공유

Bab 2

작가: ZZ
"Kanker lambung ... stadium akhir?"

Shania benar-benar terpaku, otaknya mendadak kosong.

Ternyata ... penyebab berat badannya turun drastis belakangan ini, wajahnya yang pucat pasi hingga menakutkan, rasa mual dan muntah yang terus datang, bahkan sampai diam-diam memuntahkan bercak darah.

Semua itu bukan karena stres menghadapi tekanan belajar, juga bukan karena dia dirundung terlalu kejam.

Melainkan karena kanker.

Dia ternyata …. terserang kanker!

Namun anehnya, saat mendengar kabar tersebut, dia tidak merasakan ketakutan atau keputusasaan yang hebat seolah dunia kiamat, melainkan sebuah kesedihan mendalam yang terasa mati rasa.

Dia menatap dokter dengan suara yang lirih bagai helai bulu, "Dokter ... kalau, saya nggak berobat ... berapa lama lagi saya bisa bertahan hidup?"

Dokter itu mengernyitkan dahi dalam-dalam, menatapnya dengan nada tidak setuju, "Anda masih sangat muda! Gimana bisa nggak mau berobat? Kalau Anda jalani pengobatan secara intensif ...."

"Tolong kasih tahu saya, berapa lama lagi saya bisa hidup?" Shania mengulanginya dengan gigih, tatapan matanya tampak kosong.

Dokter itu menghela napas, hingga akhirnya berkata pasrah, "Paling lama satu bulan."

Satu bulan ....

Jantung Shania seketika berdesir tajam.

Satu bulan lagi adalah waktu pelaksanaan ujian kelulusan sekolah.

Dulu, dia dan Yuga pernah berdiri berdampingan di atap sekolah, menunjuk ke arah semburat senja yang paling indah di kejauhan, lalu berjanji untuk mengikuti ujian kelulusan bersama, masuk ke universitas impian mereka bersama, melangkah menuju masa depan yang sudah berkali-kali mereka khayalkan.

Namun kini, di usianya yang baru menginjak delapan belas tahun, dia justru divonis hukuman mati.

Kehidupannya akan terhenti selamanya di musim panas ini.

Bahkan untuk sekadar ikut ujian kelulusan pun ... dia sudah tidak mampu lagi.

Kalau Yuga mengetahui kabar ini, bagaimana ekspresi pria itu nanti?

Apakah dia akan merasa sedikit sedih ... atau malah ....

Sudut bibir Shania menyunggingkan senyum ejekan pada diri sendiri yang teramat tipis dan getir.

Pria itu pasti akan merasa senang.

Yuga begitu membencinya.

Membenci ibu Shania yang sudah menghancurkan keluarganya, membenci dirinya yang sempat mengisi semua keindahan masa lalu pria itu.

Kalau dia mati, Yuga seharusnya menjadi orang yang paling bahagia di dunia ini.

Baguslah kalau begitu.

"Saya nggak mau berobat." Shania mendadak menjadi tenang, dia langsung mencabut jarum infus di punggung tangannya, lalu bersiap untuk turun dari ranjang.

Dokter dan suster bergegas menahannya, "Eh! Kamu ini, Nak! Gimana bisa nggak mau diobati? Setidaknya kamu harus diskusikan hal ini sama keluargamu dulu!"

"Saya udah nggak punya keluarga lagi," ucap Shania pelan sambil menepis tangan mereka, lalu berjalan pincang meninggalkan rumah sakit dengan keras kepala.

Ibu satu-satunya yang dia miliki sudah kabur bersama ayah Yuga dan menelantarkannya.

Mana mungkin dia masih memiliki rumah untuk pulang.

Begitu kembali ke sekolah, kelas kebetulan sedang melangsungkan pelajaran praktik kimia.

Shania menyeret tubuhnya yang kesakitan menuju laboratorium, tetapi tanpa diduga, dia justru ditempatkan dalam satu kelompok yang sama dengan Yuga dan Velen.

Pemuda yang dulu bahkan selalu menggenggam erat tangannya setiap kali melakukan praktik karena takut dia terkena cipratan zat kimia, kini bahkan enggan untuk sekadar meliriknya.

Sepanjang sesi, Yuga hanya berbicara dengan suara rendah kepada Velen, membimbing perempuan itu melakukan praktik dengan sangat teliti, seolah-olah Shania hanya makhluk tak kasat mata.

Sementara Shania, akibat gerogotan penyakit kanker serta luka di tubuhnya yang belum sembuh, tangannya terus gemetar tanpa bisa dikendalikan.

Tepat ketika dia mencoba mengangkat sebuah gelas kimia berisi larutan basa pekat, pergelangan tangannya mendadak lemas ....

"Prangg!"

Gelas kimia itu terlepas dari tangannya lalu membentur meja praktik, cairan basa pekat yang menyengat seketika tepercik keluar, dan sebagian besarnya mengenai punggung tangan Velen yang berada di dekatnya!

"Ah!"

Velen spontan menjerit histeris karena kesakitan, air matanya langsung meleleh keluar. Punggung tangannya memerah seketika dalam sekejap mata.

Wajah Yuga langsung menggelap hingga ke titik nadir, dia menendang kursi Shania dengan kasar!

Shania yang tidak siap seketika jatuh tersungkur bersama kursinya ke lantai, siku tangannya membentur permukaan lantai yang dingin hingga membuatnya meringis menahan sakit.

"Shania! Kamu bosan hidup?!" Suara Yuga terdengar begitu kejam, tatapan matanya tampak bengis seakan ingin mengoyak tubuh perempuan itu.

"Maaf, aku nggak sengaja ... tanganku gemetaran ...." Shania menahan rasa sakitnya dan bergegas memberikan penjelasan.

Namun, Yuga sama sekali tidak mau mendengarkan!

Dia langsung menarik tangan Velen, membawanya ke bawah kran air untuk membasuhnya dengan air mengalir dalam jumlah banyak. Gerakannya begitu cepat dan cekatan, dengan gurat kecemasan serta rasa khawatir yang tidak disembunyikan sama sekali di wajahnya.

"Sakit ... Yuga, sakit banget ...." Velen menangis terisak-isak.

"Tahan sebentar ya, sebentar lagi sembuh, jangan takut." Suara Yuga terdengar begitu lembut dan penuh kesabaran, jenis suara yang belum pernah Shania dengar sebelumnya.

Setelah selesai melakukan penanganan darurat dengan cepat, Yuga langsung menggendong Velen yang masih menangis sesenggukan. Tanpa melirik sedikit pun ke arah Shania yang terkapar di lantai, dia melangkah lebar-lebar untuk membawa Velen ke ruang kesehatan.

Saat tiba di depan pintu, dia baru seperti teringat sesuatu. Dia menghentikan langkahnya, lalu menoleh untuk menatap Shania dengan dingin.

Tatapan mata itu terasa sedingin es yang menusuk, penuh dengan ancaman serta rasa jijik.

"Shania, kalau kamu berani menyakiti Velen sekali lagi, aku pastikan kamu akan merasakan kesakitan yang sepuluh kali lipat dari hari ini."

Setelah mengatakan itu, dia mendekap Velen dan pergi tanpa sekali pun menoleh lagi.

Shania terduduk lemas di lantai, siku dan lututnya terasa sangat sakit, tapi semua itu tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan rasa sakit di dalam hatinya.

Tidak disangka, setelah kejadian kelam itu berlalu, ini adalah pertama kalinya Yuga berinisiatif mengajaknya berbicara ....

Ternyata hanya demi mengancam dirinya, demi membela perempuan lain.

Tampaknya, di dalam hati pria itu, memang sudah tidak ada lagi tempat tersisa untuknya.

Benar juga, ibunya sudah menjadi penyebab tidak langsung atas kematian ibu Yuga, bahkan membawa kabur ayahnya. Yuga sudah telanjur membencinya, jadi mana mungkin masih menyisakan perasaan untuknya meski hanya sedikit?

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 22

    Di hari-hari setelahnya, dia tetap berjalan membuntuti di belakang Shania, tapi tidak lagi berani maju mendekat secara gegabah.Dia menatap Shania yang selalu datang sangat pagi untuk membaca buku di kelas, melihat gadis itu fokus mengerjakan soal saat jam istirahat, dengan seluruh pikirannya yang hanya tercurah untuk belajar.Saat ada siswa pria yang memanfaatkan kesempatan ketika Shania sedang keluar untuk menyelundupkan surat cinta ke dalam laci mejanya, Yuga akan langsung mengambil surat tersebut pada kesempatan pertama untuk dibuang ke tempat sampah.Saat ada siswi yang sengaja menyembunyikan buku pelajaran milik Shania, Yuga akan mencarinya secara diam-diam lalu meletakkannya kembali ke dalam laci meja Shania.Bahkan saat Velen tidak terima dan berniat mencari masalah dengan Shania, Yuga langsung menghadangnya dengan tatapan dingin."Jauh-jauh dari dia, atau jangan salahin kalau aku nggak bakal tinggal diam."Velen merasa sangat kesal sekaligus kecewa, "Yuga, kamu sebenarnya kena

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 21

    Tetangga itu ... bukankah adalah ayahnya sendiri?Dan tante itu, tidak lain adalah ibunya Shania!Ternyata kejadian di masa lalu sama sekali bukan kesalahan ibu Shania!Ayahnyalah yang sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memperkosa ibu Shania. Ayahnyalah yang sudah menghancurkan dua keluarga sekaligus!Sementara dirinya, justru karena pengecut dan tidak berani menghadapi aksi kejahatan sang ayah, tega melimpahkan seluruh kebenciannya kepada Shania.Membiarkan korban yang sesungguhnya menanggung seluruh penderitaan itu!"Ayah ... Shania ...." Yuga terduduk lemas di atas lantai sembari kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, melontarkan raungan kepedihan yang teramat parah.Dia sudah salah dengan teramat parah, salah hingga tidak bisa dimaafkan lagi!Dia membeli seikat bunga krisan putih, lalu berdasarkan alamat yang pernah diucapkan oleh teman sekelasnya dulu, dia berhasil menemukan area pemakaman Shania.Di atas batu nisan tidak tertera foto apa pun

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 20

    Setelah Velen pergi, Yuga membawa pulang semua barang miliknya, menyisakan kesunyian yang memenuhi seisi rumah megah itu.Dia meletakkan foto kematian serta buku harian Shania di atas meja teh ruang tamu, lalu mengeluarkan seluruh persediaan alkohol dari lemari minumannya.Anggur merah, alkohol tradisional, hingga wiski.Apa pun jenis minuman yang bisa mematikan fungsi sarafnya, semua dia keluarkan.Tutup botol minuman berjatuhan ke atas lantai dengan suara "buk, buk". Dia mengambil sebotol alkohol tradisional, lalu menenggaknya dalam sekali tegukan besar langsung dari mulut botol.Cairan yang terasa membakar itu menyengat kerongkongannya, namun tidak mampu meredakan rasa sakit yang merajai lubuk hatinya.Dia menenggak minumannya gelas demi gelas, membuat tumpukan botol kosong di atas lantai kian hari kian bertambah banyak, menumpuk dari ruang tamu hingga ke area balkon.Tumpahan cairan alkohol membasahi lantai di mana-mana, membuat udara di sekelilingnya dipenuhi aroma alkohol yang te

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 19

    Di dalam kamar tidur Shania, gorden tampak tertutup rapat, hanya menyisakan berkas cahaya samar yang menyelinap masuk dari celah kain.Yuga meringkuk di atas lantai sembari mendekap erat buku harian serta foto kematian Shania di dalam pelukannya, sudah tidak bergerak sama sekali selama tiga hari penuh.Selama tiga hari ini, dia tidak makan dan minum, juga tidak tidur ataupun beristirahat, membuat air matanya sudah lama mengering tanpa sisa.Di dalam otaknya terus memutar kembali setiap rekaman gambar dari kamera pengawas, memutar kembali untaian kalimat di dalam buku harian Shania, serta memutar kembali seluruh tindakan kejam yang pernah dilancarkannya kepada Shania.Mendorong gadis itu dari tangga, memaksa lari keliling lapangan sambil menggendong kantong pasir, mendiamkan gadis itu disiram air kotor tanpa berbuat apa-apa ....Setiap kali kenangan itu melintas, rasa sakit di hatinya kian bertambah hebat, seolah-olah hendak mencabik-cabik tubuhnya sampai hancur."Nia ... maaf ...." uca

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 18

    Dia akhirnya paham kenapa Shania tidak pernah lagi membela diri setelah itu.Shania tahu dia tidak akan percaya, tahu bahwa di dalam benak pria itu, dirinya akan selalu menjadi anak dari seorang "pendosa" yang selamanya harus dihukum.Sementara Velen, wanita yang selama ini dia kira lemah lembut dan baik hati.Tidak hanya memfitnah Shania menyontek, bahkan masalah kartu ujian pun ternyata hasil rekayasanya sendiri!Perempuan itu sengaja menyembunyikan sobekan kartu ujian di dalam tas Shania, lalu sengaja menangis di hadapannya sambil bersikap seolah sudah dizalimi oleh Shania.Semua itu karena Velen sudah memperhitungkan bahwa dia membenci Shania, sehingga pasti akan langsung berpihak kepadanya tanpa ragu.Dia ternyata sudah dibodohi oleh Velen selama 10 tahun, bahkan ikut mendorong Shania ke dalam neraka yang lebih dalam!"Velen ...." Yuga mengatupkan giginya kuat-kuat dengan bagian putih mata yang sudah dipenuhi guratan darah, seiring dengan amarah yang bergolak hebat di dalam dada.

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 17

    Dia bahkan buat berdiri saja sudah kesusahan, bahkan sudah tidak punya tenaga untuk sekadar bertahan hidup, bagaimana mungkin dia punya energi buat mencuri dan menyobek kartu ujian?Bagaimana mungkin dia ada pikiran untuk mencelakai Velen?"Aku benar-benar bodoh ...." Yuga mengangkat tangan untuk menangkup wajahnya, nadanya dipenuhi keputusasaan dan penyesalan mendalam.Dia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya yang gemetaran membuat dia beberapa kali salah menekan nomor, hingga akhirnya berhasil menghubungi asistennya."Segera cari tahu! Selidiki masalah Shania yang dituduh menyobek kartu ujiannya Velen sebelum ujian kelulusan 10 tahun yang lalu!"Nada suara Yuga terdengar parau, tapi menyiratkan perintah yang tidak boleh dibantah."Periksa rekaman kamera pengawas di rumah Shania dulu. Nggak peduli pakai cara apa pun, kamu harus temukan rekamannya!"Asistennya belum pernah mendengar Yuga berbicara dengan nada seperti ini, sehingga tidak berani menunda dan bergegas menyahut."Baik, Pak Yug

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status