Mag-log inSejak ibuku menikahi pria yang ternyata adalah target penyelidikanku, aku terjebak di dalam keluarga mafia paling berkuasa di Texas—rumah yang penuh rahasia dan tatapan yang terlalu berani. Tiga kakak tiriku yang berbahaya tak hanya mengawasiku, mereka juga menuntut kepatuhan mutlak…
view morePLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi seorang gadis hingga kepalanya terhentak. Namun, yang lebih menyakitkan bukan rasa panas di pipinya, melainkan pria yang baru saja melakukannya. “Mark?” desis wanita yang bernama Winter. Dia menatap tak percaya pada kekasih yang selama empat tahun ini memanjakannya. “Kamu menamparku?” Winter sungguh tak menduga Mark berbuat kasar padanya. Dan lelaki itu? Dia tidak menunjukkan penyesalan. Mark justru mengusap telapak tangannya sendiri seolah baru saja menyentuh sesuatu yang kotor. “Aku tidak akan melakukannya kalau kamu menurut.” Winter Valerian, dia adalah detektif muda di sebuah lembaga penegak hukum. Dalam kasus yang berat ini, dia harus melawan mafia paling mengerikan demi keadilan. Sebagai calon suami sekaligus senior, Mark sudah berjanji akan melindunginya. Lalu kenapa sekarang pria itu justru memaksanya berhenti menyelidiki? “Aku hanya ingin kamu sadar, kalau hubungan kita jauh lebih penting dari pada menjadi pahlawan. Keluarga Libermon itu sangat berbahaya.” Ucapan itu nampak penuh dengan kepedulian, tapi bukannya terharu Winter justru tertawa sumbang. “Kita?” Pikirannya seempat melayang pada cincin pertunangan yang baru mereka bicarakan bulan lalu. “Tidak ada 'kita' kalau kamu membiarkan keluarga Libermon itu melakukan segalanya sesuka hati mereka! Kamu kekasihku, calon suamiku, Mark! Kamu orang yang paling aku percaya saat aku mengatakan takut dengan penyelidikan ini!” “Justru karena aku lelakimu, aku memberimu pilihan,” ucap Mark dengan napas memburu, “Diam dan biarkan aku naik pangkat dengan tidak mengusik keluarga mafia itu, atau kau hancur sendirian." Winter mengernyit, “Naik pangkat? Maksudmu?” “Ya, Winter, Ya! Kamu tahu kan kelompok mafia itu memberikan kita jutaan dolar? Kita bisa kaya hanya dengan membiarkan mereka melakukan yang mereka suka! Dan kau justru—“ PLAK! Kali ini tangan Winter yang membuat pipi Mark memerah. Tatapan Winter pada Mark berubah. Jadi, alasan kenapa penyelidikan kasus-kasus yang berkaitan dengan kelompok mafia dari keluarga Libermon menguap di udara adalah karena timnya menerima suap. “Dasar Berengsek! Kau tak jauh berbeda dengan tikus-tikus yang sudah menguasai keadilan kota ini! Kau—“ Mark melangkah maju, mencengkeram rahang Winter dengan sorotnya yang tajam. Tak ada tatapan penuh cinta dan kehangatan. Yang ada kini sorot penuh ambisi yang rakus. “Aku sudah memperingatkanmu, Winter. Berhenti jadi pahlawan para korban. Tapi kamu sama sekali tidak pernah mendengarkanku.” Mata Winter mengerjap untuk menetralkan rasa sesak dan sakit di rahang sekaligus hatinya. Bertepatan itu pula sebuah mobil hitam memasuki gang dan berhenti tak jauh dari mereka. “Aku beri satu kali kesempatan, lepaskan penyelidikan dan kita bisa melanjutkan pernikahan. Atau kau lebih memilih karirmu?” tanya Mark seperti jam pasir yang tak bisa menunggu lebih lama lagi. Winter meremat pergelangan tangan Mark yang masih menahan rahang kecilnya. “Aku sudah bersumpah akan mencari keadilan untuk nyawa-nyawa yang lenyap tanpa jejak. ”Oke." Senyuman licik Mark terbitkan bersamaan dengan tangannya yang melepas cengkeraman. Membuat Winter terjatuh lemas sambil terbatuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. “Jadi, nikmati saja pilihanmu itu.” Mark kemudian berjalan ke arah dua orang yang baru keluar dari dalam mobil. Satu amplop tebal diberikan. Transaksi itu tidak luput dari perhatian Winter. Sampai dua kata akhirnya keluar dari mulut Mark. “Bawa dia.” Mata Winter melebar ketika memahami maksudnya. Mark menyerahkan dia pada musuh supaya dia bungkam. “Mark, kau menjualku pada mereka? Berengsek kau, Mark!” Winter mencoba menerobos untuk kabur, tapi sebuah tangan besar lebih dulu mencengkeram bahunya. “Lepaskan!” Sedikit ilmu beladiri sempat membuat Winter terlepas. Sayangnya, dua orang tinggi besar itu bisa dengan mudah menangkapnya dan membekap hidungnya dengan cairan kimia yang menyengat. Pandangan Winter mulai mengabur, lampu jalanan yang remang-remang berputar, dan hal terakhir yang dia lihat adalah Mark yang masuk ke dalam mobil tanpa sekalipun menoleh ke belakang. “Aku mencintaimu, Winter. Dalam keadaan apapun, aku akan selalu melindungimu. Meski nyawa aku taruhannya.” Ucapan Mark di masa lalu seperti menguap begitu saja, bersamaan dengan hilangnya kesadaran sang detektif muda. *** Saat kesadarannya kembali, hal pertama yang Winter rasakan bukan lagi aspal dingin, melainkan karpet bulu yang tebal dan aroma tembakau yang mahal. Dia coba menggerakkan tangannya, tapi tubuhnya terasa lemas luar biasa. “Mark ....” Mulutnya memanggil lirih. Berharap apa yang dia alami tadi hanyalah mimpi. Sayangnya ketika dia coba membuka matanya yang masih berat itu, Winter mulai merasa kalau apa yang Mark lakukan adalah kenyataan. Dia ditukar dengan tumpukan dolar dan kenaikan jabatan oleh calon suaminya sendiri. Winter mulai mengangkat pandangan, melihat kamar yang nampak asing di indra penglihatannya. Dinding bercat gelap dengan lukisan abstrak bernuansa maskulin. Aroma tembakau mahal dan parfum lelaki juga bisa dia hidu. “Akh ....” Sekali lagi dia mengeluh sakit pada kepalanya. Apakah dia akan mati di sini? Winter coba membetulkan posisinya yang duduk di atas lantai dan bersandar di ujung ranjang. Ketika itu, dia baru sadar sesuatu. “Aku diborgol?” Winter mencoba menarik tangannya, sialnya dia benar-benar diborgol ke pinggiran ranjang. “Sudah bangun, Detektif Winter yang pemberani?” Suara bariton itu membuat Winter mendongak cepat. Di sebuah sofa kulit, seorang pria duduk dengan kaki menyilang. Cahaya lampu gantung kristal di atas mereka membuat siluet pria itu tampak sangat dominan. “Denzel?” tebak Winter lirih melihat siapa yang ada di sana. Lelaki yang rambutnya tersisir rapi itu tersenyum miring. Wajahnya nyaris tidak berubah sejak terakhir kali Winter melihatnya sedang tidur bersama sahabatnya. Terlalu tampan untuk seorang mantan yang brengsek. “Hai,” ucap Denzel santai. “Kau senang bertemu denganku lagi?” Tunggu, Winter mengernyit bingung. Kenapa dia diculik mantan kekasihnya? Apa lelaki ini ada hubungannya dengan mafia-mafia busuk itu? “Diam? Sedang mengagumiku?” Percuma bicara dengan lelaki ini. Tingkat percaya dirinya sangat tinggi. Bisa-bisa Winter terserang hipertensi kalau terlalu lama berurusan dengannya. Saat begitu terdengar suara pintu yang terbuka bersama dengan langkah sepatu yang mendekat. Ketika berhenti di samping ranjang, Winter menoleh. Rupanya seorang pria dengan wajah sedikit mirip dengan Denzel. Hanya saja, sorot matanya berbeda. Lebih tenang dan manusiawi. Tidak menjijikkan seperti Denzel. “Dia adikku.” Denzel seperti menjawab apa yang ada di pikiran Winter. “Bagaimana? Mau coba main berdua di kamar ini dengan kami?”Winter masih ingat sekali ekspresi galak Storm saat dia merengek ingin meminta mobil mereka kembali ke markas lama Libermon.Padahal tas yang tertinggal di mobil Mark, baginya sangat penting. Ada flashdrive dan ponsel berharganya.Dia pikir benda itu akan benar-benar hilang. Ternyata kini ada di depan mata.Winter buru-buru mendekat lalu membukanya cepat. Jemarinya sampai sedikit gemetar saat mencari benda tertentu di dalam sana.“Hah… syukurlah ....”Napas lega langsung lolos begitu ponselnya masih ada di sana. Masih mulus, tanpa goresan sedikitpun. Barang lainnya juga masih utuh pada tempatnya.Saat begitu pintu diketuk. “Ya!” jawab Winter sambil mengecek benda pipih yang baginya sangat berharga. Memastikan seluruh data yang dia miliki masih aman.Pintu kamar terbuka. Pelayan masuk membawa nampan. Usianya mungkin tidak jauh dari Winter. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang dengan seragam pelayan berwarna putih berpadu abu tua.“Permisi, Nona Winter.”Pelayan muda itu meletakkan d
“Akhirnya pulang juga.”Suara yang muncul santai dari arah kanan, membuat Winter melambatkan langkah ketika tangannya baru saja menyentuh pegangan tangga berwarna hitam mengilap.Pelayan yang sebelumnya mengikuti Winter sejak tiba di mansion pun membungkuk mundur, memberi ruang untuk para majikannya berkomunikasi.“Saya akan membawa ini ke kamar, Nona,” ucap pelayan muda yang beberapa hari ini lebih sering melayaninya.Winter mengangguk tipis saat menoleh, membiarkan pelayan membawa coat tebalnya dan beberapa barang belanjaan yang dibawa dari apartemen Storm tadi.Kemudian netranya beralih pada Denzel, lelaki yang baru saja keluar dari lift dalam kondisi basah kuyup karena keringat. Sepertinya kakak tirinya itu baru berlatih fisik atau olahraga. Entahlah.“Bagaimana semalam? Menyenangkan?” tanya Denzel santai.Diraihnya gulungan handuk kecil ketika pelayan memberikannya. Lalu dia keringkan wajahnya, turun ke lengan juga tangan.Karena belum ada jawaban, Denzel melirik tanpa menghentik
Kelopak mata Winter terbuka perlahan. Sampai netranya bisa menangkap sinar redup di sekitarnya.“Ada apa dengan tubuhku,” gumamnya nyaris tanpa suara.Matanya terpejam sejenak untuk mencoba mengumpulkan lebih banyak energi. Sebab rasanya tubuh itu lemah untuk sekadar bergerak dari tempatnya.“Dokter ....”Ya, Winter ingat sekali. Terakhir kali dia tertidur, hanya ada Dokter Isabel di apartemen. Dia membuka mata lagi, dan kali ini bisa lebih lebar.Diangkat tubuh itu sampai menumpu pada kedua sikunya.Kamar Storm?Dahi wanita yang masih memakai kaos oversize milik kakak tirinya itu berkerut. Bukankah dirinya tertidur di sofa lantai bawah tadi? Kenapa sekarang ada di ranjang kamar Storm lantai dua?Pening di kepala sedikit menyiksa, tapi Winter paksakan diri untuk beranjak dari ranjang. Dipakainya sandal tipis tentu dengan ukuran kaki Storm.Begitu tubuhnya dipaksa untuk berdiri, dia langsung meringis kecil. Bahu kanannya terasa nyeri saat bergerak, dan tubuhnya berat karena kekurangan
Winter meletakkan sumpitnya lalu bangkit dengan hati-hati. Begitu membuka pintu, seorang wanita berdiri di sana dengan tas medis di tangan. Penampilannya rapi, tenang, dan jelas terbiasa datang untuk urusan seperti ini.“Selamat sore, Nona Winter,” ucap wanita itu lembut.“Dokter Isabel.” Winter sempat mencari ke belakang tubuh wanita di depannya. Ada helaan napas lega ketika tidak menemukan Storm di sana.“Sendiri, Dok?” Dia lalu membuka pintu lebih lebar dan bergeser, memberi ruang pada tamunya untuk masuk.“Tentu sendiri. Tuan Storm yang memanggil saya untuk memeriksa luka Anda.”Isabel tidak menunggu lama. Dia masuk setelah Winter memberi jalan, lalu menaruh tas medisnya di meja ruang tengah.“Anda sedang makan?” tebaknya merasakan aroma masakan di sini.Winter tersenyum kecil. “Hehe, begitulah. Dokter sudah makan?”“Sudah. Lanjutkan saja makannya, nanti saya periksa. Anda harus dalam keadaan kenyang nanti.”Meski tidak mengerti maksud Dokter Isabel, Winter tetap menurut saja. Dia






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Rebyu