تسجيل الدخول"Lepasin, River. Maksud lo apa sih kayak gini?" desis Paris. Mencoba menahan suaranya agar tidak menggema di koridor yang sunyi.
Daripada menjawab, River justru mengikis jarak. Mengunci pergelangan tangan Paris yang mencoba mendorongnya."Lo yang apa-apaan. Seharian ini kenapa lo diemin gue?""Nggak usah kegeeran. Gue emang kayak gini," elak Paris.Ia memalingkan wajahnya ke samping. Enggan menatap mata River karena takut seluruh pertahanannya kembali runtuSinyal-sinyal manis di dalam kelas kosong sore itu menguap tanpa bekas begitu fajar menyingsing.Di koridor kampus pagi ini. River kembali menjadi River yang biasa. Ramah pada semua orang, namun tak tersentuh.Saat berpapasan dengan Paris yang berjalan bersama Manda. Cowok itu hanya melempar senyum formal sekilas. Lalu lanjut tertawa bersama teman-teman jurusannya.Rasa tidak nyaman kembali merayap. Meremas dada Paris hingga terasa sesak. Sikap tarik ulur River mulai membuatnya gila.Manda yang berjalan di sebelahnya mendecit pelan. Menyadari perubahan raut wajah sahabatnya."Tuh, kan. Gue bilang juga apa, Par. Lo jangan mau digantungin sama pesona semu kayak gitu. Biar lo melek dan lihat sendiri gimana River yang aslinya. Ntar sore semua anak-anak kita ajak kumpul di rumah lo. Gue juga bakal ngundang anak jurusan lain. Lihat siapa yang ntar malam datang."Paris hanya diam, tidak mampu menolak karena sebagian kecil dari hatinya juga m
"Lepasin, River. Maksud lo apa sih kayak gini?" desis Paris. Mencoba menahan suaranya agar tidak menggema di koridor yang sunyi.Daripada menjawab, River justru mengikis jarak. Mengunci pergelangan tangan Paris yang mencoba mendorongnya."Lo yang apa-apaan. Seharian ini kenapa lo diemin gue?""Nggak usah kegeeran. Gue emang kayak gini," elak Paris.Ia memalingkan wajahnya ke samping. Enggan menatap mata River karena takut seluruh pertahanannya kembali runtuh begitu saja. Rasa kesal yang ia pendam sejak di kantin bersama Manda membuat dadanya naik turun menahan jengkel."Mending lo lepasin gue sekarang. Sana balik ke anak Kedokteran yang lo temuin di parkiran tadi pagi. Kasihan kalau dia nyariin lo."Mendengar kalimat yang meluncur ketus dari bibir Paris. River sama sekali tidak panik. Sebaliknya, keheningan lorong itu justru dipecah oleh kekehan pelan dari tenggorokan pria itu. Bahunya berguncang kecil, pertanda ia benar-benar me
Layar ponsel Paris menyala untuk yang kesekian kalinya, menampilkan waktu yang baru menunjukkan pukul dua dini hari. Paris berguling ke sisi kanan kasur."Tidur, Parisss... lo mikirin apa?" Ucapnya pada diri sendiri.Ucapan River di tepi trotoar sebelum mereka berpisah kembali berdengung di telinganya. 'Sampai ketemu besok.' Begitu kasual, begitu santai, seolah keintiman yang sempat tercipta di antara sesapan es krim stroberi dan vanila tadi hanyalah angin lalu yang menguap begitu saja.Pagi harinya, Paris terbangun dengan sepasang mata yang terasa berat dan kantung mata tipis yang tercetak jelas. Efek dari overthinking semalaman yang merutuki kebodohan hatinya sendiri karena mulai menaruh harap pada pria yang jelas-jelas mengibarkan bendera peringatan.Atmosfer riuh kantin fakultas saat jam makan siang sama sekali tidak mampu membuyarkan lamunan Paris. Ia hanya mengaduk-aduk es teh manis di hadapannya dengan sedotan. Membiarkan es batu beradu den
Keduanya berjalan di atas trotoar yang mulai basah oleh embun malam sampai menemukan toko es krim. Di dalam toko es krim yang sepi, Paris menunjuk dua sekop es krim rasa stroberi dalam mangkuk kertas. Sementara River memilih rasa vanila.Dan juga dua kantong plastik besar berisi belasan es krim batangan untuk teman-teman mereka di ruang karaoke."Jadi," River membuka suara saat mereka kembali menyusuri koridor luar pertokoan yang agak temaram. Langkahnya sengaja diperlambat, menyamakan ritme dengan langkah Paris. "Kenapa tadi bohong?"Paris menyendok es krimnya, berpura-pura sangat sibuk mengecap rasa manis dingin itu di lidahnya."Bohong soal apa?"River terkekeh rendah, suara yang selalu sukses membuat tengkuk Paris meremang. "Soal kita. Kenapa bilang nggak kenal gue?"Paris mengembuskan napas pelan, matanya menatap ujung sepatunya sendiri yang melangkah beriringan dengan sepatu milik River."Nggak ada alasan khusus. Cuma... gue nggak mau mereka tau terus jadiin itu bahan gosip sa
Paris terdiam selama beberapa detik. Uluran tangan River di depannya ia biarkan begitu saja.Otaknya mendadak macet karena tidak menyangka.Mahasiswa baru yang sejak kemarin diceritakan Manda. Pria yang diceritakan gila-gilaan oleh banyak perempuan di kampus, ternyata adalah sosok sama yang kemarin sempat membuatnya hampir terhanyut.Melihat Paris yang mematung dengan mata yang terus melihatnya. Sudut bibir River terangkat semakin tinggi. Diimbangi dengan sedikit tawa kecil, River terlihat menikmati keterkejutan gadis di hadapannya.River sengaja menggerakkan jemarinya yang masih menggantung di udara. Sebuah isyarat halus untuk menyadarkan Paris dari lamunannya. "Hai, gue River," ulangnya lagi.Suaranya merendah, bergetar renyah tepat di indra pendengaran Paris.Sentakan suara itu berhasil mengembalikan kesadaran Paris yang sempat menguap. Dengan gerakan yang sedikit kaku dan canggung, Paris akhirnya menyambut uluran tangan River
Kertas-kertas bekas diremas menjadi bola-bola kecil. Lalu dilemparkan melintasi barisan meja hingga mendarat sukses di kepala salah satu mahasiswa yang tengah tertidur.Seketika, gelak tawa pecah di sudut kanan kelas. Ruangan berkapasitas tiga puluh orang itu berisik bukan main, mirip pasar tumpah di tengah hari.Ada yang asyik bergosip, ada yang sibuk memoles lipstik, dan ada pula yang memukul-mukul meja mengikuti ritme lagu rap dari pelantang suara portabel.Manda menggeser duduknya, menyenggol lengan Paris yang sejak tadi hanya terdiam memandangi layar ponselnya yang meredup."Paris, dengerin gue," Manda menopang dagu, matanya fokus menatap wajah Paris dari samping. "Anak baru yang pindahan dari kampus sebelah itu... dia nanyain lo terus ke anak-anak. Katanya, dia sengaja nanya jadwal kelas kita biar bisa pas ketemunya."Paris menoleh, menyunggingkan senyum tipis yang tampak dipaksakan. "Palingan dia cuma mau pinjam catatan, Manda. Jangan mulai, deh.""Catatan apaan?" Manda mencibi







