Share

Bab 4

Author: Caitlyn
Di bawah cahaya lampu putih yang menyilaukan, wajah tampan Arvin tampak jelas menegang seperti diselimuti es. Jari-jarinya yang panjang berpindah dari pergelangan tangan Renee ke dagunya, menekan sedikit demi sedikit.

"Renee, menurutmu pernikahan ini permainan anak-anak? Mau nikah tinggal nikah, mau cerai tinggal cerai? Atau kamu pikir aku ini boneka yang bisa kamu kendalikan sesuka hati?"

"Yang bilang mau nikah itu kamu, yang bilang mau cerai juga kamu. Dari mana datangnya kepercayaan diri bahwa aku akan selalu menuruti semua keinginanmu?"

"Aku ...." Dagu Renee terasa nyeri. Air matanya menetes jatuh satu per satu. Dia menahan sakit dan berkata dengan suara terisak, "Memang dulu salahku. Aku pikir setelah menikah, lambat laun kita bisa menumbuhkan perasaan itu. Aku nggak nyangka ...."

"Nggak nyangka apa? Nggak nyangka kamu bakal muak secepat ini? Sudah nggak mau hidup bersamaku lagi?"

"Ya, aku sudah muak."

Tatapan pria itu mengerikan, tetapi Renee tetap menegakkan lehernya, mencoba membela diri. Arvin tiba-tiba marah. Tangannya yang mencengkeram dagunya langsung mendorong Renee ke tempat tidur. Tubuhnya yang tinggi menindih Renee, lalu dia mencium bibirnya dengan kasar.

Ciuman itu penuh kemarahan. Matanya dingin bagai kolam beku. Renee menolak mati-matian, tetapi tetap tak bisa melawannya. Sudah tiga tahun menikah. Arvin sudah sangat mengenal tubuhnya dan dengan mudah membuatnya lemas tak berdaya.

Renee malu dan marah. Dia menendang Arvin, tetapi kakinya segera ditangkap. Jemari pria itu perlahan menelusuri sepanjang kain rok.

Arvin melepaskan bibirnya. Suaranya yang berat dan dingin itu berbisik di telinga Renee. "Renee, kalau kamu berani menyebut kata cerai lagi, aku pastikan kamu akan menyesal seumur hidup."

Renee menahan tangis, tubuhnya gemetar kesakitan. Arvin mencabut alat bantu dengarnya, lalu membiarkan mereka tenggelam dalam malam itu.

Tiga tahun pernikahan, Arvin tak pernah benar-benar menatapnya dengan cinta. Namun, hanya di ranjanglah Renee bisa merasa dirinya seperti seorang istri.

Setelah semua reda, Renee terbaring di atas tempat tidur besar. Matanya menatap wajah pria itu. Sejak kecil Arvin memang tampan. Di setiap pesta atau acara, dialah yang selalu menjadi pusat perhatian.

Sementara Renee hanyalah "itik buruk rupa" dengan kekurangan pendengaran, yang hanya berani bersembunyi di sudut, menatap para wanita yang bisa bercakap bebas dengan Arvin, dengan hati yang diliputi kecemburuan.

Saat pikirannya melayang, pria itu bangkit, berpakaian rapi, bersiap pergi seperti biasanya. Ketika melewati bingkai foto pernikahan yang pecah, langkahnya terhenti sejenak. Kemudian, dia berkata dengan dingin, "Rekatkan kembali."

Renee terdiam, air matanya mengalir lagi. Dia tahu, ini hanyalah satu lagi perlawanan yang sia-sia.

Namun kali ini, dia tidak ingin menyerah lagi. Dia ingin pergi dari sini.

Renee bangkit, mengenakan pakaiannya. Sama seperti Arvin, dia melangkah pergi tanpa sedikit pun menoleh pada pecahan kaca itu.

Renee tidak punya banyak teman. Keluarganya pun tidak bisa diandalkan. Satu-satunya orang yang bisa dia cari hanyalah sahabatnya, Michela.

Michela tentu saja sudah melihat berita beberapa hari terakhir. Dia memutar matanya dengan kesal. "Kamu seharusnya meninggalkan laki-laki berengsek itu sejak awal!"

"Aku cuma belum bisa melepas Renji." Renee tahu dirinya hidup tanpa martabat, tetapi dalam posisinya, semua terasa sulit.

"Untuk apa kamu susah-susah memikirkan Renji? Dia cucu sulung Keluarga Suryana, sudah hidup penuh kemewahan. Apa dia kekurangan makan? Kekurangan kasih sayang? Nggak, 'kan? Nissa memang licik, tapi demi menyenangkan Arvin, dia nggak akan sebodoh itu sampai menyakiti anak kecil."

"Selama Renji bisa tumbuh bahagia, kamu nggak perlu peduli siapa yang dia panggil mama. Kalau kamu suka anak-anak, kamu bisa menikah lagi dan punya anak sendiri. Jangan sia-siakan seluruh hidupmu demi bocah kecil yang bahkan belum tahu apa-apa."

"Renji bukan bocah tak tahu terima kasih, dia baru tiga tahun. Dia nggak mengerti apa pun." Renee langsung membela anaknya.

"Terus, apa gunanya? Kamu bisa bawa dia pergi? Atau pengorbananmu bisa bikin Arvin berubah?"

"Aku tahu nggak bisa. Makanya aku ke sini, mau numpang tinggal di tempatmu." Renee tersenyum lemah.

"Tenang saja, kamu boleh tinggal di sini sesukamu. Aku nggak bisa menafkahi diriku sendiri, tapi bisa menafkahimu." Michela menepuk dada dengan bangga. Dia memang terbiasa hidup boros, tetapi Renee sejak kecil terbiasa hidup hemat, jadi menafkahinya sama sekali bukan hal sulit.

"Omong-omong, setelah cerai kamu bakal balik kerja di studio, 'kan? Aku sudah lama nunggu kamu balik."

Dulu, mereka berdua mendirikan Studio RH. Waktu itu, Renee sangat bersemangat dan penuh keyakinan. Kalau bukan karena pernikahan mendadak dan statusnya sebagai Nyonya Suryana, dia tidak akan berhenti di tengah jalan.

Selama ini studio masih bisa bertahan karena kerja keras Michela. Renee sungguh terharu karena sahabatnya tak pernah menyingkirkannya.

"Terima kasih, Michela." Air mata menggenang di pelupuk matanya. Hanya di pekerjaannya, Renee merasa dirinya masih berguna dan masih hidup.

....

Tiga hari kemudian, setelah urusan bisnis di luar kota, Arvin kembali. Mobilnya berhenti di depan vila. Dia memijat pelipis dengan lelah. Begitu melihat rumah yang gelap gulita, alisnya berkerut. Renee takut gelap. Biasanya meskipun tidur, dia tetap menyalakan lampu ruang tamu dan kamar.

Namun, Arvin tidak terlalu memikirkannya. Begitu turun dari mobil, dia menyalakan lampu satu per satu hingga sampai di kamar utama. Sambil melangkah pelan, dia membuka pintu. Kamar itu kosong.

Cahaya bulan menembus jendela, memantul di pecahan kaca yang berserakan di lantai. Saat lampu dinyalakan, dia baru sadar itu adalah pecahan bingkai foto pernikahan.

Renee bukan hanya tidak menempelkan ulang foto itu, bahkan tidak memungut pecahannya. Jadi, tiga hari ini dia tidak tinggal di rumah?

Arvin mengerutkan kening, lalu matanya menangkap map di meja tamu. Dia mengambilnya. Begitu membaca tulisan di sampulnya, ekspresinya berubah perlahan. Surat perjanjian cerai.

Renee ingin bercerai? Arvin sulit memercayainya. Dia menatap tanda tangan di bawah. Benar, itu adalah tulisan tangan Renee.

Arvin tidak pernah sekaget ini. Kemudian, dia tersenyum dingin. Dia lebih percaya bumi meledak daripada percaya Renee berani menceraikannya.

Dulu demi menikah dengannya, perempuan itu sudah melakukan segalanya, bahkan melahirkan anaknya. Mana mungkin sekarang rela melepaskannya?

Wanita ini semakin pandai bermain peran. Cerai? Kabur dari rumah? Mari kita lihat, berapa lama dia bisa bertahan.

Arvin meremas surat perjanjian cerai itu, melemparnya ke tong sampah, lalu masuk ke kamar mandi untuk mandi seperti biasa.

Selama ini Arvin hidup teratur dan hanya Renee yang tahu ritmenya dengan tepat. Ketika dia bangun, pakaiannya sudah disiapkan dan disetrika. Ketika dia turun, sarapannya sudah terhidang. Ketika dia hendak pergi, tas kerjanya sudah diserahkan ke tangannya.

Semua itu tampak sepele, tetapi tidak semua orang bisa melakukannya dengan tepat dan sabar. Mungkin karena itulah Arvin sering merasa Renee lebih seperti pengasuh daripada istri.

Hari itu, ketika Arvin bangun, tak ada baju di kursinya. Dia turun ke lantai bawah. Pembantu yang bernama Gina pun terlihat bingung.

"Tuan bangun sepagi ini? Saya masih mikir mau buat sarapan apa ...."

Arvin menatap jam di dinding, alisnya berkerut.

Gina buru-buru menunduk. "Maaf, Tuan. Saya sudah coba menelepon Nyonya, tapi nggak diangkat. Saya ... saya langsung buatkan mie saja ya?"

"Nggak usah," jawab Arvin dengan nada datar, lalu melangkah keluar.

Gina merasa bersalah. Biasanya semua urusan makan dan kebutuhan Arvin diurus oleh Renee. Karena Renee hampir tak pernah keluar rumah, mereka semua sangat bergantung padanya.

Siapa sangka, istri yang selama ini begitu penurut dan lembut itu ternyata juga bisa meninggalkan rumah.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 388

    Arvin terdiam sejenak, lalu mengangkat mata menatap Juwita."Ibu pasti sedang merencanakan sesuatu lagi, kan? Lebih baik bicara terus terang saja.""Apa rencana buruk yang bisa kulakukan?""Bagaimanapun, terakhir kali Ibu sendiri yang bilang, pewaris Keluarga Suryana bukan hanya aku."Juwita mengangkat cangkir air dan meneguknya perlahan. "Kamu kubesarkan dengan tanganku sendiri. Kamu adalah jerih payahku selama puluhan tahun. Aku nggak mungkin membuangmu begitu saja.""Lagi pula, kalau bukan karena Renee, kamu juga nggak akan jadi seperti sekarang.""Tapi ke depannya akan selalu ada Renee."Kilatan kesal melintas di mata Arvin, tetapi wajahnya tetap tenang."Aku percaya, suatu hari nanti kamu akan menyerah padanya dengan sendirinya.""Aku nggak akan.""Jangan bicara terlalu penuh keyakinan, nanti malah menampar diri sendiri." Juwita berdiri dari kursinya. "Bekerjalah yang baik, aku pergi dulu."Setelah Juwita pergi, Arvin bangkit dan berjalan ke depan jendela kaca besar, memandangi la

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 387

    Arvin suka melihatnya tersenyum. Saking sukanya, dia tak tahan untuk tidak menciumnya.Renee mengangkat tangan menghentikannya, lalu menyodorkan susu ke tangannya. "Hari ini kamu pasti capek, 'kan? Cepat minum susunya. Habis itu mandi dan tidur."Pagi tadi masih di ibu kota, malamnya sudah kembali ke rumah lama. Memang semua orang sudah lelah seharian. Arvin pun terpaksa melepaskannya.....Setelah tinggal dua bulan di ibu kota, hari kedua kembali ke Kota Haidar, Renee pergi menjenguk Lia, lalu pergi ke studio kerja.Sejak dia memenangkan penghargaan, bisnis toko utama semakin ramai. Pesanan mereka bahkan sudah penuh sampai dua bulan ke depan.Michela sampai panik. Begitu melihat Renee akhirnya masuk kerja, dia langsung memeluknya sambil berseru, "Nyonya Besar, akhirnya kamu kembali! Kalau nggak balik-balik, aku bisa gila."Sambil berbicara, dia menyerahkan setumpuk formulir pesanan. "Lihat ini. Dulu stres karena nggak dapat pesanan, sekarang pesanan kebanyakan juga bikin stres."Renee

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 386

    Renee memandikan Renji, lalu membawanya ke tempat tidur dan membacakan dongeng. Akhirnya, dia berhasil menenangkannya hingga tertidur.Dia mengatur suhu ruangan, merapikan selimut, lalu berjongkok di samping tempat tidur menatap wajah mungil itu yang tertidur dengan tenang.Saat terjaga, Renji terlihat tampan. Saat tertidur, dia malah semakin menggemaskan. Setiap waktu, Renee ingin menciumnya.Renee mengulurkan jari dan mengusap pipi Renji dengan lembut. Hatinya melunak seperti es yang mencair. Putranya benar-benar semakin pengertian dan menggemaskan.Setelah puas memandangi putra kesayangannya, dia turun ke lantai satu untuk membuat segelas susu, lalu berjalan menuju ruang kerja di lantai dua. Dia mengetuk pintu dan baru mendorongnya masuk setelah mendapat izin.Arvin ternyata tidak sedang bekerja. Dia terlihat sedang duduk di kursi sambil melamun. Sungguh pemandangan yang langka."Pak Arvin, sudah selesai kerja?" Renee masuk sambil membawa susu. "Aku lihat kamu nggak makan banyak tad

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 385

    "Kenapa kamu menatapku begitu?" Renee merasa sedikit tidak nyaman karena ditatap oleh sorot mata Arvin yang panas, sampai gerakan tangannya juga jadi tidak terlalu stabil."Aku cuma ingin melihat," kata Arvin. Dia ingin melihat lebih jelas, kenapa dirinya bisa begitu terpesona oleh Renee.Renee tersenyum, lalu memutar wajahnya ke arah lain. "Jangan lihat. Kalau nggak, aku nggak bisa mengobati lukanya."Arvin pun memalingkan pandangannya dengan patuh. Setelah itu, barulah obatnya selesai dioleskan."Pak Arvin, sekarang kita pulang?" tanya Renee."Karena Kakek sudah tidur, kita pulang saja.""Kalau begitu aku pergi cari Renji dulu."Renee lebih dulu berjalan turun ke bawah.Di lantai satu ada ruang bermain yang sangat besar, khusus dibuat untuk Renji. Anak kecil itu sedang bermain bola di dalamnya dan terlihat sangat senang.Renee melambaikan tangan kepadanya dan berkata, "Renji, kita pulang.""Pulang."Renji mengembalikan bola ke tempatnya dengan patuh, lalu berlari kecil menuju Renee.

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 384

    Sudah lama Arvin mempersiapkan diri untuk menghadapi Juwita.Setelah duduk di kursi di seberangnya, dia berkata dengan tenang, "Ibu, aku akan melepaskan posisi sebagai presdir sementara. Ibu bisa mengatur siapa saja yang akan datang untuk mengambil alih kapan pun."Jari Juwita yang memegang cangkir langsung menegang, lalu dia melemparkan cangkir itu ke arah Arvin dengan keras. Cangkir itu melesat melewati pelipis Arvin dan meninggalkan bekas goresan berdarah, lalu jatuh di sudut ruangan dan pecah berkeping-keping."Arvin, kamu mau menyerahkan seluruh Grup Suryana demi si tuli itu? Kamu sudah gila?"Juwita tidak menyangka putra yang dia besarkan sendiri dan selalu fokus pada pekerjaan selama ini, malah rela meninggalkan masa depan yang begitu cerah demi seorang wanita. Baginya, ini seperti menusuk hatinya sendiri.Namun, ekspresi Arvin tetap tenang."Ibu, kalau Ibu memaksaku memilih salah satu antara karier dan keluarga, aku memilih keluarga. Karier masih bisa dibangun lagi, tapi ibu da

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 383

    Jerico mengangguk pelan, lalu kembali menatap Arvin dengan tatapan penuh curiga. "Kalian berdua pulang sama-sama?""Iya, Kakek. Kami baru saja kembali dari ibu kota," jawab Arvin.Jerico kembali bertanya, "Tapi, aku dengar dari ibumu, kamu sudah tanda tangan perjan ....""Kakek, Kakek salah dengar." Arvin tersenyum tipis sambil memotong ucapannya. Walaupun Jerico sudah tua, dia belum sampai pikun. Dia langsung memahami maksud Arvin. Dia pun menghela napas dalam hati, 'Dasar anak muda, setiap hari ada saja permainan baru. Apa nggak capek, ya?'Padahal beberapa hari lalu Juwita baru saja menunjukkan surat perjanjian cerai yang sudah ditandatangani Arvin kepadanya, bahkan memintanya bersiap mengatur pembagian harta.Saat itu, dia cukup sedih.Baru beberapa hari saja ... sudah berubah lagi?Namun, karena mereka sekarang tidak jadi bercerai dan bahkan masuk sambil bergandengan tangan, tentu saja Jerico merasa senang. Dia tersenyum lalu menepuk punggung tangan Renee. "Renee, akhir-akhir ini

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status