LOGIN"Sakit, Gavin... lepaskan!" "Kau yang memancingku, Aruna. Jangan salahkan aku kalau malam ini aku tidak akan memberimu ampun." Hanya butuh satu kesalahan di hotel tiga minggu lalu untuk mengubah Aruna dari seorang Creative Director yang tangguh menjadi budak gairah pria yang paling ia benci. Gavin Dirgantara—calon suami adiknya sendiri—tidak hanya merenggut kesuciannya, tapi juga menanamkan benih yang kini mulai berdenyut di rahim Aruna. Di bawah intimidasi tubuh Gavin yang perkasa, Aruna kehilangan kuasa atas raga dan napasnya. Setiap sentuhan pria itu adalah racun yang membakar, menghapus jejak apa pun yang pernah ada di hidup Aruna sebelumnya. Gavin sangat dominan, sangat ahli memetakan setiap titik lemah di tubuh Aruna hingga wanita itu terpaksa mendesah di tengah kebencian yang mendalam. "Kenapa wajahmu pucat? Takut rahasia kecil kita di perutmu ini ketahuan?" bisik Gavin dengan seringai pemenang. Kini, dengan dua garis merah di tangan yang gemetar, Aruna sadar bahwa ia telah masuk ke dalam jebakan tanpa jalan keluar. Gavin tidak hanya menginginkan tubuhnya, tapi juga ingin mengikatnya selamanya melalui janin yang tak seharusnya ada. Saat hari pernikahan sang adik tinggal menghitung hari, sebuah pilihan maut menanti di depan mata. Haruskah Aruna menghancurkan kebahagiaan adiknya dengan sebuah kejujuran yang menjijikkan, atau membiarkan dirinya menjadi pemuas nafsu sang adik ipar selamanya demi menjaga nama baik keluarga?
View More“Berhent— Ahh …”
Aruna melenguh pelan, mencoba menarik kembali kewarasannya dari sentuhan memabukkan pria asing itu. Akal sehat Aruna seperti disedot habis oleh gelas-gelas alkohol yang ia pesan tadi.
Di malam ulang tahunnya ini, ia seharusnya menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Namun, bukan momen romantis yang ia dapatkan, melainkan pengkhianatan besar.
Tiga tahun hubungan berakhir sia-sia saat ia memergoki kekasihnya bercumbu dengan wanita lain di apartemen mereka. Dengan perasaan hancur, Aruna memilih pelarian ke sebuah kelab malam.
Kini, ia justru berakhir di sebuah kamar hotel dengan pria asing yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
“Kamu yakin ingin aku berhenti?” bisik pria itu tepat di telinga Aruna. Tangannya sibuk menjelajah tiap titik nikmat wanita itu dengan gerakan yang sangat ahli.
Refleks Aruna menggelengkan kepalanya. Tubuhnya tidak bisa berbohong dengan kenikmatan yang sedang dirasakan.
“Tolong … shhh,” desah Aruna sambil memejamkan matanya rapat.
“Katakan yang jelas, Baby. Kamu ingin aku berhenti atau lanjut?” tanya pria itu lagi dengan senyum kemenangan.
Tangannya kini lebih berani meremas dada Aruna, memelintir putingnya hingga Aruna memekik rendah. Sensasi panas menjalar ke seluruh sarafnya, membuatnya kehilangan kendali.
“Aku … shh … lakukan. Tolong lakukan,” pinta Aruna akhirnya dengan suara parau.
“As you wish, Baby.”
Tanpa banyak bicara lagi, pria itu melepas seluruh pakaiannya yang tersisa. Ia memamerkan tubuh atletisnya yang kokoh di bawah cahaya temaram lampu kamar.
Ia langsung membungkam bibir ranum Aruna dengan ciuman yang menuntut dan rakus. Lidahnya bermain dengan liar, seolah ingin menandai wilayah kekuasaannya tanpa ampun.
Pria itu mengangkat kedua kaki Aruna dan melingkarkannya ke pinggangnya yang kuat. Ia menghujam Aruna dengan satu sentakan dalam yang membuat Aruna terkesiap.
“Ahh! Gavin… maksudku… ahh!” Aruna bahkan tidak tahu siapa yang ia panggil, ia hanya bisa merasakan setiap inci tubuh pria itu menyatu dengannya.
Pria itu bergerak dengan tempo yang cepat dan brutal. Ia seolah ingin menghancurkan Aruna sekaligus memberikan surga dunia yang belum pernah wanita itu rasakan sebelumnya.
Aruna sepenuhnya larut dalam tiap hentakan yang diberikan. Kuku-kukunya mencengkeram bahu kokoh pria itu, meninggalkan bekas merah yang nyata.
Dosa ini terasa begitu nikmat, membuat Aruna melupakan sejenak rasa sakit hatinya. Ia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada pria asing yang aroma kayu cendananya kini memenuhi indra penciumannya.
Ketika pagi datang, Aruna terbangun karena cahaya yang terasa menusuk matanya dari celah gorden. Sekujur tubuhnya terasa perih dan pegal luar biasa.
“Astaga …” gumam Aruna lirih saat melihat tanda-tanda merah di sekujur tubuhnya.
Ia menoleh ke samping, namun tempat tidur itu sudah kosong. Pria semalam sudah pergi, menyisakan wangi parfum kayu cendana yang masih menempel di bantal.
Aruna bangkit dengan tertatih dan segera memakai kembali pakaiannya. Ia tidak menyesal, anggap saja ini kado ulang tahun paling liar yang pernah ia dapatkan.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ibunya telah beberapa kali menelepon.
“Ya, ada apa, Bu?” tanya Aruna begitu telepon tersambung.
“Aruna, kamu di mana? Hari ini kamu harus datang ke rumah, kita akan kedatangan tamu penting!” ujar ibunya dari seberang dengan nada antusias.
Aruna hanya bisa mengiyakan dengan suara lemas. Ia segera memacu kendaraannya pulang, mencoba menghilangkan bayangan pria semalam dari benaknya.
Sesampainya di rumah, suasana sudah sangat sibuk. Ibunya tampak mondar-mandir memastikan segalanya sempurna.
"Aruna, cepat ganti baju! Keluarga Dirgantara sudah hampir sampai!" perintah Ibunya tanpa menoleh sedikit pun.
Aruna hanya mengangguk pasrah. Ia segera mengenakan gaun paling sopan dengan kerah tinggi untuk menutupi jejak dosa semalam yang masih terlihat jelas.
Saat ia turun ke ruang tamu, pintu depan terbuka. Sosok pria jangkung dengan setelan jas hitam mahal melangkah masuk dengan sangat berwibawa.
Aruna terpaku di tempatnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menghirup aroma yang sangat familiar. Aroma kayu cendana.
Pria itu adalah Gavin Dirgantara. Calon tunangan Maya, adiknya sendiri.
Gavin menatap Aruna dengan kilat mata yang tajam dan misterius. Ia bersikap seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, namun tatapannya seolah sedang menelanjangi Aruna di depan semua orang.
"Senang bertemu denganmu, Aruna," ucap Gavin dengan suara bariton yang berat dan tenang.
Aruna hanya bisa menjabat tangan Gavin dengan jemari yang gemetar hebat. Ia tidak menyangka pria yang menghabiskan malam panas dengannya adalah orang yang akan menjadi adik iparnya.
Selesai makan malam, Aruna menyelinap ke balkon belakang untuk mencari udara segar. Ia merasa sesak terus berada di ruangan yang sama dengan Gavin.
Namun, baru saja ia menarik napas, sebuah tangan besar menariknya dengan kasar ke sudut balkon yang paling gelap.
Punggung Aruna menabrak dinding dengan keras. Gavin sudah mengurungnya dengan kedua lengan kekarnya, tidak memberikan celah sedikit pun untuk lari.
"Lepaskan! Jangan sampai Maya melihat kita!" desis Aruna dengan suara gemetar karena takut sekaligus terangsang oleh kehadiran pria itu.
Gavin justru tersenyum miring, sebuah senyuman predator yang membuat jantung Aruna mencelos.
"Kenapa? Takut rahasia kecil kita terbongkar?" bisik Gavin rendah tepat di telinga Aruna.
Gavin meraba perut Aruna dengan telapak tangannya yang hangat, lalu perlahan merayap naik ke atas, ke arah dadanya. Aruna bergidik ngeri, namun tubuhnya justru bereaksi menyambut sentuhan itu.
"Kumohon, Gavin... jangan hancurkan pernikahan Maya," rintih Aruna dengan tatapan memohon.
Gavin justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat berbahaya. Ia mencengkeram dagu Aruna agar menatap langsung ke matanya yang gelap dan penuh nafsu.
"Aku tidak akan membongkarnya, Aruna. Tapi sebagai gantinya, kau harus terus melayaniku setiap kali aku menginginkannya," perintah Gavin tak terbantahkan.
Gavin merapat, membiarkan Aruna merasakan ketegangan tubuhnya di balik jas mahal itu. Ia menggigit daun telinga Aruna pelan, membuat wanita itu nyaris melenguh di rumah orang tuanya sendiri.
"Kau menyukainya semalam, bukan? Cara aku menguasaimu di atas ranjang hotel itu?" tanya Gavin provokatif.
Aruna memejamkan mata, menahan diri agar tidak menyerah pada gairah yang kembali tersulut.
"Ingat, Aruna. Mulai sekarang, kau adalah milikku secara rahasia. Jangan coba-coba lari atau menolakku," desis Gavin.
Gavin mendekatkan bibirnya ke telinga Aruna, memberikan ancaman terakhir yang membuat Aruna merasa dunianya runtuh seketika.
"Atau haruskah aku memberitahu Maya sekarang juga, bahwa kakaknya sudah mencicipi calon suaminya terlebih dahulu?"
Laras senjata itu terasa dingin di telapak tangan Aruna, namun panas di hatinya jauh lebih membakar. Ia tidak sedang berdiri di depan seorang bos mafia, melainkan di depan pria yang telah berbagi ranjang dengannya, pria yang napasnya pernah menyatu dengan napasnya."Aruna, turunkan itu. Kamu sedang mengandung, guncangan emosi ini tidak baik untuk bayi kita," suara Gavin terdengar rendah, mencoba masuk ke dalam celah kewarasan Aruna."Bayi kita?" Aruna tertawa pedih, air matanya jatuh membasahi gaun merahnya yang terbuka. "Bayi ini adalah saksi bisu betapa pintarnya kamu bersandiwara. Kamu bukan pelindungku, Gavin. Kamu adalah penjara yang aku puja."Bram, sang pemilik ruangan, hanya menyesap cerutunya sambil menikmati drama di depannya. "Gavin, sepertinya koleksimu punya taring. Menarik sekali.""Keluar, Bram! Sekarang!" bentak Gavin tanpa melepaskan pandangannya dari Aruna.Begitu pintu tertutup, keheningan menyergap. Hanya ada deru napas mereka berdua. Gavin melangkah maju, perlahan
"Berlututlah, Aruna. Memohonlah padaku jika kamu ingin ibumu tetap bernapas pagi ini." Suara Gavin terdengar begitu lembut, namun setiap katanya mengandung racun yang melumpuhkan.Aruna menatap kaki Gavin yang terbungkus celana kain mahal. Air matanya jatuh, membasahi lantai. "Tolong... jangan biarkan Ibu pergi... aku mohon, Gavin.""Aku tidak bisa mendengarmu dari bawah sana, Sayang," Gavin mengusap rambut Aruna, lalu menjambaknya sedikit agar wajah wanita itu mendongak. "Katakan dengan jelas. Siapa yang memegang nyawamu dan ibumu sekarang?""Kamu... kamu yang memegangnya," bisik Aruna dengan suara parau."Bagus." Gavin menarik Aruna berdiri, namun tidak membiarkannya menjauh. Ia justru memeluk pinggang Aruna, menariknya hingga tidak ada celah di antara mereka. "Sekarang, tunjukkan padaku betapa berartinya nyawa ibumu bagimu. Layani aku di sini, di depan jendela ini, agar matahari pagi tahu siapa pemilikmu yang sebenarnya."Aruna memejamkan mata. Rasa malu dan putus asa berperang di
Klik.Suara pemantik api itu terdengar nyaring di tengah sunyinya halaman vila, beradu dengan suara tembakan yang memekakkan telinga. Aruna menjerit histeris saat melihat percikan api menyambar pakaian Maya yang sudah basah oleh bensin. Namun, peluru dari senjata Paman Hardi tidak mengenai Maya; timah panas itu justru menghantam bahu salah satu penjaga Gavin yang mencoba maju."Maya! Tidak! Buang pemantiknya!" Aruna merontak hebat, mencoba berlari menuju adiknya, namun lengan kekar Gavin mengunci pinggangnya dari belakang dengan kekuatan yang menyakitkan."Lepaskan aku, Gavin! Dia akan terbakar!""Jangan bodoh, Aruna! Kamu mendekat, kamu ikut mati!" Gavin membentak tepat di telinganya, napasnya yang panas memburu di leher Aruna yang berkeringat.Di depan mereka, Maya tertawa dalam tangis. Api mulai menjilat ujung bajunya. "Kakak harus bebas... jangan jadi seperti aku yang hanya sampah!"Wussh!Api berkobar besar dalam sekejap. Tubuh Maya menjadi pilar api yang mengerikan di bawah caha
"Jadi... Paman Hardi adalah ayah kandungku?" Suara Aruna hilang ditelan angin malam yang menderu di puncak bukit itu. Tubuhnya mendadak lunglai, nyaris merosot dari konsol tengah mobil jika Gavin tidak segera menangkap pinggangnya.Gavin menatapnya dengan intensitas yang sanggup membakar kulit. "Video itu tidak berbohong, Aruna. Ahmad tahu rahasia busuk itu, dan itulah alasan Hardi melenyapkannya. Bukan hanya soal uang, tapi soal aib.""Kebohongan apa lagi ini, Gavin? Setelah semua yang kamu lakukan, kenapa aku harus percaya?" Aruna memukul dada tegap Gavin, air matanya tumpah dalam kemarahan yang meluap."Lihat mataku!" Gavin mencengkeram rahang Aruna, memaksanya berhenti memberontak. "Aku tidak butuh berbohong untuk memilikimu. Kamu sudah berada di genggamanku sejak lama. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa pria yang kamu panggil paman itu adalah monster yang sesungguhnya.""Lalu kamu apa? Penyelamat? Kamu meniduri anak dari selingkuhan pamanmu sendiri!""Aku meniduri wanita yang aku ing
Aruna berdiri kaku di depan cermin besar butik mewah itu. Gaun satin berwarna sampanye yang melekat di tubuhnya terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, melainkan karena tatapan Gavin yang terus menguliti bayangannya dari pantulan kaca. Di sudut lain, Maya sedang sibuk mencoba gaun penga
"Aah... Stop Gavin. Sakit.""Jangan bohong Aruna, aku tahu kamu menikmatinya."Bukannya menurunkan tempo gerakan pinggulnya, Gavin malah mempercepat. Tangan Gavin bahkan sangat aktif meremas payudara Aruna."Ah... aku membencimu Gav... ahhh...."Gavin justru tertawa rendah. Suara beratnya memenuhi
Pukul tujuh pagi tepat. Klakson sedan hitam Gavin sudah meraung di depan pagar rumah Ibu. Aruna berdiri di teras dengan dua koper besar dan tas kerja yang ia dekap erat—tas yang kini ia tahu berisi alat pelacak."Sudah siap, Aruna? Ayo, biar aku bantu bawa kopernya," Gavin keluar dari mobil, wajahn
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.