เข้าสู่ระบบMiranda dijual ibu tirinya di sebuah klub malam. Tanpa bisa Miranda cegah, seorang pria mengambil kesucian yang selalu dia jaga. Sembilan bulan kemudian, saat Miranda hamil besar, takdir kembali mempertemukan Miranda dengan pria itu. Pria itu muncul di depan kamar kos sederhana tempat Miranda tinggal dan bertanya, "apakah anak di kandunganmu adalah anakku?" Seumur hidup Miranda cuma pernah tidur dengan pria ini. Lalu apa jawab Miranda?
ดูเพิ่มเติมTangisan Miranda pecah di dalam mobil mewah yang melaju membelah malam kota. Tubuhnya bergetar hebat, bukan karena dinginnya AC yang menusuk kulit, melainkan karena kengerian yang mencengkeram jiwanya. Anton, lelaki berbadan kekar dengan tato naga di lehernya, memegangi lengannya dengan erat. Jemarinya yang kasar mencengkeram kulit halus Miranda, meninggalkan bekas kemerahan yang akan menjadi bukti kebrutalan malam ini.
"Lepaskan aku! Tolong lepaskan aku!" jerit Miranda untuk kesekian kalinya.
Anton hanya terkekeh. "Diam kau, gadis bodoh. Semakin banyak kau meronta, semakin sakit nanti jadinya."
Di kursi depan, Karina duduk dengan anggunnya. Wanita berusia empat puluh tahun itu mengenakan gaun merah ketat yang memamerkan lekuk tubuhnya yang masih terawat. Bibirnya yang dipoles lipstik merah menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Rambut pirangnya yang disanggul tinggi bergoyang pelan saat mobil melewati jalan berlubang.
"Ibu," isak Miranda memelas, "kenapa Ibu melakukan ini padaku? Bukankah selama ini aku sudah menjadi pembantu yang baik di rumah? Aku sudah melakukan semua yang Ibu perintahkan."
Karina menoleh sedikit, cukup untuk membuat Miranda melihat sorot matanya yang dingin. "Justru karena itulah kau harus membalas budiku. Selama dua tahun ini kau kusekolahkan, kuberi makan, kuberi tempat tinggal. Sekarang saatnya kau membayar semua itu."
"Tapi Ibu merampas semua harta Ayah," kata Miranda dengan suara bergetar. "Rumah itu adalah rumahku. Rumah orangtuaku. Ibu yang mengambil semuanya setelah Ayah meninggal."
"Tutup mulutmu!" bentak Karina, suaranya menusuk seperti belati. "Jangan pernah menyinggung soal almarhum ayahmu lagi. Aku sudah sangat lelah mendengar omong kosongmu tentang rumah itu."
Miranda menunduk, air matanya menetes membasahi rok kusam yang dikenakannya. Pakaian itu sangat kontras dengan kemewahan mobil yang membawanya menuju kehancuran. Pakaian pembantu, pakaian yang selalu dikenakannya sejak dua tahun lalu ketika ayahnya meninggal.
Ingatannya melayang pada dua tahun silam. Saat itu ayahnya terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Penyakit kanker hati telah menggerogoti tubuh lelaki yang dulu begitu perkasa. Miranda masih ingat bagaimana ia harus mengemis kepada Karina untuk mengeluarkan uang demi biaya pengobatan ayahnya. Namun Karina, wanita yang dinikahi ayahnya tiga tahun lalu setelah ibunya meninggal, justru sibuk dengan kehidupannya sendiri.
"Bu, Ayah butuh kemoterapi. Tolong cairkan deposito Ayah," pinta Miranda saat itu dengan air mata berlinang.
Karina yang sedang berdandan di depan cermin bahkan tidak menoleh. "Deposito itu sudah kugunakan untuk investasi. Lagipula, untuk apa menghabiskan uang untuk orang yang sudah mau mati? Lebih baik uangnya kupakai untuk masa depan."
Miranda terkejut bukan kepalang. "Tapi itu uang Ayah! Uang hasil kerja keras Ayah selama puluhan tahun!"
"Dan aku adalah istrinya, jadi uang itu juga milikku," jawab Karina enteng sambil memulas lipstik di bibirnya.
Saat itu juga Miranda melihat Anton keluar dari kamar Karina hanya dengan mengenakan handuk. Lelaki itu tersenyum penuh kemenangan melihat Miranda yang sedang menangis. Inilah lelaki yang telah menjadi pacar baru Karina, bahkan sejak ayah Miranda masih terbaring sekarat.
"Ada apa berisik begini?" tanya Anton sambil menyandarkan tubuhnya di kusen pintu.
"Anak ini merengek minta uang untuk biaya berobat ayahnya," jawab Karina sambil tertawa kecil.
Anton ikut tertawa. "Sudah kubilang, biarkan saja orang tua itu mati. Semakin cepat semakin baik. Kita bisa menikmati semua hartanya."
Mendengar kata-kata itu, Miranda rasanya ingin menerkam kedua orang di hadapannya. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanyalah gadis berusia delapan belas tahun yang tidak punya kekuasaan apa-apa. Semua surat berharga, semua deposito, semua sertifikat tanah dan rumah sudah dikuasai oleh Karina dengan bantuan pengacara licik yang disewanya.
Seminggu kemudian, ayah Miranda meninggal dunia. Meninggal dengan penuh penderitaan, tanpa pengobatan yang memadai. Dan sejak hari itu, kehidupan Miranda berubah menjadi neraka.
Rumah mewah bergaya Mediterania yang dulu menjadi surga masa kecilnya, berubah menjadi penjara baginya. Kamar tidurnya yang luas dengan dekorasi serba putih digusur ke kamar pembantu di belakang rumah. Pakaian-pakaian indahnya disita oleh Sharon, anak Karina dari pernikahan sebelumnya. Miranda hanya diberi beberapa potong pakaian lusuh yang dulu dikenakan para pembantu.
Setiap hari, Miranda harus bangun sebelum matahari terbit. Ia harus membersihkan rumah, mencuci pakaian, memasak, dan melakukan semua pekerjaan rumah tangga. Sementara Karina dan Sharon bermalas-malasan sepanjang hari, berbelanja, dan menghamburkan uang peninggalan ayah Miranda.
Anton bahkan seringkali melontarkan kata-kata tidak senonoh kepada Miranda. Tatapan matanya selalu menjelajahi tubuh Miranda dengan cara yang membuat bulu kuduknya merinding. Beberapa kali Miranda memergoki Anton mengintipnya saat ia mandi. Tapi setiap kali ia mengadu kepada Karina, wanita itu justru menyalahkannya.
"Jangan menggoda pacarku, dasar gadis tidak tahu diri!" bentak Karina suatu kali sambil menampar pipi Miranda hingga berdarah.
Sejak saat itu, Miranda belajar untuk diam. Ia menelan semua perih, semua sakit, semua penghinaan. Ia bertahan karena rumah itu adalah satu-satunya kenangan yang tersisa tentang orangtuanya. Setiap sudut rumah itu menyimpan memori manis tentang ibunya yang lembut dan ayahnya yang penyayang. Ia tidak sanggup pergi meninggalkan semua kenangan itu.
Tapi hari ini, semuanya berakhir. Hari ini, Karina benar-benar melampaui batas kemanusiaan. Ia telah menjual Miranda.
Mobil berhenti di depan sebuah bangunan mewah dengan lampu neon berwarna ungu yang menyala terang. Di atas pintu masuk, sebuah papan bertuliskan "Midnight Velvet" berdiri megah. Musik berdentum keras dari dalam bangunan itu. Beberapa wanita dengan pakaian minim berdiri di depan pintu, sementara pria-pria dengan jas mahal dan wajah penuh nafsu berlalu lalang.
Anton menyeret Miranda keluar dari mobil. Gadis itu meronta sekuat tenaga, tapi Anton terlalu kuat untuknya. Karina berjalan di depan, langkahnya penuh percaya diri seperti seorang ratu yang memasuki istananya.
"Tolong! Tolong aku!" jerit Miranda pada beberapa orang yang mereka lewati.
Tapi tidak ada yang peduli. Beberapa pria bahkan menatapnya dengan pandangan yang membuatnya merinding. Mereka mengira ia hanyalah salah satu wanita malam yang sedang mengamuk. Di tempat seperti ini, pemandangan seperti itu sudah biasa.
Mereka memasuki lobi mewah dengan lantai marmer hitam dan lampu kristal yang berkilauan. Seorang wanita setengah baya dengan rambut disemir merah menyala dan rok ketat warna emas menghampiri mereka. Ini adalah Tante Sonya, pemilik Midnight Velvet.
"Karina sayang," sapa Tante Sonya dengan senyum lebar yang memperlihatkan gigi yang terlalu putih, "aku sudah menunggumu. Ini dia gadis yang kau ceritakan, kan?"
Karina mengangguk dengan bangga. "Ya, ini Miranda, anak tiriku. Cantik bukan? Dan masih perawan tentunya."
Tante Sonya berjalan mengelilingi Miranda, memeriksanya seperti orang memeriksa kuda pacuan. Jemarinya yang penuh cincin berlian menyentuh pipi Miranda, lalu turun ke leher, bahu, dan pinggangnya. Miranda memejamkan mata, menahan rasa jijik yang memenuhi dadanya.
"Hmm, cantik sekali. Kulitnya putih bersih, rambutnya hitam alami. Ini tipe yang disukai para bos besar," gumam Tante Sonya. "Kau sungguh beruntung, Karina. Beberapa saat yang lalu, Om Raymond baru saja memberitahu tante. Dia mencari gadis perawan malam ini. Harganya tinggi."
Mata Karina berbinar. "Berapa?"
"Om Raymond adalah salah satu pelanggan terbaikku. Dia bersedia membayar sepuluh ribu dolar untuk semalam. Dan kalau dia puas, bisa mencapai seratus ribu dolar. Tapi ingat, ada syaratnya. Gadis itu harus benar-benar perawan. Kalau tidak, kau tidak akan mendapat sepeser pun."
"Tentu saja dia masih perawan," jawab Karina cepat. "Aku menjaminnya. Dia belum pernah disentuh pria mana pun."
'Aku memang belum pernah disentuh pria mana pun, tapi bukan karena kau menjagaku, Ibu tiriku yang jahat. Aku masih perawan karena aku berusaha menjaga kesucianku sendiri,' batin Miranda dengan getir.
"Om Raymond, coba lihat ini. Dia adalah gadis cantik yang masih perawan. Sesuai dengan yang om inginkan." Sonya menunjuk ke arah Miranda.
Seorang pria berkepala botak, bertubuh gemuk dan berperut buncit, keluar dari sebuah ruangan dan segera melangkah mendekati Miranda.
Matanya jelalatan menyusuri tubuh Miranda.
Orang ini bagaikan mimpi paling buruk yang pernah dialami Miranda, dan saat ini, Miranda ingin berteriak sekenceng mungkin.
Randy melangkah pelan menuju ruang rawat inap tempat Miranda dirawat. Suasana di koridor rumah sakit itu hening, hanya terdengar suara langkah kakinya yang bergema lembut di lantai keramik. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati, seolah takut suara engsel pintu akan mengganggu ketenangan di dalamnya.Di atas ranjang rumah sakit, Miranda masih terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya yang pucat kontras dengan selimut putih yang menutupi tubuhnya yang kurus. Selang infus terpasang di lengan kirinya, mengalirkan cairan bening ke dalam pembuluh darahnya yang tampak menonjol karena terlalu kurus. Efek dari jatuh tangga dan proses persalinan yang sulit telah menguras seluruh tenaga gadis itu. Ia terlihat begitu rapuh, begitu menyedihkan, hingga dada Randy terasa sesak saat melihatnya.Randy menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Ia menatap wajah Miranda lekat-lekat. Ingatan tentang malam sembilan bulan lalu menyeruak kembali dengan jelas, menghantam kesadarannya seperti ombak besar.Mala
Randy kembali menatap bayinya. "Karena bayiku baru saja lahir, Alfons. Bayiku dan ibunya sedang berjuang antara hidup dan mati. Dan kau bertanya padaku tentang acara pertunangan?"Alfons terdiam. Ia bisa melihat ada sesuatu yang berubah pada diri Randy. Sesuatu yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Ada kelembutan dalam tatapan pria itu. Kelembutan yang tidak pernah muncul saat Randy berbicara tentang Sharon atau tentang pertunangannya."Baiklah," kata Alfons akhirnya. "Ceritakan semuanya padaku. Aku akan mendengarkan."Randy menoleh pada Alfons. "Kau akan mendengarkan? Tanpa menghakimi?""Tanpa menghakimi. Aku janji."Randy menghela nafas panjang. Ia lalu berjalan menuju kursi tunggu dan duduk. Alfons mengikutinya."Semuanya bermula sekitar sembilan bulan yang lalu," Randy memulai ceritanya. "Saat itu aku sedang menghadiri sebuah acara pameran. Di sana, aku merasakan sesuatu terjadi padaku. Tubuhku menjadi panas. Nafsu tidak bisa kutahan. Aku merasa seperti kehilangan kendali atas
Randy masih berdiri di dalam ruang bayi, menatap bayi mungil yang baru saja lahir dari rahim Miranda. Bayi itu terbaring di dalam inkubator, tubuhnya yang kecil terlihat sangat rapuh dengan selang-selang yang terpasang di sana sini. Namun meskipun begitu, ada sesuatu yang membuat Randy tidak bisa mengalihkan pandangannya. Ada ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Pintu ruangan terbuka. Dokter kandungan yang tadi menangani persalinan Miranda masuk dengan langkah tenang. Wajahnya masih menunjukkan kelelahan setelah berjam-jam bekerja, tapi ada senyum tipis di bibirnya."Tuan Randy," panggil dokter itu.Randy menoleh. "Dokter, bagaimana kondisi ibunya? Apa dia sudah sadar?""Kondisi ibunya sudah stabil. Dia masih belum sadarkan diri karena efek bius dan kelelahan. Tapi tanda-tanda vitalnya normal. Dia akan segera pulih."Randy menghembuskan nafas lega. "Syukurlah.""Namun ada satu hal yang perlu saya sampaikan," dokter itu melanjutkan. "Kami sedang menyiapkan ruang NICU unt
Sementara itu, di gedung pertunangan, suasana mulai berubah. Para tamu sudah duduk di kursi masing-masing, menunggu acara dimulai. Tapi Randy tidak kunjung muncul. Sharon berdiri di dekat panggung, wajahnya pucat dan tegang. Para tamu mulai berbisik-bisik, bertanya-tanya di mana calon mempelai pria berada."Di mana Randy? Kenapa belum juga datang?" tanya seorang tamu."Katanya calon mempelai pria ada urusan mendadak.""Urusan apa yang lebih penting dari pertunangan sendiri?"Sharon mendengar bisikan-bisikan itu dan wajahnya semakin pucat. Ia meremas tangannya sendiri, menahan rasa malu yang luar biasa.Alya, sang ibu palsu, mendekatinya. "Nona, di mana calon suami Nona? Para tamu sudah menunggu.""Aku tidak tahu, Alya. Dia... dia menghilang begitu saja.""Menghilang? Bagaimana bisa? Ini acaranya sendiri!"Alya memutuskan untuk mengambil tindakan. Ia berjalan ke arah Clara dan Ratna yang sedang berdiri di dekat pintu masuk. Wajahnya menunjukkan ekspresi kecewa dan marah, persis seperti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.