LOGIN"Pelan-pelan, Mas... Sakit...." "Kamu masih...." Ucapan Rayhan tak dilanjutkan. Cita hanya memeluknya erat sembari menahan sakit yang belum pernah ia rasakan. ____________________ Karena takut dikejar banci, Rayhan bersembunyi di kontrakan musuhnya, Cita, si Janda anak satu. Namun mereka malah digrebek warga dan dipaksa menikah. Kehidupan mereka pun langsung berubah. Tanpa Cita tahu, Rayhan menyembunyikan identitasnya dan selalu mengaku sebagai seorang pengangguran. Sementara Cita bukanlah janda seperti yang dirumorkan. Akankah mereka bisa akur dalam menjalani bahtera rumah tangga? Apalagi Cita bertemu dengan ayah kandung bayi yang ia rawat penuh cinta.
View MoreBrak!
Gagang pintu bergerak kasar dan pintu kayu kontrakan Cita tiba-tiba terbuka lebar. Rayhan, tetangga sebelah kontrakannya, berlari masuk dengan wajah pucat pasi dan napas memburu. Bahkan, tanpa mengucap sepatah kata pun, Rayhan langsung menutup rapat pintu kayu tersebut dan memutar kuncinya dari dalam. "Mas Rayhan?! Kamu gila, ya?!" semprot Cita setengah berbisik, matanya melotot murka sambil mempererat dekapan pada Zain, bayinya, agar tak terbangun lagi yang bahkan belum sempat ia baringkan. "Nggak sopan banget main masuk rumah orang malam-malam!" Sebenarnya, Zain memang bukan anak Cita. Perempuan 23 tahun itu masih gadis. Namun, karena kakaknya meninggal setelah melahirkan Zain, Cita yang tak lagi memiliki keluarga terpaksa merawat bayi itu, merantau jauh dan menyewa kontrakan sederhana itu. Sayangnya, warga desa yang gemar bergosip selalu menuduh Zain sebagai anak hasil hubungan tidak jelas Cita di masa lalu. Label 'Janda Cantik' pun menempel padanya begitu saja. Cita yang dasarnya tak mau ribet dan berurusan dengan orang, akhirnya memilih diam tanpa menjelaskan apapun. "Pelankan suaramu, Cita. Jangan teriak-teriak!" bisik Rayhan panik. Pria yang biasanya bersikap dingin, sok pintar, dan selalu tenang itu kini tampak gemetaran. Matanya menempel di celah ventilasi pintu. "Keluar nggak?! Kamu pikir ini kontrakan nenek moyangmu apa?!" amuk Cita yang sudah lelah. Ia membaringkan Zain secara perlahan sebelum kembali berdiri. Cita siap menendang tetangganya itu. "Ssshhh. Diamlah...." pinta Rayhan lagi sambil mengibaskan-ibaskan tangannya di depan wajah. "Kamu yang diam!" Cita berjalan mendekati Rayhan dengan wajah kesalnya. "Zain baru saja mau tidur. Kamu malah nyelonong masuk ke sini. Pergi, nggak atau–" “Aku dikejar Maria,” potong Rayhan cepat dengan raut wajah frustasi. Langkah Cita seketika terhenti. Dua alisnya terangkat, menatap Rayhan seolah tak percaya. Cita tahu betul Maria adalah waria yang selalu ‘mangkal’ di satu-satunya terminal dekat desa. Selama ini, Rayhan memang menjadi sasaran idaman Maria. Tapi, Cita sama sekali tak peduli dengan hal itu. Bagi Cita, Rayhan hanyalah tetangga kontrakan pengangguran yang menyebalkan. Selain sikapnya yang dingin dan sok bijak itu, setiap kali ada warga yang melihat mereka berdebat saja selalu dikira sedang melakukan sesuatu yang salah. Padahal Cita sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan pria pengangguran itu. Namun karena status mereka, Cita harus selalu menahan diri pada gosip mengenai dirinya menggoda bujang yang beredar di desa. "Bukan urusanku. Mendingan kamu cepat keluar dan balik ke kontrakan kamu," usir Cita lagi. Rayhan kembali menatap Cita sembari mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Tolonglah, biarkan aku sembunyi di sini sebentar saja sampai dia pergi...." Cita menahan kesal dan sebenarnya ingin mengejek Rayhan saat melihat tetangganya yang selalu bertingkah sok gagah kini tak berdaya hanya karena ketakutan dikejar banci. "Ya sudah. Tapi habis ini kamu harus segera balik. Aku nggak mau kita digosipin lagi," ucap Cita akhirnya. "Iya." Cita menatap Rayhan sejenak. Tak bisa dipungkiri, rasa kesalnya pada Rayhan tak pernah sekalipun berkurang. Kalau bukan karena kontrakan ini harganya masih cukup murah, mungkin Cita akan pergi karena tak tahan memiliki tetangga seperti Rayhan dan warga yang gemar bergosip. Rayhan baru saja menghela napas lega setelah mengintip dari balik tirai. Maria sudah berjalan menjauh dari area kontrakan mereka. “Sepertinya dia sudah pergi. Sana balik. Aku mau tidur,” usir Cita sambil ikut memastikan keadaan di luar. Rayhan mengangguk. Ia segera merapikan pakaiannya, berniat keluar sebelum ada orang lain yang melihat keberadaannya. Namun, baru beberapa langkah ia bergerak, suara gedoran keras tiba-tiba mengguncang pintu kayu kontrakan. Brak! Brak! Brak! "Mbak Cita, buka pintunya! Buka!" teriak Mak Gonjreng memanggil namanya. "Mak Gonjreng...." gumam Cita dengan kedua mata membelalak. "Aduh gimana ini? Kamu cepetan balik." Mak Gonjreng bisa dibilang adalah tetangga paling julid di Desa Geger. Semua yang keluar dari mulutnya seperti memiliki sihir yang mampu membuat semua orang langsung terhasut. "Gimana baliknya? Pintu kontrakan ini cuma satu," sahut Rayhan kembali panik. "Buka pintunya! Jangan berbuat maksiat di kampung kami!" teriak Mak Gonjreng lagi, diiringi riuh teriakan warga dan suara Pak RT. Tak mau Zain kembali menangis karena teriakan-teriakan itu, Cita akhirnya membukakan pintu dan tampaklah para warga desa berkumpul di depan kontrakannya. "Ada apa, ya, Pak RT?" tanya Cita dengan gugup. "Mbak Cita, kami menerima laporan bahwa Mbak Cita dan Mas Rayhan berbuat mesum di dalam," ujar Pak RT. Tubuh Cita sedikit terlonjak. "B–bapak salah paham, Pak. Kami...." Belum sempat Cita menjelaskan, Mak Gonjreng menerobos masuk dan menarik Rayhan keluar dari balik pintu kontrakan Cita. “Halah, jangan alasan. Sudah lama saya perhatikan dua orang pendatang yaitu Mas Rayhan dan Mbak Cita. Malam ini Mas Rayhan masuk ke kamar Mbak Cita dan pintunya dikunci. Sebelumnya juga saya sering lihat Mbak Cita nyamperin Mas Rayhan," ucap Mak Gonjreng memulai provokasinya. "Saya juga sering lihat mereka berduaan. Padahal Mbak Cita janda anak satu tapi kok Mas Rayhan mau, ya?" sahut salah satu warga. "Ya mau aja toh. Lagian bapak bayinya aja nggak jelas siapa. Saya sih curiga Mbak Cita itu sebenarnya ada main sama Mas Rayhan sejak lama," ucap Mak Gonjreng lagi dengan wajah julidnya yang khas dan meyakinkan. "Iya juga ya! Jangan-jangan itu sebenarnya bayi mereka tapi nggak mau diakui! Sudah, diarak aja mereka keliling desa!" "Kalian sudah terbukti berzina. Ini aib bagi desa kita!" seru Mak Gonjreng. "Benar itu." Para warga mulai berbisik-bisik menuntut Cita dan Rayhan. Pak RT pun menengahi agar tidak terjadi keributan lagi. "Semuanya mohon tenang. Kita tidak boleh main hakim sendiri," ujar Pak RT tegas. "Tapi mereka sudah berbuat zina, Pak!" Pak RT menghela napas. Para warga pun diam termasuk Mak Gonjreng. "Kalau sudah begini, Mbak Cita dan Mas Rayhan harus dinikahkan," putus Pak RT akhirnya. ***Pukul enam lewat tiga puluh menit, suasana di sekitar rumah tampak berbeda dari biasanya. Lapak sayur di belakang kecamatan hari ini kosong, tidak ada sosok Rayhan yang sibuk menata dagangan atau melayani ibu-ibu langganan setianya.Di dalam kamar, Rayhan masih terlelap pulas. Pria itu benar-benar mengistirahatkan tubuhnya yang semalam dihantam demam tinggi.Cita yang sudah bangun sejak subuh bergerak sigap. Setelah