LOGINParis Arabella memutuskan untuk tidak lagi percaya pada cinta setelah mengalami pengalaman pahit dan diselingkuhi oleh cinta pertamanya. Namun, prinsipnya goyah saat ia bertemu dengan River Olivier, seorang mahasiswa fotografi yang ramah kepada semua orang tetapi sebenarnya menutup diri dari hubungan romantis yang serius.
View More"Setelah pesta ini lo mau kemana, Dar?"
Pertanyaan itu meluncur bersama kepulan asap rokok dari salah satu teman Darius. Malam itu, sudut sebuah kafe yang cukup riuh berubah menjadi ruang perayaan kecil. Beberapa gelas kopi yang mulai mendingin dan piring-piring kecil berisi sisa camilan berserakan di atas meja. Mengelilingi Darius yang malam itu menjadi pusat perhatian karena sedang merayakan ulang tahunnya. "Check-in pastinya. Sebagai kado," sahut teman Darius yang lain, menyenggol bahu sang pemilik acara dengan seringai mesum yang tak ditutupi. "Pacar dia kan cantiknya keterlaluan. Wajahnya dapet, bodynya... ah, sial. Kalau gue jadi Darius, gue udah pasti nggak bakal bisa berhenti main." Mendengar godaan itu, Darius hanya bersandar pada kursi. Perlahan menyesap minumannya sambil mengumbar senyum tipis. Kerutan di sudut matanya menunjukkan kedewasaan seorang pria yang tahu bagaimana cara memikat wanita. Namun, riak di matanya malam ini tampak dipenuhi keangkuhan yang tinggi. "Dar, lo cuma senyum-senyum doang. Gimana? Bener nggak, kayak yang mereka omongin?" pancing teman yang lain, condong ke depan meja. Antusias menagih kepastian. Mereka semua heboh, mata mereka berbinar liar ingin tahu rahasia di balik pintu kamar seorang Darius. Darius tersenyum semakin lebar, merapikan sedikit kerah bajunya sebelum menjawab dengan nada yang begitu santai. "Jelas dong. Gue pasti minta itu malam ini. Dia kan nurut banget sama gue. Kita udah biasa ngelakuin hal itu. Dan semua yang lo sebutin tadi... semuanya bener seratus persen." Darius terkekeh pelan, menikmati tatapan iri dari teman-temannya. "Gue beruntung dapetin dia. Dilihat dari angle mana pun, dia mantep banget, guys. Apalagi ... kalau udah nggak pakai baju." HAHAHAHA .... Tawa serempak langsung pecah di meja itu begitu mendengar ucapan Darius. Suara tawa bass mereka yang berat memantul di antara dinding kafe. Mendengar jawaban jujur yang begitu vulgar dari Darius, ketiga temannya saling pandang. Mereka bermain mata, melempar kode-kode nakal dengan isi kepala yang mulai dipenuhi imajinasi liar. "Dar, boleh nggak nih kita tahu kayak gimana patennya pacar lo itu? Biar kita percaya kalau semua yang lo omongin tadi itu emang bener, bukan cuma bualan lo doang," pancing salah satu teman Darius. Nadanya menantang sekaligus merendahkan martabat wanita yang dimaksud. Darius menatap teman-temannya satu per satu. Merasa egonya sebagai pria dewasa sedang diberi makan oleh pujian-pujian itu. Sebuah seringai bangga terukir di wajahnya. "Lo semua beneran mau tahu?" tawar Darius, memancing rasa penasaran mereka hingga ke puncaknya. "Yoi, brooo..." jawab mereka serempak, hampir tak sabar. Tanpa keraguan sedikit pun di wajahnya. Darius merogoh saku celana dan mengeluarkan ponsel. Layar ponsel itu menyala, memantulkan cahaya lampu kafe yang temaram. Jemarinya menggeser layar beberapa kali dengan begitu kasual, seolah apa yang sedang dia cari adalah barang publik, bukan privasi sakral di antara sepasang kekasih. Darius meletakkan ponselnya di tengah meja. Menunjukkan foto-foto kekasihnya saat mereka sedang berhubungan intim. Foto-foto di mana sang wanita menyerahkan seluruh dunianya atas dasar cinta dan percaya. "Gila, bro! Ini mantap banget. Pulen banget," ucap salah satu teman Darius dengan mata melebar. Menatap lumat-lumat layar ponsel yang menampilkan lekuk tubuh tanpa sensor tersebut. Hancur sudah batas privasi itu, menguap bersama tawa mereka yang kembali meledak. "Hahaha..." "Pantesan lo kalau lagi bareng sama pacar lo nggak bisa diganggu sama sekali. Ternyata barang dia emang sebagus ini," ucap temannya yang lain. Bergantian menggeser layar, menikmati ketelanjangan wanita yang seharusnya dijaga kehormatannya oleh Darius. Darius tampak sangat bangga dengan pujian demi pujian dari teman-temannya. Dia merasa seperti seorang pemenang yang berhasil menjinakkan piala paling berharga. Tak selesai sampai di situ, dengan nada pamer yang semakin kental. Darius menambahi ceritabya dengan yang lebih detail. "Dia nggak cuma visualnya yang bagus. Tapi mainnya juga mantap. Di atas, di bawah, dari belakang... semuanya enaaakkkk... banget." "Hahahah..." Mereka semua kembali tertawa terbahak-bahak, saling menepuk bahu, menganggap penyerahan diri dan harga diri seorang wanita sebagai lelucon terbaik di hari ulang tahun Darius. Namun, di tengah-tengah gemuruh tawa yang menjijikkan itu. Mereka tidak menyadari bahwa di samping meja tempat mereka berada. Sedikit agak jauh. Terpisahkan hanya beberapa meter dari mereka. Seorang gadis sedang berdiri mematung. Paris Arabella. Kekasih Darius itu berdiri dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Memeluk sebuket bunga mawar indah yang sudah dia persiapkan sejak sore. Bunga yang awalnya ingin dia serahkan sebagai simbol cinta di hari bahagia pria itu, kini terasa seperti duri yang menusuk tangannya sendiri. Paris mendengar semuanya. Setiap kata, setiap tawa, dan setiap desah penjelasan yang keluar dari mulut pria yang selama ini dia hormati dan dia percayai sepenuh jiwa. Udara di sekitarnya mendadak hilang. Dadanya sesak, dihantam oleh rasa malu, kecewa, dan kehancuran yang begitu hebat hingga membuat seluruh persendiannya lemas. Secara tidak sengaja, mata Darius bergulir ke samping. Detik itu juga, napasnya tercekat. "Shittt..." bisik Darius, wajahnya mendadak kaku begitu sadar bahwa kekasihnya sendiri ada di sana. menyaksikan setiap ucapannya yang merendahkan dari dekat. Seketika, semua teman-temannya langsung membisu. Tawa riuh itu lenyap, digantikan oleh keheningan yang mencekam. Mereka saling pandang dengan canggung. Buru-buru memalingkan wajah ke arah lain. Namun, meski mulut mereka terdiam, otak mereka telanjur liar. Mereka kini menatap Paris dengan tatapan berbeda. Tatapan menjijikkan yang sedang membayangkan bentuk tubuh Paris tanpa busana. Persis seperti yang ada di foto ponsel Darius tadi. Paris terdiam di tempatnya berdiri. Bibirnya bergetar menahan ledakan emosi yang menyumbat tenggorokannya. Dia melihat Darius dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Membiarkan air mata kekecewaan menggenang di pelupuk matanya. Tidak ada teriakan, tidak ada tamparan, dan tidak ada makian yang keluar dari mulutnya. Dengan harga diri yang masih tersisa. Paris kemudian memutar tubuhnya, berbalik pergi meninggalkan area meja itu tanpa mengucapkan satu patah kata pun. "Paris! Tunggu, Paris!" Darius buru-buru bangkit, mengabaikan teman-temannya dan langsung berlari menyusul langkah Paris. Mereka akhirnya terlibat pertengkaran hebat di depan kafe. Di bawah temaram lampu jalanan yang mulai sepi. "Paris, sayang, dengarkan aku dulu," Darius meraih lengan Paris, mencoba menahannya. Suaranya melembut, mencoba merayu dengan nada manis yang biasa dia gunakan agar kekasihnya tidak marah. "Dengar apa?!" Paris menyentakkan tangannya dengan kasar. Berbalik menghadap Darius dengan dada yang kembang kempis menahan sesak. Air matanya kini sudah menggenang, siap tumpah kapan saja. "Aku sudah dengar semuanya, Darius! Bisa-bisanya kamu ngomongin hal kayak itu ke mereka?!" "Mereka tanya, Paris. Aku cuma jawab karena aku bangga punya kekasih yang cantik seperti kamu," sahut Darius membela diri. Dengan wajah tanpa bersalah, dia mengulurkan tangan, mencoba membelai rambut Paris untuk menenangkannya. Namun gadis itu mengelak dengan cepat. "Tapi kamu juga tunjukin foto saat kita melakukan itu! Mereka lihat aku sedang__" Ucapan Paris mendadak berhenti. Lidahnya terlalu kelu untuk melanjutkan kata-kata yang begitu menghancurkan harga dirinya sebagai wanita. Pertahanannya runtuh, dan air matanya akhirnya jatuh membasahi pipi. Melihat air mata Paris yang mengalir, Darius justru kehilangan kesabarannya. Dia membuang muka ke arah jalanan. Mendengus kasar, lalu menghela napas panjang dengan raut wajah yang terlihat jengkel. "Mulai deh. Jangan lebay, Paris. Gitu doang nangis," ucap Darius, nadanya berubah menjadi dingin dan menggurui. "Aku tuh cuma bangga punya pacar yang cantik banget. Kamu tuh memang cantik banget kalau lagi di puncak, Sayang. Aku cuma mau pamerin ke mereka kalau pacar aku tuh memang best banget. Salahnya di mana?" "Pamer katamu? Hal privat kayak gitu kamu pamerin ke orang lain?! Gila kamu yaa!!!" Suara Paris meninggi. Air matanya mengalir semakin deras, tak percaya bahwa pria yang dia cintai bisa segila ini dalam meremehkan perasaannya. "Kamu pikir itu wajar, Darius?!" Sadar bahwa dia sudah terdesak dan tidak bisa melawan argumen Paris lagi, ditambah beberapa orang di sekitar kafe mulai melirik ke arah mereka. Darius akhirnya memilih untuk mengalah. Dia mengangkat kedua tangannya, memasang wajah menyesal yang dibuat-buat. "Oke, oke, aku ngaku salah. Maafin aku ya, Sayang. Please..." Darius melangkah mendekat. Menatap Paris dengan pandangan memohon. "Aku cuma ingin tunjukin kalau pacar aku yang terbaik di depan mereka. Ini hari ulang tahun aku, Paris. Tolong jangan rusak hari bahagia kita cuma karena masalah ini." Masalah ini. Bagi Darius, kehormatannya yang diinjak-injak hanyalah sebuah "masalah ini" yang mengganggu hari ulang tahunnya. Paris tidak bergeming. Rasa cinta yang dulu begitu sempurna di hatinya kini telah retak. Menyisakan rasa kekecewaan yang amat nyata. Paris menatap wajah Darius, mencari sisa-sisa pria baik yang dulu dia kenal, namun ia tidak menemukan apa-apa selain keegoisan yang menjijikkan. Bayangan-bayangan sikap posesif Darius yang tidak wajar mulai ia sadari. Bagaimana pria itu selalu mengatur seluruh hidupnya, membatasi ruang geraknya, bahkan mendikte model baju apa yang boleh dan tidak boleh ia kenakan. Perlahan, Paris menurunkan tangannya. Dia membuang buket bunga indah yang dia bawa ke atas tanah, membiarkannya tergeletak tak berharga tepat di depan sepatu Darius. Tanpa sepatah kata pun, Paris berbalik. Dia melangkah pergi meninggalkan Darius yang masih terpaku di depan kafe. Berjalan menembus kegelapan malam dengan kesedihan yang ia tanggung sendiri.Kurir makanan itu pamit pergi setelah memberikan secarik struk pengantaran yang langsung diterima oleh Paris. Pintu kelas kembali tertutup, namun atmosfer di dalam ruangan tidak menunjukkan tanda-tanda akan mencair. Keheningan yang sempat mencekam kini pecah menjadi kasak-kusuk riuh dari ujung ke ujung bangku mahasiswa.River menatap paper bag mewah berbahan tebal dari Le Jardin Resto itu dengan rahang mengeras. Ia terkejut bukan main. Matanya yang tajam langsung menangkap secarik kartu ucapan kecil bernuansa emas yang terselip di tali tas kertas tersebut. Ada nama Adrian tertulis di sana dengan guratan pena yang rapi.Rasa cemburu yang membakar seketika membuat akal sehat River menguap. Tangannya bergerak cepat, berniat merebut kartu ucapan itu untuk memastikan dengan mata kepalanya sendiri. Namun, Febby yang sejak tadi waspada bergerak jauh lebih cekatan. Ia menyambar paper bag tersebut ke arah tubuhnya, menjauhkannya dari jangkauan jemari River."Adrian
Lampu-lampu kota yang berpendar dari balik jendela taksi malam itu perlahan menjadi saksi bisu dari sebuah keputusan besar. Di tengah kesunyian perjalanan pulang, Paris merogoh ponsel dari dalam tasnya.Ibu jarinya bergerak tanpa ragu di atas layar sentuh. Ia membuka profil kontak bernama River, menatap nama itu untuk terakhir kalinya tanpa rasa sesak yang biasa menyiksa, lalu menekan satu tombol: Blokir.Tidak sampai di situ, Paris juga membersihkan riwayat obrolan mereka, menghapus ruang digital yang selama ini dipenuhi oleh janji-janji manis tanpa kepastian dan rentetan kalimat minta maaf yang basi. Saat layar ponselnya menggelap, Paris mengembuskan napas panjang. Rasanya seolah ada sebongkah batu besar yang baru saja diangkat dari dadanya. Malam itu, ia tidur dengan nyenyak, tanpa perlu menunggu satu pun pesan masuk.Keesokan harinya di kampus, atmosfer di sekitar Paris benar-benar berubah. Gadis itu berjalan menyusuri koridor fakultas dengan langkah t
River membeku di dekat meja kasir butik kaca, sementara Aruna masih bersandar manja di bahunya. Tidak ada langkah kaki yang terburu-buru keluar dari pintu butik. Tidak ada kepanikan yang membuat River berlari mengejar. Pemuda itu hanya diam di tempatnya berdiri, menatap Paris dengan sorot terkejut yang perlahan berubah menjadi rasa bersalah yang tertahan.Paris mengembuskan napas pendek. Ia tidak masuk menemui River untuk meminta penjelasan. Juga tidak meneteskan air mata. Gadis itu hanya berpaling dari River, lalu menyentuh pelan lengan Manda dan Febby."Yuk ke lantai atas," ajak Paris, suaranya terdengar datar namun tegas.Keheningan yang ditinggalkan River di belakang sana menjadi jawaban paling benderang yang Paris rasakan. Tubuh River yang tetap diam semakin mempertegas posisinya. Paris tersenyum getir dalam hati. Sepertinya yang dikatakan Aruna memang benar. Ia hanya tempat persinggahan, sebuah mainan yang menyenangkan saat River bosan, dan akan lang
"Gila sih, ini mah levelnya udah bukan cowok idaman lagi, tapi bentuk nyata dari gambar fiksi!" suara Febby melengking tertahan, matanya menatap layar ponsel Manda dengan binar heboh.Pagi ini, area koridor depan kelas sudah seperti pasar tumpah. Beberapa mahasiswa berkumpul, berbisik heboh membahas sosok pria yang mendadak viral di kalangan anak kampus sejak kemarin. Siapa lagi kalau bukan Adrian, pemilik restoran estetik yang lokasinya tidak jauh dari kampus mereka."Iya, kan? Udah ganteng, dewasa, mandiri pula. Denger-denger umurnya baru dua puluh empat tahun tapi udah punya usaha sendiri sesukses itu," sahut Manda tidak kalah menggebu-gebu."Dia tuh tipe-tipe cowok yang kalau lo minta jemput, dia datang bawa mobil hasil keringat sendiri, bukan pakai subsidi dari bokapnya."Hahahahaha .... Tawa riuh meledak di koridor.Paris yang duduk di sebelah Manda hanya tersenyum tipis. Ia sibuk merapikan catatan kuliahnya, sama sekali tidak berniat un
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews