LOGINMenikah dengan pria yang diidolakannya sejak lama adalah puncak dari segala doa yang selalu Amira Amber harapkan. Namun bagaimana jika pria yang menemaninya malam itu bukan suaminya? Dan bagaimana jika pernikahan yang selama ini diimpikannya justru menjadi awal dari neraka?
View MoreArthur tidak pernah menyukai ketidakpastian. Terlebih ketika ketidakpastian itu menyangkut istrinya sendiri. Sejak Amira menghilang dari New York, pria itu telah mengerahkan sejumlah orang untuk mencari keberadaan wanita tersebut. Namun, hasilnya selalu sama. Tidak ada yang benar-benar mengetahui ke mana Amira pergi, bahkan orang-orang yang selama ini berada di sekitar keluarga Wilson pun tidak mampu memberikan jawaban memuaskan. Satu-satunya orang yang terus muncul dalam pikirannya adalah Maxime. Kakak tirinya itu memang tidak pernah terang-terangan menunjukkan ketertarikan kepada Amira. Namun, Arthur bukanlah orang bodoh. Ia tahu bagaimana Maxime memandang wanita itu, bagaimana pria tersebut selalu berusaha melindunginya, dan bagaimana Amira justru terlihat lebih nyaman berada di dekatnya. Arthur meletakkan ponsel di atas meja dengan gerakan kasar. "Sudah berapa lama kau mencari keberadaan Maxime?" tanyanya kepada asistennya yang berdiri di hadapan meja kerja. "Sejak pagi, Tu
“Memangnya sesulit itu mendapatkan nomor teleponmu? Aku hanya perlu bertanya kepada sekretaris kantor Wilson.”Maxime mengembuskan napas. “Jadi, sekarang kau mulai mengumpulkan informasi tentangku?”“Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin memastikan apakah nomor yang diberikan kepadaku benar-benar milikmu.”“Sekarang kau sudah tahu. Ada hal lain?”“Tidak bisakah kau sedikit lebih ramah kepada teman lama?”“Aku sedang tidak punya banyak waktu untuk berbasa-basi, Nadya.”Nada suara Maxime terdengar cukup datar. Namun, Nadya tampaknya tidak terlalu mempermasalahkannya.“Baiklah. Sebenarnya aku menelepon karena Arthur sedang mencarimu. Dia bahkan sempat menghubungiku dan bertanya apakah aku tahu keberadaanmu.”“Lalu kau menjawab apa?”“Tentu saja aku bilang tidak tahu. Memangnya aku harus memberitahunya sesuatu yang bahkan tidak kuketahui?”Maxime tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke pintu ruang pemeriksaan tempat Amira dibawa beberapa menit lalu. “Bagus. Kalau dia kemba
Maxime akhirnya masuk ke dalam mobil setelah memastikan sabuk pengaman Amira terpasang dengan benar. Ia menutup pintu, lalu berjalan memutari bagian depan mobil untuk mengambil tempat di belakang kemudi.Begitu mesin dinyalakan, pandangannya sempat beralih ke arah Amira yang duduk diam di sampingnya. Wanita itu tampak berusaha memejamkan mata, tetapi sesekali tangannya bergerak mengusap perutnya yang belum terlalu terlihat.Maxime menghela napas pelan.“Ami.”Amira membuka mata. “Ya?”“Jangan tidur dulu. Aku ingin kau tetap terjaga sampai kita tiba di rumah sakit.”“Aku tidak mengantuk,” bantahnya.“Bagus. Kalau ada rasa sakit yang bertambah, pusing, atau sesuatu yang terasa berbeda, langsung katakan kepadaku.”Amira mengangguk kecil. “Kau terdengar seperti dokter.”“Kalau aku seorang dokter, setidaknya aku bisa memeriksamu sendiri tanpa harus menunggu orang lain.”Amira tersenyum tipis. “Tapi kau bukan dokter.”“Sayangnya.”Mobil mulai meninggalkan halaman rumah. Sepanjang perjalanan
“Bukankah sudah kukatakan kau tidak perlu datang ke sini, Max? Bagaimana kalau Arthur sampai mengetahuinya?”Amira berdiri di ambang pintu, menatap pria yang baru saja tiba di beranda rumah sederhana itu. Udara malam yang dingin menyapu rambutnya, tetapi bukan itu yang membuatnya gelisah. Kedatangan Maxime pada jam selarut ini jelas bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele, terlebih jika sampai terdengar oleh Arthur.Namun, Maxime seolah tidak mendengar peringatannya. Tatapan pria itu justru sibuk mengamati wajah Amira yang tampak lebih pucat dari biasanya.Tanpa banyak bicara, Maxime mendekat. Kedua tangannya terulur, lalu dengan mudah mengangkat tubuh wanita itu ke dalam gendongannya.“Maxime!” Amira spontan mencengkeram kerah kemejanya. “Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!”“Ke rumah sakit. Sekarang.”“Aku tidak mau!”“Dan aku tidak sedang meminta izin.”Maxime kembali melangkah, mengabaikan protes wanita dalam pelukannya. Rahangnya mengeras, sementara sebelah tangannya menopang pun






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore