Share

BAB 96

Penulis: Jw Hasya
last update Tanggal publikasi: 2026-10-18 22:34:23

“Tidak ada yang perlu kau ketahui tentang perasaanku!” bentak Amira. “Apa pun yang kurasakan kepada Maxime bukan lagi urusanmu. Kau sendiri yang menghancurkan pernikahan ini. Kau sendiri yang membuka pintu untuk segala sesuatu yang terjadi di antara kami. Jadi, jangan pernah berpikir bahwa kau masih berhak menentukan siapa yang boleh kucintai!”

Arthur mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ada kilatan kecemburuan yang tak berhasil ia sembunyikan, meskipun ia berusaha mempertahankan wajah dinginnya.

“
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 134

    Berto masih berdiri dengan rahang mengeras. Amarahnya tampak semakin sulit dikendalikan setelah mendengar kemungkinan bahwa putri mereka berada bersama Maxime. Sementara itu, Arthur tetap duduk dengan tenang, seolah kedatangannya malam ini semata-mata untuk mencari bantuan."Tenanglah, Ayah. Kita belum memiliki bukti apa pun.""Bagaimana aku bisa tenang? Jika benar Maxime membawa Amira pergi, itu berarti dia telah mempermainkan keluarga kita!"Theresia yang sejak tadi terdiam akhirnya angkat bicara. "Tapi, Arthur, bukankah selama ini Maxime sering membantu Amira? Ibu pernah melihat sendiri bagaimana dia memperlakukan Amira dengan baik."Arthur menoleh kepada ibu mertuanya."Justru itu yang membuatku khawatir, Bu. Maxime bukan orang yang mudah menunjukkan niat sebenarnya."Berto mengembuskan napas kasar. "Aku tidak menyangka dia bisa bertindak sejauh ini."Arthur menundukkan kepala. Ia tidak perlu mengatakan lebih banyak. Kedua mertuanya sudah mulai mempertimbangkan kemungkinan yang se

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 133

    Arthur tidak pernah menyukai ketidakpastian. Terlebih ketika ketidakpastian itu menyangkut istrinya sendiri. Sejak Amira menghilang dari New York, pria itu telah mengerahkan sejumlah orang untuk mencari keberadaan wanita tersebut. Namun, hasilnya selalu sama. Tidak ada yang benar-benar mengetahui ke mana Amira pergi, bahkan orang-orang yang selama ini berada di sekitar keluarga Wilson pun tidak mampu memberikan jawaban memuaskan. Satu-satunya orang yang terus muncul dalam pikirannya adalah Maxime. Kakak tirinya itu memang tidak pernah terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada Amira. Namun, Arthur bukanlah orang bodoh. Ia tahu bagaimana Maxime memandang wanita itu, bagaimana pria tersebut selalu berusaha melindunginya, dan bagaimana Amira justru terlihat lebih nyaman berada di dekatnya. Arthur meletakkan ponsel di atas meja dengan gerakan kasar. "Sudah berapa lama kau mencari keberadaan Maxime?" tanyanya kepada asistennya yang berdiri di hadapan meja kerja. "Sejak pagi, Tu

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 132

    “Memangnya sesulit itu mendapatkan nomor teleponmu? Aku hanya perlu bertanya kepada sekretaris kantor Wilson.”Maxime mengembuskan napas. “Jadi, sekarang kau mulai mengumpulkan informasi tentangku?”“Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin memastikan apakah nomor yang diberikan kepadaku benar-benar milikmu.”“Sekarang kau sudah tahu. Ada hal lain?”“Tidak bisakah kau sedikit lebih ramah kepada teman lama?”“Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, Nadya.”Nada suara Maxime terdengar cukup datar. Namun, Nadya tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya.“Baiklah. Sebenarnya aku menelepon karena Arthur sedang mencarimu. Dia bahkan sempat menghubungiku dan bertanya apakah aku tahu keberadaanmu.”“Lalu kau menjawab apa?”“Tentu saja aku bilang tidak tahu. Memangnya aku harus memberitahunya sesuatu yang bahkan tidak kuketahui?”Maxime tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke pintu ruang pemeriksaan tempat Amira dibawa beberapa menit lalu. “Bagus. Kalau dia kemba

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 131

    Maxime akhirnya masuk ke dalam mobil setelah memastikan sabuk pengaman Amira terpasang dengan benar. Ia menutup pintu, lalu berjalan memutari bagian depan mobil untuk mengambil tempat di belakang kemudi.Begitu mesin dinyalakan, pandangannya sempat beralih ke arah Amira yang duduk diam di sampingnya. Wanita itu tampak berusaha memejamkan mata, tetapi sesekali tangannya bergerak mengusap perutnya yang belum terlalu terlihat.Maxime menghela napas pelan.“Ami.”Amira membuka mata. “Ya?”“Jangan tidur dulu. Aku ingin kau tetap terjaga sampai kita tiba di rumah sakit.”“Aku tidak mengantuk,” bantahnya.“Bagus. Kalau ada rasa sakit yang bertambah, pusing, atau sesuatu yang terasa berbeda, langsung katakan kepadaku.”Amira mengangguk kecil. “Kau terdengar seperti dokter.”“Kalau aku seorang dokter, setidaknya aku bisa memeriksamu sendiri tanpa harus menunggu orang lain.”Amira tersenyum tipis. “Tapi kau bukan dokter.”“Sayangnya.”Mobil mulai meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 130

    “Bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu datang ke sini, Max? Bagaimana kalau Arthur sampai mengetahuinya?”Amira berdiri di ambang pintu, menatap pria yang baru saja tiba di beranda rumah sederhana itu. Udara malam yang dingin menyapu rambutnya, tetapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Kedatangan Maxime pada jam selarut ini jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, terlebih jika sampai terdengar oleh Arthur.Namun, Maxime seolah tidak mendengar peringatannya. Tatapan pria itu justru sibuk mengamati wajah Amira yang tampak lebih pucat dari biasanya.Tanpa banyak bicara, Maxime mendekat. Kedua tangannya terulur, lalu dengan mudah mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.“Maxime!” Amira spontan mencengkeram kerah kemejanya. “Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”“Ke rumah sakit. Sekarang.”“Aku tidak mau!”“Dan aku tidak sedang meminta izin.”Maxime kembali melangkah, mengabaikan protes wanita dalam pelukannya. Rahangnya mengeras, sementara sebelah tangannya menopang pun

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 129

    [Max, perutku sakit. Ada bercak merah yang keluar, mirip darah. Aku takut.]Baru saja Maxime hendak melangkah menuju area parkir, sebuah pesan yang masuk ke ponselnya seketika membuat pria itu menghentikan langkah. Tatapannya terpaku pada layar, membaca pesan dari Amira berulang kali seolah berharap dirinya salah memahami kalimat tersebut. Jemarinya bahkan mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.“Bercak merah?” gumamnya pelan.Tanpa membuang waktu untuk membalas pesan itu, Maxime langsung menekan tombol panggilan. Ia tidak ingin membuang waktu dengan percakapan melalui pesan, terlebih ketika menyangkut kondisi Amira dan bayi yang dikandung wanita tersebut.“Sekarang kau di mana?” tanyanya begitu panggilan tersambung.“Di rumah.”“Kau sendirian?” Kedua alis Maxime langsung bertaut.“Ya. Bibi pulang lebih awal karena putrinya masih sakit,” jelas Amira dari seberang telepon.Maxime mengembuskan napas berat. Ia melirik arlojinya, kemudian mengalihkan pandangan ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status