Share

Bab 3

Author: ZZ
Shania merangkak bangun dalam diam, lalu menepuk-nepuk debu yang menempel di tubuhnya.

Karena kepergian dua orang itu, dia terpaksa harus menyelesaikan sisa tahapan praktik seorang diri dalam keheningan.

Dia menjadi orang terakhir yang meninggalkan laboratorium.

Setelah mengumpulkan laporan praktik, Shania merasakan rasa anyir darah bergolak hebat di tenggorokannya, membuat dia bergegas lari ke kamar mandi.

Benar saja, dia kembali muntah darah dalam jumlah banyak.

Dia menyalakan kran air, menatap darah merah segar yang hanyut terbawa aliran air dengan wajah pucat pasi seputih kertas.

Baru saja bersiap untuk keluar bilik, tiba-tiba terdengar suara "klik" dari luar, pintu bilik kamar mandi itu dikunci mati oleh seseorang!

Detik berikutnya, seember air kotor yang dingin menusuk tulang diguyur dari atas, membasahi sekujur tubuhnya dari kepala hingga kaki!

Dari luar pintu terdengar suara makian beberapa siswi dengan nada sinis dan kejam.

"Anak pelakor! Benar-benar nggak tahu malu!"

"Ibunya sendiri nggak tahu malu ngegoda ayah orang sampai bikin keluarga Yuga hancur berantakan, sekarang dia sendiri malah mau celakain Velen?"

"Kenapa kamu nggak mati aja sih! Hidup cuma jadi polusi udara!"

"Sana diam di dalam dan introspeksi diri baik-baik!"

Shania menggedor pintu bilik dengan sekuat tenaga, "Lepasin aku! Buka pintunya!"

Namun, di luar hanya terdengar suara tawa ejekan yang perlahan menjauh. Seberapa keras pun Shania menggedor dan berteriak, tidak ada seorang pun yang menyahut.

Pada akhirnya, dia terpaksa mengandalkan sedikit trik kecil yang dulu pernah dia pelajari secara asal-asalan dari Yuga untuk membongkar kunci pintu dengan susah payah.

Ketika dia kembali ke kelas dalam kondisi basah kuyup dan berantakan, pelajaran ternyata sudah berjalan selama 20 menit.

Guru yang sedang mengajar sontak naik pitam begitu melihat penampilannya yang mengenaskan, "Shania! Kamu kenapa? Kenapa terlambat lama sekali? Kenapa juga penampilanmu berantakan kayak hantu begini!"

"Bu, saya tadi dikunci orang di dalam kamar mandi ...." Shania mencoba menjelaskan.

"Dikunci? Memangnya siapa yang kurang kerjaan kunci kamu? Kalau mau cari alasan, cari yang masuk akal sedikit!" Guru itu sama sekali tidak percaya. Dengan penuh amarah, dia menunjuk ke arah luar pintu, "Kalau nggak niat mengikuti pelajaran, nggak usah masuk! Sekarang juga pergi berdiri di luar! Berdiri di sana selama 2 jam penuh baru boleh masuk!"

Shania mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dia tahu pembelaan diri tidak akan ada gunanya. Jadi, dia hanya bisa pasrah dalam diam menuju koridor di luar kelas untuk menjalani hukuman berdiri.

Begitu bel istirahat berbunyi, para murid dari berbagai kelas langsung berhamburan keluar.

Melihat Shania yang berdiri di sana dengan tubuh basah kuyup serta wajah pucat pasi, mereka berbondong-bondong melayangkan tatapan penasaran, merendahkan, atau sekadar menjadikannya tontonan.

"Lho? Kenapa dia bisa sampai kayak begitu?"

"Mana tahu, palingan mau meniru ibunya buat goda pria lagi?"

"Ckck, buah memang jatuh nggak jauh dari pohonnya ...."

"Jauh-jauh dari dia deh, najis ...."

Berbagai gunjingan tajam itu menusuk telinga Shania layaknya jarum.

Dia tidak sanggup menerima cara mereka menghinanya, terlebih lagi dia tidak sudi mereka merendahkan ibunya yang kini entah berada di mana.

Namun, apa yang bisa dia perbuat?

Dia tidak memiliki kesempatan untuk membela diri. Shania hanya bisa menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga rasa anyir darah kembali merebak di dalam mulutnya, memaksa dirinya sendiri untuk menanggung semua ini.

Tepat di saat dia hampir tenggelam oleh limpahan tatapan dan gunjingan tersebut, sebuah suara dingin yang sangat familier tiba-tiba terdengar ....

"Ngapain berdiri di situ? Sini."

Shania tersentak dan mendongak.

Dia melihat Yuga yang mengenakan seragam sekolah bersih dan rapi, sedang berdiri di dekat tangga yang tidak jauh dari sana.

Sinar matahari jatuh menerpa tubuh Yuga, mempertegas siluet wajahnya yang tampan.

Raut wajah pria itu masih sedingin biasanya, tetapi nadanya ... tampak tidak sekaku yang sudah-sudah.

Untuk sesaat, Shania merasa linglung.

Dia seolah ditarik kembali ke masa lalu yang sudah sangat lama berlalu. Kala itu Yuga juga kerap berdiri di ujung tangga sambil mengulurkan tangan kepadanya. Dengan sekotak susu stroberi kesukaannya di tangan, Yuga akan berkata menggunakan tatapan mata pasrah sekaligus penuh kasih sayang, "Ngapain berdiri bego di situ? Sini."

Seolah terhipnotis oleh ilusi tersebut, Shania menyeret tubuhnya yang didera rasa sakit dan melangkah maju mendekatinya selangkah demi selangkah.

Begitu tiba di hadapan Yuga, dia mendongak untuk menatap sepasang mata pria itu yang dalam. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, bahkan sempat tumbuh secercah harapan kecil yang begitu menyedihkan.

Apa ... dia ... akhirnya ....

Yuga menatap Shania yang kian mendekat. Tatapan matanya menyapu pakaian Shania yang basah kuyup serta wajahnya yang pucat tanpa emosi sedikit pun, lalu berucap dengan dingin, "Kenapa kamu nyiram larutan basa ke tangan Velen?"

Hati Shania seketika mencelos. Ternyata ... ujung-ujungnya tetap demi Velen.

Secara refleks dia menjelaskan, "Aku nggak sengaja, itu karena aku sa ...."

Kata "sakit" bahkan belum sempat terucap dari mulutnya, tapi raut wajah Yuga sudah mendadak berubah menjadi sangat masam dan mengerikan!

Pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan dan mendorong tubuh Shania dengan sangat kasar!

Shania sama sekali tidak menduga Yuga akan langsung bermain fisik. Dia seketika kehilangan keseimbangan, lalu menjerit histeris seiring dengan tubuhnya yang menggelinding jatuh dari anak tangga yang panjang!

"Buk! Brak! Gedubrak!"

Tubuhnya menghantam anak tangga yang dingin dan keras berulang kali. Rasa sakit yang teramat sangat seketika menyerang dari segala arah. Luka lama dan cedera baru yang bertumpang tindih membuat dia merasa seluruh tulang di tubuhnya hancur berkeping-keping!

Hingga akhirnya, dia terkapar mengenaskan setelah menghantam lantai dasar, tidak berdaya dengan napas yang terasa sangat sesak akibat menahan sakit.

Dengan sisa tenaganya, Shania mendongak tidak percaya ke arah atas tangga.

Yuga melangkah turun dengan santai selangkah demi selangkah, lalu berhenti tepat di hadapannya. Pria itu berjongkok dengan tatapan mata yang tampak gusar dan sedingin es.

"Shania, ibumu udah bikin ibuku mati." Suaranya tidak tinggi, tapi setiap kata yang keluar terasa bagai bilah pisau yang mencabik-cabik hatinya yang memang sudah hancur, "Sekarang, kamu malah mau celakain pacarku juga."

"Kalian ibu dan anak benar-benar petaka di hidupku. Apa kalian sengaja datang buat nagih utang sama aku?"

"Apa kalian nggak bakal puas kalau belum bikin aku hancur?"

Shania terlampau sakit hingga tidak mampu mengeluarkan suara. Air matanya bercampur dengan darah yang mengalir dari dahi, mengaburkan pandangannya.

Pada satu momen itu, dia bahkan merasa bahwa mati di tangan Yuga seperti ini pun tidak ada salahnya. Biar semuanya selesai sekalian.

Menatap kondisi Shania yang tampak sekarat dan bersimbah darah, sepasang mata Yuga sempat berkedip sekilas, memancarkan kilatan rasa tidak tega yang amat kompleks, tapi pada akhirnya emosi itu kembali tertutup oleh kabut kebencian yang lebih pekat.

Dia mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi ruang kesehatan sekolah.

"Shania, ingat baik-baik omonganku hari ini. Jangan pernah berani nyentuh Velen lagi, walau cuma seujung jari. Kalau kamu dendam sama pembalasanku hari ini, kamu boleh aduin aku ke kepala sekolah. Aku nggak masalah kalau nggak usah ikut ujian kelulusan." Dia bangkit berdiri, menatap Shania dari posisinya yang tinggi dengan nada suara yang terkesan abai dan dingin, "Toh, keluargaku juga udah hancur total gara-gara kamu."

Usai melontarkan kalimat itu, dia tidak sudi melirik Shania lagi, lalu berbalik dan melangkah pergi tanpa ragu.

Shania tergeletak di atas lantai yang dingin. Menyaksikan punggung pria itu yang kembali pergi dengan begitu tega dari dunianya, dia tiba-tiba tertawa lirih, meski air matanya justru mengalir kian deras.

Yuga ... oh, Yuga ....

Apa kamu tahu ....

Orang yang benar-benar tidak akan bisa mengikuti ujian kelulusan ....

Itu aku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 22

    Di hari-hari setelahnya, dia tetap berjalan membuntuti di belakang Shania, tapi tidak lagi berani maju mendekat secara gegabah.Dia menatap Shania yang selalu datang sangat pagi untuk membaca buku di kelas, melihat gadis itu fokus mengerjakan soal saat jam istirahat, dengan seluruh pikirannya yang hanya tercurah untuk belajar.Saat ada siswa pria yang memanfaatkan kesempatan ketika Shania sedang keluar untuk menyelundupkan surat cinta ke dalam laci mejanya, Yuga akan langsung mengambil surat tersebut pada kesempatan pertama untuk dibuang ke tempat sampah.Saat ada siswi yang sengaja menyembunyikan buku pelajaran milik Shania, Yuga akan mencarinya secara diam-diam lalu meletakkannya kembali ke dalam laci meja Shania.Bahkan saat Velen tidak terima dan berniat mencari masalah dengan Shania, Yuga langsung menghadangnya dengan tatapan dingin."Jauh-jauh dari dia, atau jangan salahin kalau aku nggak bakal tinggal diam."Velen merasa sangat kesal sekaligus kecewa, "Yuga, kamu sebenarnya kena

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 21

    Tetangga itu ... bukankah adalah ayahnya sendiri?Dan tante itu, tidak lain adalah ibunya Shania!Ternyata kejadian di masa lalu sama sekali bukan kesalahan ibu Shania!Ayahnyalah yang sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memperkosa ibu Shania. Ayahnyalah yang sudah menghancurkan dua keluarga sekaligus!Sementara dirinya, justru karena pengecut dan tidak berani menghadapi aksi kejahatan sang ayah, tega melimpahkan seluruh kebenciannya kepada Shania.Membiarkan korban yang sesungguhnya menanggung seluruh penderitaan itu!"Ayah ... Shania ...." Yuga terduduk lemas di atas lantai sembari kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, melontarkan raungan kepedihan yang teramat parah.Dia sudah salah dengan teramat parah, salah hingga tidak bisa dimaafkan lagi!Dia membeli seikat bunga krisan putih, lalu berdasarkan alamat yang pernah diucapkan oleh teman sekelasnya dulu, dia berhasil menemukan area pemakaman Shania.Di atas batu nisan tidak tertera foto apa pun

