MasukDiana menangis sambil memeluk tubuhnya yang terasa sakit semua.
Sudah beberapa jam dia menangis, tenggorokannya kering, bahkan seperti ada sensasi terbakar. Alex bukan hanya marah melalui kata-kata, pria itu juga memukulinya. Hampir seluruh tubuhnya lebam, itu menyakitkan sekali. Padahal Alex tahu dia sedang hamil. Harusnya diperlakukan dengan sangat lembut dan penuh cinta, bukan begini. “Alex, kenapa kau selalu memperlakukan Helena dengan lembut dan baik tapi begitu jahat, kasar padaku. Aku sangat mencintaimu sampai aku rela melakukan semua ini,” Diana menyeka air matanya yang terus jatuh. “Harusnya kita bersatu untuk mencari jalan ke luar.” Ia pun menyadarkan tubuhnya yang lelah. “Ini pasti ulah Helena. Dia pasti iri, dia pasti cemburu, dia ingin menyingkirkan ku untuk balas dendam.” Diana mengepalkan tangannya. “Helena... akan lebih baik kalau kau cepat tiada!!” Di sisi lain,Pintu gudang tua itu tiba-tiba bergetar keras. Brak! Brak! Brak!Seolah ditendang dari luar oleh lebih dari satu orang. Debu beterbangan dari kusen kayu yang rapuh. Ketiga penculik itu langsung panik, saling pandang, sadar bahwa satu-satunya pintu keluar kini akan menjadi pintu masuk kematian mereka jika tidak bertindak dengan cepat. “Siap! Jangan biarkan mereka dekat dan mencelakakan kita!” Salah satu penculik berseru sambil mencabut pisau panjang berkarat tapi tajam. “Sial! Kalau saja lubangnya sudah selesai, kita tidak perlu menunggu cukup lama di sini,” kesal salah satu penculik itu. Dalam sekejap, mereka bergerak membentuk barikade hidup, ketiganya berdiri tepat di belakang Helena dan Diana, lalu menghunuskan senjata ke leher keduanya, siap memotong urat lehernya . Diana pun menjerit histeris. Helena hanya memejamkan mata sesaat, bukan lagi karena takut mati, tapi karena ia tahu sesuatu yang buruk akan benar-benar terjadi. Brak!!! Pintu gudang tua itu akhirnya je
Helena membuka matanya perlahan, kelopak matanya berat dan penglihatannya buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus. Begitu ia mulai menyadari posisinya, jantungnya langsung berdegup cukup keras. Tangan dan kakinya terikat kuat ke kursi, tubuhnya sedikit condong ke depan, dan mulutnya disumpal kain sehingga ia bahkan tidak bisa mengucapkan satu kata pun. Napas terasa berat, keringat bercucuran. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh satu lampu kuning kusam yang menggantung di tengah, membuat bayangan kejam di wajah tiga penculik yang berdiri tidak jauh darinya. Bau lembap dan karat besi begitu menyengat memenuhi udara. Di sebelahnya, sekitar dua meter saja darinya, Diana menangis tersedu-sedu, kedua tangannya juga terikat tapi mulutnya tidak dalam kondisi disumpal. “Tolong lepaskan aku! Aku benar-benar tidak ada hubungannya!” teriak Diana dengan suara bergetar. Salah satu pen
Davidson masih duduk di kursi belakang, satu tangan membuka kancing jasnya, satu lagi merapikan dasi. Mobil sudah cukup jauh dari tempat Helena turun tidak. Tapi, tangan Davidson tidak sengaja menyentuh sesuatu. Dompet kecil berwarna hitam. Dompet itu Helena. Davidson menatapnya beberapa detik, rahangnya mengencang. “…Dia tidak pernah meninggalkan ini sebelumnya.” Suara Davidson turun, hampir seperti sebuah gumaman. “Jonathan,” panggilnya. Jonathan yang sedang menyetir langsung menoleh lewat kaca spion. “Ya, Tuan David?” “Kembali ke rumah Alex. Helena meninggalkan dompetnya. Dia pasti sangat butuh ini.” “Oke. Aku putar balik sekarang.” Saat mereka tiba di depan rumah Alex, suasana terlihat sepi tidak seperti biasa. Lampu teras menyala tetapi tidak ada satu pun orang terlihat di sekitar. Davidson turun dari mobil sambil membawa dompet itu.
Joseph duduk merenung di kursi kamarnya. Kembali memikirkan soal apa yang terjadi dengan Alex, ia pun merasa tertekan. Memang benar dia memilih diam, tapi dia tidak pernah menjadi orang yang mudah ditipu.Kehancuran perusahaan sudah dimulai sejak lama. Semula hanya koreng kecil, tapi karena terus diberikan bakteri, pada akhirnya luka itu parah, infeksi sudah sampai ke pusat dan sulit untuk disembuhkan. Ia mungkin tidak terlibat langsung dalam setiap urusan Alex, tetapi ia selalu punya mata dan telinga di mana-mana. Dan belakangan… suara-suara yang ia dengar semakin jelas dan konsisten. Helena. Nama itu terus muncul dalam dugaan meskipun berakhir buram. Helena lah yang tiba-tiba saja dekat dengan Davidson. Helena lah yang tiba-tiba memiliki akses ke saham meskipun infonya juga masih belum jelas. Helena lah satu-satunya pihak yang tidak pernah disentuh kecurigaan Alex, kecurigaan yang terbilang ser
Diana menangis sambil memeluk tubuhnya yang terasa sakit semua. Sudah beberapa jam dia menangis, tenggorokannya kering, bahkan seperti ada sensasi terbakar. Alex bukan hanya marah melalui kata-kata, pria itu juga memukulinya. Hampir seluruh tubuhnya lebam, itu menyakitkan sekali. Padahal Alex tahu dia sedang hamil. Harusnya diperlakukan dengan sangat lembut dan penuh cinta, bukan begini. “Alex, kenapa kau selalu memperlakukan Helena dengan lembut dan baik tapi begitu jahat, kasar padaku. Aku sangat mencintaimu sampai aku rela melakukan semua ini,” Diana menyeka air matanya yang terus jatuh. “Harusnya kita bersatu untuk mencari jalan ke luar.” Ia pun menyadarkan tubuhnya yang lelah. “Ini pasti ulah Helena. Dia pasti iri, dia pasti cemburu, dia ingin menyingkirkan ku untuk balas dendam.” Diana mengepalkan tangannya. “Helena... akan lebih baik kalau kau cepat tiada!!” Di sisi lain,
Merasa kalau dia harus lebih menabahkan bibir kecurigaan di hati Alex, Helena pun kembali berkata, “Kalau aku jadi kau, Alex… aku akan melihat lebih dekat. Kadang musuh paling berbahaya adalah yang paling dekat denganmu, yang paling paham seluk beluknya.” Kata-kata itu sudah cukup. Wajah Alex berubah. Sorot matanya mengeras, pikirannya yang sudah rapuh langsung terseret oleh sugesti. Ia tidak bertanya lebih jauh. Tidak butuh kepastian apapun untuk itu. Ia hanya butuh seseorang untuk disalahkan saja. Dan Helena tahu itu dengan baik. Alex pun meninggalkan kamar Helena, hampir berlari menaiki tangga. Napasnya terengah, wajahnya gelap, dan kepalan tangannya bergetar. Setiap langkahnya membawa kemarahan yang tidak stabil, kemarahan yang buta. Tanpa minat mengetuk, Alex menerobos masuk ke kamar Diana. Diana yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin langsung menoleh dan ia pun tersenyum cerah. “Alex…? Kau sudah datang untuk—” Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Alex su







