LOGIN"Sakit, Gavin... lepaskan!" "Kau yang memancingku, Aruna. Jangan salahkan aku kalau malam ini aku tidak akan memberimu ampun." Hanya butuh satu kesalahan di hotel tiga minggu lalu untuk mengubah Aruna dari seorang Creative Director yang tangguh menjadi budak gairah pria yang paling ia benci. Gavin Dirgantara—calon suami adiknya sendiri—tidak hanya merenggut kesuciannya, tapi juga menanamkan benih yang kini mulai berdenyut di rahim Aruna. Di bawah intimidasi tubuh Gavin yang perkasa, Aruna kehilangan kuasa atas raga dan napasnya. Setiap sentuhan pria itu adalah racun yang membakar, menghapus jejak apa pun yang pernah ada di hidup Aruna sebelumnya. Gavin sangat dominan, sangat ahli memetakan setiap titik lemah di tubuh Aruna hingga wanita itu terpaksa mendesah di tengah kebencian yang mendalam. "Kenapa wajahmu pucat? Takut rahasia kecil kita di perutmu ini ketahuan?" bisik Gavin dengan seringai pemenang. Kini, dengan dua garis merah di tangan yang gemetar, Aruna sadar bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan tanpa jalan keluar. Gavin tidak hanya menginginkan tubuhnya, tapi juga ingin mengikatnya selamanya melalui janin yang tak seharusnya ada. Saat hari pernikahan sang adik tinggal menghitung hari, sebuah pilihan maut menanti di depan mata. Haruskah Aruna menghancurkan kebahagiaan adiknya dengan sebuah kejujuran yang menjijikkan, atau membiarkan dirinya menjadi pemuas nafsu sang adik ipar selamanya demi menjaga nama baik keluarga?
View MoreSuara wanita di layar televisi itu terus bergema, menghantam dinding kamar yang hening seperti vonis mati. Garis wajah Sari—wanita yang memiliki mata serupa dengan Gavin—menatap dingin ke arah kamera, menelanjangi rahasia yang terendam puluhan tahun."Adik kandung..."Dunia Aruna berhenti berputar. Seluruh persendian tubuh Gavin mendadak terkunci rapat di atas tubuh Aruna. Pria itu mematung, menatap layar kaca dengan pupil mata yang melebar penuh ketakutan yang belum pernah Aruna lihat sebelumnya.Di bawah kungkungan tubuh Gavin yang berat, Aruna merasa dadanya seperti dihimpit batu besar. Rasa mual yang teramat sangat menyembur dari lambungnya, meracuni seluruh aliran darahnya."Gavin..." bisik Aruna, suaranya pecah dan bergetar hebat. "Lepaskan... lepaskan aku!"Aruna mendorong dada
Bau amis darah tua bercampur bau logam yang pekat memenuhi rongga dada Aruna. Cairan hangat yang mengalir di antara sela pahanya terasa tebal, merembes cepat menembus kain satin hitam yang melekat di kulitnya. Rasa melilit di perut bawahnya seolah mencakar dinding rahim dari dalam, merenggut seluruh pasokan udara hingga tenggorokannya terkunci rapat."Gavin..." suara Aruna pecah, nyaris berbisik. Tangannya gemetar hebat, menekan permukaan lantai semen yang dingin saat matanya menangkap warna merah pekat yang kian meluas, menyatu dengan genangan darah Paman Hardi di depannya.Langkah sepatu kulit Gavin berkedut. Pistol revolver silver di tangannya meluncur bebas, menghantam lantai batu dengan dentang nyaring yang memekakkan telinga. Pria itu berlutut secara mendadak, mengabaikan genangan darah yang langsung menodai lutut celana kain mahalnya."Aruna!" Pekikan rendah yang sarat akan panik pecah dari mulut Gavin. Wajahnya yang semula dingin dan kaku seketika memucat. Matanya liar menatap
Dinding kamar yang gelap memantulkan suara napas yang berburu. Keringat dingin membasahi sprei sutra yang kusut, melekatkan sisa-sisa benang hitam ke kulit Aruna yang kemerahan. Di atasnya, dada Gavin naik turun secara teratur. Pria itu menyandarkan dahinya di celak leher Aruna, menggenggam erat jemari wanita itu yang terkunci rapat di atas kepala."Kamu tidak akan pernah lepas dariku, Aruna..." bisik Gavin dengan suara serak yang menyapu kulit telinga Aruna. Tangannya yang besar turun melingkari perut Aruna yang datar, menepuknya pelan seolah sedang menyegel sesuatu yang berharga di sana.Aruna menatap ceiling kamar yang remang. Bibirnya bengkak dan perih, dadanya masih memburu hebat dari pergulatan liar yang baru saja merenggut sisa tenaganya. Tubuhnya gemetar, merespons sentuhan hangat yang ditinggalkan Gavin, sementara otaknya berteriak menyuarakan kebencian yang makin pekat."Paman Hardi..." suara Aruna keluar parau, hampir tenggelam di antara ketukan hujan yang mulai memukul kac
Angin dari baling-baling helikopter meliuk keras di udara, menghempas kaca-kaca jendela vila hingga bergetar hebat. Cahaya sorot putih membelah kegelapan kamar, menelanjangi tubuh Aruna yang hanya dibalut gaun malam satin tipis. Kain halus itu melekat ketat di kulitnya yang berpeluh, memperlihatkan lekuk dada yang membuncit dan pinggulnya yang molek di bawah tatapan tajam dua pria yang memperebutkannya."Ikut aku sekarang, Aruna!" bentak Hardi. Jarinya mencengkeram pergelangan tangan Aruna lebih keras, menarik tubuh wanita itu mendekat ke dadanya."Lepaskan aku, Paman!" Aruna menepis tangan Hardi dengan sentakan penuh kejijikan. "Aku tidak akan menjadi bidakmu lagi!"Belum sempat Hardi membalas, suara tembakan beruntun memecah malam dari arah lorong luar.Duar! Duar! Duar!Pintu kamar yang sudah hancur itu terpental sepenuhnya saat satu tendangan keras mendarat di engselnya. Sesosok pria jangkung melangkah masuk dari balik asap dan remang cahaya sorot.Gavin.Jas hitamnya sudah ditang
"Bisa lebih cepat sedikit, Gavin? Aku tidak mau ketinggalan jadwal fiting karena terjebak macet," ucap Maya sambil merapikan riasannya di cermin mobil.Gavin melirik spion tengah, tepat ke arah Aruna yang duduk kaku di kursi belakang. "Tentu, Sayang. Kita tidak akan terlambat. Tapi sepertinya kakakm
Udara di dalam kamar hotel terasa menyesakkan bagi Aruna. Gavin masih terus menghujamnya tanpa ampun, seolah ingin menguras seluruh tenaga wanita itu hingga tak bersisa.Aruna mencengkeram bahu Gavin yang kokoh, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu saat sensasi panas menyapu seluruh tubuhnya. De
Lutut Aruna terasa lemas mendengar ancaman pria itu. Gavin masih menatapnya dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi seluruh rahasia di otaknya.Tangannya yang besar masih berada di perut Aruna. Sebuah klaim sepihak bahwa dia memiliki hak penuh atas tubuh itu sejak malam panas di hotel.Dari
“Berhent— Ahh …”Aruna melenguh pelan, mencoba menarik kembali kewarasannya dari sentuhan memabukkan pria asing itu. Akal sehat Aruna seperti disedot habis oleh gelas-gelas alkohol yang ia pesan tadi.Di malam ulang tahunnya ini, ia seharusnya menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Namun, bukan momen
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.