LOGINKarena takut dikejar banci,Rayhan bersembunyi di kontrakan musuhnya, Cita. Namun mereka malah digrebek warga dan dipaksa menikah. Rayhan yang awalnya menolak menikahi janda anak satu, akhirnya pasrah karena desakan warga. Musuh pun tinggal dalam satu atap kontrakan sederhana. Namun, keduanya sama-sama memiliki rahasia yang akhirnya terungkap setelah tinggal bersama.
View More"Oekkk oekkk oekkk!"
Malam semakin larut di Desa Geger, namun tangisan bayi di dalam kontrakan petak berukuran empat kali enam meter itu belum juga reda. Cita, wanita muda berusia dua puluh tiga tahun tampak kelelahan. Ia terus menimang Zain, bayi laki-laki berusia tiga bulan yang terus saja menangis.
Cita sudah berusaha menenangkannya mulai dari memberikan susu formula, membalurkan minyak telon, sampai menimang-nimang dan bernyanyi untuk Zain. Namun, bayi mungil itu tak kunjung diam, membuatnya semakin kerepotan.
"Zain, Sayang. Tolong berhenti menangis... Zain anak baik bobok ya...." ucap Cita frustasi.
Cita sama sekali tidak memiliki pengalaman merawat bayi sebelumnya. Apalagi Zain bukanlah anak kandung Cita. Bayi itu adalah anak kakaknya yang meninggal dunia usai melahirkan. Demi merawat satu-satunya peninggalan sang kakak, Cita rela merantau dan menyewa kontrakan sederhana ini. Sayangnya, warga desa yang gemar bergosip selalu menuduh Zain sebagai anak hasil hubungan tidak jelas Cita di masa lalu. Label 'Janda Cantik' pun menempel padanya begitu saja. Dan ia tidak mau repot menjelaskan.
Hingga satu jam berlalu, akhirnya Zain tertidur lelap karena lelah menangis. Bayi mungil itu pun tampak begitu tenang dalam gendongan Cita yang masih menimangnya dengan wajah lelah.
"Syukurlah... Akhirnya kamu tidur, Sayang...." gumam Cita merasa lega.
Tak mau bayinya kembali menangis, Cita perlahan mendekati kasur.
Brak!
Gagang pintu bergerak kasar dan pintu kayu kontrakan Cita tiba-tiba terbuka lebar. Rayhan, tetangga sebelah kontrakannya, berlari masuk dengan wajah pucat pasi dan napas memburu. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia langsung menutup rapat pintu kayu tersebut dan memutar kuncinya dari dalam.
"Mas Rayhan?! Kamu gila, ya?!" semprot Cita setengah berbisik, matanya melotot murka sambil mempererat dekapan pada Zain agar bayinya tak terbangun lagi. Belum sempat ia membaringkan Zain, tetangganya itu malah menyelonong masuk begitu saja.
"Nggak sopan banget main masuk rumah orang malam-malam!"
"Sssshhh! Pelankan suaramu, Cita. Jangan teriak," bisik Rayhan panik. Pria yang biasanya bersikap dingin, sok pintar, dan selalu tenang itu kini tampak gemetaran. Matanya menempel di celah ventilasi pintu.
"Keluar nggak?! Kamu pikir ini kontrakan nenek moyangmu apa?!" amuk Cita yang sudah lelah. Ia membaringkan Zain secara perlahan sebelum kembali berdiri. Cita siap menendang tetangganya itu.
"Ssshhh. Diamlah...."
"Kamu yang diam!" Cita berjalan mendekati Rayhan dengan wajah kesalnya. "Zain baru saja mau tidur. Kamu malah nyelonong masuk ke sini. Pergi, nggak atau–" usirnya dengan amarah bercampur lelah.
"Aku dikejar Maria," potong Rayhan cepat dengan raut wajah frustrasi.
Langkah Cita seketika terhenti. "Ha? Maria?"
"Iya. Banci yang biasa mangkal di terminal itu," jawab Rayhan.
"Nyariin kamu?"
Rayhan menjawab dengan angukan.
"Bukan urusanku. Mendingan kamu cepat keluar dan balik ke kontrakan kamu," usir Cita lagi.
Cita benar-benar tidak peduli. Baginya, Rayhan hanyalah tetangga kontrakan pengangguran yang menyebalkan. Selain sikapnya yang dingin dan sok bijak itu, setiap kali ada warga yang melihat mereka berdebat saja selalu dikira sedang melakukan sesuatu yang salah. Padahal Cita sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan pria pengangguran itu. Namun karena status mereka, Cita harus selalu menahan diri pada gosip yang beredar di desa. Gosip mengenai dirinya yang menggoda seorang bujang.
Rayhan kembali mengintip dari celah pintu dan tampak di luar sana Maria mondar-mandir dengan kepala yang terus menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap bisa menemukan Rayhan yang tampan dan gagah.
“Sana pergi!” Cita mendorong punggung Rayhan dengan kasar.
Rayhan kembali menatap Cita sembari mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Tolonglah, biarkan aku sembunyi di sini sebentar saja sampai dia pergi...."
