Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin

Obsesi Terlarang Tuan Muda Gavin

last updateHuling Na-update : 2026-02-04
By:  Fillani PutriOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Hindi Sapat ang Ratings
6Mga Kabanata
11views
Basahin
Idagdag sa library

Share:  

Iulat
Buod
katalogo
I-scan ang code para mabasa sa App

"Jangan mendesah di depan adikku, Aruna. Karena hanya aku yang berhak mendengar suara itu malam ini."** Satu kesalahan di sebuah klub malam yang gelap membawa Aruna ke ranjang pria asing dengan tatapan sebuas predator. Aruna mengira itu adalah akhir dari pelariannya, sebuah rahasia yang terkubur bersama fajar. Namun, dunia seolah runtuh saat Aruna harus menghadiri peresmian pertunangan adiknya. Pria itu ada di sana **Gavin Dirgantara**. Pewaris tunggal kekayaan keluarga Dirgantara yang dingin, angkuh, dan... kakak kandung dari calon adik iparnya. Gavin tidak membiarkannya pergi. Di lorong-lorong sepi rumah besar mereka, Gavin menyudutkan Aruna, membisikkan ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri sekaligus membakar gairah yang tak seharusnya ada. Aruna terjebak; antara rasa bersalah pada adiknya dan jeratan obsesi Gavin yang tak kenal ampun. Situasi berubah menjadi bencana saat dua garis biru muncul di testpack Aruna. Ia mengandung benih sang kakak ipar. Di bawah atap yang sama, sebuah sandiwara dimulai. Aruna harus menyembunyikan perutnya yang kian membuncit, sementara Gavin terus menuntut haknya di setiap kesempatan—memaksa Aruna masuk ke dalam permainan ranjang yang berbahaya dan penuh rahasia. **Dapatkah Aruna meloloskan diri sebelum rahasia ini menghancurkan keluarganya? Ataukah ia akan hancur lebih dulu di tangan pria yang telah mengklaim jiwa dan raganya?** ---

view more

Kabanata 1

Bab 1 : Dosa di Balik Jas Hitam

Detak jantungku berdentum keras, seolah ingin melompat keluar dari dadaku. Aroma alkohol, parfum mahal, dan asap rokok tipis di bar ini biasanya membuatku mual, tapi malam ini semuanya terasa seperti bius yang kucari. Aku baru saja melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kekasihku selama tiga tahun sedang bercumbu dengan wanita lain di apartemen yang seharusnya menjadi kejutan ulang tahunku. Hancur. Itulah satu kata yang bisa menggambarkan jiwaku sekarang.

Aku memesan satu gelas wiski lagi, lalu satu lagi, sampai pandanganku mulai sedikit berbayang. Di tengah keremangan lampu bar yang berputar, aku merasakan sebuah tatapan yang membakar kulit tengkukku. Aku menoleh perlahan dan menemukan seorang pria duduk di sudut yang paling gelap. Ia sedang menyesap minumannya dengan tenang, namun matanya yang tajam tidak sedetik pun lepas dariku.

Ia tidak seperti pria-pria di sini yang mencoba mendekat dengan rayuan murahan. Pria itu hanya diam, tapi auranya sangat mendominasi. Ia mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan yang kokoh dan urat-urat yang menonjol. Sangat maskulin. Sangat berbahaya.

"Kau terlihat seperti sedang mencari jalan untuk menghancurkan dirimu sendiri, Gadis Kecil," suaranya terdengar rendah, membelah kebisingan musik di sekitar kami saat ia tiba-tiba sudah berdiri di sampingku.

Aku mendongak, menantang tatapannya yang sedingin es namun menyimpan bara api di dalamnya. "Bukan urusanmu. Pergi saja jika kau hanya ingin menceramahiku."

Bukannya pergi, ia justru terkekeh pelan. Sebuah tawa yang terdengar seperti ancaman sekaligus godaan. Ia mencondongkan tubuhnya, membuat aroma maskulin yang begitu kuat menyergap indra penciumanku. "Aku tidak suka menceramahi orang. Aku lebih suka memberikan apa yang mereka butuhkan."

"Dan menurutmu apa yang aku butuhkan?" tanyaku dengan suara yang sedikit bergetar, entah karena alkohol atau karena keberadaannya yang begitu mengintimidasi.

"Kau butuh untuk lupa," bisiknya tepat di depan bibirku.

Sebelum aku sempat menjawab, ia menyambar bibirku. Ciumannya tidak lembut. Itu adalah sebuah serangan yang penuh rasa lapar dan tuntutan. Aku seharusnya mendorongnya, tapi rasa sakit di hatiku membuatku justru menarik kerah kemejanya, membalas ciumannya dengan keputusasaan yang sama. Aku ingin terbakar. Aku ingin hilang dalam sensasi ini agar aku tidak perlu mengingat pengkhianatan itu lagi.

Tangan besarnya merayap ke pinggangku, menarik tubuhku hingga menempel sempurna pada tubuhnya yang keras seperti batu. Sensasi panas menjalar dari titik sentuhannya, membuat seluruh sarafku berteriak minta lebih. Ia melepaskan ciumannya sejenak, menatapku dengan mata yang kini menggelap karena gairah. Tanpa kata-kata, ia menarikku keluar dari bar menuju hotel mewah yang berada tepat di atas bangunan ini.

Begitu pintu kamar hotel tertutup, keadaan menjadi semakin tak terkendali. Ia menyudutkan tubuhku ke pintu, mencium leherku dengan intensitas yang membuatku mendesah tanpa sadar. Tangannya yang kasar mulai menjelajahi setiap lekuk tubuhku di bawah gaun tipis yang kukenakan. Setiap sentuhannya terasa seperti klaim mutlak. Malam itu, aku membiarkan pria asing yang bahkan tidak kutahu namanya ini mengambil alih segalanya.

Di atas ranjang yang luas itu, di bawah cahaya lampu kota yang masuk melalui jendela besar, ia memperlakukanku seolah aku adalah miliknya yang paling berharga sekaligus mangsa yang paling ia inginkan. Gairah yang ia berikan begitu meledak-ledak, membuatku lupa bagaimana caranya bernapas. Setiap gerakan tubuhnya yang bertenaga membuatku tenggelam dalam kesenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Malam itu bukan hanya tentang seks, tapi tentang sebuah pelarian yang membakar habis sisa-sisa kewarasanku.

---

Pagi hari datang dengan rasa sakit di kepala dan kekosongan di hati. Aku terbangun di ranjang mewah itu sendirian. Pria itu sudah pergi, meninggalkan aroma parfumnya yang masih menempel kuat di bantal. Aku segera bangkit, berpakaian dengan terburu-buru, dan bersumpah tidak akan pernah mengingat kejadian memalukan ini lagi. Aku akan kembali ke kehidupanku yang biasa.

Namun, takdir punya rencana lain yang jauh lebih kejam.

Malam harinya, rumah orang tuaku tampak lebih sibuk dari biasanya. Ayah memintaku mengenakan pakaian terbaik karena keluarga calon suami adikku, Maya, akan datang untuk makan malam perkenalan. Maya akan segera bertunangan dengan putra dari keluarga Dirgantara, penguasa bisnis properti terbesar di negeri ini.

"Aruna, tolong bantu Ibu di meja makan. Mereka sudah sampai!" teriak Ibu dengan nada gembira.

Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungku yang sejak tadi merasa tidak enak. Aku keluar ke ruang tamu tepat saat pintu depan terbuka. Aku melihat Maya tersenyum malu-malu di samping seorang pria muda yang tampak ramah. Namun, langkahku terhenti total saat seorang pria lain melangkah masuk di belakang mereka.

Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang sangat mahal, terlihat begitu berwibawa dan angkuh. Rambutnya tertata rapi, sangat berbeda dengan penampilannya yang berantakan saat berada di atas tubuhku semalam. Tapi matanya... mata itu tetap sama. Tajam, gelap, dan penuh rahasia.

Duniaku serasa runtuh. Pria asing yang menghabiskan malam panas bersamaku adalah Gavin Dirgantara. Kakak kandung dari pria yang akan menikahi adikku sendiri.

Suasana makan malam berlangsung formal, tapi aku tidak bisa menelan makanan sedikit pun. Aku merasa mata Gavin terus mengulitiku dari seberang meja. Ia bersikap seolah kami tidak pernah bertemu, berbincang dengan Ayahku tentang bisnis dengan suara baritonnya yang membuat bulu kudukku meremang.

Selesai makan malam, saat Maya dan calon suaminya asyik mengobrol di taman, aku menyelinap ke dapur untuk mengambil segelas air. Aku butuh oksigen. Namun, sebelum aku sempat mengambil gelas, sebuah tangan besar membekap mulutku dan menarikku ke sudut pantry yang gelap.

Punggungku menabrak dinding dingin, dan di depanku, Gavin berdiri begitu dekat hingga ujung sepatu kami bersentuhan. Ia tidak melepaskan dekapannya, justru semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung kami bersentuhan.

"Kau tampak sangat cantik dengan gaun sopan ini, Aruna," bisiknya dengan nada mengejek yang sangat kentara. "Sangat berbeda dengan caramu mencengkeram bahuku semalam."

Aku mencoba berontak, tapi kekuatannya jauh di atasku. Ia melepaskan bekapan tangannya, namun beralih mencengkeram daguku agar aku menatap langsung ke matanya yang berbahaya.

"Jangan berani-berani membongkar apa yang terjadi, atau aku akan menghancurkan pernikahan adikmu," ancamku dengan suara berbisik yang gemetar.

Gavin justru tersenyum miring, sebuah senyuman predator yang membuat jantungku mencelos. Ia meraba perutku dengan telapak tangannya yang hangat, membuatku bergidik ngeri sekaligus teringat kembali pada sentuhannya semalam.

"Aku tidak akan membongkarnya, Aruna. Tapi sebagai gantinya, kau harus terus melayaniku setiap kali aku menginginkannya, atau haruskah aku memberitahu Maya bahwa kakaknya sudah mencicipi calon kakak iparnya lebih dulu?"

---

Palawakin
Susunod na Kabanata
I-download

Pinakabagong kabanata

Higit pang Kabanata

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Walang Komento
6 Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status