Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!

Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!

last updateDernière mise à jour : 2026-09-22
Par:  Jw HasyaMis à jour à l'instant
Langue: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 Notes. 2 commentaires
8Chapitres
12Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Menikah dengan pria yang diidolakannya sejak lama adalah puncak dari segala doa yang selalu Amira Amber harapkan. Bagaimana jika pria yang menemaninya malam itu bukan suaminya? Dan bagaimana jika pernikahan yang selama ini diimpikannya justru menjadi awal dari neraka?

Voir plus

Chapitre 1

BAB 1

Amira Amber seharusnya menjadi perempuan paling bahagia malam ini.

Beberapa jam lalu, ia resmi menjadi istri Arthur Wilson—pria yang telah dicintainya selama tiga tahun. Pria itu berdiri di hadapannya dalam setelan pengantin hitam, mengucapkan janji pernikahan dengan tenang, lalu menyematkan cincin ke jari manisnya di depan keluarga mereka.

Namun, mengapa hanya Amira yang terlihat bahagia?

Bahkan sebelum pesta selesai, Arthur sudah meninggalkannya dengan alasan pekerjaan. Tidak ada penjelasan panjang ataupun pelukan perpisahan. Seorang pelayan hanya menyampaikan bahwa Amira diminta pulang lebih dahulu ke mansion keluarga Wilson.

Kini, masih mengenakan gaun pengantin, Amira berdiri di depan rumah besar yang seharusnya menjadi rumahnya juga mulai malam ini.

“Selamat datang, Nyonya Amira.” Seorang pelayan paruh baya membukakan pintu dan mempersilahkannya masuk. “Mari, saya antar ke kamar yang sudah disiapkan.”

Amira mengikuti langkahnya melewati aula luas yang hanya diterangi beberapa lampu dinding. Mansion itu terlihat megah dari luar, tetapi lorong-lorong di dalamnya terasa remang dan dingin.

“Di mana suamiku, Bi?” Amira akhirnya bertanya setelah tidak melihat keberadaan Arthur di mana pun.

Pelayan tersebut memperlambat langkah sebelum menundukkan kepala. “Tuan Arthur masih menyelesaikan urusan pekerjaan. Beliau mengatakan akan menyusul.”

“Pekerjaan?”

Amira mengulang kata itu sambil tersenyum tipis. Entah mengapa, kata tersebut terdengar begitu menyakitkan ketika diucapkan pada malam pertama pernikahan mereka.

“Ya, Nyonya," jawab pelayan paruh baya itu dengan nada datar.

Amira tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk dan mulai mengikuti pelayan tersebut melewati lorong panjang yang dihiasi lukisan-lukisan mahal. Bunyi hak sepatunya terdengar samar di atas lantai marmer, sementara ujung gaun pengantin haute couture yang membungkus tubuhnya sesekali bergesekan dengan lantai.

Sejak pertama kali melihat desainnya, Amira sudah membayangkan bagaimana Arthur akan menatapnya ketika mereka akhirnya berdua saja setelah pesta berakhir.

Namun nyatanya pria itu bahkan tidak ada di sana.

“Nyonya. Ada satu pesan lagi dari Tuan Arthur.” ujar pelayan berhenti di lorong.

Amira mengangkat wajah.

“Beliau tidak menyukai cahaya ketika tidur. Jadi, apabila Nyonya hendak beristirahat, seluruh lampu di kamar sebaiknya dimatikan.”

Amira mengernyit kecil. “Sejak kapan?”

“Sudah lama, Nyonya. Tuan Arthur memang selalu tidur dalam keadaan gelap.” tambahnya. 

Jawaban itu terdengar ganjil. Namun, rasa lelah membuat Amira tidak ingin memperpanjang percakapan saat pelayan pamit sebelum dirinya masuk ke kamar.

Ia berdiri di tengah kamar sambil memandangi ruangan yang begitu luas.

Ranjang besar berada di tengah kamar dengan kepala ranjang berbahan kayu gelap, sementara sebuah sofa panjang terletak di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion.

Semuanya tampak sempurna, hanya saja, tidak ada Arthur di dalamnya.

Amira berjalan perlahan menuju nakas dan menemukan sebuah pigura kecil yang menampilkan foto suaminya. Ia mengambil benda itu lalu menatap wajah Arthur yang tampak begitu tenang di dalam foto.

Senyum kecil terbit di bibirnya, tetapi senyum itu lebih menyerupai usaha untuk menghibur dirinya sendiri.

Ia mengembalikan pigura tersebut ke tempatnya, kemudian duduk di tepi ranjang sambil memandangi cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.

Selama tiga tahun terakhir, ia menunggu hari ini. Sampai pukul dua dini hari, pintu kamar terbuka perlahan.

Suara langkah kaki terdengar dari balik pintu, kemudian semakin mendekat ke arah ranjang.

Amira yang masih terlelap bergerak kecil ketika kasur di sampingnya perlahan amblas, membuat kesadarannya kembali sedikit demi sedikit.

Ia mengerjapkan mata dalam kegelapan.

“Arthur?”

Tidak ada jawaban untuk beberapa detik.

Seketika rasa kantuk Amira berkurang. Senyum kecil muncul di wajahnya ketika ia menyadari bahwa suaminya akhirnya pulang.

“Kau baru pulang?”

“Mm.” Hanya suara itu yang terdengar oleh Amira.

Wanita itu menggeser tubuhnya sedikit, lalu menatap sosok di sampingnya meskipun wajah pria itu hampir tidak terlihat dalam gelap.

“Aku menunggumu, kukira kau tidak akan pulang."

