LOGIN"Istriku memiliki penyakit langka. Jika kamu bisa menakhlukkan dan menyembuhkannya, maka aku akan berikan sepuluh miliar untukmu!" Bejo yang baru kerja tiga hari bekerja di rumah itu sebagai sopir pribadi pun nampak terkejut dengan apa yang diperintahkan oleh Tuan rumah. "Bagaimana caranya, Tuan?" "Bercintalah dengannya!"
View More"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan."
"Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikannya. Pria berusia 23 tahun itu pun berlari menuju kamar utama. Namun saat baru saja sampai di ujung tangga. Bejo mendengar ribut-ribut yang berasal dari dalam kamar. "Kamu kalau begini terus, gimana kita mau punya anak? Mamah tuh sudah mendesak aku. Kamu nggak paham kewajiban kamu. Percuma aku punya istri kalau kamu begini." "Mas tapi aku memang sulit menerima kamu. Sakit, Mas. Kita bisa usaha lagi, Mas. Jangan menyerah! Aku masih mau." "Mau usaha seratus kali pun kalau kamu terus menolak saat aku masukin, gimana mau bisa? Kamu taunya aku harus sabar, sabar, dan sabar. Kamu sendiri nggak bisa usahakan. Gila kamu tuh! Satu tahun aku sama sekali belum bisa menikmati tubuh kamu. Menikah tanpa bercinta, hambar rasanya, Mila!" Deg Bejo terbeliak mendengar apa yang Tuannya katakan. Satu tahun menikah belum bercinta? Gila! Betah banget. Padahal istri dari majikannya itu sangatlah cantik dan juga seksi. Mana betah melihat tanpa menikmati? "Bejo!" "Eh iya, Tuan. Saya di sini. Ada apa, Tuan?" tanya Bejo kemudian mendekati majikannya. Bejo melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka dan terlihat Nyonyanya nampak sedih. "Ikut saya ke ruang kerja!" perintah pria yang berkuasa di rumah ini. "Baik, Tuan." BRUGHH Kedua mata Bejo terbelalak melihat banyaknya uang diletakkan di atas meja kerja Tuannya. Bejo menelan kasar salivanya kemudian melirik ke arah pria matang itu yang nampak gagah dan berkharisma. "Kenapa? Mau?" Bejo meringis mendengar itu. "Siapa yang nggak mau sama uang Tuan, tapi ini maksudnya apa, Tuan?" tanya Bejo dengan sangat berhati-hati sekali. Pria itu pun terlihat duduk di kursi kebesarannya dan Bejo memperhatikan dengan sedikit membungkuk. Dalam hati Bejo masih bertanya-tanya, untuk apa uang sebanyak itu dikeluarkan dari dalam brangkas? "Duduk dulu!" "Baik, Tuan." Bejo pun segera duduk di seberang pria itu kemudian mengalihkan pandangan dari hal yang sangat menggoda di depan mata. "Istri saya mengalami penyakit langka yang tidak semua wanita mengalaminya. Saya akan kasih kamu sepuluh miliar, lebih dari yang kamu lihat saat ini kalau kamu bisa menyembuhkannya." Bejo menganga mendengar apa yang pria itu katakan. Ini Tuannya serius atau tidak sich? Dalam hati Bejo pun ragu. Penyakit apa memangnya yang diderita Nyonya? "Apa tugas saya, Tuan?" tanya Bejo tanpa ragu. Kali ini dia benar-benar penasaran karena bayaran dengan jumlah sangat banyak sudah ada di depan mata. "Gampang saja. Kamu hanya perlu menyentuh istri saya." "Me... Me... Menyentuh, menyentuh gimana maksudnya, Tuan?" "Bercintalah dengannya! Ingat, ini tugas dan perintah! Ini menjadi salah satu pekerjaanmu. Bukan hanya main-main dan ingin menikmati tubuh istri saya saja. Kalau kamu berhasil bercinta dengannya, maka uang seratus kali lipat dari apa yang kamu lihat ini akan menjadi milikmu!" Bejo semakin dibuat tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bejo melirik uang yang ada di atas meja saja sudah membuatnya menelan ludah. Godaan dunia sangat jelas di depan mata. Apalagi harus menyentuh istri orang. Apa tidak enak coba? "Maaf Tuan, tapi apa yang Nyonya derita selama ini? Maaf kalau saya lancang. Saya juga harus tau penyakit apa yang Nyonya alami agar saya tau cara menyembuhkannya." "Vaginismus." "Apa itu vaginismus, Tuan?" tanya Bejo yang sama sekali tidak tau kalau ada penyakit dengan nama seperti itu. Kedua alis Bejo menukik kala mendengar penjelasan dari Tuan Saka, pria yang akan mengubah hidupnya menjadi jauh lebih baik dengan uang sepuluh miliar. "Penyakit yang sangat langka terjadi pada wanita. Entah apa alasannya, dia tidak bisa aku masukin. Saat penetrasi dia bisa menerima tetapi saat aku hendak masuk, dia selalu kesakitan bahkan meronta dan menolak. Kamu sudah paham sekarang?" "Ta... Tapi Tuan, bagaimana kalau Nyonya menolak? Saya hanya sopir pribadi beliau dan saya baru tiga hari bekerja di sini. Kami pun belum dekat Tuan dan apa Nyonya mau dengan saya?" "Hahahaha jangan kamu pikir saya tidak tau, Bejo! Di kampus wanitamu banyak bukan? Kamu kerja untuk bisa bayar kuliah. Dengan uang yang saya berikan, tidak kuliah pun kamu tidak akan diinjak-injak orang." "Lagi pula dari segi penampilan kamu tidak buruk. Kamu tampan dan tubuhmu juga proposional. Hanya saja kurang diolah sedikit. Kamu berpendidikan, kamu bekerja karena untuk membayar kuliah bukan hanya sekedar untuk makan. Tidak buruk!" "Satu lagi, saya tidak menerima penolakan! Ini sebagian dari pekerjaan kamu. Jika tidak mau, maka kamu akan saya pecat!" Deg "Waaaahhhh jangan dong, Tuan! Bulan depan saya harus bayar semester. Nggak lucu kalau saya sampai dipecat. Nanti kuliah saya gimana. Oke saya akan terima tapi saya tidak bisa pastikan Nyonya mau dengan saya." "Itu urusan gampang! Tugasmu hanya satu, sembuhkan dia dari penyakitnya! Setelah dia bisa menerimamu maka tugasmu selesai," sahut Tuan Saka dengan santainya. Namun pertanyaan dari Bejo selanjutnya membuat pria itu hampir saja melempar vas bunga ke kepala Bejo. "Bagaimana kalau sampai Nyonya ketagihan dengan saya Tuan, terus tidak mau lepas?" Pertanyaan yang sangat berani tak mengira akan kena amuk Tuan Saka. "Mati saja kamu, Bejo!"Mereka menuju hotel yang pernah mereka singgahi tempo hari. Mereka saling memandang, kadang ingin bicara tetapi seolah ditahan. Sampai Bejo terkekeh melihat bagaimana sikap Mila padanya. Bejo mencoba fokus, tapi sepertinya wanita yang ada di sampingnya mulai ngelantur. Eh kok ada tangan yang singgah tepat di pangkal paha. Bejo melirik ke arah si Juki. Dia tersenyum melihat itu kemudian menoleh singkat memandang Mila yang tidak sama sekali melihatnya tetapi tangan mulai tak bisa diam. "Ini tangan kayaknya udah nggak sabaran. Si Juki langsung keliyengan minta keluar. Baru juga nempel, udah gendut dia. Udah lama nggak terjamah soalnya." "Emang iya? Udah lama beneran?" tanya Mila hingga menoleh dengan kedua alis terangkat padanya. "Ya iyalah! Di hotel main juga kagak." "Ya ampun kayaknya kamu dendam banget sama aku. Padahal kalau diingat-ingat sih kita ada kok main." Mila memberikan sentuhan lembut yang membuatnya mulai gelisah. Bejo sedikit mengubah posisi duduk dan b
Mila masih bersandar di pundaknya. Tangannya pun sesekali mengusap pipi Mila dengan memperhatikan wajah wanita itu dengan lekat. Kasihan, tapi kagum sama cantiknya yang makin nyantik banget. Apalagi saat hidung mancung itu terlihat merona. Pertanyaannya, kok ada manusia yang hampir sempurna ini malah disakitin? "Sebelumnya udah tau kalau Tuan sama Lira, hari ini tau juga kalau Tuan sama Bu Keysa. Terus apa Nyonya akan kembali melayani, Tuan? Dilihat-lihat kok semakin disakitin, malah semakin mencintai. Nyonya bucin sama laki-laki modelan begitu?" "Nggak gitu loh Jo!" "Ya terus gimana? Dilihatnya juga begitu. Berasa pengen saya kawinin sampai nggak bisa jalan tau nggak. Nggak paham sama pikiran Nyonya. Mana nggak mau cerita kagi," sahut Bejo dan Mila menoleh lalu memukul lengannya. "Jo kamu tuh! Aku lagi sedih loh." "Ya geregetan aja. Ada ya perempuan begitu, tapi kalau emang butuh sembuh ya saya siap sampai pagi." "Kamu lagi mencari kesempatan dalam kesempitan,
