MasukCahaya pagi menerobos celah tirai jendela, membangunkan Miranda dari tidurnya yang gelisah. Seluruh tubuhnya terasa sakit. Kepalanya pusing. Butuh beberapa saat baginya untuk menyadari di mana ia berada dan apa yang terjadi semalam.
Kamar hotel itu sekarang terlihat berbeda di bawah sinar matahari pagi. Kemewahannya tidak lagi menakutkan, hanya terasa dingin dan asing. Di sebelahnya, pemuda tampan itu masih tertidur pulas. Nafasnya teratur, wajahnya yang seperti dewa itu tampak begitu damai.
Miranda menatap pemuda itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia sedikit lega bahwa yang menyentuhnya semalam bukanlah Om Raymond yang botak dan berperut buncit. Tapi di sisi lain, ia tetap merasa jijik dan marah. Siapa pun yang melakukannya, tetap saja ia telah direnggut kesuciannya dengan paksa.
'Setidaknya bukan pria tua itu,' batin Miranda mencoba menghibur diri. 'Tapi tetap saja, aku sudah tidak suci lagi. Aku sudah kotor.'
Air matanya kembali mengalir. Tapi kali ini, bersamaan dengan tangisan itu, muncul juga kemarahan yang membara. Kemarahan pada Karina yang telah menjualnya. Kemarahan pada Om Raymond yang telah membelinya. Kemarahan pada pemuda tampan ini yang telah mengambil kesuciannya. Dan kemarahan pada dirinya sendiri yang begitu lemah dan tidak berdaya.
Dengan hati-hati, Miranda bangkit dari tempat tidur. Ia mencari pakaiannya yang berserakan di lantai. Setiap gerakan tubuhnya menimbulkan rasa sakit yang mengingatkannya pada apa yang terjadi semalam. Ia memakai pakaiannya dengan cepat, tidak ingin berlama-lama di tempat terkutuk ini.
Ia menatap pemuda itu untuk terakhir kalinya. 'Aku tidak tahu siapa kau. Tapi aku tidak akan pernah melupakan apa yang telah kau lakukan padaku. Aku tidak akan pernah memaafkanmu.'
Miranda berjalan keluar dari kamar hotel dengan kaki yang masih gemetar. Lorong hotel itu sepi. Ia bergegas menuju lift dan turun ke lobi. Beberapa orang menatapnya dengan aneh, mungkin karena penampilannya yang kusut dan berantakan. Tapi Miranda tidak peduli. Yang ada di pikirannya sekarang hanyalah satu: pulang ke rumah, mengambil barang-barang kenangan orangtuanya, dan pergi sejauh mungkin dari semua ini.
Miranda tidak mau lagi dijual oleh Karina, ibu tiri jahat itu.
Ia naik taksi yang mangkal di depan hotel. Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Miranda terus menangis diam-diam. Sopir taksi meliriknya beberapa kali melalui kaca spion, tapi tidak bertanya apa-apa. Mungkin ia sudah terbiasa melihat penumpang yang sedang dalam masalah.
Taksi berhenti di depan rumah bergaya Mediterania yang dulunya adalah istana bagi Miranda. Sekarang rumah itu terasa seperti penjara baginya. Ia turun dari taksi dengan perasaan aneh. Rumah ini menyimpan begitu banyak kenangan indah bersama kedua orangtuanya, tapi juga menyimpan luka yang begitu dalam karena kekejaman Karina.
Saat ia berjalan menuju pintu depan, ia mendengar suara tawa dari dalam. Pintu depan rumah itu sedikit terbuka. Miranda berhenti di depan pintu, berniat masuk dan langsung ke kamarnya di belakang untuk mengambil beberapa barang.
Tapi langkahnya terhenti ketika ia mendengar percakapan di dalam.
"Jadi bagaimana, Mah? Apa Tante Sonya sudah mentransfer uangnya?" Itu suara Sharon, putri Karina. Suara bernada tinggi yang selalu membuat Miranda muak.
"Iya, Sayang. Mama sangat senang. Coba tebak berapa yang ditransfer?" Suara Karina terdengar begitu ceria.
"Berapa, Mah?"
"Seratus ribu dolar! Bukan sepuluh ribu seperti janji sebelumnya, tapi seratus ribu dolar Amerika!"
Suara Sharon menjerit kegirangan. "Banyak sekali, Mah!"
"Itu artinya, bos Raymond yang tua dan botak itu pasti sangat puas dengan pelayanan Miranda tadi malam," Karina tertawa. "Dasar gadis murahan. Ternyata dia memang berbakat menjadi pelacur."
Di luar, Miranda mengepalkan tangannya. Amarah membakar seluruh tubuhnya.
"Dengan uang ini, Mama bisa membayar agensi supaya kamu bisa main film," kata Karina. "Supaya kamu bisa terkenal, dan nanti kamu bisa menarik minat pengusaha muda kaya raya di negeri ini."
"Tapi, Mah," suara Sharon tiba-tiba berubah, "sebenarnya impianku sudah berubah."
"Berubah bagaimana?"
"Aku tidak mau lagi menjadi bintang film. Aku hanya ingin merebut hati bos baruku."
"Bos barumu?"
"Iya, Mah. Dia baru menjadi CEO di perusahaan tempat aku bekerja beberapa bulan yang lalu. Sebelumnya perusahaan itu dipimpin oleh ayahnya. Tapi sekarang dia yang memimpin. Dia masih sangat muda, Mah, umurnya baru dua puluh tiga tahun. Dan dia sangat tampan. Seperti dewa. Semua perempuan di kantor tergila-gila padanya."
"Kalau begitu kau harus berusaha mendapatkannya. Pergunakan sebagian uang ini untuk perawatan semahal mungkin. Pergi ke salon terbaik, beli pakaian dan tas termahal, perawatan kulit dan tubuh, apa saja. Kau harus menarik perhatian bosmu itu."
"Itu rencanaku, Mah. Aku akan menggunakan uang ini untuk mengubah diriku menjadi wanita yang tidak bisa ditolak olehnya."
Miranda tidak tahan mendengar percakapan itu lebih lama lagi. Uang hasil penjualan dirinya digunakan untuk memanjakan Sharon? Uang yang didapat dari penderitaannya digunakan untuk membiayai mimpi-mimpi bodoh Sharon?
'Mereka sangat jahat,' batin Miranda. 'Aku akan pergi dari sini. Aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali. Aku tidak mau dijual lagi oleh mereka!'
Diam-diam, Miranda memutari rumah. Ia masuk melalui pintu belakang, langsung menuju kamar pembantunya yang sempit dan pengap. Di sana, ia mengambil sebuah kotak kecil yang disembunyikannya di bawah kasur. Kotak itu berisi beberapa lembar foto kedua orangtuanya, kalung ibunya, jam tangan ayahnya, dan beberapa surat berharga yang tidak sempat diambil oleh Karina.
Ia juga mengambil sebuah tas ransel lusuh dan memasukkan beberapa potong pakaian ke dalamnya. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, Miranda keluar melalui pintu belakang dan meninggalkan rumah itu. Kali ini untuk selamanya.
Ia berjalan tanpa tujuan yang jelas. Yang ada di pikirannya hanyalah: pergi sejauh mungkin. Ia berjalan hingga kakinya lecet dan berdarah. Berjalan hingga tubuhnya yang masih sakit karena kejadian semalam menjerit meminta istirahat.
Akhirnya ia tiba di sebuah terminal bus. Di sana, ia naik bus pertama yang ditemuinya, tidak peduli ke mana tujuannya. Yang penting pergi. Menjauh. Memulai hidup baru.
---
Sembilan bulan telah berlalu.
Di sebuah rumah makan sederhana yang terletak di pinggiran kota, Miranda duduk di balik meja kasir dengan perut yang sudah sangat membesar. Tangannya sibuk menghitung uang kembalian untuk seorang pelanggan. Wajahnya yang dulu tirus kini sedikit berisi, tanda bahwa kehamilannya berjalan normal.
"Terima kasih, Pak. Selamat menikmati makanannya," katanya pada pelanggan terakhir sambil tersenyum.
Pelanggan itu mengangguk dan pergi. Miranda menghela nafas panjang. Ia mengelus perutnya yang membuncit. Bayi di dalamnya menendang pelan, seolah menyapa ibunya.
'Halo, Sayang. Sebentar lagi kita ketemu ya,' batin Miranda dengan penuh kasih sayang.
Sembilan bulan yang lalu, setelah melarikan diri dari rumah Karina, Miranda tiba di kota kecil ini dengan hanya membawa tas ransel lusuh dan beberapa lembar uang hasil tabungannya selama menjadi pembantu. Ia menyewa sebuah kamar kos yang sangat sederhana, kamar berukuran tiga kali tiga meter dengan kamar mandi di luar. Tapi setidaknya, kamar itu adalah miliknya sendiri. Tidak ada yang bisa menyuruhnya melakukan ini dan itu.
Beberapa hari pertama adalah yang tersulit. Miranda harus mencari pekerjaan untuk bertahan hidup. Ia melamar ke mana-mana, tapi selalu ditolak. Ada yang menolak karena ia tidak punya pengalaman kerja, ada juga yang menolak karena ia tidak punya ijazah yang memadai. Karina tidak pernah mengizinkannya kuliah setelah ayahnya meninggal.
Akhirnya sebuah rumah makan kecil menerimanya sebagai pelayan. Gajinya kecil, tapi setidaknya ia bisa makan. Ia bekerja dengan rajin dan tekun, tidak pernah mengeluh meskipun kakinya sering bengkak karena terlalu lama berdiri. Pemilik rumah makan, seorang wanita paruh baya bernama Bu Sinta, sangat menyukainya.
"Kau gadis yang rajin, Miranda," kata Bu Sinta suatu hari. "Aku angkat kau jadi kasir saja. Kerjamu lebih ringan, tidak perlu berdiri seharian."
Miranda sangat berterima kasih. Dengan menjadi kasir, ia bisa duduk dan tidak terlalu membebani tubuhnya yang semakin hari semakin berat karena kehamilan.
Ya, kehamilan. Dua bulan setelah malam mengerikan itu, Miranda mulai merasakan gejala-gejala aneh. Mual di pagi hari. Badan mudah lelah. Siklus menstruasi yang terhenti. Dengan perasaan campur aduk, ia membeli test pack di apotek. Dan hasilnya positif.
Awalnya, Miranda ingin menggugurkan kandungannya. Ia pergi ke sebuah klinik aborsi yang beroperasi secara ilegal di kota itu. Tapi saat ia sudah duduk di ruang tunggu, menunggu gilirannya dipanggil, ia tidak bisa berhenti menangis.
'Apa yang kulakukan? Bayi ini tidak berdosa. Kenapa aku harus membunuhnya?'
Ia ingat kata-kata ibunya dulu, sesaat sebelum wanita itu meninggal. "Miranda, apapun yang terjadi dalam hidupmu, ingatlah bahwa setiap kehidupan adalah anugerah Tuhan. Jangan pernah kau menghilangkan nyawa yang sudah Tuhan berikan."
Akhirnya Miranda bangkit dan keluar dari klinik itu. Ia memutuskan untuk mempertahankan bayinya. Sejak saat itu, ia bekerja lebih keras lagi. Ia harus menabung untuk biaya persalinan nanti. Ia harus mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kelahiran buah hatinya.
Di restoran ini, seorang pemuda sedang menatap ke arah kasir restoran. Keningnya berkerut, dia seolah sedang mengingat sesuatu. Kemudian dia bergumam sendiri. "Mungkinkah itu dia? Mungkinkah itu gadis yang sembilan bulan lalu aku sewa saat aku dalam pengaruh obat perangsang? Tunggu... sembilan bulan lalu... dan sekarang gadis itu hamil besar... Mungkinkah... "
Randy menghentikan langkahnya dan menatap Sharon dingin. Ia tidak berniat menjelaskan detail tentang Miranda atau bayi mereka. Ia hanya ingin mengakhiri semua kepura-puraan ini."Aku minta maaf, Sharon," ucap Randy singkat, tanpa nada penyesalan yang tulus, lebih seperti formalitas basa-basi.Permintaan maaf singkat itu justru memicu kemarahan Sharon. Ia merasa diremehkan. "Cuma itu? Kau cuma minta maaf? Setelah mempermalukanku di depan seluruh kolega bisnis keluarga kita?"Randy menatap lurus ke mata Sharon. "Kalau gitu, pertunangan kita dibatalkan, Sharon. Secara resmi. Aku tidak akan menikahimu."Wajah Sharon memucat, lalu berubah merah padam karena amarah. "Kau tidak bisa berbuat semaumu! Ibuku sudah menyiapkan segalanya! Keluarga kami sudah dipermalukan!""Itu masalahmu. Aku cuma bisa memberikan ganti rugi materi," jawab Randy dingin. "Dan jika kau ingin membuat keributan, silakan. Aku tidak peduli."Sharon gemetar. Ancaman tersirat terlintas di benaknya. "Jika kau membatalkan in
Randy melangkah pelan menuju ruang rawat inap tempat Miranda dirawat. Suasana di koridor rumah sakit itu hening, hanya terdengar suara langkah kakinya yang bergema lembut di lantai keramik. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati, seolah takut suara engsel pintu akan mengganggu ketenangan di dalamnya.Di atas ranjang rumah sakit, Miranda masih terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya yang pucat kontras dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya yang kurus. Selang infus terpasang di lengan kirinya, mengalirkan cairan bening ke dalam pembuluh darahnya yang tampak menonjol karena terlalu kurus. Efek dari jatuh tangga dan proses persalinan yang sulit telah menguras seluruh tenaga gadis itu. Ia terlihat begitu rapuh, begitu menyedihkan, hingga dada Randy terasa sesak saat melihatnya.Randy menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Ia menatap wajah Miranda lekat-lekat. Ingatan tentang malam sembilan bulan lalu menyeruak kembali dengan jelas, menghantam kesadarannya seperti ombak besar.Mala
Randy kembali menatap bayinya. "Karena bayiku baru saja lahir, Alfons. Bayiku dan ibunya sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan kau bertanya padaku tentang acara pertunangan?"Alfons terdiam. Ia bisa melihat ada sesuatu yang berubah pada diri Randy. Sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Ada kelembutan dalam tatapan pria itu. Kelembutan yang tidak pernah muncul saat Randy berbicara tentang Sharon atau tentang pertunangannya."Baiklah," kata Alfons akhirnya. "Ceritakan semuanya padaku. Aku akan mendengarkan."Randy menoleh pada Alfons. "Kau akan mendengarkan? Tanpa menghakimi?""Tanpa menghakimi. Aku janji."Randy menghela nafas panjang. Ia lalu berjalan menuju kursi tunggu dan duduk. Alfons mengikutinya."Semuanya bermula sekitar sembilan bulan yang lalu," Randy memulai ceritanya. "Saat itu aku sedang menghadiri sebuah acara pameran. Di sana, aku merasakan sesuatu terjadi padaku. Tubuhku menjadi panas. Nafsu tidak bisa kutahan. Aku merasa seperti kehilangan kendali atas
Randy masih berdiri di dalam ruang bayi, menatap bayi mungil yang baru saja lahir dari rahim Miranda. Bayi itu terbaring di dalam inkubator, tubuhnya yang kecil terlihat sangat rapuh dengan selang-selang yang terpasang di sana sini. Namun meskipun begitu, ada sesuatu yang membuat Randy tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Pintu ruangan terbuka. Dokter kandungan yang tadi menangani persalinan Miranda masuk dengan langkah tenang. Wajahnya masih menunjukkan kelelahan setelah berjam-jam bekerja, tapi ada senyum tipis di bibirnya."Tuan Randy," panggil dokter itu.Randy menoleh. "Dokter, bagaimana kondisi ibunya? Apa dia sudah sadar?""Kondisi ibunya sudah stabil. Dia masih belum sadarkan diri karena efek bius dan kelelahan. Tapi tanda-tanda vitalnya normal. Dia akan segera pulih."Randy menghembuskan nafas lega. "Syukurlah.""Namun ada satu hal yang perlu saya sampaikan," dokter itu melanjutkan. "Kami sedang menyiapkan ruang NICU unt
Sementara itu, di gedung pertunangan, suasana mulai berubah. Para tamu sudah duduk di kursi masing-masing, menunggu acara dimulai. Tapi Randy tidak kunjung muncul. Sharon berdiri di dekat panggung, wajahnya pucat dan tegang. Para tamu mulai berbisik-bisik, bertanya-tanya di mana calon mempelai pria berada."Di mana Randy? Kenapa belum juga datang?" tanya seorang tamu."Katanya calon mempelai pria ada urusan mendadak.""Urusan apa yang lebih penting dari pertunangan sendiri?"Sharon mendengar bisikan-bisikan itu dan wajahnya semakin pucat. Ia meremas tangannya sendiri, menahan rasa malu yang luar biasa.Alya, sang ibu palsu, mendekatinya. "Nona, di mana calon suami Nona? Para tamu sudah menunggu.""Aku tidak tahu, Alya. Dia... dia menghilang begitu saja.""Menghilang? Bagaimana bisa? Ini acaranya sendiri!"Alya memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia berjalan ke arah Clara dan Ratna yang sedang berdiri di dekat pintu masuk. Wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa dan marah, persis seperti
Randy berdiri di sudut aula gedung pertunangan, menatap kerumunan tamu yang semakin padat. Suara musik mengalun lembut dari panggung, bercampur dengan obrolan dan tawa para tamu. Tapi semua itu terasa seperti suara yang berasal dari dunia lain. Dunia yang tidak bisa dijangkau oleh hatinya.'Aku tidak bisa terus di sini. Aku perlu udara segar.'Ia meneguk sisa sampanye di gelasnya dan meletakkannya di nampan pelayan yang lewat. Dengan langkah lebar, ia berjalan menuju pintu belakang gedung. Ia butuh waktu sendiri. Ia butuh menjauh dari kerumunan, dari Sharon, dari semua kepura-puraan ini.Saat itulah ia mendengarnya. Sebuah teriakan yang terdengar sangat menyayat hati. Teriakan seorang wanita yang penuh dengan kepanikan dan kesakitan."Tolong! Tolong bayiku!"Randy membeku di tempatnya. Jantungnya berdetak kencang. Teriakan itu berasal dari arah tangga belakang. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju sumber suara.Sesampainya di sana, ia melihat tubuh seseorang terbaring di dasar ta







