MasukSejak ibuku menikahi pria yang ternyata adalah target penyelidikanku, aku terjebak di dalam keluarga mafia paling berkuasa di Texas—rumah yang penuh rahasia dan tatapan yang terlalu berani. Tiga kakak tiriku yang berbahaya tak hanya mengawasiku, mereka juga menuntut kepatuhan mutlak…
Lihat lebih banyakWinter masih ingat sekali ekspresi galak Storm saat dia merengek ingin meminta mobil mereka kembali ke markas lama Libermon.Padahal tas yang tertinggal di mobil Mark, baginya sangat penting. Ada flashdrive dan ponsel berharganya.Dia pikir benda itu akan benar-benar hilang. Ternyata kini ada di depan mata.Winter buru-buru mendekat lalu membukanya cepat. Jemarinya sampai sedikit gemetar saat mencari benda tertentu di dalam sana.“Hah… syukurlah ....”Napas lega langsung lolos begitu ponselnya masih ada di sana. Masih mulus, tanpa goresan sedikitpun. Barang lainnya juga masih utuh pada tempatnya.Saat begitu pintu diketuk. “Ya!” jawab Winter sambil mengecek benda pipih yang baginya sangat berharga. Memastikan seluruh data yang dia miliki masih aman.Pintu kamar terbuka. Pelayan masuk membawa nampan. Usianya mungkin tidak jauh dari Winter. Rambut hitamnya diikat rapi ke belakang dengan seragam pelayan berwarna putih berpadu abu tua.“Permisi, Nona Winter.”Pelayan muda itu meletakkan d
“Akhirnya pulang juga.”Suara yang muncul santai dari arah kanan, membuat Winter melambatkan langkah ketika tangannya baru saja menyentuh pegangan tangga berwarna hitam mengilap.Pelayan yang sebelumnya mengikuti Winter sejak tiba di mansion pun membungkuk mundur, memberi ruang untuk para majikannya berkomunikasi.“Saya akan membawa ini ke kamar, Nona,” ucap pelayan muda yang beberapa hari ini lebih sering melayaninya.Winter mengangguk tipis saat menoleh, membiarkan pelayan membawa coat tebalnya dan beberapa barang belanjaan yang dibawa dari apartemen Storm tadi.Kemudian netranya beralih pada Denzel, lelaki yang baru saja keluar dari lift dalam kondisi basah kuyup karena keringat. Sepertinya kakak tirinya itu baru berlatih fisik atau olahraga. Entahlah.“Bagaimana semalam? Menyenangkan?” tanya Denzel santai.Diraihnya gulungan handuk kecil ketika pelayan memberikannya. Lalu dia keringkan wajahnya, turun ke lengan juga tangan.Karena belum ada jawaban, Denzel melirik tanpa menghentik
Kelopak mata Winter terbuka perlahan. Sampai netranya bisa menangkap sinar redup di sekitarnya.“Ada apa dengan tubuhku,” gumamnya nyaris tanpa suara.Matanya terpejam sejenak untuk mencoba mengumpulkan lebih banyak energi. Sebab rasanya tubuh itu lemah untuk sekadar bergerak dari tempatnya.“Dokter ....”Ya, Winter ingat sekali. Terakhir kali dia tertidur, hanya ada Dokter Isabel di apartemen. Dia membuka mata lagi, dan kali ini bisa lebih lebar.Diangkat tubuh itu sampai menumpu pada kedua sikunya.Kamar Storm?Dahi wanita yang masih memakai kaos oversize milik kakak tirinya itu berkerut. Bukankah dirinya tertidur di sofa lantai bawah tadi? Kenapa sekarang ada di ranjang kamar Storm lantai dua?Pening di kepala sedikit menyiksa, tapi Winter paksakan diri untuk beranjak dari ranjang. Dipakainya sandal tipis tentu dengan ukuran kaki Storm.Begitu tubuhnya dipaksa untuk berdiri, dia langsung meringis kecil. Bahu kanannya terasa nyeri saat bergerak, dan tubuhnya berat karena kekurangan
Winter meletakkan sumpitnya lalu bangkit dengan hati-hati. Begitu membuka pintu, seorang wanita berdiri di sana dengan tas medis di tangan. Penampilannya rapi, tenang, dan jelas terbiasa datang untuk urusan seperti ini.“Selamat sore, Nona Winter,” ucap wanita itu lembut.“Dokter Isabel.” Winter sempat mencari ke belakang tubuh wanita di depannya. Ada helaan napas lega ketika tidak menemukan Storm di sana.“Sendiri, Dok?” Dia lalu membuka pintu lebih lebar dan bergeser, memberi ruang pada tamunya untuk masuk.“Tentu sendiri. Tuan Storm yang memanggil saya untuk memeriksa luka Anda.”Isabel tidak menunggu lama. Dia masuk setelah Winter memberi jalan, lalu menaruh tas medisnya di meja ruang tengah.“Anda sedang makan?” tebaknya merasakan aroma masakan di sini.Winter tersenyum kecil. “Hehe, begitulah. Dokter sudah makan?”“Sudah. Lanjutkan saja makannya, nanti saya periksa. Anda harus dalam keadaan kenyang nanti.”Meski tidak mengerti maksud Dokter Isabel, Winter tetap menurut saja. Dia
“Area distrik main street,” ucap Winter tergesa setelah dia dan ibunya masuk ke dalam mobil.Tanpa ada jawaban dari supir di depan, taksi pun melaju saat mata wanita itu bisa menangkap pergerakan cepat dari dalam gang sempit yang tadi mereka lewati. Nampak orang-orang berjas hitam melihat ke kanan d
Storm Libermon. Ekspresi pria itu jauh dari kata senyum. Membuat suasana sangat kaku dan gelap.“M-Maaf,” ucapnya mundur lalu mengusap hidungnya yang baru menabrak dada bidang yang tidak tertutup sempurna.Hening, meski tidak bertanya apapun tapi sorot tajam lelaki itu membuat Winter jadi salah ting
“B-Berhenti!” teriak Winter memperingati.Yang ada lelaki itu justru menyeringai. Senyuman Denzel yang paling Winter benci.“Untuk apa aku berhenti? Kamu pasti sudah bersiap kan menerima konsekuensinya kalau tidak menolak pernikahan mereka?”Punggung Winter sampai menempel ke dinding, Denzel juga ma
Bukan marah, Simon justru tertawa yang membuat suasana jadi lebih ngeri.“Ya, keluarga Libermon memang seharusnya memiliki keberanian seperti dirimu. Mengutarakan pendapat meski kamu bicara sampai terlihat pucat.” Simon berdiri lalu menoleh pada calon istrinya.“Diana, setelah makan antar dia ke kam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan