Home / Male Adult / CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS / 31. PERTEMUAN PARIS & ARUNA

Share

31. PERTEMUAN PARIS & ARUNA

Author: Mystique
last update publish date: 2026-08-19 21:30:11

"Mau lanjut lihat apa? Kita ke sana," River menunjuk pusat game center tak jauh dari tempatnya.

Paris tersenyum, mengangguk patuh seraya membiarkan jemarinya kembali tenggelam dalam genggaman hangat River. Sisa malam itu dihabiskan dengan penuh tawa. Aruna kembali berusaha menelfon River namun panggilannya gagal karena River mematikan ponselnya.

Sampai di rumah setelah kencan manis sore itu. Mereka seperti tidak ingin berpisah. Di rumah masing-masing mereka salin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    31. PERTEMUAN PARIS & ARUNA

    "Mau lanjut lihat apa? Kita ke sana," River menunjuk pusat game center tak jauh dari tempatnya. Paris tersenyum, mengangguk patuh seraya membiarkan jemarinya kembali tenggelam dalam genggaman hangat River. Sisa malam itu dihabiskan dengan penuh tawa. Aruna kembali berusaha menelfon River namun panggilannya gagal karena River mematikan ponselnya. Sampai di rumah setelah kencan manis sore itu. Mereka seperti tidak ingin berpisah. Di rumah masing-masing mereka saling berkirim pesan. River : Gue udah sampai rumah. Langsung mau mandi. Paris : Gue justru udah mandi. Makasih yaa buat hari ini. River : Anytime. Nanti kita main lagi kayak tadi. Gue traktir pizza. Paris : Okeee banget 🥰🥰 River : Yaudah, gue mandi dulu. Selesai mandi gue chat lagi. Mereka saling berkirim pesan hingga tengah malam. Berkali-kali Aruna masih mencoba menelfon River. Namun pemuda itu sengaja men

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    30. HARI-HARI MANIS BERSAMANYA

    "Besok gue jemput kuliah. Jangan hindarin gue lagi, ya."Permintaan River yang posesif itu, menyempurnakan kencan manis mereka malam ini, River benar-benar membuktikan bahwa ia peduli pada Paris.Seolah ingin menebus dosa-dosanya di masa lalu, perilaku River berubah drastis. Tidak ada lagi sosok River yang sulit dijangkau, penuh rahasia, atau tiba-tiba menghilang karena panggilan misterius. Yang ada hanyalah River yang selalu hadir untuk Paris.Perubahan itu paling terasa di kampus. Siang itu, Paris baru saja keluar dari ruang seminar ketika ia melihat sosok tinggi tegap sedang bersandar di pilar gedung fakultas, mengabaikan tatapan kagum beberapa mahasiswi junior yang lewat di depannya."Udah selesai kelasnya?" tanya River begitu Paris mendekat. Senyumannya tipis namun pandangan matanya begitu mengunci. Tanpa ragu, di depan banyak pasang mata, River mengacak rambut Paris pelan.Paris sempat tersentak, masih belum terbiasa dengan pamer ke

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    29. KENCAN DENGAN RIVER

    "Kita mau kemana nanti?" tanya River tersenyum.Paris menatap senyuman manis itu, merasakan jemari River yang kini mengusap punggung tangannya dengan lembut. Ada rasa menang yang aneh di dadanya karena berhasil membuat River mengabaikan Aruna. Benteng pertahanan yang ia bangun kembali runtuh."Terserah lo. Gue ikut aja," jawab Paris akhirnya, membiarkan senyum tipis terukir di bibir.River terkekeh, meremas pelan jemari Paris sebelum melepaskannya, lalu menghabiskan iced americano yang tinggal setengah. "Oke. Dress up yang cantik. Sore nanti gue jemput di rumah."Sore harinya, Paris berdiri di depan cermin kamar dengan hati yang berdebar tidak karuan. Rasa ragu dan curiga yang sempat menggerogoti pikirannya sejak kemarin menguap, digantikan oleh rasa antusias yang membuncah. Ia memilih mengenakan gaun kasual berwarna pastel yang manis, membiarkan rambut panjangnya tergerai alami.Sebelum melangkah keluar, pandangannya jatuh pada pergelang

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    28. IDOLA BARU KAMPUS

    Membangun dinding pertahanan di depan orang yang pernah kita izinkan masuk terlalu dalam ternyata tidak pernah mudah.Sepanjang malam hingga pagi hari berikutnya, bayangan River masih saja berkelebat di kepala Paris. Setiap kali ingatan tentang tatapan River pada Aruna muncul, rasa sesak itu kembali datang.Pikiran Paris terus melayang, diawali tentang rasa sakitnya pada River hingga ingatan tentang pertemuan singkatnya dengan Adrian.Tatapan hangat Adrian dan cara pria dewasa itu memperlakukannya, perlahan menjadi pengalih perhatiannya dari sakit yang disebabkan oleh RiverEsoknya di kampus. Gosip baru tiba-tiba muncul."Sumpah, demi apa pun, lo berdua harus lihat sendiri!" suara pekikan tertahan Manda membuyarkan lamunan Paris di meja kantin siang itu.Febby yang sedang mengaduk es teh manisnya langsung mencondongkan tubuh. "Soal pemilik restoran baru di dekat belokan kampus itu lagi?""Iiyyaaaaa...... Namanya Mas Adri

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    27. PENAWAR LAIN

    Paris berjalan meninggalkan lorong kampus dengan langkah kaki seberat timah. Rasa hancur, dan tidak berharga di dadanya membuat Paris merasa begitu dingin.Langit sore mulai menggelap. Paris berjalan di trotoar dengan pikiran melayang entah kemana. Mencerminkan perasaannya yang berantakan.Di dalam kepalanya, bayangan wajah River yang panik demi perempuan bernama Aruna, lalu berubah menjadi senyuman santai penuh kebohongan dalam hitungan detik, terus berputar tanpa henti.Paris meremas tali tasnya erat-erat. Rasa tidak berharga itu mencuat begitu nyata, menyumbat tenggorokannya hingga matanya kembali memanas. Di mata River, dirinya memang tidak pernah menjadi prioritas. Hanya tempat singgah sementara yang bisa ditinggalkan kapan saja.Paris berjalan dengan pandangan kosong, melangkah lurus menatap aspal. Hingga ia tidak menyadari ada langkah kaki lebar yang datang dari arah berlawanan di belokan trotoar.Bruk!"Ah!"Pari

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    26. TIDAK BERHARGA

    Paris sengaja mematikan lampu teras depan rumahnya sejak pukul tujuh malam. Ia mengunci pintu rapat-rapat, lalu duduk bersila di atas kasur dalam kegelapan kamar yang pengap.Di tangannya, ponsel Paris bergetar beberapa kali, panggilan telepon dari River. Paris hanya menatap layar yang menyala itu dengan ekspresi kosong, membiarkannya redup dengan sendirinya hingga panggilan itu terputus.Ia lalu menurunkan pandangan pada pergelangan tangannya. Gelang semanggi berdaun empat pemberian River berkilau samar tertimpa cahaya bulan dari celah jendela.Jari-jari Paris menyentuh pengait perak gelang tersebut, berniat untuk melepasnya. Namun, begitu pengait itu terbuka, dadanya mendadak terasa begitu nyeri. Pada akhirnya, Paris kembali mengancingkan gelang itu. Ia belum cukup kuat untuk membuang satu-satunya bukti kebahagiaan semu yang ia miliki.Keesokan harinya di kampus, Paris memastikan dinding yang ia bangun kembali berdiri kokoh. Saat mereka berpapas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status