merapikan tempat tidur dan menyiapkan wadah kue, ia memutuskan untuk tetap berangkat mengantar kue ke warung Bu Is. Dengan menggendong Zain di depan dadanya menggunakan kain jarik, Cita melangkah ringan menuju warung Bu Is yang tidak jauh dari rumah mereka."Pagi, Bu Is," sapa Cita ramah setibanya di warung."Eh, Mbak Cita," balas Bu Is sambil menerima nampan berisi aneka kue basah yang dibawa Cita. "Ini kok...?""Iya, Bu Is. Kue hari ini nggak sebanyak kemarin, soalnya Mas Rayhan lagi sakit, masuk angin semalem gara-gara kehujanan. Jadi saya cuma bisa buat setengahnya aja
"Apaan, sih, Mas?!" Cita mengerjap tak percaya mendengar tebakan ngawur suaminya dengan wajah memerah. Wanita itu mendengus gemas, lalu tanpa ragu kembali mendaratkan cubitan yang lebih keras di lengan Rayhan."Aw! Aduh, Cita! Katanya tadi nggak mau 'gituan', tapi kok malah nyubit-nyubit begini? Kamu beneran ngajak ribut atau kode keras, sih?" protes Rayhan dengan suara serak khas orang demam, meski matanya masih menyipit menahan sakit kepala.Alih-alih menjawab, Cita mendengus kesal sambil mengangkat piring kecil yang sejak tadi dibawanya. Ia tunjukkan benda-benda di atas piring itu tepat di depan wajah sang suami."Nih, lihat!" seru Cita.Rayhan mengerutkan dahi, menatap bingung ke arah piring kecil yang berisi sedikit minyak goreng dan sebuah uang koin seribu rupiah. Pria itu diam sembari menatal heran."Kamu... mau goreng koin, Cit? Buat apa? Mau menggadaikan uang lewat dukun pakai minyak?" tanya Rayhan mulai melantur.Kesabaran Cita hampir saja habis. Wanita itu semakin gemas hin
Sebelum subuh, Cita yang terbangun terlebih dahulu. Wanita itu membuka kedua matanya dan langsung melihat wajah suaminya. Ia bahkan bisa melihat dada bidang Rayhan yang masih telanjang.Tatapan Cita tiba-tiba berubah sedih. 'Mas... Apa kamu keberatan menyentuh wanita sepertiku?' tanyanya dalam hati saat teringat Rayhan benar-benar tidak melakukan penyatuan dengannya malam tadi."Emhhh...." Rayhan melenguh pelan lalu membuka kedua matanya. Pria itu langsung menarik Cita ke dalam pelukan."Eh?!""Sebentar lagi, Cit," bisik Rayhan lembut sembari mengecup dahi istrinya dan mulai memejamkan kedua matanya lagi."Tapi ini udah jam berapa, Mas. Cepatlah bangun sebelum terlambat ke pasar!" ucap wanita itu sembari mendorong pelan dada bidang Rayhan."Iya, iya, bawel," sahut Rayhan segera melepas pelukan lalu meregangkan otot-ototnya.Seolah tak ada yang terjadi, Rayhan beranjak dari kasur, meraih pakaian ganti lalu berjalan keluar kamar. Sementara Cita diam di temp
"Mas Rayhan...." panggil Cita dengan suara lembut.Seketika, mata Rayhan terpaku. Dadanya berdesir hebat saat mendengar namanya dipanggil dengan suara yang begitu lembut dan manis.Di hadapannya kini, sepasang payudara yang sekal dan padat tersingkap sempurna di bawah temaram lampu. Bagi Rayhan, ini adalah kali pertama ia melihat keindahan tubuh wanita secara langsung dengan mata kepalanya sendiri, bukan lagi melalui layar ponsel dari video-video porno yang pernah ia tonton sewaktu masih sendiri.'Ternyata... ini yang selalu Cita sembunyikan di balik daster longgarnya....' gumam pria itu dalam hati dengan perasaan kagum.Ternyata kenyataan jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan. Tubuh Cita benar-benar sangat indah, alami, dan sempurna di matanya.Napas Rayhan seketika memburu. Ia segera melepas daster itu agar tidak mengganggu. Hasrat lelakinya bergejolak hebat, mendesak untuk segera keluar dari tubuhnya. Namun, seperti janji dan kesepakatan mereka sebelumny












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews