로그인Perayaan ulang tahun Abed dan Alice,Pagi Sabtu yang cerah, suasana di Tamani Kids Café, Kemang, Jakarta Selatan terasa meriah. Balon-balon berwarna cerah dan dekorasi penuh warna menghiasi seluruh sudut ruangan, menandai perayaan ulang tahun bersama Abed Mosha yang genap berusia lima tahun dan Alice Mosha yang merayakan ulang tahunnya yang ke tiga tahun.Meja-meja dipenuhi dengan berbagai macam makanan dan kue yang menarik perhatian, sementara di tengah ruangan terdapat kue ulang tahun besar berlapis tiga, dihiasi dengan karakter kartun favorit Abed dan Alice.Gideon dan Septin tampak sibuk menyapa para tamu yang mulai berdatangan. Keduanya tersenyum lebar, menikmati setiap momen kebahagiaan yang mengalir di tengah pesta tersebut."Selamat datang, Tuan Ronald, Nyonya Sera! Terima kasih sudah datang," sambut Gideon ketika salah satu koleganya memasuki ruangan bersama keluarganya.Tuan Ronald, yang datang bersama Nyonya Sera serta kedua anak mereka, Sebastian dan Rose, menjabat tangan
Dua tahun telah berlalu sejak kelahiran Baby Abed Mosha,Pagi itu, suasana di rumah Keluarga Mosha terasa hangat dan penuh kebahagiaan. Di ruang tamu yang luas dan elegan, Gideon terlihat sedang sibuk memastikan semua persiapan untuk menyambut kedatangan Septin, istrinya dan Baby Alice yang telah lahir beberapa saat yang lalu, sudah sempurna. Bunga-bunga segar menghiasi meja, dan balon warna pink dan peach bergantungan di sudut ruangan. Wajahnya tak henti-hentinya tersenyum sambil sesekali melihat ke arah Abed, putra sulungnya yang sedang asyik bermain dengan mainan mobil-mobilannya."Papi, kapan Mami dan adik bayi pulang ke rumah kita?" tanya Abed dengan mata berbinar-binar."Sabar, Nak. Sebentar lagi Mami dan adik Alice akan sampai," jawab Gideon lembut sambil mengelus kepala Abed, putra sulungnya. "Kamu senang ya punya adik perempuan?"Abed mengangguk dengan antusias. "Iya, Papi! Abed mau ajak adik main sama-sama nanti!"Gideon tertawa kecil melihat semangat putranya. "Ha-ha-ha
Sudah sebulan berlalu sejak Gideon dan Septin kembali dari bulan madu mereka di Finlandia. Masa-masa bulan madu itu terasa seperti mimpi indah yang tak berkesudahan, tapi kebahagiaan keduanya belum berhenti di situ. Ketika Septin mengetahui bahwa dirinya hamil, keduanya terkejut sekaligus bahagia. Sekarang, usia kandungan Septin sudah mencapai lima bulan, dan hari ini adalah hari yang mereka tunggu-tunggu yaitu pemeriksaan kehamilan di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta.Pagi itu, Gideon izin dari kantornya, Mosha Corp, di mana dia menjabat sebagai CEO, agar bisa menemani Septin ke dokter kandungan. Di dalam mobil mewah mereka, suasana terasa tenang dan penuh harapan. Gideon mengemudi dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Septin yang duduk di sebelahnya.“Aku masih nggak percaya kalau kita akan punya bayi laki-laki, Sayang.” ucap Gideon, suaranya dipenuhi kegembiraan. “Rasanya seperti baru kemarin kita menikah, dan sekarang kita akan jadi orang tua.
Pagi itu di hotel mewah mereka di Finlandia, sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui jendela besar suite tempat Gideon dan Septin menginap. Setelah menghabiskan malam penuh cinta, keduanya memulai hari dengan suasana yang tenang dan damai. Kamar suite yang hangat dan nyaman menjadi saksi kebahagiaan mereka sebagai pasangan suami istri.Setelah mandi air hangat dan mengenakan pakaian santai, Septin melangkah ke meja sarapan yang sudah disiapkan oleh staf hotel. Sepiring roti panggang, buah segar, dan secangkir kopi panas menunggu mereka.“Mas, ini sarapan yang sempurna setelah malam yang panjang,” ucap Septin sambil tersenyum ke arah Gideon, yang sudah duduk di kursi berhadapan dengannya.Gideon tersenyum lebar, tatapan matanya penuh cinta saat dia mengambil secangkir kopi. “Kamu benar, Sayang. Oh ya, hari ini aku punya rencana yang lebih sempurna untuk kita.”Septin mengangkat alis, penasaran. “Rencana apa itu, Sayang?”Gideon meletakkan cangkir kopinya dan bersandar
Setelah seharian menikmati keindahan negara Finlandia yang begitu sangat memukau, Gideon dan Septin tiba di hotel mereka yang megah dan hangat. Hotel bintang lima itu terletak di tepian danau yang memantulkan kilauan cahaya bulan yang berpendar di langit malam. Embun malam yang lembut mulai jatuh di luar jendela kamar suite itu. Seolah-olah kehangatan memenuhi ruangan tersebut saat mereka masuk. Septin yang masih mengenakan jaket tebal tersenyum lelah namun bahagia sambil menatap pada Gideon.“Kamu capek, Sayang?” Gideon bertanya lembut sambil menurunkan ransel dari pundaknya.Septin mengangguk kecil. “Sedikit, Mas. Tapi aku sungguh sangat bahagia. Hari ini benar-benar luar biasa. Aku tidak percaya kita benar-benar ada di sini, di Finlandia, untuk bulan madu.”Gideon tersenyum lebar, lalu melangkah mendekat, menarik istrinya ke dalam pelukan hangatnya. “Aku juga, Sayang. Aku sangat senang dan bahagia bisa menghabiskan waktu ini bersamamu, di tempat seindah ini.”Mereka berdua berdir
Setelah waktu yang panjang dan penuh kemesraan di dalam kamar mandi hotel suite mewah mereka, Gideon dan Septin keluar dari kamar mandi dengan tubuh segar dan hati yang penuh kebahagiaan. Udara pagi di Kota Helsinki terasa semakin segar, dan matahari yang lembut bersinar menembus tirai jendela besar. Kamar suite tersebut dihiasi dengan gaya modern namun tetap memiliki sentuhan keanggunan Finlandia. Meja makan di dekat jendela telah dipersiapkan dengan sempurna untuk sarapan pagi."Aku sudah lapar. Ayo kita makan dulu, Sayang." ucap Gideon sambil menatap meja yang penuh dengan berbagai makanan khas Finlandia. “Iya, Mas. Perutku juga udah kosong banget, nih.” tutur Septin uang mulai kehabisan energi akibat aktivitas panasnya dengan Gideon, suaminya.Di atas meja makan, ada beberapa cupcake dengan topping buah beri lokal yang segar, jus buah yang dingin, serta beberapa gelas mocktail yang siap untuk dinikmati.Septin tersenyum lembut, menatap makanan di depannya. "Semua makanan ini te
Hari ini adalah hari yang sangat dinanti-nantikan oleh Gideon dan Reza. Mereka akan berhadapan dalam sebuah balapan mobil di arena balapan mobil di Sentul, Bogor. Pertarungan ini bukan hanya sekadar adu kecepatan, melainkan juga sebuah duel untuk membuktikan siapa yang lebih unggul di antara mereka
Di pagi yang cerah, matahari bersinar hangat menyinari Kota Jakarta, dan langit tampak biru tanpa awan, suasana di sebuah kampus begitu damai. Di tengah kesibukan mahasiswa yang berjalan ke sana kemari, Gideon melangkah dengan penuh semangat menuju ke kelasnya. Dia tidak sendiri, di sampingnya ada
Tuan muda Gideon baru saja menyelesaikan persiapan terakhirnya di pagi yang cerah ini. Setelah sekian lama menjalani kuliah online dari rumah, akhirnya dia bisa merasakan atmosfer kampus yang sesungguhnya. Hari itu adalah hari pertamanya kembali ke kampus setelah melakukan perkuliahan online yang
Matahari pagi mulai menyingsing, menyebarkan sinar keemasan yang menyelimuti langit biru. Suara kicauan burung bersahut-sahutan, menambah suasana pagi yang tenang dan damai. Namun, di balik ketenangan pagi ini, ada semangat dan kesibukan yang membara di salah satu sudut kota Jakarta. Di rumah besar







