เข้าสู่ระบบSinyal-sinyal manis di dalam kelas kosong sore itu menguap tanpa bekas begitu fajar menyingsing.
Di koridor kampus pagi ini. River kembali menjadi River yang biasa. Ramah pada semua orang, namun tak tersentuh.Saat berpapasan dengan Paris yang berjalan bersama Manda. Cowok itu hanya melempar senyum formal sekilas. Lalu lanjut tertawa bersama teman-teman jurusannya.Rasa tidak nyaman kembali merayap. Meremas dada Paris hingga terasa sesak. Sikap tarik ulur River mulaPagi ini, langit menyisakan rona abu-abu yang tenang setelah hujan semalam. Paris berdiri di depan cermin kamarnya, mematut diri dengan sweter rajut berwarna cokelat susu dan celana jins yang pas di tubuhnya. Rambutnya ia biarkan tergerai bebas. Ia sengaja memoleskan pemerah bibir dengan warna yang sedikit lebih segar dari biasanya.Hari ini, Paris memutuskan untuk mengambil kembali kendali atas dirinya sendiri. Tidak ada lagi mata sembap, tidak ada lagi jemari yang gemetar karena menunggu kabar yang tak kunjung datang. Paris menarik napas dalam-dalam, menghembuskan perlahan, lalu menyandang tas bahunya dengan semangat. Langkahnya pagi ini terasa jauh lebih ringan.Di sudut lain kota ini, River baru saja menyelesaikan urusannya. Setelah memastikan keadaan Aruna cukup tenang sejak semalam, fokusnya langsung bergeser kembali pada Paris. Ia mengambil ponsel yang sempat ia abaikan, lalu mengetikkan sebuah pesan dengan rasa percaya diri yang biasa ia miliki.River: Pagi, Paris. Gue ke kamp
Gerimis sore ini menemani langkah Paris menuju restoran milik Adrian. Sepanjang perjalanan dari kampus, bayang-bayang tentang pelukan River dan Aruna di lantai satu terus menghantui.Paris butuh tempat untuk melarikan diri dari bayang-bayang itu. Ia butuh oksigen untuk bernafas. Dan restoran milik Adrian adalah tempat yang paling tempat untuk menjadi pengalih perhatiannya.Paris mendorong pintu kaca restoran, memicu denting lonceng kecil yang manis di atasnya. Suasana di dalam belum terlalu ramai karena jam makan malam masih satu atau dua jam lagi. Beberapa pelayan yang sedang merapikan meja menoleh dan menyapanya dengan ramah."Sore, Kak. Sudah reservasi atau mau langsung cari tempat?" tanya seorang pelayan perempuan dengan celemek linen cokelat."Sore. Saya ada janji bertemu dengan Adrian. Tadi sempat berkirim pesan," jawab Paris, mencoba tersenyum se-normal mungkin.Pelayan itu langsung melebarkan senyum. "Oh, Kak Paris, ya? Mas Adrian sudah berpesan tadi. Mari, Kak, saya antar ke
Paris tidak menoleh lagi. Dadanya bergemuruh hebat, antara puas telah menjatuhkan bom mental pada Aruna, dan rasa perih yang perlahan merayap naik ke tenggorokan setelah mengetahui bahwa bagi River ia memang tidak spesial. Hanya mainan, sama seperti para gadis yang selalu terjebak pada pesonanya.Paris melangkah naik menuju lantai dua, tempat kelasnya berada. Begitu sampai di beranda lantai dua, ia melihat River berjalan menemui Aruna. Paris bisa melihat dengan jelas kebersamaan antara dua orang itu. Meski tidak bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan."Lo ngapain ke sini?" Suara River sinis dan dingin begitu ia sampai di hadapan Aruna. Matanya menatap Aruna dengan sorot menuntut penjelasan. "Gue udah bilang berkali-kali, Aruna. Jangan pernah datang ke kampus gue."Aruna menatap River dengan mata berkaca-kaca. Ia memilin ujung sweater, menampilkan gestur rapuh yang membuat siapa pun tidak tega untuk membentaknya."Karena lo nggak pernah a
"Mau lanjut lihat apa? Kita ke sana," River menunjuk pusat game center tak jauh dari tempatnya. Paris tersenyum, mengangguk patuh seraya membiarkan jemarinya kembali tenggelam dalam genggaman hangat River. Sisa malam itu dihabiskan dengan penuh tawa. Aruna kembali berusaha menelfon River namun panggilannya gagal karena River mematikan ponselnya. Sampai di rumah setelah kencan manis sore itu. Mereka seperti tidak ingin berpisah. Di rumah masing-masing mereka saling berkirim pesan. River : Gue udah sampai rumah. Langsung mau mandi. Paris : Gue justru udah mandi. Makasih yaa buat hari ini. River : Anytime. Nanti kita main lagi kayak tadi. Gue traktir pizza. Paris : Okeee banget 🥰🥰 River : Yaudah, gue mandi dulu. Selesai mandi gue chat lagi. Mereka saling berkirim pesan hingga tengah malam. Berkali-kali Aruna masih mencoba menelfon River. Namun pemuda itu sengaja men
"Besok gue jemput kuliah. Jangan hindarin gue lagi, ya."Permintaan River yang posesif itu, menyempurnakan kencan manis mereka malam ini, River benar-benar membuktikan bahwa ia peduli pada Paris.Seolah ingin menebus dosa-dosanya di masa lalu, perilaku River berubah drastis. Tidak ada lagi sosok River yang sulit dijangkau, penuh rahasia, atau tiba-tiba menghilang karena panggilan misterius. Yang ada hanyalah River yang selalu hadir untuk Paris.Perubahan itu paling terasa di kampus. Siang itu, Paris baru saja keluar dari ruang seminar ketika ia melihat sosok tinggi tegap sedang bersandar di pilar gedung fakultas, mengabaikan tatapan kagum beberapa mahasiswi junior yang lewat di depannya."Udah selesai kelasnya?" tanya River begitu Paris mendekat. Senyumannya tipis namun pandangan matanya begitu mengunci. Tanpa ragu, di depan banyak pasang mata, River mengacak rambut Paris pelan.Paris sempat tersentak, masih belum terbiasa dengan pamer ke
"Kita mau kemana nanti?" tanya River tersenyum.Paris menatap senyuman manis itu, merasakan jemari River yang kini mengusap punggung tangannya dengan lembut. Ada rasa menang yang aneh di dadanya karena berhasil membuat River mengabaikan Aruna. Benteng pertahanan yang ia bangun kembali runtuh."Terserah lo. Gue ikut aja," jawab Paris akhirnya, membiarkan senyum tipis terukir di bibir.River terkekeh, meremas pelan jemari Paris sebelum melepaskannya, lalu menghabiskan iced americano yang tinggal setengah. "Oke. Dress up yang cantik. Sore nanti gue jemput di rumah."Sore harinya, Paris berdiri di depan cermin kamar dengan hati yang berdebar tidak karuan. Rasa ragu dan curiga yang sempat menggerogoti pikirannya sejak kemarin menguap, digantikan oleh rasa antusias yang membuncah. Ia memilih mengenakan gaun kasual berwarna pastel yang manis, membiarkan rambut panjangnya tergerai alami.Sebelum melangkah keluar, pandangannya jatuh pada pergelang