LOGINGideon Mosha seorang pemuda tampan, pintar, dan cerdas yang masih duduk di bangku kuliah, namun hidup di bawah kungkungan kedua orang tuanya yang terlalu over protektif kepadanya. Hal itu terjadi karena ada sesuatu dari masa lalu Gideon yang membuat pria itu hampir saja lenyap dari muka bumi. Akibat rentetan kejadian naas tersebut membuat Ibunda Gideon memperkerjakan pengasuh pribadi untuk putra semata wayangnya. Ada beberapa orang yang melamar ingin menjadi pengasuh Tuan Muda Gideon, akan tetapi semua hanya bertahan paling lama dua hari karena tidak tahan dijahili oleh sang tuan muda. Septin Adena, seorang mahasiswa cantik dan lincah, ikut melamar menjadi pengasuh sang tuan muda yang dirinya pikir, hanyalah mengasuh seorang balita. Sang gadis tidak pernah menyangka jika yang dirinya akan asuh adalah seorang pria tampan yang umurnya hampir sebaya dengan nya. Namun karena himpitan ekonomi dan untuk membantu keuangan keluarganya, Septin pun menerima pekerjaan itu, menjadi pengasuh Tuan Muda, Gideon. Penasaran bagaimana Septin menghadapi tingkah jahil dari Gideon? Mampukah sang gadis bertahan menjadi pengasuh sang tuan muda yang terkesan sangat arogan itu?" Mungkinkah benih-benih cinta timbul di hati keduanya? Bagaima dengan restu para orang tua jika itu terjadi?" Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta no. 28 tahun 2014.
View MorePagi itu di Siloam Hospital Jakarta Selatan, suasana di ruang perawatan Septin mulai terasa berbeda. Setelah dua hari yang penuh kecemasan, akhirnya Septin sudah sadar dan mulai pulih, meski masih harus menjalani perawatan intensif. Hari ini, Septin akan dijadwalkan untuk menjalani sesi fisioterapi guna memulihkan bagian tubuhnya yang masih keseleo akibat insiden yang hampir merenggut nyawanya.Suster dengan hati-hati membantu Septin berpindah dari tempat tidurnya ke kursi roda, persiapan untuk membawanya ke ruang fisioterapi. Meski tubuhnya masih terasa lemah, Septin berusaha tersenyum dan menatap sekeliling. Sinar matahari pagi menembus jendela kamar, memberikan sentuhan hangat yang terasa menyenangkan di kulitnya."Bagaimana perasaanmu, Nak?" tanya Bunda Wita yang duduk di sampingnya, tatapannya penuh kasih sayang.Septin mengangguk pelan."Sudah lebih baik, Bunda. Aku hanya merasakan sedikit lelah."Ayah Yoga, yang berdiri di sisi lain kursi roda, menepuk bahu putrinya dengan lemb
Di sebuah rumah sakit ternama di Jakarta, suasana tegang menyelimuti ruang ICU. Ketenangan malam yang biasanya hadir tergantikan oleh kecemasan mendalam yang menyelimuti mereka yang menanti di sana. Di dalam ruang ICU, tubuh Septin terbaring tak bergerak, masih belum sadarkan diri setelah insiden yang hampir merenggut nyawanya. Monitor di samping tempat tidurnya menampilkan denyut jantung yang stabil, namun lemah. Di luar ruangan, Bunda Wita dan Ayah Yoga duduk dengan wajah penuh kekhawatiran. Mata mereka tak pernah lepas dari pintu kaca yang memisahkan keduanya dari putri tercinta. Bunda Wita, dengan wajah pucat dan kantung mata yang dalam akibat kurang tidur, menggenggam tangan suaminya erat-erat, mencari kekuatan dalam kebersamaan. Sementara Ayah Yoga berusaha tetap tegar, namun dari sorot matanya terlihat jelas bahwa hatinya hancur melihat kondisi putrinya yang belum juga membaik.Di seberang mereka, Tuan Muda Gideon, duduk dengan penuh kegelisahan. Wajahnya yang biasanya tampak
Ruangan ICU di Rumah Sakit Siloam, Jakarta Selatan penuh dengan kesunyian yang hanya sesekali terganggu oleh suara mesin medis yang berdetak stabil. Septin, seorang gadis muda yang tak berdaya, terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, hanya tersorot oleh cahaya lembut dari lampu di atas tempat tidur. Kabel-kabel dan alat bantu pernapasan terhubung ke tubuhnya yang lemah, seakan-akan menggambarkan betapa rapuhnya hidup yang kini bergantung pada teknologi medis.Ayah Yoga dan Bunda Wita, kedua orang tua Septin, duduk di samping tempat tidur putri mereka. Mata keduanya terlihat sangat sembab karena menangis sepanjang malam. Mereka tidak bisa meninggalkan Septin, tidak di saat seperti ini. Wajah Bunda Wita terlihat lebih tua dari usianya, garis-garis kekhawatiran terpahat dalam-dalam di kulitnya. Sementara Ayah Yoga duduk kaku dengan tangan yang terlipat, berusaha menahan air mata yang menggenang di matanya.“Bunda, sejujurnya Ayah nggak sanggup lihat Sept
Suatu malam di salah satu sudut Kota Jakarta,Suasana malam itu begitu sunyi, hanya terdengar suara sesekali dari kendaraan yang melintas di jalan. Di dalam sebuah rumah sederhana, Ayah Yoga dan Bunda Wita baru saja beranjak ingin tidur malam itu ketika tiba-tiba ponsel Bunda Wita berbunyi nyaring. Dengan perasaan campur aduk, perempuan yang masih cantik itu mengangkat telepon tersebut, suara di seberang sana memberitahukan kabar buruk yang sungguh telah menghancurkan hatinya. putri mereka, Septin, baru saja dibawa ke rumah sakit setelah diserang oleh orang tak dikenal."Ayah, Septin di rumah sakit!" seru Bunda Wita panik, matanya sudah mulai berkaca-kaca.Ayah Yoga yang mendengar itu langsung terlonjak dari tempat tidur. "Apa? Tapi kok bisa? Bagaimana kondisinya sekarang?" Sang ayah juga turut khawatir dengan putri kesayangannya.“Mengenai kondisi Septin, masih belum jelas, Ayah. Tapi kita harus segera ke sana!" jawab Bunda Wita tergesa-gesa, suaranya terdengar bergetar.“Ya sudah,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews