Share

Bab 3

Author: Caitlyn
"Nyonya, Tuan ... makan malam sudah siap." Seorang pelayan keluar dari dapur dan berbicara dengan hormat.

Juwita bangkit dari sofa. "Ayo makan, Renji pasti sudah lapar."

"Renji mau bawa beruang makan." Renji memeluk boneka beruang yang dibuat secara khusus itu, tertawa riang.

"Baiklah, Bu Guru ajak Renji dan beruang makan bareng ya?" Nissa tersenyum, menggendong Renji, lalu menatap Renee dengan sopan. "Bu Renee, aku bawa Renji makan dulu."

Semua orang menuju ruang makan. Renee menggenggam boneka buatan tangannya, merasa kebingungan. Padahal dia adalah Nyonya Muda Keluarga Suryana, tetapi dia selalu dikucilkan dan diabaikan.

Kue dan boneka di tangannya jatuh ke lantai. Renee melangkah mundur, berniat meninggalkan rumah besar yang tanpa kehangatan itu.

Namun, pergelangan tangannya ditahan oleh Arvin. Dia lantas menatap Arvin. Mata pria itu memancarkan ketegasan. "Makan."

Renee melirik ke arah meja makan. Tempat duduk yang seharusnya miliknya, kini diduduki oleh Nissa. Tanpa suara, dia menarik tangannya dari genggaman Arvin.

"Aku nggak mau ganggu kalian sekeluarga lagi." Usai berbicara, dia berjalan pergi tanpa menoleh.

"Renee!" Arvin mengernyit melihat punggung istrinya. Perempuan ini sekarang sudah berani membantahnya?

"Nggak usah pedulikan dia," ujar Juwita sambil melirik ke arah pintu. "Wanita bodoh dan cacat begitu memang seharusnya nggak dibiarkan masuk ke rumah."

"Benar, Kak," tambah Felicia, adik perempuan Arvin. "Perempuan yang pakai tipu muslihat buat menikah ke keluarga kita cuma nurunin derajat Keluarga Suryana kalau makan bareng kita."

Arvin memang tidak menyukai Renee. Namun, seekor anjing pun tidak pantas dipukul di depan majikannya. Dengan nada dingin, dia membalas, "Terus, aku ini apa? Setiap hari aku makan bareng dia, berarti aku juga menurunkan derajat keluarga?"

"Uh ...." Felicia terdiam, buru-buru mengoreksi. "Kak, hubungan kalian 'kan cuma sementara saja. Setelah kalian cerai nanti ...."

"Diam." Nada suara Arvin menjadi dingin. "Jangan pernah bicara seperti itu di depan Renji lagi."

"Diam ... hihihi ...." Renji menirukan ayahnya sambil tertawa.

....

Di luar, langit sudah gelap. Malam lembap dan dingin. Renee memeluk dirinya sendiri, berjalan sendirian di halaman rumah Keluarga Suryana. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Dia menahan diri untuk tidak menangis.

Dia tahu semua ini juga salahnya. Dia tidak pantas menangis. Satu-satunya yang bisa dia lakukan adalah mencari jalan keluar. Namun, di mana jalan keluarnya?

Saat melewati hutan kecil, seberkas cahaya kuning dari lampu mobil menyorot dari belakang. Tak lama kemudian, mobil Rolls-Royce yang dikenalnya berhenti di sisinya.

Jendela terbuka sedikit, memperlihatkan wajah tampan dan dingin Arvin. "Naik."

Renee sudah terbiasa dengan nada perintahnya. Dia bisa saja menolak, tetapi entah kenapa dia akhirnya tetap masuk ke mobil.

Yang mengejutkan, Nissa tidak ada di dalam. Arvin duduk di kursi belakang, tampak tenang dan berwibawa, bersandar dengan santai. Arvin tidak berbicara, hanya menatapnya. Renee lantas menunduk, menghindari tatapannya.

"Kamu marah sampai nggak mau anakmu sendiri?" Pertanyaan retoris itu keluar dari bibir Arvin.

Renee menggigit bibir, menahan emosi, lalu mendongak dan menatapnya. "Pak Arvin, kamu suka Nissa, 'kan?"

Tatapan Arvin menjadi serius. "Kamu mau bilang apa?"

"Kalau kamu suka dia, ceraikan aku dan nikahi dia. Aku setuju."

"Dengan syarat?" Nada suaranya datar, tetapi mengandung kemarahan halus.

"Syaratnya, biarkan aku menemani Renji tumbuh besar. Biar aku yang pilih guru lesnya. Tenang saja, aku nggak akan rebut hak asuhnya darimu."

Renee mengatakannya dengan tenang, tetapi Arvin malah tertawa sinis. "Strategi mundur untuk maju ya? Cerdik juga perhitunganmu."

"Aku nggak bermaksud begitu." Renee buru-buru membantah, suaranya bergetar. "Aku cuma nggak mau Renji tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya membenci ibu kandungnya. Dia masih kecil, belum tahu mana yang benar dan salah. Aku cuma ingin dia tahu ibunya nggak bersalah hanya karena tuli."

"Arvin, Renji itu kulahirkan dengan nyawaku." Matanya memerah, suaranya serak.

Dia teringat hari kelahiran Renji. Juwita tahu posisi bayinya sungsang, tetapi tetap memaksa dokter untuk melahirkan normal. Saat dia kehilangan banyak darah, Juwita bahkan berkata, "Selamatkan anaknya saja."

Kalau bukan karena nasibnya bagus, mungkin dia sudah mati di meja operasi. Namun, Arvin tidak tahu itu. Karena ibunya sengaja mengusirnya keluar kota tepat sebelum hari kelahiran. Saat Arvin kembali, semuanya sudah baik-baik saja.

Arvin memang tidak menginginkan anak itu, tetapi begitu melihat Renji, rasa bangga sebagai ayah membuat hatinya melembut. Bahkan dia mentransfer 10 miliar ke rekening Renee sebagai bonus.

Faktanya, setelah pernikahan, senyuman hanya pernah muncul di wajah Arvin saat pertama kali melihat Renji. Selain itu, mereka seperti orang asing.

"Renee, apa aku yang menyuruhmu melahirkan Renji?" Arvin menatapnya dengan dingin.

Renee terdiam. Benar, Renji lahir karena dia sendiri yang bersikeras. Saat tahu dirinya hamil, Arvin langsung menyuruhnya menggugurkan kandungan. Namun, dia memohon dan menangis, hingga akhirnya anak itu lahir.

Suasana di dalam mobil membeku. Tiba-tiba, ponsel Arvin berdering. Dia mengangkatnya. Panggilan video dari Nissa.

"Arvin, Renee nggak apa-apa, 'kan? Sudah kamu jemput?"

"Hmm," gumam Arvin dengan nada datar.

"Syukurlah. Kalau begitu, istirahatlah lebih awal."

"Renji sudah tidur?"

Begitu nama Renji disebut, Nissa langsung tersenyum hangat. "Baru saja tidur. Tadi dia bilang kangen papanya, mau tidur bareng papanya."

Begitu suara Nissa berhenti, terdengar suara lembut Renji. "Mama Nissa ... gendong ...."

"Oke, Mama gendong ya." Nada Nissa lembut, manis, seperti madu yang menetes.

Renee menatap layar ponsel, melihat Nissa memeluk Renji dengan penuh kasih. Pemandangan itu membuat hatinya seperti diremas.

Mobil berhenti di depan vila. Renee turun, berlari ke lantai dua. Sambil bersandar di pintu kamar, dia perlahan terduduk sambil menangis.

Dia hanya ingin memeluk anaknya, hanya ingin bersamanya sebentar saja. Namun, kenapa itu terasa mustahil? Kapan pernikahan ini akan berakhir?

Renee menatap foto pernikahan di dinding. Pria tampan yang dingin, gadis muda yang tampak hati-hati. Itu bukan potret bahagia, melainkan belenggu.

Dia berdiri, meraih bingkai itu, dan menghantamkannya ke lantai. Brak! Bingkai kaca pecah. Di wajah dua orang yang memang tidak cocok itu, muncul retakan.

Arvin yang mendengar suara itu masuk ke kamar. Melihat Renee yang biasanya lembut, kini menghancurkan foto pernikahan, dia sempat tertegun, lalu dengan marah mencengkeram pergelangan tangannya.

"Renee, apa maksudmu ini? Kamu nggak mau tinggal di sini lagi?"

"Arvin, aku mau cerai!" Renee menatapnya dengan air mata mengalir, tetapi kali ini matanya penuh tekad. "Aku sudah muak! Aku nggak mau hidup tanpa harga diri lagi! Aku mau cerai dan aku nggak bercanda soal ini!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 100

    Renee segera berjalan mendekat, berjongkok di samping kaki Jerico sambil terisak. "Terima kasih, Kakek selalu begitu menghargaiku.""Kenapa bicara begitu?" Jerico tersenyum sambil menepuk kepala Renee. "Kamu itu istri Arvin, ibu Renji. Mana mungkin Kakek nggak menghargaimu?""Kakek tahu betul sifat Arvin itu. Selama ini kamu yang banyak menahan diri.""Kakek, aku ...." Renee ingin mengatakan bahwa dirinya tidak merasa tertekan, tetapi mengingat situasinya sekarang, dia memutuskan untuk terlihat tertekan."Kakek, aku nggak apa-apa. Aku baik-baik saja.""Mm, hidup yang baik, pada akhirnya kamu akan punya hari bersinarmu sendiri."Hari bersinar? Renee belum pernah memikirkannya.Sejak hari dia menikah dengan Arvin, dia tak pernah berpikir ingin berkuasa atau menonjol. Dia hanya ingin hidup tenang dan punya keluarga yang damai.Kalau bukan karena kemunculan Nissa yang tiba-tiba, dia pun tidak akan berakting seperti ini di depan Jerico.Jerico kembali tersenyum. "Tadi Kakek sudah bertemu Re

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 99

    "Aku sudah tahu. Kalau nggak ada aku, kamu pasti nggak akan memperlakukan Renee dengan baik. Kamu melakukan apa lagi padanya?"Arvin terdiam, untuk sesaat tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.Jerico lalu beralih bertanya kepada Renee. Nada suaranya melembut. "Renee, bilang sama Kakek, apa yang bocah ini lakukan padamu?"Renee menunduk. Dia memaksa air mata yang sudah disiapkan keluar dari mata, lalu mendongak menatap Jerico."Kakek, aku bisa mengerti kalau Arvin nggak mencintaiku, tapi aku nggak bisa mengerti, apalagi menerima, kalau dia membawa Nissa ke kamar kami.""Benar begitu?" Jerico menoleh pada Arvin. "Arvin, yang Renee katakan itu benar? Kamu bawa Nissa ke kamar kalian?"Tangan Arvin yang diletakkan di pangkuannya semakin mengepal erat sampai memutih. Namun, dia tetap menunduk dengan patuh."Kakek, Nissa diundang khusus oleh Ibu untuk menjadi guru privatnya Renji. Renji memang sangat menyukainya. Dia mengajar dengan baik juga. Aku awalnya berencana menunggu Renji beradaptas

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 98

    Sore hari ketika Renee kembali ke rumah lama, Jerico sedang membahas pekerjaan dengan Arvin di ruang kerja.Di ruang bunga, duduk Juwita yang anggun, Nissa yang berdandan rapi, serta Felicia. Ketiganya sedang minum teh sambil mengobrol ringan.Suasana hangat itu mendadak sunyi begitu Renee muncul. Nissa secara refleks mengangkat sudut bibirnya, seperti sedang diam-diam mengumumkan kemenangan.Felicia sejak dulu selalu meremehkan Renee, bahkan malas memberi satu lirikan pun. Sementara itu, Juwita tidak mempersulitnya, bahkan menyapa lebih dulu, "Sudah pulang?"Sungguh sesuatu yang langka. Nada suaranya tidak terlalu baik, tetapi juga tidak sedingin dan sekejam semalam, seakan-akan kejadian semalam sudah dianggap selesai.Renee mengangguk ringan, bersiap melangkah naik. Tiba-tiba, Felicia memanggilnya dari belakang. "Tuli, berhenti!"Langkah kaki Renee terhenti. Dia menoleh dan menatap Felicia dengan tenang. "Kalau nggak bisa menghormati orang lain, aku sarankan ikut beberapa kelas etika

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 97

    Rosa segera berdiri. Dia menyapa dan menjelaskan, "Tuan Arvin menyuruhku datang membantu Bu Nissa mengurus Renji, jadi aku datang."Renee mengangguk. Dia tidak mengerti kenapa Arvin tiba-tiba memanggil Rosa ke sini. Namun, bagaimanapun juga dengan adanya orang lain yang mengawasi, Nissa seharusnya tidak berani melukai Renji lagi dalam waktu dekat.Dengan nada sebagai Nyonya Keluarga Suryana, Renee menasihatinya, "Kalau kamu sudah datang, uruslah Renji dengan baik.""Baik, Nyonya."Kemudian, Renee berpesan beberapa hal kepada Rosa, memintanya mengawasi Nissa, jangan sampai dia mencelakai Renji.Rosa terkejut dan bertanya, "Apa Nyonya salah paham dengan Bu Nissa? Bu Nissa sangat baik pada Renji."Renee tidak merasa aneh mendengarnya. Nissa terlalu pandai mengambil hati. Di Keluarga Suryana, dari yang tua hingga yang muda, dari majikan hingga pembantu, siapa yang tidak dibuat tunduk olehnya?"Pokoknya lakukan saja seperti yang kubilang." Renee merenung sesaat, lalu memberikan amplop besar

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 96

    Tatapan Arvin pada Renee perlahan-lahan menjadi suram. Dia menatapnya begitu saja.Setelah sekian lama, barulah dia mengambil laporan di atas meja, melihatnya sekilas, lalu mengangkatnya ke arah Renee. "Cuma ini?""Tengah malam lari keluar hanya untuk membawa selembar kertas sampah ini kembali dan membuat keributan?"Renee mengernyit. "Itu laporan pemeriksaan dari klinik hewan. Aku baru saja membawa Embul untuk diuji, aku ....""Renee, aku sudah bilang kejadian hari ini salahku, bukan salahmu. Renji juga nggak akan dibawa pergi. Bisa nggak kamu tenang sedikit?"Melihat ketidaksabaran di matanya, Renee seketika terdiam. Sepertinya dia tetap sama seperti sebelumnya, hanya percaya pada Nissa. Di hatinya juga hanya ada Nissa.Padahal beberapa hari ini, karena dia membawa Renji kembali ke Vila Panorama, karena dua tiket yang diberikannya, Renee sempat mengubah pandangannya pada Arvin. Pria berengsek tetap pria berengsek, tidak akan berubah.Renee menggigit bibirnya dan berkata dengan sangat

  • CEO Dingin Menolak Diceraikan Istri Tunarungu   Bab 95

    "Bagaimanapun dia sudah menggigit orang. Aku yang setuju kamu bawa pulang, jadi kali ini aku nggak menyalahkanmu. Besok kirim saja anjing itu pergi."Arvin terlihat agak lelah. Usai mengatakan itu, dia berbelok dan berjalan naik ke lantai atas.Renee membuka mulutnya. Bukan karena dia tidak mau mengirim Embul pergi, hanya saja dia ingin mengatakan padanya bahwa Embul menggigit orang pasti ada alasannya.Embul masih kecil dan sifatnya lembut. Dulu pernah dikejar dan dipukul oleh keponakan perempuan Nenek Lia saja dia tidak pernah melawan, bagaimana mungkin tiba-tiba menggigit Renji?Lagi pula, sebelum keluar rumah, dia sudah mengurung Embul di ruang kaca yang penuh sinar matahari. Bagaimana mungkin Embul tiba-tiba bisa keluar?Mengingat dua malam lalu Embul juga keluar sendiri dari balkon dan membuat Arvin terkejut. Sepertinya dia terlalu meremehkan ambisi dan metode Nissa.Demi naik posisi, Nissa bahkan memanfaatkan anak kecil. Semakin Renee memikirkan, dia semakin kesal. Dia melangkah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status