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 20

    Setelah Velen pergi, Yuga membawa pulang semua barang miliknya, menyisakan kesunyian yang memenuhi seisi rumah megah itu.Dia meletakkan foto kematian serta buku harian Shania di atas meja teh ruang tamu, lalu mengeluarkan seluruh persediaan alkohol dari lemari minumannya.Anggur merah, alkohol tradisional, hingga wiski.Apa pun jenis minuman yang bisa mematikan fungsi sarafnya, semua dia keluarkan.Tutup botol minuman berjatuhan ke atas lantai dengan suara "buk, buk". Dia mengambil sebotol alkohol tradisional, lalu menenggaknya dalam sekali tegukan besar langsung dari mulut botol.Cairan yang terasa membakar itu menyengat kerongkongannya, namun tidak mampu meredakan rasa sakit yang merajai lubuk hatinya.Dia menenggak minumannya gelas demi gelas, membuat tumpukan botol kosong di atas lantai kian hari kian bertambah banyak, menumpuk dari ruang tamu hingga ke area balkon.Tumpahan cairan alkohol membasahi lantai di mana-mana, membuat udara di sekelilingnya dipenuhi aroma alkohol yang te

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 19

    Di dalam kamar tidur Shania, gorden tampak tertutup rapat, hanya menyisakan berkas cahaya samar yang menyelinap masuk dari celah kain.Yuga meringkuk di atas lantai sembari mendekap erat buku harian serta foto kematian Shania di dalam pelukannya, sudah tidak bergerak sama sekali selama tiga hari penuh.Selama tiga hari ini, dia tidak makan dan minum, juga tidak tidur ataupun beristirahat, membuat air matanya sudah lama mengering tanpa sisa.Di dalam otaknya terus memutar kembali setiap rekaman gambar dari kamera pengawas, memutar kembali untaian kalimat di dalam buku harian Shania, serta memutar kembali seluruh tindakan kejam yang pernah dilancarkannya kepada Shania.Mendorong gadis itu dari tangga, memaksa lari keliling lapangan sambil menggendong kantong pasir, mendiamkan gadis itu disiram air kotor tanpa berbuat apa-apa ....Setiap kali kenangan itu melintas, rasa sakit di hatinya kian bertambah hebat, seolah-olah hendak mencabik-cabik tubuhnya sampai hancur."Nia ... maaf ...." uca

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 18

    Dia akhirnya paham kenapa Shania tidak pernah lagi membela diri setelah itu.Shania tahu dia tidak akan percaya, tahu bahwa di dalam benak pria itu, dirinya akan selalu menjadi anak dari seorang "pendosa" yang selamanya harus dihukum.Sementara Velen, wanita yang selama ini dia kira lemah lembut dan baik hati.Tidak hanya memfitnah Shania menyontek, bahkan masalah kartu ujian pun ternyata hasil rekayasanya sendiri!Perempuan itu sengaja menyembunyikan sobekan kartu ujian di dalam tas Shania, lalu sengaja menangis di hadapannya sambil bersikap seolah sudah dizalimi oleh Shania.Semua itu karena Velen sudah memperhitungkan bahwa dia membenci Shania, sehingga pasti akan langsung berpihak kepadanya tanpa ragu.Dia ternyata sudah dibodohi oleh Velen selama 10 tahun, bahkan ikut mendorong Shania ke dalam neraka yang lebih dalam!"Velen ...." Yuga mengatupkan giginya kuat-kuat dengan bagian putih mata yang sudah dipenuhi guratan darah, seiring dengan amarah yang bergolak hebat di dalam dada.

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 17

    Dia bahkan buat berdiri saja sudah kesusahan, bahkan sudah tidak punya tenaga untuk sekadar bertahan hidup, bagaimana mungkin dia punya energi buat mencuri dan menyobek kartu ujian?Bagaimana mungkin dia ada pikiran untuk mencelakai Velen?"Aku benar-benar bodoh ...." Yuga mengangkat tangan untuk menangkup wajahnya, nadanya dipenuhi keputusasaan dan penyesalan mendalam.Dia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya yang gemetaran membuat dia beberapa kali salah menekan nomor, hingga akhirnya berhasil menghubungi asistennya."Segera cari tahu! Selidiki masalah Shania yang dituduh menyobek kartu ujiannya Velen sebelum ujian kelulusan 10 tahun yang lalu!"Nada suara Yuga terdengar parau, tapi menyiratkan perintah yang tidak boleh dibantah."Periksa rekaman kamera pengawas di rumah Shania dulu. Nggak peduli pakai cara apa pun, kamu harus temukan rekamannya!"Asistennya belum pernah mendengar Yuga berbicara dengan nada seperti ini, sehingga tidak berani menunda dan bergegas menyahut."Baik, Pak Yug

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status