daratan guna mengambil handuk untuk suaminya, sedangkan Darsa hanya menenggelamkan dirinya di dalam kolam renang

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bukan Pelakor   BAB 30: Garis Merah di Atas Kertas

    Pagi itu, suasana di rumah persembunyian terasa berbeda. Utari duduk di tepi ranjang dengan napas yang memburu. Di tangannya, sebuah benda kecil berbentuk batangan plastik menjadi pusat dunianya. Ia menatap benda itu dengan perasaan campur aduk antara horor dan haru. Dua garis merah. Terlihat samar, namun nyata. "Ya Tuhan..." bisik Utari. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak tangis yang tiba-tiba menyeruak. Di satu sisi, ada tunas nyawa yang selama ini dipaksakan hadir oleh Tuan Darsa. Di sisi lain, garis merah ini adalah lonceng kematian bagi ketenangannya. Pintu kamar terbuka. Darsa masuk dengan setelan jas hitamnya yang rapi, siap untuk berangkat ke kantor. Ia menghentikan langkahnya saat melihat Utari yang duduk bersimpuh di lantai dengan bahu berguncang. "Utari? Ada apa?" Darsa menghampirinya dengan cepat, berlutut di depan gadis itu. Utari tidak menjawab, ia hanya menyodorkan benda plastik itu dengan tangan gemetar. Darsa menerimanya, matanya membelalak saat mel

  • Bukan Pelakor   BAB 29: Siasat di Balik Kelambu

    Pagi itu, Utari tidak lagi bangun dengan air mata. Ada kilat yang berbeda di matanya saat ia menatap pantulan dirinya di cermin. Pesan ancaman dari Sarah semalam tentang bapaknya memang menyakitkan, namun itu justru menjadi pemantik api keberanian yang selama ini padam. Jika ia terus menjadi domba, maka serigala seperti Sarah akan terus mencabiknya. Utari mengenakan gaun sutra berwarna biru dongker yang elegan. Ia memoles sedikit pewarna bibir, menutupi wajah pucatnya. Saat pintu kamar terbuka, Tuan Darsa masuk dengan langkah tegap, hendak berpamitan sebelum ke kantor. "Kamu tampak berbeda pagi ini, Muda," ujar Darsa, matanya menyisir penampilan Utari dengan kekaguman yang tak tertutup. Utari tersenyum manis—sebuah senyum yang ia pelajari dari cara Sarah memanipulasi keadaan. Ia melangkah mendekat dan merapikan kerah kemeja Darsa. "Utari hanya ingin terlihat pantas untuk Tuan. Bukankah Tuan bilang Utari adalah kejujuran Tuan?" Darsa terpaku sejenak, lalu terkekeh rendah. Ia memel

  • Bukan Pelakor   BAB 28: Sangkar Emas di Pinggir Kota

    Mobil mewah yang membawa Darsa dan Utari berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang tertutup rapat. Setelah melewati pemeriksaan keamanan yang ketat, kendaraan itu menyusuri jalanan aspal kecil yang dikelilingi pohon-pohon pinus hingga sampai di sebuah rumah bergaya modern minimalis yang tersembunyi dari hiruk-pikuk Jakarta. "Turunlah, Utari. Ini rumahmu sekarang," ucap Darsa pelan. Utari melangkah keluar dengan ragu. Rumah ini jauh lebih tenang daripada villa sebelumnya. Tidak ada teriakkan Sarah, tidak ada tatapan sinis pelayan yang memihak nyonya besar. Hanya ada suara gesekan daun dan gemericik air mancur. "Tuan... apakah Nyonya Sarah benar-benar tidak tahu tempat ini?" tanya Utari saat mereka masuk ke dalam ruang tamu yang didominasi warna krem dan putih. Darsa melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih yang pas di tubuh tegapnya. "Hanya aku dan asisten pribadiku yang tahu koordinat rumah ini. Bahkan supir yang membawamu tadi sudah aku sumpah untuk bungkam. Kamu aman

  • Bukan Pelakor   BAB 27: Permainan Dua Muka

    Pagi di Singapura tidak sehangat yang Utari bayangkan. Meskipun matahari bersinar cerah di balik jendela kaca penthouse, hawa dingin tetap merayap di kulitnya. Hari ini adalah jadwal suntikan pertama yang direncanakan Dr. Lim atas instruksi rahasia Sarah. Utari berdiri di depan cermin, merapikan blus sutra pemberian Darsa. Ia teringat gertakannya semalam pada Sarah. Ia tidak punya rekaman apa pun, itu hanya murni kenekatan untuk bertahan hidup. Namun, ia tahu Sarah tidak akan tinggal diam. "Sudah siap?" Suara Darsa terdengar dari ambang pintu. Pria itu tampak gagah dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. "Kita harus ke klinik sekarang." Utari mengangguk lemah. "Tuan... bolehkah Utari bertanya satu hal?" Darsa menghentikan langkahnya. "Apa?" "Jika hasil dari klinik ini nanti tidak sesuai harapan Tuan, apakah Tuan akan memulangkan Utari ke kampung?" tanya Utari dengan suara bergetar. Darsa menghampiri Utari, memegang kedua bahunya. Tatapannya melembut, sesuatu ya

  • Bukan Pelakor   BAB 26: Jerat di Negeri Singa

    Pagi itu, sebuah jet pribadi telah menunggu di bandara khusus. Utari melangkah lesu mengikuti langkah lebar Tuan Darsa. Ia mengenakan kacamata hitam besar dan syal sutra untuk menutupi wajah sembabnya serta tanda-tanda merah di lehernya.Di belakang mereka, Sarah ikut berjalan dengan angkuh, mengenakan setelan desainer terbaru, seolah-olah perjalanan ke Singapura ini adalah liburan keluarga yang harmonis. "Ingat, Utari. Di Singapura nanti, kamu adalah sepupuku yang sedang sakit dan butuh perawatan khusus. Jangan pernah berinteraksi dengan siapa pun tanpa izin dariku," bisik Sarah tajam saat mereka berada di dalam kabin pesawat, sementara Darsa sedang sibuk dengan panggilan telepon bisnis di ruang depan. Utari hanya mengangguk pelan. Ia menatap hamparan awan di balik jendela, merasa jiwanya ikut terbang melayang tanpa pegangan. "Tuan Darsa tahu tentang rencana ini, Nyonya?" tanya Utari lirih. Sarah terkekeh sinis sambil menyesap sampanye di tangannya. "Mas Darsa hanya tahu kita ak

  • Bukan Pelakor   BAB 25: Racun di Balik Dinding

    Siang harinya, villa itu terasa seperti penjara bawah tanah yang panas meskipun pendingin ruangan menyala maksimal. Utari sedang berada di kamarnya saat Sarah masuk tanpa mengetuk. "Nyonya... Tuan Darsa bilang Nyonya tidak boleh masuk tanpa izin," ucap Utari gugup. Sarah mengunci pintu kamar itu dari dalam. Ia berjalan perlahan mengitari Utari, seperti singa yang mengepung mangsa. "Mas Darsa sedang di kantor, Sayang. Dia tidak akan tahu apa yang terjadi di sini." Sarah mengeluarkan sebuah amplop cokelat besar dan melemparkannya ke atas tempat tidur. Utari membukanya dengan tangan gemetar. Isinya adalah lembaran-lembaran cetakan dari internet. Komentar-komentar kejam tentang dirinya. "Wanita murahan, mau-maunya jadi simpanan orang kaya demi uang." "Muka lugu tapi hati iblis, tega menghancurkan rumah tangga orang." "Lihat saja, nanti anaknya juga bakal jadi anak haram." Setiap kata yang dibaca Utari terasa seperti sembilu yang menyayat jantungnya. "Lihat itu, Utari. Itu pendapat

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status