Pria itu tidak lagi bersuara. Tangannya perlahan terangkat dan menyentuh rambut Amira. Sentuhan tersebut terasa berbeda dari biasanya, seolah ada keraguan yang disembunyikan di balik gerakannya.

Namun, Amira tidak memikirkannya terlalu jauh.

Malam ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri. Mungkin Arthur hanya berusaha menunjukkan sisi dirinya yang selama ini tidak pernah ia lihat.

“Arthur,” panggil Amira pelan saat pria itu menyentuh pinggangnya.

Di bawah kungkungan, rasa lelah dan kerinduan yang mendalam, ia tidak menemukan satupun alasan untuk menaruh curiga.

Amira mengangguk pelan dalam gelap, menyerahkan seluruh kendalinya.

Seiring terucapnya kata itu, keheningan merayap cepat, menyapu sisa-sisa suara di udara.

Pria di atasnya tak lagi menyahut. Tak ada satu pun kata yang lolos dari bibirnya.

Keheningan yang tercipta justru terasa jauh lebih intens dan pekat.

Ia menarik napas panjang—berat dan penuh tuntutan yang samar—sebelum akhirnya kegelapan benar-benar menelan mereka berdua.

Namun detak jantung Amira yang mulai berpacu tak beraturan saat pria itu mengungkungnya.

Pria itu kembali bergumam samar, "Sshh ... ," dengan suara yang sangat berat dan agak serak, terdengar seperti bisikan pria yang tengah dikuasai gairah hebat.

Lalu, tangan pria itu bergerak cepat menuju bagian belakang gaun pengantin haute couture yang masih dikenakan Amira. Jemari kokohnya menelusuri deretan kancing kecil di sepanjang punggung.

Dengan gerakan sabar namun tegas, ia melepas kancing demi kancing. Suara kain sutra dan brokat yang tersibak terdengar nyaring di kamar yang hening.

Malam pertama itu... seharusnya begini ya?

Amira memejamkan mata.  "Arthur, pelan-pelan ...." bisik Amira, merinding saat udara dingin menyentuh kulit punggungnya yang kini terbuka.

Pria itu tidak mendengarkan. Ia menyingkap gaun mewah itu hingga meluncur turun menumpuk di pinggang Amira, melucuti penghalang di antara mereka.

Bibirnya mulai menjelajahi setiap inci tubuh Amira—dari garis rahang, ceruk leher, tulang selangka, hingga turun ke area dada.

"Ahhh!" Amira mendesah keras saat bibir pria itu menyapa kulit dadanya.

Pria itu menyesap lembut, lalu bermain di atas dada Amira secara bergantian. Hisapannya membuat tubuh Amira melengkung ke atas.

"Mmph ... Arthur ... Pelan-pelan…!" erang Amira seraya meremas acak rambut pria di atasnya.

Rasa nikmat yang asing menyerangnya begitu bertubi-tubi.

Dalam gelap, pria itu terkekeh rendah, suara tawa samar yang teredam di atas kulit dada Amira.

"Ehm …." Amira kembali melenguh, otaknya tak sanggup lagi berpikir jernih.

Tangan pria itu merayap turun, melintasi perut Amira, lalu menyibak sisa kain gaun dan miliknya yang bawah  menghalangi. Jemarinya yang hangat mengelus paha dalam Amira, membuatnya spontan merenggangkan kaki.

"Ah ….”

***

Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai dan jatuh tepat di wajah Amira.

Ia mengerjapkan mata, lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Rasa pegal yang asing segera mengembalikan ingatannya pada malam panjang yang baru saja berlalu.

Rona merah menjalar di wajahnya. Amira menoleh ke sisi lain ranjang, berharap menemukan Arthur masih tertidur di sana.

Namun, tempat itu sudah kosong dan dingin.

Amira baru menurunkan kaki ke lantai ketika gagang pintu bergerak. Ia buru-buru menarik selimut hingga menutupi dada saat Arthur masuk dalam keadaan telah berpakaian rapi.

Kemejanya licin tanpa kusut. Rambutnya tertata sempurna, bahkan wajahnya tidak menunjukkan sisa kantuk sedikit pun.

“Kau sudah bangun?” Arthur berhenti di dekat pintu. Tatapannya menyapu gaun pengantin yang tergeletak di lantai, seprai kusut, kemudian bekas kemerahan di leher Amira.

Amira tersenyum malu. “Kenapa kau pergi tanpa membangunkanku?”

Arthur tidak menjawab. Tatapannya justru menetap pada bercak merah di tulang selangka Amira lebih lama daripada seharusnya.

“Tidurmu nyenyak?” tanyanya kemudian.

Pria itu berjalan menuju jendela dan menarik tirai hingga cahaya pagi memenuhi kamar. Untuk pertama kalinya, Amira dapat melihat ruangan tersebut dengan jelas.

Tidak ada satu pun foto Arthur di sana.

Pigura yang semalam dilihatnya ternyata menampilkan dua anak laki-laki dengan wajah yang hampir serupa. Amira terlalu lelah hingga hanya memperhatikan salah satunya.

Arthur menatap pantulan wajah Amira melalui kaca jendela. “Bersiaplah,” katanya dingin. “Aku ingin mengenalkanmu kepada kakakku.”

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

commentaires

Wajna Dia
Wajna Dia
sejauh ini amanlah ya. tapi pertanyaan yg tiba2 dalam otakku. pas malem pertama itu Ama si Arthur apa maxim
2026-09-22 12:40:22
1
0
Hesti Dhania
Hesti Dhania
cerita baru dari othor idola ku. semoga seperti sebelumnya. gak kecewa meskipun rogoh kocek dalem2
2026-09-22 12:21:15
2
0
8
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status