LOGINGabriella Anne Martin tak pernah menyangka bahwa rumah tangganya bersama Samuel Alexander Thompson—seorang CEO sukses dan karismatik—akan berubah menjadi neraka sunyi. Saat cinta mulai memudar dan dirinya merasa makin tak berarti, Anne dihadapkan pada pilihan: bertahan demi janji suci yang kian rapuh, atau melepaskan semua demi menyelamatkan dirinya sendiri? Namun, ketika Anne akhirnya memilih untuk pergi dan mencari kebahagiaan di tempat lain, Samuel justru mulai dihantui oleh penyesalan juga memperlihatkan alasan dirinya menjauh. Mampukah cinta yang nyaris punah itu diselamatkan? Atau kebebasan Anne justru menjadi awal dari kebahagiaan sejatinya?
View More"Selamat pagi," sapa Anne dengan nada lembut. Senyumnya mengembang ketika melihat Samuel melangkah dengan setelan rapi, dasi yang belum sepenuhnya terikat dengan baik, serta ekspresi wajah yang datar seperti biasa.
Samuel hanya mengangguk tipis tanpa membalas sapaannya. Dia berjalan menuju rak sepatu dan mengambil jas yang tergantung di sana.
"Aku sudah siapkan sarapan untukmu. Ada roti panggang, telur, dan sup ayam kesukaanmu. Kopinya juga masih panas," ujar Anne berusaha terdengar ceria.
Pagi itu, aroma roti panggang dan telur yang digoreng dengan hati-hati memenuhi udara di dapur kecil mereka.
Anne berdiri di depan kompor, sesekali meniup anak rambut yang jatuh di keningnya sambil terus mengaduk sup hangat di panci kecil.
Dia menyiapkan semuanya dengan telaten; roti yang renyah, telur setengah matang sesuai kesukaan Samuel, hingga kopi hitam tanpa gula yang selalu menjadi penutup sarapan suaminya.
Wajah Anne terlihat cerah, seolah dia masih berharap ada kehangatan yang bisa tercipta dari meja makan mereka pagi ini.
Ia lalu menuang kopi ke dalam cangkir putih kesukaan Samuel, menatanya di meja makan yang telah rapi. Semua sudah siap, tinggal menunggu sang suami turun dari kamar.
Samuel melirik sekilas ke arah meja makan lalu kembali merapikan dasinya di depan cermin dekat pintu.
"Tidak usah repot-repot buatkan sarapan lagi untukku," ucap Samuel datar bahkan tanpa menoleh sedikit pun ke arah istrinya itu.
Anne mengerutkan dahi. "Kenapa begitu? Apa aku salah menyiapkannya? Aku bisa buatkan yang lain jika kau tidak suka,” ucap Anne dengan hati-hati.
"Tidak perlu, Anne." Samuel kembali meluruskan dasinya. Dia bahkan berbicara dengan nada dingin dan datar seperti biasa.
"Tapi aku hanya ingin—"
"Sudahlah," potong Samuel kemudian mendesah malas. Dia akhirnya menoleh sekilas, namun tidak dengan tatapan penuh perhatian, melainkan tatapan kosong yang nyaris membuat Anne menciut.
Anne menghela napas pelan dan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya, "Apa kau memang sengaja terus bersikap begini padaku?"
Samuel tidak menjawab. Tangannya sibuk merapikan jas di pundaknya.
“Sudah dua tahun terakhir ini kau selalu bersikap dingin padaku, seolah aku ini hanya patung di rumah ini. Dulu, kau masih sering mencium keningku sebelum berangkat.
“Kadang juga berpesan supaya aku hati-hati di rumah. Tapi sekarang ... bahkan bayanganmu saja nyaris tak pernah sempat kulihat," lanjut Anne lirih dan matanya mulai berkaca-kaca. "Apa sebenarnya salahku, Samuel?”
Samuel akhirnya memalingkan wajah ke arahnya. Tapi lagi-lagi bukan dengan ekspresi yang Anne harapkan. Wajah itu tetap datar, seperti tidak peduli.
"Apa pentingnya membahas ini, Anne? Aku merasa biasa saja. Tidak ada yang berubah dalam diriku,” ucapnya membela diri sendiri dan menyangkal akan perubahan sikapnya tersebut.
"Biasa saja?" Anne menahan getir di tenggorokannya. "Bagimu mungkin biasa saja. Tapi bagi perempuan yang setiap hari menunggumu di rumah, ini tidak biasa, Samuel. Aku tidak mengerti kenapa semua berubah. Aku tidak tahu apa yang salah dalam diriku.”
Samuel menarik napas berat, tapi tetap saja tidak menanggapi. Dia hanya menatap cermin lagi, memastikan semuanya rapi di tubuhnya.
"Kalau memang aku melakukan kesalahan, setidaknya beritahu aku agar bisa aku perbaiki," desak Anne dengan suara sedikit gemetar.
"Tidak ada yang salah, Anne," jawab Samuel dingin. "Aku hanya tidak suka membahas hal yang tidak penting."
"Bagimu ini tidak penting?" Suara Anne meninggi, tapi masih tertahan oleh kesabarannya yang tipis. "Bagimu ... perasaan istrimu ini tidak penting?"
Samuel memandang Anne beberapa detik. Lalu, tanpa sepatah kata pun, dia melangkah ke arah pintu, membuka dan menutupnya dengan suara pelan namun tegas. Tidak ada pamit, tidak ada salam. Hanya keheningan yang tertinggal.
Anne tertegun di tempatnya, matanya kosong menatap pintu yang kini tertutup rapat. Samar-samar terdengar suara mesin mobil dinyalakan, lalu perlahan menjauh.
Dapur itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara jam dinding yang berdetak pelan.
Dia berjalan pelan ke meja makan, menarik kursi yang sedari tadi kosong di hadapannya. Dia duduk perlahan, memandangi sarapan yang masih hangat di atas meja.
Piring itu seharusnya untuk Samuel, tapi kini hanya jadi saksi bisu kesendiriannya.
Anne menunduk, kedua tangannya mengusap perutnya yang masih datar. Hampa. Seperti dirinya. Seperti rumah ini tanpa kehadiran Samuel yang sesungguhnya.
Sudah empat tahun mereka menikah. Empat tahun yang awalnya penuh harapan dan cinta.
Tapi semuanya terasa pudar, terutama dua tahun terakhir saat kehangatan Samuel perlahan memudar seperti kabut pagi yang tersapu angin.
"Empat tahun," bisiknya getir. "Empat tahun aku menanti, tapi perut ini masih kosong."
Air mata akhirnya jatuh perlahan di pipinya. Tangis yang ditahannya pecah dalam diam, hanya disaksikan piring dan cangkir kopi yang mulai mendingin.
Ia meremas perutnya pelan, seolah ingin berbicara pada rahim yang masih belum juga memberinya kehidupan baru.
"Apa karena aku tidak kunjung hamil ... maka dari itu dia bersikap seperti ini padaku?" gumam Anne pelan.
“Atau sebenarnya diam-diam dia memiliki wanita lain yang mampu memberinya anak?”
Beberapa bulan kemudian, sinar matahari pagi yang hangat menembus jendela kaca besar di sebuah vila tepi pantai yang tenang.Tidak ada lagi aroma disinfektan yang menyesakkan atau suara monitor jantung yang memicu trauma. Yang terdengar hanyalah suara deburan ombak yang ritmis dan kicauan burung di pepohonan sekitar.Anne berdiri di depan cermin, merapikan gaun musim panasnya yang berwarna putih bersih. Pipinya kini merona alami, dan binar di matanya telah kembali sepenuhnya.Dia menatap pantulan dirinya, bukan lagi sebagai korban yang rapuh, melainkan sebagai wanita yang berhasil memenangkan kembali hidupnya.Samuel muncul dari balik pintu, melingkarkan lengannya di pinggang Anne dengan lembut. Ia mencium bahu istrinya, menghirup aroma parfum melati yang kini menjadi aroma favoritnya."Siap untuk sarapan di tepi pantai, Sayang?" tanya Samuel dengan nada yang lembut.Anne berbalik dalam pelukan Samuel, mengalungkan tangannya di leher suaminya. "Aku siap untuk apa pun, asalkan bersamam
Pagi itu, suasana di kantor pusat perusahaan keluarga Samuel yang megah mendadak mencekam.Samuel berdiri di balik jendela besar ruang kerjanya, menatap iring-iringan mobil polisi yang memasuki halaman gedung.Di tangannya, ia memegang map hitam berisi bukti-bukti yang telah ia kumpulkan dengan ketelitian seorang pemburu: hasil laboratorium toksikologi, rekaman CCTV tersembunyi yang ia pasang di kamar rumah sakit, hingga pernyataan tertulis dari perawat yang sempat disuap oleh Tyas.Samuel tidak lagi merasakan keraguan. Rasa hormatnya sebagai seorang anak telah mati bersamaan dengan setiap isakan ketakutan Anne di rumah sakit.Baginya, Tyas dan Jeane bukan lagi keluarga atau masa lalu, melainkan kriminal yang mencoba merampas nyawa orang yang paling ia cintai.Tyas sedang memimpin rapat dewan direksi, mencoba meyakinkan para pemegang saham bahwa kondisi putranya sedang tidak stabil dan ia harus mengambil alih kendali penuh perusahaan.Di sampingnya duduk Jeane, yang dengan angkuh ters
Setelah badai konfrontasi malam itu berlalu, Samuel mengambil tindakan tegas. Ia memindahkan Anne ke sayap paviliun yang lebih privat dengan pengamanan ketat 24 jam.Tidak ada satu pun orang, termasuk staf medis, yang boleh masuk tanpa verifikasi langsung darinya.Dokter-dokter terbaik dikerahkan untuk melakukan detoksifikasi total guna membersihkan sisa-sisa zat penenang dan halusinogen dari sistem tubuh Anne.Hari-hari awal adalah masa yang paling berat. Tanpa asupan obat-obatan beracun itu, Anne mengalami fase putus zat yang menyakitkan.Dia sering terbangun di tengah malam, menjerit ketakutan karena sisa-sisa halusinasi yang masih menghantui.“Sam! Dia di sana! Jeane membawa pisau!” jerit Anne suatu malam, tubuhnya basah kuyup oleh keringat dingin.Samuel, yang selama berminggu-minggu memilih tidur di sofa sempit samping ranjang, langsung sigap memeluknya.Dia memegang kedua tangan Anne dan menempelkannya ke pipinya sendiri agar istrinya bisa merasakan suhu tubuhnya yang nyata.“L
“Jelaskan padaku, Ma. Jelaskan apa itu Benzodiazepine dan halusinogen dalam darah istriku,” suara Samuel rendah, namun setiap kata yang keluar terdengar seperti dentuman palu yang menghantam keadilan.Tyas menarik napas panjang, mencoba merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.“Samuel, kau terlalu emosional. Mama melakukan itu demi kebaikannya. Anne terus berteriak, dia histeris! Mama hanya meminta dokter memberikan sesuatu agar dia bisa ‘tenang’. Itu hanya agar dia tidak stres dan tidak mempermalukan diri sendiri di depan perawat.”“Tenang?” Samuel tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar menyakitkan.“Kau meracuninya secara perlahan, Ma! Kau memberinya zat yang merusak sarafnya agar dia terlihat gila di mata dunia.“Kau ingin dia kehilangan akal sehatnya supaya kau bisa membuangnya ke rumah sakit jiwa dan menghapusnya dari hidupku. Katakan yang sejujurunya, apakah membunuh jiwanya adalah bagian dari rencana ‘ketenangan’ itu?”Pertengkaran itu meledak. Suara Samuel yang meninggi mul












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore