แชร์

Alasan Modus Satya

ผู้เขียน: Kim Sierra
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-28 23:16:43

“Tahu tidak, Ghea? Selain cerdas, kamu itu punya kecantikan yang klasik. Sangat proporsional. Saya rasa kalau kamu bukan asisten Satya, kamu bisa saja jadi bintang film lokal yang sukses. Wajahmu punya karakter yang kuat,” lanjut Pak Surya dengan nada kagum yang murni.

Ghea menundukkan kepalanya sedikit. “Bapak terlalu memuji. Saya hanya wanita biasa yang berusaha bekerja dengan baik.”

“Biasa? Tidak, tidak. Satya, kamu harus hati-hati. Asisten seperti ini pasti banyak yang mengincar. Kalau saya
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Pengakuan Wijaya

    Lampu remang basement apartemen Satya memantulkan bayangan sunyi malam itu. Satya berjalan dengan langkah berat, melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik sejak rapat maraton tadi siang.Baru saja ia mengeluarkan kunci akses mobil dari sakunya, sebuah bayangan pria paruh baya keluar dari balik pilar beton.Langkahnya tergesa-gesa, wajahnya yang biasa angkuh kini tampak kuyu dan dipenuhi keringat dingin. Itu Wijaya, pemilik Wijaya Grup sekaligus ayah Clarissa.“Satya! Tunggu, Sat. Saya butuh bicara sama kamu,” panggil Wijaya dengan suara yang serak, kehilangan wibawa yang biasanya ia pamerkan di lantai bursa.Satya menghentikan langkahnya, tangannya masih memegang gagang pintu mobil. Ia menatap pria di depannya tanpa ekspresi, seolah-olah yang berdiri di sana hanyalah angin lalu. “Malam, Pak Wijaya. Maaf, tapi urusan kita di kantor tadi siang sudah selesai secara legal.”“Tolong, Satya. Kasih saya waktu sebentar. Kita bicara empat mata, jangan di sini,” mohon Wijaya, matanya ber

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Tidak Sedang Mencari Kemenangan

    Sinar matahari pagi yang menerobos masuk lewat jendela kaca besar di lobi kantor Adhitama Group tidak mampu mencairkan suasana dingin yang dibawa oleh Rani Adhitama.Dengan langkah kaki yang menghentak keras, suara sepatunya bergema di lantai marmer layaknya detak jam kematian. Wajahnya tertutup riasan tebal, namun gurat kemarahan di matanya tidak bisa disembunyikan.“Ghea mana?!” bentak Rani begitu sampai di depan meja resepsionis lantai eksekutif.Staf administrasi yang sedang merapikan berkas tersentak kaget hingga menjatuhkan pulpennya. “Maaf, Bu Rani... Bu Ghea belum terlihat sejak jam masuk tadi. Absensinya masih kosong.”Rani mendesis, tangannya mencengkeram pinggiran meja. “Lalu Satya? Jangan bilang dia juga nggak ada di ruangannya.”“Pak Satya... kami juga tidak tahu, Bu. Beliau tidak bisa dihubungi sejak tadi malam. Di apartemennya juga katanya kosong saat orang suruhan Ibu mengecek ke sana,” jawab staf itu dengan suara bergetar ketakutan.Rani membalikkan badan, napasnya me

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Pernyataan Tegas Satya

    Aula utama Hotel Grand Mulia malam itu disulap menjadi lautan kemewahan. Kristal-kristal lampu gantung membiaskan cahaya keemasan ke seluruh ruangan, memantul di atas gaun-gaun mahal dan jas custom para tamu undangan.Rani Adhitama berdiri di tengah kerumunan, memegang gelas kristal berisi wine putih, tertawa anggun bersama beberapa rekan bisnis dari konsorsium bank. Ia tampak seperti ratu yang baru saja memenangkan wilayah jajahan baru—tenang, berkuasa, dan sangat puas.Satya memperhatikan ibunya dari kejauhan. Jas tuksedo hitam yang ia kenakan terasa mencekik, bukan karena ukurannya yang salah, tapi karena kepalsuan udara di ruangan ini. Ia melangkah tenang, membelah kerumunan hingga berdiri tepat di samping Rani.“Mama kelihatan senang banget malam ini,” sindir Satya pelan, suaranya teredam musik klasik yang dimainkan orkestra di sudut aula.Rani menoleh, senyumnya tidak luntur sedikit pun saat menatap putranya. “Tentu saja. Ini malam besar kita, Satya. Tiga puluh tahun Adhitama be

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Ketenangan Sebelum Badai Terakhir

    Kabut pagi di sekitar danau perlahan terangkat, menyisakan hawa dingin yang masih menusuk kulit. Di dalam kamar hotel, suasana yang tadinya penuh kehangatan kini berubah menjadi kesibukan yang tegang.Satya dan Ghea bergerak dalam diam, mengemas barang-barang mereka dengan gerakan yang terukur namun cepat. Tidak ada lagi tawa atau gombalan ringan; udara di antara mereka kini sarat dengan antisipasi akan apa yang menunggu di Jakarta.Satya baru saja selesai memakai kemejanya saat ponselnya kembali bergetar di atas meja kayu. Ia membacanya singkat, lalu menghela napas panjang yang terdengar seperti beban berat yang dilepaskan.“Kenapa, Sat? Ada kabar buruk lagi?” Ghea bertanya sambil merapikan tas kecilnya. Matanya terus memperhatikan gerak-gerik Satya.Satya memasukkan ponsel ke saku celana, wajahnya tampak lebih kaku dari biasanya.“Haris baru kirim pesan singkat. Mama sudah tanda tangan surat pembekuan wewenangku sebagai CEO per pagi ini. Mereka juga sudah nyiapin gugatan perdata soa

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Mimpi di Bawah Selimut

    Keheningan yang menyusul setelah badai gairah itu terasa begitu magis. Hanya ada suara deru napas yang perlahan mulai teratur dan detak jantung yang masih berpacu di balik dada mereka yang bersentuhan.Satya menarik selimut putih hotel yang tebal untuk membungkus tubuh polos mereka, menciptakan kepompong hangat di tengah udara pegunungan yang kian menggigit di luar sana.Mereka berbaring berdampingan, menatap langit-langit kamar yang disinari remang lampu nakas. Jemari Satya menyusup ke sela-sela jari Ghea, menggenggamnya erat seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, wanita itu akan menguap bersama kabut.“Aku serius sama omonganku tadi, Ghe,” suara Satya memecah kesunyian, terdengar berat namun penuh keyakinan. “Aku ingin menikah denganmu. Secepatnya.”Ghea menarik napas panjang, matanya masih menatap kosong ke atas. “Menikah itu kata yang berat buat orang kayak kita sekarang, Sat. Kita bahkan nggak tahu besok pagi masih bisa sarapan dengan tenang atau nggak.”“Justru karena

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Mabuk dalam Asmara

    Di dalam kamar hotel yang terkunci rapat dari bisingnya dunia luar, suhu udara yang dingin di luar jendela seolah tak mampu menembus panas yang mulai membakar di atas ranjang.Satya menatap Ghea dengan intensitas yang nyaris membuat napas Ghea terhenti. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi sekat antara atasan dan bawahan. Yang ada hanyalah dua jiwa yang sudah terlalu lama mati rasa karena rindu.Satya memajukan wajahnya, menyambar bibir Ghea dalam sebuah ciuman yang membara. Lidah mereka saling melilit dengan rakus, seolah sedang berebut pasokan oksigen yang kian menipis. Ghea merespons dengan tarikan yang sama kuatnya, jemarinya menyusup ke rambut Satya, menarik pria itu untuk semakin tenggelam dalam pagutan yang dalam.Tangan Satya bergerak cekatan, menanggalkan satu per satu penghalang yang memisahkan kulit mereka. Kemeja Satya terlempar ke lantai, disusul oleh pakaian Ghea yang kini sudah tak berarti apa-apa.Di bawah temaram lampu nakas yang kekuningan, keduanya kini berada da

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Canggung yang Membisu

    “Nggak apa-apa kok, Pak. Cuma kaget sedikit saja tadi,” jawab Ghea sambil menerbitkan cengiran canggung pada manajer hotel tersebut. Ia memaksakan nada suaranya agar terdengar stabil, meski jantungnya masih berdegup menghantam rongga dada.Manajer hotel itu mengangguk lega. “Syukurlah. Sekali lagi

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku    Tamu Tak Diundang

    Persiapan ulang tahun ke-30 Adhitama Group membuat suasana kantor berubah menjadi medan perang kreativitas dan logistik.Vendor dekorasi berlalu-lalang mengangkut gulungan karpet merah, sementara tim katering mulai melakukan test food di ruang serbaguna.Di tengah hiruk-pikuk itu, Ghea berdiri deng

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Pusaran Gairah di Ruang Arsip

    Ruang arsip itu hanya diterangi oleh lampu neon yang berkedip di langit-langit, menciptakan bayangan yang bergerak-gerak di antara deretan rak besi yang menjulang tinggi.Aroma kertas tua yang lembap dan debu yang tertinggal di udara membuat suasana terasa semakin sempit.Ghea bisa merasakan dingin

  • CEO Galak itu Mantan Kekasihku   Pagi yang Canggung

    Cahaya matahari pagi yang menyeruak dari balik gedung-gedung tinggi Jakarta menembus jendela kaca apartemen, jatuh tepat di atas kelopak mata Ghea.Ia mengerang pelan, merasakan pegal yang luar biasa di punggungnya. Saat ia mencoba bergerak, ia menyadari ada beban berat yang melingkari pinggangnya.

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status