Chapter: RUMAH YANG SEDERHANA, ISTRI YANG CANTIK DAN CINTA YANG PENUH ( EPILOG )Saat pagi bersinar dengan begitu cerahnya. Lingga masih tertidur pulas setelah semalaman berjuang dengan pergulatan cinta yang tidak pernah membuatnya bosan.Srengg.. srengg.. srengg.. Suara Azalea sedang memasak makanan untuk sarapan. Aroma harum menyebar di seluruh ruangan hingga membangunkan Lingga dari tidur pulasnya.Lingga membuka matanya, meraba tempat di sebelah dengan tangannya. Tidak ada Azalea disana. Dari luar terdengar begitu berisik suara orang sedang beraktifitas. Lingga keluar untuk melihat apa yang sedang di lakukan Istrinya tersebut.Lingga berdiri bersandar di tembok melihat Istrinya sedang memasak sesuatu untuk mereka. Begitu berisik dan rumit. Namun ternyata itu hanyalah nasi goreng, tapi karena koki yang membuat itu adalah Azalea, maka bagi Lingga nasi goreng itu adalah nasi goreng paling special di dunia."Rajin banget sihh Istriku," ucap Lingga mengagetkan Azalea yang tengah fokus memasak."Ehhh.. sayang,&n
Last Updated: 2021-10-04
Chapter: HARI PALING INDAH 2 ( END )"Sabar Pak Bos!" kata Azalea."Sudah bukan Pak Bos lagi, aku kan sudah jadi orang biasa, mulai sekarang panggil aku SAYANG, harus!" sahut Lingga."Waahhh.. bukan Pak Bos tapi tetap memerintah.""Gak peduli, gak dengar," balas Lingga memalingkan wajah berpura - pura tidak mengerti. Azalea tertawa melihat tingkah Lingga yang lucu itu. Tidak lama setelah itu pelayan membawa makanan yang telah mereka pesan."Yeaahhh.. akhirnya datang. Mas lama banget sih, aku ini mau buru - buru menyelesaikan tugas penting," ucap Lingga kepada pelayan. Azalea mencubit tangan Lingga."Maaf Pak, pesanannya masih antri dimasak," jawab Pelayan itu sopan."Gak apa - apa Mas, jangan di dengerin!" sahut Azalea dengan tersenyum.Setelah itu, pelayan itu pun pergi. Lingga memakan makanannya dengan sangat lahap dan terus senyum - senyum sendiri sambil melihat Azalea."Apaaa sih?" Azalea menatap heran."Hmm.. cepat makan makananmu terus kita pulang!" j
Last Updated: 2021-10-04
Chapter: HARI PALING INDAH 1 ( END )Di dalam rumah Azalea yang sederhana. Azalea sedang membersihkan sisa - sisa make up di wajahnya. Ia menaruh bunga melati hiasan dari sanggulnya itu di salah satu sudut meja riasnya sehingga aroma bunga itu menyebar mengharumkan seisi ruangan menjadikan kamar itu layaknya khas kamar pengantin baru. Lingga sudah beberapa kali melirik Azalea dengan senyum mesumnya yang khas. Ia melepas dasi kemudian jaz dan mengganti pakaiannya dengan kaos polos berwarna putih dan celana kain yang nyaman saat dipakai untuk bersantai. Lingga sedang duduk di belakang Azalea saat Azalea selesai menghapus riasan wajahnya dan akan mengganti bajunya. Azalea mengambil baju di lemarinya kemudian berjalan menuju kamar mandi."Azalea, kamu mau kemana?" tanya Lingga."Ganti baju lah, gak nyaman terus memakai baju ini Lingga," jawab Azalea dengan sederhana."Ganti baju dimana?" tanya Lingga lagi."Di kamar mandi lahh... kan ada kamu," jawab Azalea terus masuk ke dalam kamar mandi.
Last Updated: 2021-10-04
Chapter: HARI BAHAGIA"Apa kamu bersedia hidup dengan sederhana bersamaku?" tanya Lingga."Aku tidak apa - apa hidup sederhana, aku terbiasa dengan itu tapi kamu kan tidak" jawab Azelea."Maaf karena aku tidak bisa memberimu hidup yang mewah tapi aku berjanji akan memberimu hidup yang baik dan aku sangat mencintaimu, karena itu hanya dengan bersamamu saja hidupku sudah indah, aku tidak membutuhkan apapun lagi," Lingga berkata dengan senyum bahagia.Semua yang ada disana mendengarkan pembicaraan Lingga dan Azalea. Bisma dan Arum terkejut dengan keputusan yang dipilih oleh Lingga. Bisma akhirnya mengerti kenapa Raden Arya dan Utari memilih jatuh ke jurang bersama - sama. Karena mereka tidak bisa hidup jika mereka terpisah. Cinta dalam hati mereka begitu kuat dan penuh. Hingga tidak ada yang lebih penting selain bersama dengan orang yang dicintainya.Wajah Raden Wisnu begitu datar mendengar percakapan Lingga dan Azalea, ia sudah membaca kisah antara Raden Arya dan Utari. Te
Last Updated: 2021-09-30
Chapter: AWAL YANG BARU"Lakukan apapun yang membuat hatimu lega namun jangan pernah meninggalkan keluargamu, kamu tahu kan bahwa tidak baik meninggalkan keluarga sendiri, seburuk apapun mereka, mereka tetaplah keluarga," ingat Azalea."Aku tidak meninggalkan mereka, aku hanya tidak ingin bersama dengan mereka," jawab Lingga.Tringgg.. tringg.. tringg..Suara handphone Lingga berbunyi. Sebuah panggilan dari Raden Wisnu."Halo, Romo," Lingga berkata dengan nada yang begitu datar."Halo Lingga anakku, aku tahu engkau tengah bersedih tapi bisakah kamu datang untuk makan bersama nanti malam," ucap Raden Wisnu dalam telponnya."Aku tidak ingin Romo," jawab Lingga."Ini sebuah perintah, bukan permintaan, jadi nanti malam datanglah kerumah untuk makan malam bersama" balas Raden Wisnu memerintah."Jika begitu maka aku akan mengajak Azalea bersamaku," Lingga berkata dengan tegas."Terserah padamu, yang penting datanglah nanti malam!" Raden Wisnu lalu menu
Last Updated: 2021-09-30
Chapter: HARI TERGELAPSetelah kepergian Paman Pram, keluarga Kartanagara menjadi dingin. Tidak ada mulut yang bersuara, Lingga tidak kembali ke rumahnya setelah acara pemakaman Paman Pram selesai. Selama beberapa hari ia berada di rumah Azalea. Lingga berpesan pada Romonya bahwa ia ingin menenangkan diri, ia begitu sedih dengan kepergian Paman Pram. Begitu juga dengan Raden Wisnu, adik satu - satunya yang selalu ia perintah dengan seenaknya, adik yang tidak pernah diperhatikan keadaannya. Yang Raden Wisnu tahu hanyalah bisnis keluarga berjalan lancar. Nama keluarga Kartanagara begitu tersohor. Ia tidak pernah berpikir bagaimana adiknya menjalani hidup, bagaimana anaknya menjalani hidup? Raden Wisnu yang mentitipkan Lingga kepada Raden Pramoedya dengan alasan agar Raden Praoedya tidak merasa kesepian karena tidak memiliki istri dan tidak memiliki anak.Kini semua kasih sayang Lingga tertuju pada Raden Pramoedya. Untuk Raden Wisnu hanyalah bentuk rasa hormat antara anak kepada Ayahandanya.Ra
Last Updated: 2021-09-29
Chapter: (S2) FITNAH YANG GAGALLantai tiga puluh yang biasanya sunyi dan berwibawa mendadak terasa mencekam. Di dalam ruangan kerja Dewa, seorang wanita paruh baya dengan setelan tweed Chanel dan tatanan rambut sasak sempurna sedang duduk di kursi kebesaran Dewa. Nyonya Martha Dewangga. Matanya yang tajam bak elang langsung menghunjam ke arah Dewa dan Chika yang baru saja masuk."Keluar dari gedung di jam kerja hanya untuk makan bubur pinggir jalan, Dewa? Kamu sudah kehilangan akal sehat?" suara Martha dingin, bergetar karena amarah yang tertahan.Dewa berdiri tegak, tangannya yang tadi sempat santai kini kembali kaku di samping tubuh Ibunya. "Ibu, lambung saya sedang bermasalah. Makanan di kantor terlalu berat.""Dan kamu membiarkan pelayan ini membawamu ke tempat kumuh seperti itu?" Martha menunjuk Chika dengan dagunya, seolah Chika adalah kuman yang baru saja menyerang putranya. "Rahmat bilang dia hanya staf kebersihan. Kenapa dia punya akses begitu dekat dengan kamu?"Chika menunduk sedalam mungkin. Ia bisa mer
Last Updated: 2026-03-25
Chapter: (S2) 14. BUBUR PINGGIR JALANSiang itu, matahari Jakarta berada tepat di puncaknya, memanggang aspal Sudirman hingga tampak bergelombang karena panas. Di lantai tiga puluh, pendingin ruangan bekerja ekstra keras, namun suasana di dalam ruang kerja Dewa terasa lebih gerah daripada suhu di luar.Dewa tampak gelisah. Wajahnya yang tadi pagi sudah sedikit segar, kini kembali menekuk. Ia berkali-kali memijat ulu hatinya sambil menatap layar monitor dengan tatapan kosong. Rapat koordinasi dengan tim legal baru saja selesai, dan Dewa tidak menyentuh makan siang katering premium yang disediakan Rahmat."Pak, Bapak belum makan," tegur Chika yang sedang mengganti bunga di vas sudut ruangan. Ia memperhatikan nampan makanan mewah berisi wagyu steak dan salad organik itu masih utuh."Saya tidak selera," jawab Dewa pendek. Suaranya terdengar agak serak."Bapak mau pingsan lagi kayak semalam? Nanti saya nggak mau ya mijit perut Bapak lagi. Capek," sindir Chika tanpa rasa takut.Dewa mendongak, menatap Chika dengan tajam. "Kamu
Last Updated: 2026-03-24
Chapter: (S2) 13. DEBAT RUANG KERJASinar matahari pagi yang menembus jendela kaca setinggi langit-langit menyentuh kelopak mata Chika, memaksanya terbangun. Ia mengerjap, menyadari dirinya tidak terbangun di atas kasur busa tipis kos-kosannya, melainkan di atas sofa kulit Italia yang empuk. Dan yang lebih mengejutkan, sebuah jas wol berwarna charcoal—yang baunya sangat maskulin dan akrab—menyelimuti tubuhnya.Chika terduduk tegak, jantungnya berpacu. Ia melirik ke arah meja kerja. Dewa sudah di sana, duduk rapi dengan kemeja baru yang entah kapan ia ambil dari ruang ganti pribadinya. Pria itu sedang menyesap kopi, matanya tertuju pada layar tablet seolah insiden "cokelat murah" semalam tidak pernah terjadi."Sudah bangun?" tanya Dewa tanpa menoleh. Suaranya kembali dingin, namun tidak setajam biasanya.Chika segera berdiri, merapikan seragam birunya yang kusut. "Maaf, Pak. Saya... saya ketiduran. Harusnya saya tidak boleh di sini.""Kamu memang tidak boleh di sini kalau hanya untuk tidur," Dewa meletakkan tabletnya dan
Last Updated: 2026-03-23
Chapter: (S2) 12. SISI MANUSIAWI SANG KULKASMalam di lantai tiga puluh biasanya hanya menyisakan kegelapan yang dipantulkan oleh gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Namun bagi Chika, malam ini adalah lembur paksa. Bukan karena perintah Dewa, melainkan karena kesalahannya sendiri yang menumpahkan sebotol tinta printer di atas karpet ruang arsip saat mencoba merapikan berkas yang diminta Rahmat.Setelah hampir dua jam berlutut dan menggosok karpet hingga tangannya memerah, Chika akhirnya menyerah. Ia berjalan menuju pantry untuk mencuci tangannya yang bernoda hitam. Saat melewati koridor menuju ruang kerja Dewa, ia melihat cahaya redup merayap dari balik pintu jati yang sedikit terbuka.Jam satu pagi? Dia masih di sini?Chika berniat lewat begitu saja. Urusan Dewa bukan urusannya. Namun, sebuah suara aneh menghentikan langkahnya. Bukan suara ketikan keyboard atau gumaman telepon, melainkan suara napas yang pendek dan berat, diikuti bunyi denting kaca yang bersentuhan dengan meja.Didorong oleh rasa ingin tahu yang lebih besar
Last Updated: 2026-03-22
Chapter: (S2) 11. TES KEJUJURANPagi itu, suasana di ruang kerja Dewa terasa lebih berat dari biasanya. Chika masuk dengan langkah waspada, membawa nampan berisi kopi hitam tanpa gula—persis seperti yang Dewa minta sejak insiden "Ujian Kafein".Dewa tidak ada di kursinya. Pintu ruang rapat pribadinya terbuka sedikit, menunjukkan bahwa pria itu sedang menerima telepon penting. Chika bernapas lega, setidaknya ia punya waktu lima menit untuk membersihkan meja tanpa harus merasa diawasi oleh sepasang mata elang itu.Namun, saat ia hendak mengangkat tumpukan berkas yang berserakan, matanya tertuju pada sesuatu yang sangat tidak biasa.Di sudut meja, tergeletak sebuah jam tangan Patek Philippe—bukan yang ia kenali kemarin, tapi seri yang jauh lebih langka. Di sampingnya, sebuah dompet kulit buaya terbuka, memperlihatkan tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu yang sangat tebal, serta kartu kredit Black Card yang tergeletak begitu saja.Chika mematung. Ini gila. Orang se'epik Dewangga tidak mungkin seceroboh ini meninggal
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: (S2) 10. HUJAN DI HALTE BUSJakarta sore itu seolah sedang ingin menumpahkan seluruh kemarahannya. Langit yang tadinya hanya abu-abu mendadak pekat, lalu dalam hitungan menit, hujan deras mengguyur aspal ibu kota dengan intensitas yang membutakan. Bunyi petir bersahutan, menggetarkan kaca-kaca jendela di lantai tiga puluh Dewangga Corp.Chika berdiri di lobi samping, menatap deretan air yang jatuh seperti tirai raksasa. Ia baru saja menyelesaikan shifnya. Tubuhnya terasa remuk setelah seharian berkutat dengan tumpukan berkas teknis yang diberikan Dewa-sebuah "tugas tambahan" yang sebenarnya adalah ujian terselubung."Sial, payung gue ketinggalan di loker," gumam Chika pada diri sendiri.Ia melirik jam tangannya-bukan jam tangan mewah kemarin, melainkan jam digital murah yang baru ia beli di pasar malam agar tidak memancing kecurigaan lagi. Sudah jam setengah enam sore. Angkutan umum pasti akan penuh sesak, dan di cuaca seperti ini, mencari ojek online adalah sebuah kemustahilan.Chika menarik napas panjang, mena
Last Updated: 2026-03-20