Mag-log inKupikir setelah menikah segalanya akan mengubah hidupku layaknya puteri-puteri di negeri dongeng. Ternyata Aku salah justru pernikahan yang selalu ku impikan menjadi bumerang yang sulit sekali ku hindari! Dari cobaan hidup yang menerpa sampai memiliki seorang suami yang posesif, menekan dan kasar. Hidupku bagai di neraka! Kadang ku berpikir bagaimana kalau ku akhiri saja hidupku? Aku dijual suamiku sendiri hanya karena perekonomian keluarga kami yang sulit dan sialnya lelaki yang membeliku adalah Dion Pratama.
view moreGubrak!
Pintu tiba-tiba didorong dengan keras, Aku yang sedang tertidur langsung terkejut. Bang Awan tampak berdiri di depan pintu. "Dasar isteri pemalas!" Tanpa perasaan bang Awan segera menyiram wajahku dengan segayung air, Aku yang masih setengah sadar tentu saja kaget bukan main, itu karena hidungku dimasuki air. Aku terdiam sambil mengelap wajahku pelan. "Semenjak Kamu hamil, kamu jadi semakin pemalas dan tidak menghargai suami sama sekali, apa karena janin didalam kandunganmu itu, hah?!" Omelnya keras. Bang Awan kini berjalan mendekatiku dan menampar keras perutku. Repleks kupegang perutku. "Ya ampun bang, Abang apa-apa sih, sakit tahu bang. Janin yang ada didalam kandunganku ini adalah anak kamu bang! Kok kamu bisa-bisanya setega itu. Lagian sekarang aku ngak enak badan Bang." "Kalau ngak mau dimarahin suami, ya pinter-pinter dong! Kamu ngak masak kan pagi ini!" Bentaknya. "Maaf bang, bukannya Aku ngak mau masak tapi duit yang abang kasi sudah habis." Bantahku. "Habis?" Tanyanya datar. "Iya, habis bang dan uang yang Abang kasih itu ngak cukup." Kataku lagi. "Ngak cukup kamu bilang?" Tanyanya kesal. Aku mengangguk dan kini wajah serta tangannya mendekat. Bang awan mengelus pundakku, perlahan tangannya naik keatas, Aku diam saja, menelan saliva dan-- "Auw! Sakit Bang! Apa yang abang lakuin?" Tanyaku sambil meringis karena dia tiba-tiba menyentak ujung rambutku. "Kuperingatkan sama Aku, kalau terus-terus kamu kayak gini bisa aja Aku tinggalin kamu!" Ancamnya. "Jangan Bang, kumohon maafin salahku bang, Aku akan berusaha cari kerja supaya setiap hari Aku bisa siapin makanan buat kamu bang." Bantahku pelan. Karena Aku ngak mau bang Awan ninggalin Aku. Ya, biar saja Aku seperti wanita bodoh tapi ini semua kulakukan demi janin yang kukandung! Aku ngak mau jika nanti anak ini lahir tanpa Ayah, Aku tidak mau. Biarlah untuk saat ini Aku harus bisa mengalah. "Nah gitu dong! Kalau jadi isteri itu harus bisa mikir, gimana cara bahagiain suami. Kalau gitu, mandi sana gih! Cari hutangan apa kek untuk makan hari ini!" Cetus Bang Awan datar. Aku segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju toilet. Bang awan hanya memandangku dengan senyumnya yang kecut. Sudah beberapa minggu ini Bang awan hanya menganggur di rumah karena dia bilang lagi tidak ada borongan. Suamiku itu pekerjaannya adalah tukang bangunan. Aku mengiyakan saja walaupun sebenarnya jika dia memang mau bekerja dan memang ada niat, kan bisa cari kerja apa saja yang penting menghasilkan duit. Toh di kota kami tinggal ini lahan pekerjaan masih mudah dicari. Kerjaan Bang Awan di rumah hanya ngopi, tidur dan bermain ponsel saja. Setelah mandi serta berpakaian Aku segera ke warungnya bu Siti yang merupakan warung kecil di depan kontrakan kami. Berharap bisa ngutang apa saja. Aku berjalan dengan langkah bingung, apa iya Bu Siti mau ngutangin? Aku malu, ya Aku malu sekali sebenarnya, karena kami berdua belum cukup lama tinggal di sini. Takutnya Bu Siti ngak percaya! Maklumlah zaman sekarang sulit sekali cari orang yang jujur walaupun ada tapi kemungkinan hanya beberapa persen. "Bu," panggilku pelan. "Eh kamu Asti, mau beli apa?" Tanyanya sambil tersenyum ramah. "Anu bu." Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.Beberapa bulan setelah kami kembali ke tanah air, aku menerima undangan untuk menghadiri reuni akbar SMA di mana aku dulu bersekolah. Awalnya aku ragu untuk pergi, mengingat kenangan masa sekolah yang tidak terlalu menyenangkan. Dulu, saat aku masih duduk di bangku sekolah, aku seringkali diremehkan dan dihina oleh teman-temanku karena latar belakang keluargaku yang sederhana. Banyak dari mereka yang mengira aku tidak akan bisa mencapai apa-apa dalam hidupku.Namun, setelah memikirkannya dengan matang, aku memutuskan untuk pergi. Aku ingin bertemu dengan teman-teman lamaku, dan aku juga ingin menunjukkan bahwa siapa pun bisa meraih kesuksesan asalkan memiliki tekad dan semangat yang kuat. Dion mendukung keputusanku dan bahkan menemaniku pergi ke acara reuni itu.Saat kami tiba di lokasi acara, suasana terlihat sangat meriah. Banyak orang yang sudah berkumpul, bercerita dan saling menyapa satu sama lain. Begitu aku masuk ke ruangan, semua orang yang ada di sana menoleh ke arahku dengan
Lima tahun berlalu begitu cepat. Masa tugas Dion di luar negeri pun telah berakhir dengan hasil yang jauh melampaui harapan. Proyek pusat distribusi yang dia pimpin tidak hanya berhasil dibangun tepat waktu, tapi juga beroperasi dengan sangat sukses dan memberikan keuntungan yang besar bagi perusahaan. Bahkan, jaringan bisnis kami kini telah menjangkau hampir seluruh benua Eropa, Asia, dan Amerika.Hari yang kami nantikan pun tiba. Hari di mana kami akan kembali ke tanah air, ke rumah dan keluarga yang telah kami rindukan selama ini. Semua barang-barang kami sudah dikemas rapi, dan kami siap untuk meninggalkan kota yang telah menjadi rumah kedua kami selama lima tahun terakhir.Kiano dan Kayla sudah tidak sabar menunggu. Mereka yang dulu masih kecil kini telah tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri, cerdas, dan fasih berbicara dalam beberapa bahasa. Mereka terus menatap ke luar jendela mobil dalam perjalanan menuju bandara, tidak sabar untuk bertemu dengan Kakek, Nenek, dan kerabat lai
Selama kami tinggal di luar negeri, aku tidak hanya sibuk mengurus keluarga dan mengembangkan bisnis secara umum. Aku juga terus menekuni hobi dan keahlianku di bidang desain yang sudah aku cintai sejak lama. Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga dan mengelola bisnis, aku selalu meluangkan waktu untuk menciptakan desain-desain baru yang unik dan menarik.Awalnya, aku hanya membuat desain-desain itu untuk keperluan pribadi dan keluarga, atau untuk dijual dalam skala kecil kepada teman-teman dan kenalan. Namun, seiring berjalannya waktu, kualitas desain-desainku semakin baik dan semakin dikenal oleh banyak orang. Banyak orang yang menyukai gaya desainku yang memadukan unsur budaya Indonesia dengan sentuhan modern, sehingga desain-desainku terlihat unik dan berbeda dari yang lain.Suatu hari, sebuah perusahaan mode internasional yang terkenal melihat hasil karyaku di media sosial. Mereka sangat terkesan dengan keunikan dan kualitas desain-desainku, sehingga mereka menghubungiku untuk
Beberapa bulan kemudian, kesibukan di kantor semakin meningkat seiring dengan perkembangan perusahaan yang semakin pesat. Suatu sore, saat kami sedang duduk santai di ruang tamu rumah setelah makan malam, Dion menerima telepon dari salah satu mitra bisnisnya yang berasal dari luar negeri. Wajahnya yang tadinya santai perlahan berubah menjadi serius saat mendengarkan penjelasan di telepon.Setelah percakapan itu berakhir, Dion terdiam sejenak sambil memegang ponselnya. Aku yang melihatnya segera bertanya, "Ada apa, Dion? Apakah ada masalah dengan bisnis?"Dion menghela napas panjang, lalu menatapku dengan tatapan yang bingung. "Bukan masalah, Sayang. Justru sebaliknya. Aku baru saja ditawari untuk menangani proyek pembangunan pusat distribusi terbesar perusahaan kita di Eropa. Proyek ini sangat besar dan akan membawa kemajuan yang luar biasa bagi perusahaan kita. Tapi ada syaratnya: aku harus tinggal di sana selama tiga sampai lima tahun untuk mengawasi semua prosesnya secara langsung.
Pagi-pagi sekali perutku tiba-tiba mulas aku tak bisa menundanya lagi untuk buang hajat, sampai pukul tujuh tiba dan Kinan beserta Teguh selesai sarapan namun perut mulas ku belum juga reda. "Mbak, mbak tidak apa-apa?" Tanya Kinan sedikit khawatir karena di lihatnya aku tak juga beranjak dari toi
Ruang kantor Dion tak begitu jauh dari tangga utama, aku mengikutinya dengan perasaan yang tak menentu, tentu saja aku gugup bukan main aku tak ingin dia tahu segala hal dan tentu saja aku berharap bisa melupakan dia selamanya bukan untuk hari ini tapi selama sisa umurku. Dion membuka pintu dan ber
"Dion, bagaimana keadaan kamu sekarang apakah kamu benar-benar sudah sehat?" Tanya Pras sehari setelah mereka kerumah sakit. "Sudah jauh lebih baik." Jawab Dion kala itu yang masih duduk di atas ranjang king size miliknya. Prastio berkunjung kerumah Dion hanya ingin mengetahui bagaimana kabar
"Dion ini aku." Cercanya langsung. "Bagaimana kabarmu hari ini? Aku akan memeriksa kakinya dan mungkin juga kau harus melakukan pijat refleksi lagi." Tanya Pras pelan. Dion menoleh dan memberinya senyum. "Kau tahu bahwa hari ini aku baik-baik saja." Dion berkata sambil meletakkan pelan cangkir ko












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.