MasukDiana melotot marah. “Aku sama sekali tidak iri padamu. Kau cuma anak sial yang bahkan kedua orang tuamu malas mengakui. Berteman denganmu selama ini adalah hal terbodoh yang pernah aku lakukan!”
Plak! Tanpa peringatan, Helena menampar Diana. Semua yang ada di sana pun terkejut. Alex mengepalkan tangannya. Bukan marah karena Helena menampar Diana, tetapi karena dia sadar Helena benar-benar sangat kecewa sampai sisi kejam Helena pun muncul. Diana memegangi pipinya yang terasa perih dengan tatapan tak percaya tetapi juga terlihat marah. “Apa yang kau lakukan barusan?!” Karina pun langsung mendekat, mendorong bahu Helena. “Dasar jalang sialan! Berani sekali kau menyakiti Diana?!” Helena berdecih kesal. “Terserah kalian saja maunya apa, aku tidak akan peduli lagi.” “Aku muak. Aku akan pergi dari sini,” ucap Helen, gegaEsok paginya, masih di kediaman Alex. Helena baru saja turun dari kamar saat Alex memanggilnya ke ruang kerja. Diana dan Karina kebetulan sedang ada di lorong, sehingga keduanya otomatis memperhatikan hal itu. Alex menunggu di depan pintu ruang kerja dengan sebuah kotak kecil berbalut pita berwarna perak. Begitu Helena mendekat, lelaki itu tersenyum tipis, senyum yang sengaja tidak ia tunjukkan pada siapa pun akhir-akhir ini. “Sayang, ni untukmu,” ucap Alex pelan. Helena pura-pura terkejut, meski hatinya sudah bisa menebak. Ia menerima kotak itu, membuka perlahan, dan tampaklah sebuah kalung berlian yang memantulkan cahaya pagi dengan sangat indah. Itu adalah perhiasan yang mahal, dari brand terkenal juga. Diana yang melihat dari kejauhan langsung berhenti melangkah. Matanya membulat, bibirnya sedikit bergetar menahan emosi yang bergejolak di dadanya. Karina yang berada di sampingnya refle
Malam itu, Helena kembali ke rumah. Tempat yang paling tidak nyaman, tapi dia juga merasa tidak ada pilihan lain. Alex rupanya sudah pulang lebih dulu. Sambil duduk di ruang depan, ekspresinya nampak tidak baik saat. Begitu Helena menginjakkan kaki di ruang utama, Alex yang menyadari itu segera bangkit dari posisinya. Berjalan mendekati Helena. “Kau sudah pulang?” tanya Alex, ekspresinya nampak semakin aneh. Helena pun mengerutkan keningnya. Sebenarnya dia malas bertele-tele, tapi karena dia ingin membuat Diana semakin cemburu, dan akhir yang buruk untuk Alex, Helena pun mencoba sebaik mungkin untuk menahan diri. Helena menganggukkan kepalanya, tersenyum tapi tidak sehangat sebelumnya. “Sudah. Paman banyak kegiatan, ada beberapa meeting penting jadi aku pulang malam.” Alex meraih tangan Helena. Ada perasaan tidak nyaman saat ini, terutama setelah mendengar ucapan Diana yang mengatakan bahwa Helena dan
Helena membuka pintu ruangan dengan hati yang masih berdebar setelah percakapannya dengan Joseph yang mendebarkan itu. Ia tidak menyangka Davidson masih berada di luar sana. Pria itu berdiri tegak, tangan disilangkan di dada, rahangnya nampak mengeras… dan matanya, matanya itu langsung tertuju pada Helena seolah sejak tadi hanya fokus padanya. Helena pun terpaku. “Paman Davidson... masih di sini?” ucapnya pelan. Davidson segera mendekat satu langkah. Tatapannya gelap, dingin, tapi di balik itu ada sesuatu yang membuat Helena sulit bernapas untuk beberapa detik. “Kau lama sekali,” suaranya rendah, terkontrol. “Meeting pagi ini sudah dimajukan. Tapi aku tidak bisa pergi jadinya.” Helena pun mengerutkan kening. “Kenapa Paman menunggu ku? Kau kan bisa pergi duluan, Paman.” Davidson justru menatapnya lebih lama dari yang seharusnya. Seakan ingin memastikan tidak ada luka lain di wajah Helena, atau bagian lain. Seakan ingin membaca sesuatu yang Helena sembunyikan
Ruang tengah mansion Davidson terasa begitu sunyi. Tidak ada pelayan. Bahkan tidak ada suara jam. Hanya Helena dan Joseph saja. Joseph duduk tegak di hadapannya, tubuhnya kokoh, wajahnya dingin dan tidak dapat dibaca. Ini adalah kali pertama bagi Helena untuk melihat sisi itu dari Joseph yang selama ini dia tahu sangat lembut dan hangat. Tanpa basa-basi, Joseph mengeluarkan sebuah cek dari dalam jasnya , cek dengan angka fantastis, jumlah uang yang bahkan sulit dihitung sekilas. Membuat Helena tahu bahwa Josep benar-benar telah memikirkan semua itu dengan matang. Ia meletakkannya di meja, tepat di depan Helena berada. Helena pun mengerutkan kening. “…Ini untuk apa, Kakek?” Joseph berdiri dari posisinya, meninggalkan sejenak tongkatnya, lalu melipat kedua tangannya di belakang punggung, menatap Helena seolah ia sedang menilai barang, bukan lagi manusia. “Itu,” ujar Joseph dingin, “adalah uang untukmu agar menjauh dari Davidson. Fokus pada rumah tanggamu dengan Alex.
Percakapan di meja makan belum juga mereda. Setelah puas memamerkan keluhan kehamilannya, Diana dengan cepat justru mengubah topik. “Aku tadi sempat lihat stroller warna ivory yang lucu sekali…” katanya sambil memegang perut kosongnya. “Padahal masih tujuh bulan lagi, tapi aku sangat tidak sabar sekali. Rasanya ingin langsung beli semua perlengkapan bayi.” Karina langsung bereaksi seperti tersengat antusiasme yang menggebu. “Ya ampun, tentu saja! Kita harus mulai mempersiapkan semuanya dari sekarang. Baju bayi, tempat tidur, tempat ganti baju, perlengkapan mandi… semuanya!” Diana mengangguk cepat, matanya berbinar, lebih karena perhatian yang ia dapatkan daripada hal yang sedang dibahas saat ini. “Kalau bisa akhir minggu ini kita ke toko bayi, Bu. Aku ingin lihat-lihat semua, juga penting untuk memastikan kualitas bayi.” Karina menepukkan tangan lembut seolah menemukan solusi terbaik. “Alex, kau harus ikut ya. Bantu Diana memilih perlengkapannya. Dia itu kan tidak boleh
Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu menggema. Helena langsung bernapas lega, hampir terisak karena perasaan lega. Pintu mulai terbuka, dan Karina masuk sambil memelototkan mata pada Alex. “Alex! Kau belum tidur juga? Apa kau tidak ingat besok bekerja?” sergah Karina. Alex menoleh, jelas terganggu. “Ibu, jangan ikut campur dulu, aku—” “Tentu saja aku harus ikut campur,” potong Karina tajam. “Helena baru pulang. Biarkan dia beristirahat. Kita juga perlu bicara.” Helena memejamkan mata sejenak. Sangat bersyukur. Ternyata Karina pun bisa jadi dewa penyelamatnya. Alex menghela napas keras, gusar dan kecewa. “Baiklah… aku akan keluar sebentar lagi.” Ia menatap Helena, “Nanti aku ke sini, tidur dengan mu.” Tatapannya penuh janji dan ancaman halus. Tapi, Helena sungguh sangat tidak menginginkan hal itu sehingga dia hanya bisa bereaksi dengan diam. Alex berdiri dan keluar dari kamar, sementara Karina masih berdiri di ambang pintu, menatap Helena dengan tatapan penuh pen