Cita menahan kesal dan sebenarnya ingin mengejek Rayhan saat melihat tetangganya yang selalu bertingkah sok gagah kini tak berdaya hanya karena ketakutan dikejar banci.
"Ya sudah. Tapi habis ini kamu harus segera balik. Aku nggak mau kita digosipin lagi," ucap Cita akhirnya.
"Iya."
Tanpa mereka sadari, di seberang jalan, gorden rumah salah satu warga tersingkap sedikit. Mak Gonjreng, tetangga paling julid di Desa Geger, mengintip dari balik jendela dengan mata berbinar penuh kemenangan.
"Ckckck... Dasar pasangan mesum!" gumam Mak Gonjreng dengan senyum licik. "Malam-malam bujang masuk ke kontrakan janda, pintu langsung dikunci rapat! Nggak bisa dibiarkan ini!"
Tanpa buang waktu, Mak Gonjreng segera keluar rumah dan memprovokasi warga sekitar. Mereka pun berkumpul di depan pos ronda.
"Ibu-ibu, Bapak-bapak. Sudah lama saya perhatikan dua orang pendatang yaitu Mas Rayhan dan Mbak Cita. Malam ini Mas Rayhan masuk ke kamar Mbak Cita dan pintunya dikunci. Sebelumnya juga saya sering lihat Mbak Cita nyamperin Mas Rayhan," ucap Mak Gonjreng memulai provokasinya.
"Saya juga sering lihat mereka berduaan. Padahal Mbak Cita janda anak satu tapi kok Mas Rayhan mau, ya?" sahut salah satu warga.
"Ya mau aja toh. Lagian bapak bayinya aja nggak jelas siapa. Saya sih curiga Mbak Cita itu sebenarnya ada main sama Mas Rayhan sejak lama," ucap Mak Gonjreng lagi dengan wajah julidnya yang khas dan meyakinkan.
"Iya juga ya! Jangan-jangan itu sebenarnya bayi mereka tapi nggak mau diakui!"
"Wah nggak bisa dibiarin. Desa kita bisa kena sial kalau ada yang berbuat tidak bermoral seperti ini!"
Warga yang memang sudah lama resah dan curiga dengan status Cita serta keberadaan Rayhan yang tidak jelas pekerjaannya langsung tersulut hasutan Mak Gonjreng. Akhirnya, rombongan warga bergerak cepat menuju rumah Pak RT untuk melaporkan kejadian tersebut. Mereka menyampaikan keresahannya selama ini.
Sementara itu di dalam kontrakan, Rayhan baru saja menghela napas lega saat mengintip Maria sudah berjalan menjauh dari area kontrakan mereka.
"Sepertinya dia sudah pergi. Sana balik. Aku mau tidur," usir Cita lagi setelah ia juga ikutan mengintip.
Rayhan mengangguk dan segera merapikan pakaiannya.
Brak brak brak!
Gedoran keras tiba-tiba mengguncang pintu kayu kontrakan Cita hingga bergetar hebat.
"Apa itu?" pekik Cita kaget. Ia menoleh menatap Zain.
"Mbak Cita, buka pintunya! Buka!" teriak Mak Gonjreng memanggil namanya.
"Mak Gonjreng...." gumam Cita dengan kedua mata membelalak. "Aduh gimana ini? Kamu cepetan balik."
"Gimana baliknya? Pintu kontrakan ini cuma satu," sahut Rayhan kembali panik.
"Buka pintunya! Jangan berbuat maksiat di kampung kami!" teriak Mak Gonjreng lagi, diiringi riuh teriakan warga dan suara Pak RT.
Tak mau Zain kembali menangis karena teriakan-teriakan itu, Cita akhirnya membukakan pintu dan tampaklah para warga desa berkumpul di depan kontrakannya.
"Ada apa, ya, Pak RT?" tanya Cita dengan gugup.
"Mbak Cita, kami menerima laporan bahwa Mbak Cita dan Mas Rayhan berbuat mesum di dalam," ujar Pak RT.
Tubuh Cita sedikit terlonjak. "A-Anda salah paham, Pak. Kami...."
Belum sempat Cita menjelaskan, Mak Gonjreng menerobos masuk dan menarik Rayhan keluar dari balik pintu kontrakan Cita. Suara sorakan pun kembali menggema.
"Kita arak saja mereka!" teriak salah satu warga.
"Jangan. Kalian salah paham. Kami nggak seperti itu...." cicit Cita panik.
"Kalian sudah terbukti berzina. Ini aib bagi desa kita!" seru Mak Gonjreng.
"Benar itu."
Para warga mulai berbisik-bisik menuntut Cita dan Rayhan. Pak RT pun menengahi agar tidak terjadi keributan lagi.
"Semuanya mohon tenang. Kita tidak boleh main hakim sendiri," ujar Pak RT tegas.
"Tapi mereka sudah berbuat zina, Pak!"
Pak RT menghela napas. Para warga pun diam termasuk Mak Gonjreng. "Kalau sudah begini, Mbak Cita dan Mas Rayhan harus dinikahkan," putusnya.
***
Proses di KUA berlangsung cepat dan terkesan terburu-buru. Untungnya Pak RT sudah menghubungi mereka terlebih dahulu. Di hadapan penghulu, beberapa petugas KUA, serta Pak RT dan saksi, Rayhan mengucapkan ijab kabul sekali lagi. Mas kawinnya sangat sederhana, hanya uang tunai seratus ribu rupiah seperti sebelumnya.Saat menyerahkan buku nikah, pegawai KUA menatap aneh ke arah Cita. Mereka tahu bahwa wanita cantik dan masih muda itu belum pernah menikah, namun sudah memiliki anak. Dalam tatapan itu, Cita merasakan ada penghinaan di sana namun memilih diam."Tolong ingat ya, Mas Rayhan, Mbak Cita," ujar Pak RT menatap mereka berdua bergantian dengan pandangan menuntut. "Buku nikah ini bukti kalian sudah sah secara hukum dan agama. Jadi saya mohon jangan membuat masalah lagi di kampung saya. Mohon jaga ketertiban dan jangan sampai saya dengar kabar yang aneh-aneh lagi dari kontrakan kalian.""Baik, Pak. Terima kasih," jawab Rayhan singkat. Sementara Cita hanya mengangguk saja.Begitu Pak
"Tapi... tapi kasurnya cuma ada satu dan itu hanya cukup untukku sama Zain saja," sahut Cita dengan ekspresi kesal.Rayhan menatap ruang tamu Cita yang hanya ada selembar tikar saja. Dirinya menghela napas panjang, sudah lelah setelah dikejar banci dari terminal sampai desa, dan juga menikah dadakan dengan janda anak satu."Aku tidur di sini saja. Aku ambil selimutku dulu," ujarnya kemudian sembari melangkah keluar menuju kontrakannya. "Eh, tunggu!"Rayhan tak menoleh dan pria itu sudah tak terlihat lagi dari ambang pintu kontrakan Cita. Tak lama kemudian, Rayhan kembali membawa bantal dan selimutnya. Pria itu langsung masuk ke dalam kontrakan Cita dan langsung mengunci pintunya dari dalam. Cita sendiri belum tidur dan menunggunya dengan duduk di atas tikar.Jika diperhatikan, kontrakan itu memiliki satu ruang tamu yang juga digunakan sebagai ruang makan, satu ruang tidur, dapur kecil di pojokan yang juga menyatu dengan ruang tamu, dan juga satu kamar mandi. Sama persis dengan kontr
"Ayo dong cium tangan suaminya," ejek Mak Gonjreng sembari tertawa cekikikan.Cita menghadap Rayhan yang juga ikut menghadapnya. Wanita muda itu mengulurkan tangan kanannya yang gemetar. Lalu Rayhan menyambutnya dan kini Cita mencium punggung tangannya. Sentuhan kulit mereka terasa asing dan dingin. Sama sekali tak ada senyuman di wajah kedua mempelai."Nah. Sekarang suaminya cium kening istrinya," lanjut Mak Gonjreng terdengar mendikte.Rayhan menghela napas panjang. Pria itu kemudian mendekati Cita dan segera mencium kening wanita muda itu. Cita sendiri tiba-tiba tubuhnya terasa kaku saat pertama kali dicium oleh seorang pria.Setelah urusan berkas pernikahan siri dan uang saksi diselesaikan secara terburu-buru, rombongan kecil itu memilih bubar. Langkah kaki warga yang mengiringi di belakang terasa seperti arak-arakan hukuman bagi Cita. Ia masih merasa malu, ditambah ocehan dari Mak Gonjreng yang belum juga berhenti menghina statusnya.Sesampainya di depan kontrakan yang juga merup
"Mas Rayhan, kamu gila, ya?" bisik Cita tak percaya, mengabaikan tatapan tajam para warga di sekeliling mereka. Tanpa peduli lagi pada etika, ia mencengkeram lengan baju Rayhan dan menarik pria itu sedikit menjauh dari kerumunan, membawa mereka ke sudut teras kontrakan."Kenapa kamu malah setuju? Bukannya jelasin kalau ini salah paham dan salah kamu? Kenapa malah mau nikahin aku cuma gara-gara disudutkan warga? Kamu pikir pernikahan itu bercandaan?!" bisik Cita dengan napas memburu, air matanya masih menetes membasahi pipi.Rayhan menatap Cita dalam-dalam. Wajahnya yang selalu dingin itu membuat Cita merasa tak nyaman. Apa lagi tatapannya begitu tajam."Dengarkan aku dulu, Cita," bisik Rayhan, suaranya pelan tapi serius."Kamu pikir aku mau terjebak dalam situasi ini? Nggak. Tapi kamu lihat mereka. Mak Gonjreng sama warga sudah terlanjur gelap mata. Kalau kita terus-terusan nolak, mereka nggak akan berhenti. Besok pagi, nama kita bisa semakin hancur. Yang paling parah, Zain... kamu ma






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.