INICIAR SESIÓNSetelah dua tahun menikah tanpa kasih sayang, Keiko masih bertahan bersama suaminya demi mempertahankan panti asuhan peninggalan kakeknya. Dia diberi kehidupan yang berkecukupan, tetapi sebagai gantinya, Keiko harus menerima pernikahan tanpa cinta. Namun, Keiko justru kembali bertemu dengan Kafka, mantan kekasih yang telah berusaha dia lupakan selama bertahun-tahun. Pria itu ternyata adalah kakak dari suami Keiko yang dua tahun lalu pindah keluar negeri. Keiko pikir Kafka pasti telah melupakannya. Setelah mendengar kabar Kafka bertunangan di luar negeri, dia yakin bahwa pria itu memang telah memilih wanita lain. Keiko ingin menjaga jarak dan menutup masa lalu, tapi Kafka malah menariknya ke dalam dekapan yang tidak pernah Keiko dapat dari lelaki selain dirinya. “Jangan menolak, Keiko... Kali ini, aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi.”
Ver más“Semoga Kak Raffa mau menyentuhku malam ini…” gumam Keiko saat menatap lekuk tubuh dirinya di cermin.
Ia berdiri sendirian di depan cermin menggunakan gaun tidur satin tipis berwarna merah muda lembut.
Kepalanya menoleh ke arah pintu. Pertemuan dengan klien seharusnya sudah selesai sejak beberapa jam lalu. Tapi, Keiko tak kunjung menemui suaminya yang ia tunggu.
Ia pun mengambil ponselnya dan menekan layarnya dengan gelisah. “Kenapa tidak diangkat sih?”
Telepon tak diangkat, pesan-pesannya juga tidak dijawab. Kemana suaminya? Keiko sudah lama menunggu di kamar hotel yang memang dipesan untuk mereka.
Malam itu, mereka menginap di hotel yang menjadi tempat pertemuan dengan klien perusahaan. Keiko diminta ikut hadir sebagai istri. Selesai makan malam, Raffa, suaminya, meminta Keiko pergi ke kamar duluan dengan alasan mereka akan lanjut menikmati wine, sedangkan Keiko memang tidak minum alkohol.
Keiko menurut seperti biasa. Sebenarnya, ia sudah punya rencana sendiri. Begitu kembali ke kamar, ia langsung mandi, memakai wewangian, dan memakai gaun yang baru dibelinya.
Pernikahan mereka sudah berusia dua tahun, tapi belum ada keturunan. Raffa tidak pernah mau tidur dengannya. Hal ini tentu saja tidak pernah diumbar ke orang lain, sampai ibu mertua berpikir pasti ada masalah pada Keiko.
Berhubung mereka ada di hotel, Keiko mau menggunakan kesempatan ini sebaik-baiknya.
Tapi, sudah lewat tengah malam. Suaminya belum juga kembali ke kamar.
Keiko berjalan ke kasur dan duduk di tepinya, sambil melihat dinding kaca yang menampilkan gemerlap lampu malam kota di luar.
Ia menikahi pria dari keluarga terpandang yang memiliki bisnis besar. Tapi setiap hari, ia merasa kesepian.
Jika malam ini Raffa tidak kembali, ia akan tidur duluan saja.
Namun, suara denting halus dari gagang pintu yang berputar seketika memecahkan lamunan Keiko.
Keiko tersentak pelan. Ia langsung bangun dari tepi kasur dengan senyum lebar. Raffa sudah kembali setelah mengabaikan semua panggilan dan pesannya.
“Kak Raffa... dari mana saja? Aku sudah menunggu dari tadi,” ujar Keiko, memperhatikan siluet suaminya yang baru masuk di depan pintu.
Ia berusaha menjaga agar nada suaranya tetap riang, supaya tidak menyinggung suaminya, meski ia tidak bisa melihat dengan jelas wajah pria itu.
Ruangan itu remang dengan pencahayaan berasal dari pemandangan malam kota di kaca jendela saja. Keiko sengaja memadamkan lampu untuk membuat nuansa yang intim dan romantis.
Keiko merasa sedikit malu saat pria itu malah berhenti beberapa langkah dari ambang pintu sambil menghadap ke arahnya.
“Aku coba baju ini… buat ganti suasana sedikit aja,” ucapnya, berdeham sedikit. “Kalau nggak cocok, nanti aku ganti.”
Tidak ada sahutan dari ambang pintu.
Hening mendadak merayap begitu pekat. Keiko menduga suaminya sengaja enggan merespons atau sedang mencari alasan lain untuk menghindar seperti biasa.
“Kak Raffa?” panggil Keiko lagi.
Pria itu akhirnya melangkah mendekat, sampai cahaya dari jendela bisa menyinarinya.
Kata-kata yang sudah Keiko siapkan langsung terkunci rapat di tenggorokan. Raut cerah di wajahnya seketika membeku, seluruh darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir.
Pria yang berdiri di sana bukan Raffa.
Pria itu memakai kemeja abu gelap dengan lengan digulung sampai siku. Badannya tinggi, rahangnya tegas, dan matanya yang gelap menatap lurus ke Keiko.
Keiko gemetar. Otaknya seakan berhenti, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Pria di hadapannya adalah orang yang selama dua tahun ini berusaha ia lupakan.
Malu, kaget, dan canggung langsung menyergap Keiko sekaligus.
Ia berdiri di kamar hotel hanya dengan gaun tidur tipis, dan yang muncul di depan pintu justru … mantan kekasihnya sendiri.
Keiko langsung berbalik badan, mencoba menutupi tubuhnya. Ia pura-pura tidak kenal, demi menjaga harga dirinya yang tersisa.
"Maaf... Anda salah kamar," ucapnya dengan suara pelan yang bergetar. "Tolong keluar sekarang."
Dalam hati, pikiran Keiko berkecamuk.
Tidak, ia tidak salah orang. Pria ini adalah Kafka.
Seharusnya, ia ada di luar negeri sekarang. Kenapa tiba-tiba ada di sini, dan kenapa juga ia bisa masuk ke kamar ini?
“Cantik.”
Suara itu membuat Keiko membeku. Kafka berkata dengan lirih, tapi bisa didengar di kamar yang sepi.
“Kamu cantik memakai itu, tidak usah ganti.”
Dengan kekagetannya karena pujian yang tidak diduga itu, Keiko menatap balik ke arah Kafka. Pria itu bukannya keluar, malah mendekat ke arahnya dengan langkah yang tegas.
Keiko terkesiap, sontak saja mundur untuk menjaga jarak, tapi ia langsung terpojok di dinding kaca yang dingin. Kafka sudah menempel kepadanya, wanginya maskulin bercampur dengan aroma alkohol dari napasnya.
Matanya yang merah sekaligus berkaca-kaca menatap Keiko tajam. Pria ini … sepertinya mabuk!
Keiko langsung mendorong dadanya menjauh meski tenaganya kalah. “A-Anda salah orang! Anda tidak bisa sembarangan masuk ke kamar orang seperti ini!”
"Jangan pura-pura nggak kenal aku, Keiko," bisik Kafka parau, suaranya berat. "Aku Kafka. Kamu lupa secepat itu?"
Dengan satu tangannya, Kafka menyentuh pipi Keiko, memaksanya agar menghadap ke arahnya.
Satu tangan Kafka yang lain melingkar tegas di pinggang Keiko, menarik tubuh perempuan itu merapat hingga menghantam dadanya yang bidang.
Raffa berjalan melewati Keiko tanpa menoleh lagi, melempar jasnya ke atas sofa ruang tengah dengan gerakan kasar. Pria itu menyambar gelas kosong di atas meja, melirik Keiko dari sudut matanya dengan raut wajah keruh."Kamu masih berdiri di situ?" tegur Raffa, suaranya terdengar dingin dan datar. "Masuk kamar, Keiko. Jangan membuatku makin pusing."Keiko tak bergeming di dekat pilar marmer. Pandangannya tertuju pada ponsel Raffa yang tergeletak terbalik di atas meja kaca. Layar ponsel itu mendadak menyala tipis, memancarkan getaran tanpa suara.Ketika Keiko melangkah satu tindak mendekati meja, Raffa dengan cepat menyambar ponsel tersebut dan memasukannya ke saku celana. Penglihatan Keiko sempat menangkap deretan angka rumit di layar kunci yang berbeda dari kata sandi biasanya."Kakak mengganti kata sandi ponsel lagi?" tanya Keiko pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh deru pendingin udara.Raffa mendengcus kasar sambil menuang air dingin ke gelas. "Bukan urusanmu. Ponselku, terserah a
Langkah kaki Keiko terasa melayang saat menyusuri lorong menuju kamarnya di lantai dua. Bisikan nakal Kafka tepat di depan bibirnya tadi masih bergema jujur, membakar setiap jengkal kesadarannya. Keiko mengunci pintu kamar rapat-rapat, membelakangi kayu jati dingin itu sambil memegangi dadanya yang kembang kempis. Ia melempar tasnya ke atas meja, lalu berjalan kaku menuju kamar mandi. Air hangat dari pancuran mengucur deras, membasahi rambut dan merayap turun menyapu kulit tubuhnya. Keiko memejamkan mata, membiarkan buaian air hangat itu menerpa wajahnya. Namun rasa panas di sela pahanya tak kunjung lenyap. Justru saat usapan air menerpa kulitnya, ingatan tentang sentuhan Kafka meledak tanpa ampun. Keiko teringat bagaimana beratnya tekanan tubuh pria itu di ruang kerja tadi, aroma pekat kayu cendana, serta gesekan jari-jarinya yang kasar namun begitu ahli membelai titik paling sensitif di tubuhnya. Keiko bersandar pada dinding keramik kamar mandi yang licin. Tangannya yang gemetar
Wajah Keiko membara oleh rasa malu dan pening yang luar biasa. Tenggorokannya tercekat rapat, tak sanggup mengeluarkan patahan kata. Kafka merapikan kerah kemejanya sendiri dengan tenang. "Tunggu di sini. Aku harus keluar sebentar ke ruang rapat bawah. Setelah ini aku yang akan mengantarmu pulang." Keiko menegang di tempatnya, bertumpu kaku pada pilar kayu sambil memandangi punggung Kafka yang berjalan santai keluar dari ruangan dan mengunci pintu dari luar. --- Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil sedan hitam milik Kafka, membelah kemacetan sore kota. Suasana di dalam kabin terasa redup dan hening. Keiko menatap keluar jendela, meremas jemarinya sendiri yang terasa dingin di atas pangkuan. Sisa rasa panas dan lemas di tubuhnya belum sepenuhnya hilang, namun kehampaan di dadanya justru terasa makin menganga. "Kenapa melamun?" suara berat Kafka memecah keheningan. Keiko tidak langsung menoleh. Ia menghela napas pendek, merasa lidahnya tidak sanggup lagi m
Kafka tidak serta merta melepasnya. Ibu jarinya menahan titik sensitif di paha Keiko sejenak sebelum perlahan menarik tangannya kembali ke roda kemudi saat lampu lalu lintas berubah hijau. Mobil kembali melaju. "Raffa tidak pernah memperhatikanmu," ujar Kafka tenang, mengubah arah pembicaraan tanpa beban. "Suamimu itu selalu punya alasan untuk pergi, selalu membuatmu menunggu, dan membiarkanmu sendirian setiap kali kamu butuh seseorang di sisimu." Keiko menahan napasnya. "Itu bukan urusan Kakak. Kehidupan rumah tanggaku..." "Kehidupan rumah tanggamu itu dingin," potong Kafka cepat, intonasinya tetap tenang namun menusuk tepat di ulu hati Keiko. "Kamu dituntut nurut, tapi tidak pernah diberi kehangatan. Kamu cuma dijadikan pajangan di rumah itu. Apa aku salah?" Kalimat Kafka menghantam benteng pertahanan Keiko secara telak. Keiko membisu, bibirnya terkatup rapat. Semua yang dikatakan Kafka adalah kenyataan pahit yang selama dua tahun ini coba ia kubur dalam-dalam. Setiap malam












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reseñas