"Anda nggak tau apa-apa! Jadi anda pun jangan bicara seperti itu pada saya!" lawan Bu Keysa tak terima dengan apa yang Mila katakan. Bejo pun mendekati dan berdiri di antara keduanya. Kedatangan Bejo jelas membuat kedua wanita yang sedang bersitegang tersebut kemudian menoleh padanya tetapi hanya singkat saja. Setelah itu mereka kembali meneruskan keributan yang sudah terbangun sejak tadi. "Ya kalau gitu nggak usah minta saya untuk berbagi! Kamu yang harusnya mengerti dan bukan saya! Sekarang kamu pergi dari hadapan saya! Pergi sekarang juga! Tuntut sana Mas Saka kalau memang kamu tidak terima! Bukan saya yang harus kamu datangi, karena adanya kamu, bukan inginnya saya!" Mila segera pergi dari sana seraya mengangkat meja hendak membalikkan meja tersebut. Untungnya Bejo masih berdiri di sana. Dia menahan apa yang Mila lakukan dan memandang pergerakan majikannya yang tengah diselimuti oleh kemarahan. Bu Keysa menjatuhkan diri setelah melihat Mila pergi. Bejo menoleh memperhat
Bejo menatap heran mobil yang ada di parkiran toko roti milik Mila. Namun pikirannya, wajar saja kalau Bu Keysa mampir. Mungkin mau beli roti. Tidak expect kalau ternyata Bejo menemukan wanita itu tengah duduk bersama dengan Mila di salah satu meja. "Anjir! Perasaan gue nggak enak." Bagaimana tidak, jika dia tau semua masalah yang kedua wanita itu hadapi. Bejo tidak bertanya dan tidak mengatakan apa-apa. Dia memperhatikan dengan sangat teliti tanpa menyapa kedua wanita yang ada di hadapannya saat ini. "Mbak, saya minta maaf kalau kedatangan saya membuat anda menangis. Saya juga sakit hati. Jika Mas Saka bisa adil, saya tidak akan meminta apapun pada Mbak. Apalagi datang untuk membongkar rahasia ini." Mila menunduk dengan tubuh gemetar. Bukan hanya hancur ini namanya tetapi hatinya remuk, halus, seperti bubuk. Sungguh ini sakit yang tidak bisa dia utarakan lagi. Katanya cinta, katanya sayang, katanya cinta, kenapa malah begini kelakuannya? "Ya Tuhan... Kenapa begitu sa
"Sudah setahun lebih saya menunggu, tapi mana? Sabar! Sabar! Sabar terus! Kamu tuh bisanya cuma nyuruh orang sabar tapi kamu nggak mau berusaha! Kamu mandul 'kan?"sentak wanita tua itu hingga membuat Bejo menghentikan langkahnya. "Apaan sich? Heboh banget!" "Kalau begitu, seenggaknya kasihlah
"Gila! Yakin malam ini mulai deketin Nyonya? Berat! Berat!" gumam Bejo sesampainya kembali di rumah besar milik majikannya setelah mengantar Tuan Saka ke bandara. Bejo menatap rumah besar itu dan memutuskan untuk masuk lewat belakang. Sebelum menemui Nyonya Mila, lebih dulu Bejo mengambil makan.
"Mulai malam ini kalian harus bisa terbiasa bersama!" "Apa maksudmu, Mas?" tanya Mila dengan suara lirih tetapi penuh penekanan dan Bejo hanya menundukkan kepala melihat ekspresi dari Nyonyanya. Saat ini Bejo diminta ikut ke dalam kamar utama. Di sana terlihat sekali ranjang sedikit berantaka
"Bejo kamu dipanggil Tuan tuh! Kemana aja sich dari tadi dipanggilin nggak nyaut-nyaut. Bibi nanti ikut kena marah sama Tuan kalau kamu nggak buruan." "Ada apa sich, Bi? Saya abis mandi tadi, basah semua nyuci mobil." "Masuk dulu sana!" Bejo pun melangkah masuk ke rumah besar milik majikan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore